
...Happy Reading...
Sebuah pelukan hangat yang selalu membayang-bayangi diri Hanny, akhirnya bisa kembali dia rasakan dalam kehidupan nyata.
Namun dia kembali sadar dan tidak mau menjadi duri dalam hubungan rumah tangga orang lain, karena Hanny masih berfikir jika Jeremy sudah mendapatkan pengganti dirinya yang lebih layak, untuk bersanding di sisi seorang Jeremy saat itu.
"Sayang, kita pulang ya?"
Jeremy memeluk tubuh Hanny dengan erat, seolah melepaskan kerinduan yang selama ini dia rasakan.
"Mas, tapi aku..?" Hanny pun seolah terkejut, sehingga dia memilih memaku ditempat.
"Sayang, mas kangen sama kamu?"
Jeremy menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Hanny bahkan kedua matanya pun sudah terasa memanas, ternyata sudah sebesar itu rasa sayangnya tehadap Hanny, sehingga saat berjauhan dengannya membuat dirinya seolah tersakiti.
"Hanny, kendalikan dirimu, apa kamu lupa nasehat ustazah kita!"
Alisya dan Hanny sudah banyak bertanya-tanya tentang masalah kehidupan dan Ustazah mereka pun seolah mengerti, dan banyak memberikan nasehat-nasehat yang baik.
"Hei Ukhtiku, jangan ikut campur dalam kisah mereka, sini ngopi aja dulu denganku, biar nggak panik?"
Saat Alisya ingin menarik lengan Hanny untuk menjauh, Nicholas sudah lebih dulu menghalanginya dan membawa Alisya untuk duduk di pojokan warung.
"Maaf, tapi sejak kapan aku menjadi Ukhti kamu?" Tanya Alisya dengan sopan.
"Sejak hari ini, hehe.." Nicholas semakin kesengsem saja dengan kelembutan suara dari Alisya.
"Tapi ini tidak benar, Hanny tidak boleh menjadi orang ketiga diantara hubungan pak Kai?"
"Eits... jangan salah, dia jelas ada hubungannya dan yang harus bertanggung jawab dalam pernikahan Pak Kai, mengerti kamu wahai Ukhtiku, sini lah duduk dulu sama Aa."
Nicholas langsung merasa tidak terima karena dia yang sudah menjadi korban karena ulah Hanny yang kabur dari pernikahannya.
"Maaf, jangan pegang tanganku, kita bukan muhrim." Alisya langsung menangkupkan kedua tangannya didepan dadaa.
Aish... modelan kayak begini nih yang bikin gue tambah penasaran? Ya Tuhan... walaupun aku masih jauh dari kata baik, semoga di lingkungan kaum para santri ini Engkau mendengarkan doaku, aku ingin Ukhti yang ada dihadapanku ini menjadi pendamping hidupku di dunia dan akhirat kelak, juga mampu membawaku ke Jalan yang Engkau Ridhoi, amin.
Sedari awal pertemuan mereka, Nicholas memang sudah tertarik dengan sosok Alisya, namun dia belum berkesempatan untuk mengenal jauh dengannya.
"Om Jeni, waktunya sudah habis, cepat kalian pergi!" Sholeh terlihat berlari kearah mereka sambil menyingsingkan sarungnya.
"Hah? siapa Om Jeni?" Nicholas dan Jeremy langsung menoleh kearah Sholeh secara bersamaan.
"Bukannya nama kalian Jeremy dan Nicholas?" Jawab Sholeh dengan santainya.
"Astoge, kamu ini ya Sholeh, suka-suka kamu saja mengganti nama kami." Nicholas langsung protes.
"Maaf, saya dan Hanny juga harus segera pergi dari sini."
Begitu Sholeh datang, Alisya langsung memiliki kesempatan untuk menarik Hanny agar terlepas dari pelukan Jeremy.
"Hanny, mas sangat menunggu semua kejujuranmu? dan cukup kamu tahu, bahwa kunci dari pintu hati mas, masih ada dalam genggamanmu." Ucap Jeremy dengan tatapan penuh harap kearahnya.
"Mbak masuk sana mbak, wah... bisa ribet ini nanti urusannya." Sholeh langsung mengibaskan tangannya kearah Hanny dan Alisya agar mereka segera pergi.
"Kenapa kalian semua ada disini?"
Duar!
Baru saja Sholeh selesai bicara, namun Abah dan juga istrinya sudah berdiri didepan gerbang dan memperhatikan mereka semua yang ada disana satu persatu.
"Aish... Om Jeni sih, lebih dari sepuluh menit!" Umpat Sholeh yang terlihat kecewa.
"Sholeh, apa kamu yang merencanakan ini semua?" Tanya Abah dengan tatapan khasnya.
"Maaf Abah, saya memang bersalah."
Sholeh sama sekali tidak berani berbohong jika sudah berhadapan dengan Abah secara face to face.
"Sekarang masuk ke dalam Pondok Pesantren , jalankan apa yang menjadi konsekuensimu." Titah Abah yang tidak pernah pilih kasih kepada semua santrinya, walau Sholeh adalah salah satu santri terbaik serta Hafiz Al Quran disana.
"Baik Abah."
Sholeh pun paham dengan hukuman apa yang harus dia terima, karena ini memang rencananya, jadi dia harus siap menerima segala akibatnya.
__ADS_1
"Maaf Abah, jangan hukum Sholeh, disini saya yang bersalah." Jeremy merasa tidak enak hati, karena Sholeh sudah susah payah membantunya.
"Aku tahu, tapi Sholeh tapi betul bagaimana peraturan di pondok pesantren ini." Jawab Abah sambil menghela nafasnya berulang kali.
"Nggak papa Om, maaf ya cuma bisa bantu sampai disini saja." Ucap Sholeh dengan senyuman, seolah tidak ada rasa dendam karena dia sudah dihukum karena ulah Jeremy yang tidak mematuhi sarannya.
"Tapi Sholeh?" Jeremy tetap saja merasa iba dengan Sholeh, dia yang bersalah namun orang lain yang terkena dampaknya.
"Tenang saja Om, hukumannya cuma menyapu dan mengepel seluruh area pondok saja kok, itung-itung olahraga." Bisik Sholeh dengan santainya.
"Nanti kamu bisa kecapekan Sholeh, pondok ini luas sekali loh?" Jeremy mengedarkan pandangan di area Pondok Pesantren yang memang luas sekali.
"Tidak masalah Om, itu sudah peraturannya, yang penting Om harus semangat untuk segera menghalalkan mbaknya, karena tidak pernah dibenarkan adanya hubungan pacaran di dalam Islam. Justru sebaliknya, Islam melarang adanya pacaran di antara mereka yang bukan muhrim karena dapat menimbulkan berbagai fitnah dan dosa."
Disaat suasana terjepit seperti itu pun Sholeh masih sempat memberikan siraman kalbu untuk Jeremy.
"Iya, tapi tadi kan cuma bertemu aja, seharusnya nggak apa-apa kan?" Jeremy malah mencoba untuk menawarnya.
"Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh antara laki-laki dan wanita berduaan kecuali disertai oleh muhrimnya, dan seorang wanita tidak boleh bepergian kecuali ditemani oleh mahramnya.” Bisik Sholeh kembali.
"Ya ampun, trus aku harus bagaimana Sholeh, sedangkan ada banyak hal yang harus aku bicarakan dengan My Hanny?" Umpat Jeremy kembali.
"Tanyakan saja dengan Abah, kalau begitu Sholeh permisi Om, assalamu'alaikum." Sholeh langsung membungkukkan badannya sebagai tanda hormat kearah mereka-mereka yang lebih tua dan segera berlari kembali ke wilayah Pondok Pesantren.
"Wa'alaikum salam." Jawab Jeremy sambil menggaruk-ngaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia masih mencari cara agar bisa berbicara dengan Hanny apapun caranya.
"Kalian berdua belum pulang?" Tanya Abah yang hanya bisa mengusap dadaanya dan menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan kedua pria tampan dihadapannya kini.
"Abah, maafkan saya, tapi apapun syaratnya saya akan menyetujuinya, asal bisa bersama dengan Hanny, ada banyak kata tanya, ada banyak permasalahan yang belum sempat saya selesaikan dengannya."
Jeremy mencoba mencari celah agar bisa membujuk Abah untuk membantunya.
"Bukannya Sholeh tadi sudah memberitahu kamu panjang lebar, tentang dalil dari seorang laki-laki dan perempuan?" Ucap Abah yang sebenarnya tadi pun sempat mendengar bisikan mereka.
"Kalau begitu saya mohon Abah, Anda kan yang bertanggung jawab di pondok pesantren ini, agar tidak terjadi dosa dan fitnah diantara kita, tolong pinangkan Hanny untuk saya." Pinta Jeremy yang tidak punya cara lain.
"Kamu mau meminta Abah untuk mengkhitbah Hanny untuk menjadi pasangan kamu?" Tanya Abah yang langsung menyunggingkan senyuman disana.
"Iya Abah." Jawab Jeremy dengan mantap.
"Atas dasar apa, kamu berani meminta dengan Abah tentang hal itu, kamu sudah tahu bukan larangan-larangan-Nya?"
Nyot.. Nyot dengan My Hanny, hmm... kan jadi pengen lagi, sambil diusap-usap rambutku, uhh... aku rindu.
Jeremy hanya melanjutkan ucapannya didalam hati saja, karena dia merasa ragu sendiri jika harus menceritakan dengan gamblang.
"Apa itu saja sudah cukup?" Tanya Abah kembali.
"Saya berjanji akan bertanggung jawab sepenuhnya dengan Hanny, ayolah Abah tolonglah." Jeremy terlihat memohon dengan sangat.
"Asal kamu tahu saja, sejak Hanny masuk kedalam pondok pesantren ini, sudah hampir separuh dari santri pria yang lajang mendatangi Abah, bukan cuma kamu saja yang bilang seperti itu." Jawab Abah dengan jujur.
"APA?"
Kenapa aku jadi punya saingan?
Jeremy seolah tidak percaya, karena Hanny baru beberapa hari saja tinggal di Pondok Pesantren itu, kenapa sudah hampir separuh santri pria yang ingin mengkhitbah wanita yang masih bersarang di tahta tertinggi dihatinya.
"Bahkan mereka juga sama-sama berjanji akan bertanggung jawab dengan Hanny, juga akan membahagiakan dirinya layaknya sang bidadari Surga mereka." Abah mengatakan sesuai dengan apa yang para santri itu ucapkan.
"HAH?"
Siapa pria yang berani menjadi sainganku, dia belum tahu aku sepertinya?
Rasa kesal didalam diri Jeremy mulai muncul, selama di perjalanan cintanya, belum ada pria manapun yang berani mengajaknya bersaing dengan apa yang dia suka, karena takut kalah saing, kecuali dalam hal bisnis atau pekerjaan, karena itu hal yang wajar.
"Awal mulanya saat ada dua santri yang memintanya, Abah sudah ingin menanyakan kesediaan dari Hanny, namun ternyata malam-malam setelahnya, para santri lainnya bergantian masuk ke ruangan Abah untuk memintanya juga, jadi sejak saat itu Abah menyimpulkan bahwa semua keputusan ada di tangan Hanny nantinya."
Karena sesungguhnya, Abah tidak ingin ada pertengkaran atau persaingan didalam pondok pesantren itu, kecuali persaingan tentang kebaikan.
"Tapi kan saya yang lebih berhak dengam Hanny, karena saya sudah tau siapa Hanny sedari dulu Abah." Jeremy seolah memegang point penting saat ini.
"Diantara semua santri-santri pria kami, tidak ada yang keberatan dengan semua masa lalu Hanny, yang terpenting Hanny bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya, jadi apa yang membedakan hak diantara kalian, bahkan kalau Abah yang memilihkan sudah pasti Hanny akan saya pilihkan dengan santri Abah yang bisa membimbing Hanny ke jalan yang Allah Ridhoi, karena memang dia minim dengan pengetahuan Agama."
Duar!
__ADS_1
Jika sudah menyangkut tentang pengetahuan Agama, sudah pasti Jeremy akan kalah start, dia bahkan seperti semut yang berlomba balap dengan kancil, sudah bisa dipastikan dia akan tertinggal jauh dibelakang untuk mencapai garis finis.
"Abah, tolonglah Abah, saya bisa mati tanpa Hanny." Rengek Jeremy yang mencoba merayu Abah, karena dia tidak terpikir alasan lain saat itu.
"Apalagi dengan alasan itu, Abah semakin tidak setuju dengan kamu, karena kamu seolah mengabaikan kuasa Tuhan, karena hanya Dia lah yang mengatur segalanya, begitupun dengan umurmu, bukan hanya karena santri Abah yang bernama Hanny." Ucap Abah dengan penuh keyakinan.
"Lalu saya harus bagaimana Abah, tolong bantu saya, karena selama ini tidak ada yang membimbingku." Jeremy mulai menundukkan kepalanya dengan melas.
"Perbaiki dirimu, perbaiki ibadahmu, Insya Allah kamu akan didekatkan dengan Jodohmu." Jawab Abah dengan tenang.
"Tapi aku maunya Hanny Abah!" Jeremy teeus saja mengotot saat itu.
"Astagfirulloh... pria yang satu ini."
Dan Abah pun sebenarnya sudah hampir kualahan dengan sikap Jeremy.
"Abah, dia sudah bilang kalau memang tidak ada yang membimbing dia dalam kebaikan, tidak ada salahnya kita bantu dia untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Ustazah sekaligus istri dari Abah hanya bisa terdenyum melihat tekad Jeremy yang memang sangat kuat.
"Baiklah kalau begitu, apa kamu mau belajar juga di pondok ini." Ucap Abah yang mencoba menawarkan jalan menuju kebaikan.
"Mau Abah."
"Tapi ingat, jangan hanya karena alasan Hanny, perbaiki dulu Akhlakmu dan ibadahmu, Abah dan santri lain akan membantu menuntunmu, karena seorang pria itu akan menjadi imam dalam keluarganya, jika imamnya saja tidak kuat bagaimana kamu bisa menjamin bangunan itu tidak roboh nantinya?"
"Baik Abah, saya mengerti."
"Tapi kamu sudah tahu kan peraturan di Pondok Pesantren ini bagimana?"
"Sedikit banyaknya saya tahu dari cerita Sholeh Bah."
"Bagus, karena itu memang syarat utama."
"Tapi kalau tidak sengaja bertemu boleh menyapa kan Bah?"
"Kalau kamu berada digarismu, sudah dipastikan kamu tidak akan bertemu dengannya."
Karena Abah memang sengaja memisahkan jalan dan tempat wudhu diantara santri wanita dan pria jika menuju Masjid.
"Kalau lagi sholat jamaah itu Bah?"
"Memang Abah mewajibkan semua santri di Pondok Pesantren ini untuk sholat berjamaah, tapi dengan tujuan mencari Pahala yang berlipat ganda, bukan untuk mencuri-curi pandang dengan santri perempuan, jadi jaga pandangan kedua mata kamu dengan yang belum halal bagimu."
"Kalau pegang tangan sebentar aja boleh nggak Bah, saat sebelum tidur gitu?"
"Hush... mana boleh, memandang saja tidak boleh, apalagi memegangnya."
"Tapi aku dulu bahkan sering memeluknya Bah." Jawab Jeremy dengan nekad.
"Kamu ngomong apa?" Abah seolah tidak percaya.
"Menciumnya juga!"
"APA!"
Abah begitu terkejut saat Jeremy seolah tidak punya rasa malu saat mengatakan hal pribadi didepan dirinya.
"Bahkan nyot-nyot di gunung Semeru juga sudah pernah Bah!"
"Pffthh.. Bahaha!"
Nicholas yang sedari tadi menyimak, tidak lagi bisa menahan tawanya, saat mendengar kata istilah dari Jeremy.
"Astagfirullohal'adzim." Oksigen disekitar tubuh Abah seolah menghilang seketika, saat mendengar kegilaan dari seorang Jeremy
"Hehe... makanya biar nggak dosa, nikahkan saja saya dengan Hanny Abah, secara Siri dulu juga nggak papa Bah, yang penting Sah dulu."
Jeremy sengaja nekad dengan tujuan ingin mengikat Hanny agar dirinya tidak mencoba kabur lagi darinya.
"Aduh... kepala Abah jadi pusing ini, suruh Sholeh mengajarinya dulu, haish... Iman anak jaman sekarang, hanya setipis kertas saja, aduh... ayo kita masuk kedalam duluan Umi."
Abah langsung melepas sorbannya sesaat karena merasakan hawa panas saat mendengar ocehan Jeremy yang terlalu jujur.
Sedangkan Jeremy hanya bisa melebarkan senyuman, sesungguhnya dia sudah menahan tawa sejak tadi, apalagi saat melihat ekspresi Abah dengan segala kejujuran dari kelakuannya dulu.
Namun itu Jeremy lakukan semata-mata hanya untuk memberitahukan kepada Abah, bahwa dirinya sudah berhubungan terlalu jauh dengan Hanny, setidaknya itu akan menjadi bahan pertimbangan untuk memberatkan timbangan kepadanya.
__ADS_1
Awal mulanya tujuan utama Jeremy kesana memang untuk bertemu dengan Hanny, namun jika belajar di Pondok Pesantren itu membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik lagi, apa salahnya dicoba.
Apalagi saat dia selesai sholat berjamaah tadi, seolah Jeremy merasakan ketentraman di hatinya, bahkan bertemu dengan Sholeh pun seolah menjadi hikmah tersendiri baginya, karena Sholeh banyak mengajarkan dirinya tentang ilmu Agama.