Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
Kembali


__ADS_3

Hujan sudah reda,namun gumpalan awan hitam terlihat dari balik kaca."Sepertinya akan ada badai,"ucap Rio.


"Kau jangan bicara begitu Rio,"protes Cinta.


"Lihatlah awan itu Cin,tidak seperti tadi kan,malahan terlihat hitam.Kamu tunggu di sini dulu sebentar ya."Rio pergi meninggalkan Cinta di ruang tamu sendirian.


Benar saja,langit hitam Terlihat dari kaca,pepohonan bergoyang kencang karena tertiup angin.Bahkan ada beberapa yang tumbang karena tak mampu menahan kencangnya angin.Petir pun bergemuruh begitu kerasnya,hingga membuat Cinta ketakutan.Tak lama Rio datang membawa sebuah selimut.


"Pakailah kamu pasti kedinginan," ia memberikan selimut itu pada Cinta.


Cinta merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu,petir yang terus menggelegar membuatnya berselimutan hingga menutupi seluruh tubuhnya.Hingga entah mulai kapan ia sampai tertidur.


Di pandandanginya wajah cantik itu.Setelah berkali-kali memanggil tak ada sahutan,Rio membuka sedikit selimut yang menutupi wajah Cinta hanya sebatas leher,ia tersenyum melihatnya.Ya hanya melihat dan memandanginya saja tak lebih dari itu.


Merasa ada hembusan di sekitar wajahnya,Cinta membuka matanya.Dan sejenak kedua pasang mata itu saling pandang.Cinta memalingkan wajahnya,ia merasa malu di pandangi seperti itu.


"Kenapa pipimu memerah Cin?"ejek Rio.Tidak menjawab,Cinta malah hendak menutup wajahnya kembali dengan selimut.Namun Rio menahannya.Ia tersenyum melihat wajah sang kekasih yang semakin memerah.


"Ayo pulang! apa kau mau tidur lagi?"ucapnya seraya membuka selimut yang menutupi tubuh Cinta.


"Sudah sore ya? kenapa kamu tidak membangunkanku?"


"Kamu tidur terlalu nyenyak,tidak tega aku membangunkanmu,"jawab Rio.


"Lalu kerjaan mu bagaimana?"


"Sudah aku serahkan pada asistenku,"jawab Rio.


"Enak sekali jadi atasan ya,seenaknya saja kalau bekerja."Rio hanya tersenyum saja mendengarnya.


"Ayo!"ajak Rio keluar rumah lebih dulu.


Cinta melipat selimut itu lalu mengikuti Rio keluar.

__ADS_1


*****


Jalanan macet,banyak pepohonan yang tumbang karena badai yang terjadi beberapa jam yang lalu,para pekerja bekerja keras memotongi dahan-dahan pohon untuk mempermudah di evakuasi.Perjalanan yang harusnya di tempuh sekitar kurang lebih 30 menit hingga sampai di panti kini sudah 1 jam lamanya belum sampai juga.


setelah 1,5 jam akhirnya mereka sampai juga,Cinta turun begitu saja.Tanpa melihat dan memperdulikan siapa pun ia terus berjalan hingga sampai di depan pintu.


Di pegangnya lama gagang pintu itu,hingga tangisnya mulai terdengar oleh Rio yang berada di belakangnya.Kali ini Rio tidak membawa ke panti,namun kembali ke rumah orangtuanya.Banyak sekali kenangan yang tersimpan di rumah ini,dan kini ia kembali untuk mengenang semua itu.


Ceklek.


Cinta membuka perlahan pintu yang tak terkunci.Pandangannya menelusuri seluruh ruangan,masih tetap sama tidak ada yang berubah sama sekali.hingga pandangannya berhenti pada salah satu kamar di bagian ujung.Ia mendekat,di raihnya ganggang pintu itu.


Ceklek.


Pintu terbuka,air matanya membanjir kala melihat ranjang besar itu,di mana saat kecil ia tidur di tengah-tengah ayah dan ibunya.Ia pejamkan matanya sejenak,suara gelak tawa begitu jelas ia dengar,nyata ataukah hanya bayangannya saja.


Rio melihat itu,air mata yang membanjir deras di dua pipi sang kekasih.Di usapnya penuh kasih,mata Cinta terbuka kala merasakan sentuhan itu.Ia menggenggam jemari tangan yang masih ada di kedua pipinya dan menurunkannya.


"Penyelasan tidak ada gunanya,yang terpenting sekarang bagaimana kamu bisa menata hidup yang lebih baik dan berarti.Aku akan selalu bersama mu Cin."


Cinta mengalihkan pandangannya pada Rio,ia tersenyum mendengar penuturan itu."Ajari aku Rio."


Rio mengangguk,"lalu bagaimana? apa kau akan kembali ke rumah ini lagi?"


Menghembuskan nafasnya pelan,sebenarnya sulit baginya untuk kembali ke rumah ini.Karena baginya di panti ia seperti menemukan keluarga baru,tapi kembali lagi ke orangtua.Rumah ini merupakan peninggalan orangtuanya satu-satunya.Bersyukur karena rumah ini telah kembali lagi padanya,dan kali ini ia akan menjaganya dengan baik."Iya aku akan kembali menempati rumah ini."


Cinta pun kembali bimbang,"lalu setelah menikah apakah kau akan memintaku tinggal di rumahku atau rumah yang baru itu?"


Rio tersenyum mendengarnya,"kita akan tinggal di sini,dan jika waktu libur kita akan menginap di rumah orangtuaku."


"Lalu rumah yang baru itu?"


"Itu untuk anak kita,"bisiknya lirih di telinga Cinta.

__ADS_1


Pipinya merona mendengar kata-kata Rio.Sangking gemasnya Rio mencubit pipi yang memerah itu.Belum beranjak dari kamar mendiang orangtuanya,di luar sana terdengar suara orang-orang tengah berteriak memanggil-manggil namanya.


Cinta pun keluar di susul Rio di belakangnya.


Banyak warga yang berdatangan di depan Rumah Cinta.


"Hei p***r kenapa kau berbuat mesum di rumah ini lagi?"


"Hei bu mulut mu itu lebih kotor dari kotoran yang ibu injak itu,"ucap Rio membuat sang ibu yang berbicara tadi bersungut.


"Sudahlah Rio,biarkan saja.Cinta berusaha meredakan emosi Rio.


"Biarkan bagaimana,mulut mereka itu lama-lama perlu di lakban biar tahu tata krama."


"Memang benarkan apa yang aku bilang,ngapain coba kalian berdua di rumah berduaan begitu kalau tidak berbuat mesum,mana si Cinta pekerjaannya kan P***r."Lagi-lagi perkataan yang membuat kuping panas itu keluar dengan begitu mudahnya.


"Ayo kita seret saja mereka ke pak Rt,"timpal yang lainnya.


"Iya benar,ayo seret saja."Mereka beramai-ramai ingin membawa Cinta dan Rio ke rumah pak Rt.


"Bu di rumah ini saya pasang cctv,jika ibu-ibu mau lihat apa yang kita lakukan,akan saya tunjukkan.Jika tuduhan kalian semua tidak sesuai dengan apa yang kalian lihat,maka saya akan menuntut kalian semuanya."Ancam Rio.


Mendengar ancaman Rio yang bersangkutan dengan pihak yang berwajib,semua ibu-ibu itu bergidik ngeri.Akhirnya mereka semua bubar.


"Benar kamu memasang cctv Rio?"tanya Cinta.


Rio tersenyum menampilkan giginya yang putih.


Sebab ia hanya menggertak mereka saja,dan berhasil.Semuanya pergi begitu saja setelah mendengar akan di tuntut.


Cinta geleng-geleng kepala melihatnya,tapi ada baiknya,dengan begitu mereka tidak akan berkata yang tidak-tidak.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2