
...Happy Reading...
Karena sebuah jeritan dan suara de sahan yang bahkan bukan milik Nicholas, dia terpaksa harus berangkat pagi ini juga untuk pulang ke tempat dimana Alisya dilahirkan.
"Yank, ayah kamu galak nggak sih?" Nicholas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sambil ingin mengkorek info tentang ayahnya, agar dia bisa mempersiapkan diri sebelum bertemu langsung dengan ayah Alisya.
"Enggak." Jawab Alisya dengan santainya.
"Benarkah? kira-kira bagaimana saat menghadapi orang yang semacam aku?" Tanya Nicholas kembali.
"Emang mas kenapa?" Alisya merasa heran sendiri dengan pertanyaan kekasihnya itu.
"Nggak tahu, apa selama ini kamu tidak memperhatikan aku? tidak bisa menilai diriku begitu?" Entah mengapa dia mulai sensitif jika sudah menyinggung tentang Alisya, padahal dulu dia orang yang termasuk dalam golongan masa bodoh dengan pendapat orang lain tentang dirinya.
"Kok malah jadi gantian nanya sih?" Alisya belum tahu kemana sebenarnya arah pembicaraan dari Nicholas.
"Hei sayang, kalau kamu tidak tahu dan tidak ingin tahu apa-apa soal aku, berarti kamu tidak memperdulikan diriku?" Nada suaranya terdengar seolah Nicholas tidak terima jika Alisya tidak mau ambil tahu tentang dirinya.
Ini gimana sih ceritanya?
"Emm... sudahlah, mas nggak usah gugup begitu, mas itu udah tampan, berkharisma, baik, pokoknya sempurna deh bagi aku, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Dan memberikan pujian adalah solusi terbaik menurutnya.
"Benarkah?" Wajah Nicholas bahkan terlihat tersipu-sipu malu setelahnya, jarang-jarang kekasihnya itu mau memujinya.
"Hmm... walau kadang sering ngeselin juga sih."
"Tuh kan?" Nicholas langsung mencubit pipi Alisya.
"Tapi... aku sayang." Ucap Alisya kemudian, yang mampu membuat tubuh Nicholas semakin memanas karena kesengsem.
Beeeerrrrr!
"Peluk bentar yank?" Nicholas mulai beraksi, seolah magnet didiri Alisya semakin memancarkan kekuatannya.
"Nggak boleh, aku bilangin ayah loh mas nanti!"
"Kamu ini dikit-dikit ayah aja terus!" Dia kembali membenahi duduknya dan meluruskan pandangan kearah jalanan.
"Sabar, orang sabar disayang Tuhan, okey?" Alisya memilih mengusap pipi Nicholas, agar dia tidak ngambek lagi.
Betapa bahagianya hati Nicholas saat Alisya mengucap kata sayang, karena biasanya wanita itu jarang sekali mau mengungkapkan kata-kata itu.
"Kamu jadi ngajak si Bodat yank?" Tanya Nicholas kembali.
"Maksud mas si Hanny?"
"Ya iyalah, siapa lagi!"
Karena kemarin dia mendengar sendiri kalau ayah Alisya meminta Hanny untuk diajak pulang bersamanya.
"Karena ini permintaan ayah, aku sudah bilang dengan dia, tapi mas tahu sendiri, pak Jeremy tidak akan mau mengizinkan Hanny pergi kalau tanpa dia, jadi mungkin mereka ritual pagi dulu baru menyusul kita."
"Sudah aku duga." Dia sidah hafal denan benar kebiasaan bos nya segiap pagi, apalagi akhir-akhir ini seolah sifat mesvmnya semakin menggila.
__ADS_1
"Kasian juga sebenarnya jadi Hanny kan mas? apa nggak remuk-remuk badannya tiap hari ditindas sama suaminya?"
"Pfftthh... aku rasa yang sering menindas bukan Bos Jeremy, tapi teman kamu itu!" Apalagi Nicholas pernah melihat sendiri dalam video ketika Hanny selalu menjadi pihak pemandu soal ranjang bergoyang.
"Masak sih?" Alisya ngeri-ngeri sedap saat memikirkannya. "Tapi kalau pak Jeremy terus-terusan ditindas kenapa dia minta terus?" Tanyanya kembali.
"Ya karena itu... emm... kata orang uwenaaak tenan rasanya yank." Walaupun dia belum pernah merasakannya, tapi sebagai pria dia juga pernah bersolo karier, begitu saja nikmat, apalagi jika ada lawan, sudah pasti luar biasa pikirnya.
"Apaan sih mas, nggak jelas deh!" Alisya tidak mau bertanya lebih lanjut, karena bayangan lonceng hitam saat itu masih terekam jelas di otak sucinya.
"Sudahlah, nanti malam kita mungkin sudah bisa mempraktekkannya."
"Loh, kok nanti malam sih mas? jangan ngawur kamu!"
"Bukannya kita disuruh pulang mau dinikahkan? berarti malam ini adalah malam pertama kita dong yank?" Nicholas bisa-bisanya menyimpulkan sendiri.
"Woah... kenapa mas sudah yakin sekali?"Dia menatap takjub wajah kekasihnya yang tidak sekaku dulu lagi.
"Naluri lelaki dong yank, hehe.." Jawabnya sambil terkekeh.
"Orang kalau disuruh nikah dadakan itu panik mas, kenapa mas malah terlihat bahagia seolah tanpa beban?"
"Karena bahkan sebelum kamu jadi janda pun aku sudah siap mau menikahimu, aku hanya memberi jeda sesaat untuk kamu menikmati masa lajangmu saat itu, tapi malah ditikung sama si mafia itu!" Dia kembali sewot jika sudah mengingat kejadian hari itu.
"Sudahlah, itu sudah berlalu."Dia malas membahasnya karena ujung-ujungnya pasti hanya akan ribut.
"Mulai saat ini, tidak akan pernah aku biarkan kamu pergi dariku walau hanya sesaat, mengerti kamu sayang?"
"Kamu mengancamku mas?"
"Preetlah!" Namun Alisya malah tersenyum geli dalam menanggapinya.
"Kamu bilang apa?" Nicholas menajamkan pandangannya, seumur-umur baru Alisya wanita yang berani mengumpatnya, selain Hanny musuh bebuyutannya tentunya.
"Nggak ada, sebentar lagi kita udah mau sampai mas." Alisya hanya bisa tersenyum-senyum saat mendengar ocehan receh tapi mampu membuat hatinya kesengsem, karena ternyata bahagia itu tidak rumit, hal-hal kecil pun mampu membuat kita merasakan kebahagiaan yang tiada tara.
Akhirnya mobil Nicholas sampai di rumah kelahiran Alisya tepat saat adzan sholat dzuhur berkumandang.
"Assalamu'alaikum ayah, ibu." Alisya langsung mencium tangan ayah dan ibunya secara bergantian saat kedatangan mereka sudah disambut didepan pintu.
"Wa'alaikumsalam, apa ini calon menantu ibu yang baru?" Tanya ibu Alisya yang memang sangat penasaran, malam itu dia hanya melihatnya sekilas saja, bahkan tidak begitu jelas karena sudah malam hari.
"Iya bu, nama saya Nicholas." Jawab Nicholas dengan rasa percaya diri penuh saat dia ikut mencium tangan ibu Alisya.
"Kamu muslim?"
Saat Nicholas ingin bergantian menjabat tangan Ayah Alisya, namun Ayah Alisya melengos, dia malah sengaja menyembunyikan tangannya dibelakang tubuhnya.
"Hah? Iya pak." Nicholas yang awalnya merasa percaya diri, kini rasa itu mulai pudar sedikit demi sedikit.
"Kalau begitu kita pergi ke pondok pesantren sekarang, kamu yang akan menjadi imam para santri dalam sholat berjamaah kali ini." Ucap Ayah Alisya dengan tegas.
Dia hanya ingin tahu, seberapa kuat mental calon menantunya, karena menjadi imam saat berjamaah bukannya mudah, namun bukan juga terlalu sulit, itu semua tergantung dengan diri kita masing-masing.
__ADS_1
Jika menjadi imam saat sholat berjamaah saja tidak mampu, bagaimana dia mau menjadi imam dalam keluarga kecilnya kelak, karena dia harus menjadi kepala keluarga dan mempertanggung jawabkan semua di dunia dan akhirat nanti.
Duar!
Seketika kaki Nicholas terasa lemas mendadak, bukannya dia menolak atau tidak mau, tapi kalau tiba-tiba menjadi imam dari ratusan para santri dan juga ustad maupun ustadzah disana, Nicholas rasa-rasanya masih belum siap, karena soal ilmu agama dia bahkan jauh dari kata sempurna, bahkan mungkin bacaan dia dibanding dengan para santri disana sudah pasti masih tertinggal jauh.
"Tegakkan tubuhmu, kita berangkat sekarang juga!" Ucap Ayah Alisya saat melihat Nicholas tiba-tiba memegang lengan putrinya dengan erat, seolah meminta bantuan.
"Sayang, bantu aku." Bisik Nicholas dengan wajah yang sudah ketar-ketir.
"Bukannya mas sudah belajar banyak hari itu? apa mas tidak pernah sholat selama ini?" Tanya Alisya yang sebenarnya ingin tahu juga, seberapa jauh kekasihnya itu tahu soal ibadah, karena itu menurutnya juga sangatlah penting.
"Aku sudah mulai rajin yank, tapi kalau tiba-tiba langsung jadi imam dari para santri di pondok pesantren itu, mas kayaknya belum siap yank." Rengek Nicholas kembali.
"Kenapa?"
"Mas itu bacaan suratnya aja masih yang pendek-pendek, bacaannya juga masih belum begitu faseh." Jelas Nicholas dengan wajah yang terlihat memprihatinkan.
"Tidak masalah mas, syarat sah sholat itu tidak bergantung dengan bacaan surat yang panjang, karena pendek pun tidak masalah."
"Tapi yank aku tetap belum siap, bantu aku ngomong sama ayah kamu dong, lain kali aku akan belajar lebih giat lagi dengan Sholeh atau Abah, okey?"
"Kalau itu syarat untuk menikahiku bagaimana?" Dia sudah menduga, ayahnya tidak akan memberikan syarat lain selain dalam hal ibadah, apalagi syarat yang berwujudkan tentang materi karena Ayah Alisya tidka matre, bahkan sebenarnya dia tidak suka jika punya menantu yang kaya raya.
"Hah, benarkah? haduuh... aku jadi semakin takut, kalau nanti bacaanku ada yang salah, apa aku langsung tereliminasi?" Tanya Nicholas yang semakin panik.
Awalnya dia percaya diri untuk datang, karena dia sudah menyiapkan cincin dan mas kawin yang fantastis, namun jangankan ditanya apa mas kawinnya, baru saja dia datang sudah langsung diberikan sebuah tantangan dengan hal yang tidak sesuai dengan ekspetasinya.
"Pfftthh... mas kira kita sedang kompetisi apa? lakukan saja yang terbaik yang mas bisa." Jawab Alisya yang malah merasa lucu.
"Mas nggak bisa bayangin, kalau nanti aku gemetaran trus ngak fokus, trus salah-salah gimana?"
"Niat kan semuanya karena ingin beribadah dengan Allah mas, bukan karena keinginan Ayah atau siapapun itu, pokoknya bismilah saja, mas Nicholas pasti bisa dan mampu, aku percaya dengan kamu mas." Alisya seolah menyuntikkan energi ke tubuh Nicholas dengan mengembalikan rasa percaya dirinya, apapun yang terjadi nantinya Alisya tidak akan mempermasalahkannya karena setiap orang berhak diberikan kesempatan kedua asalkan tentang kebaikan.
"Baiklah."
Walau ragu namun Nicholas mencoba untuk percaya bahwa dia bisa, kalau boleh memilih dia lebih baik menghadapi ribuan para pesaing alot daripada harus berada dalam situasi yang menegangkan seperti ini.
Akhirnya dengan langkah gontai tanpa rasa percaya diri, Nicholas berjalan dibelakang ayah Alisya memasuki kawasan pelataran pondok pesantren.
"Ehh...? Ayah ada acara apa ini, sepertinya mereka bukan hanya dari kalangan para santri saja?"
Saat mereka masuk ke Aula pondok pesantren itu, Alisya sempat mengerutkan kedua alisnya karena melihat jamaah yang hadir begitu banyak, bahkan bukan hanya didalam masjid saja, di aula itu sampai dibentangkan puluhan tikar panjang.
"Iya, dengan lingkungan sekitar juga." Jawab Ayah Alisya dengan entengnya.
Degh!
"Aa.. Ay.. Ayah.. sa.. saya tidak menjadi imam mereka semua kan, saya bagian nanti sore pasti kan Yah?" Tanya Nicholas yang mulai gugup dan gemetaran melihat jumlah jamaah disana.
"Kenapa harus sore nanti, Ayah memang sengaja meminta Abah untuk mengundang warga di sekitar, untuk memperkenalkan calon menantu Ayah yang baru, lekaslah ambil air wudhu sana, sholat jamaah ini akan segera dimulai."
Duar!
__ADS_1
Bahkan tubuh Nicholas seolah limbung saat mendengar perkataan ayah Alisya yang seolah mencekik lehernya, apalagi saat melihat para warga masih terus saja berdatangan memenuhi Aula pondok pesantren itu.
Walau sedikit tapi tetap up ya bestie😁 yang penting kisah mereka tetap berlanjut sampai akhir bulan ini.