
...Happy Reading...
Api kecemburuan seolah menyulut amarah pada diri Nicholas kali ini, walaupun dari segi hati sudah dapat dipastikan kemenangan ada pada diri Nicholas.
Namun dia tetap saja merasa khawatir, apalagi saat dia menyadari, yang menjadi rivalnya kali ini bukanlah orang sembarangan, bahkan dia sosok manusia yang bisa menghalalkam segala cara demi sebuah obsesi semata.
Hawa dingin malam itu tidak Nicholas hiraukan, bahkan tubuhnya terasa panas, dia melajukan mobilnya, memecah kesunyian malam itu dengan melewati jalanan yang berliku, ditemani oleh suara jangkrik di sekitar jalan.
Butuh waktu beberapa jam bagi Nicholas untuk sampai kerumah Alisya yang berada diujung kota.
"Ckk.. aku yakin, pasti pria itu langsung kerumah wanitaku, aish.. terkadang orang-orang jahat seperti itu memang awet hidup di dunia yang fana ini." Umpat Nicholas sambil memukul stang bundar miliknya berulang skali sepanjang perjalanannya.
Tubuhnya yang lelah dan juga kondisinya yang memang belum begitu fit membuat Nicholas seolah mudah terpancing emosi.
"Tuh kan, apa gue bilang mafia itu pasti ada disana!"
Kekesalan pada diri Nicholas semakin memuncak, apalagi saat melihat didepan rumah Alisya banyak mobil mewah dan anak buah Yoga yang berkeliaran disana.
"Alisya!" Teriak Nicholas yang baru saja turun dari mobilnya.
"Hei... jangan teriak-teriak!" Namun anak buah Yoga langsung menghadangnya didepan dan mencegahnya.
"Awas, aku mau bertemu dengan wanitaku!"
Nicholas langsung melawan saat dua orang anak buah itu menahan tubuhnya dan melarangnya masuk kedalam rumah Alisya.
"Ini sudah malam, apa anda tidak bisa datang lain waktu saja?" Ucap Anak buah itu masih dengan mode datarnya, walau terlihat menyeramkan karena tampang anak buah Yoga memang sangar semua.
"Tidak, karena ada sesuatu yang penting yang harus aku sampaikan malam ini juga." Ucap Nicholas tetap ngotot.
"Tapi mereka sedang ada acara keluarga!" Tolak Anak buah itu kembali, mereka sempat melihat Nicholas saat mereka hampir beradu di negri sebrang kemarin, jadi mereka langsung mengenali sosok Nicholas walau dalam kegelapan malam sekalipun.
"Lalu kenapa, aku tidak akan menggangu acara mereka?"
"Tapi saya diperintahkan untuk berjaga didepan." Suara anak buah Yoga kini mulai naik sayu oktaf, karena Nicholas teelihat semakin ngotot melawan mereka.
"Hei... Kamu kira aku penjahat apa?" Teriak Nicholas makin tidak sabaran,dia tidak ingin terlambat untuk yang kedua kalinya dalam hal memenangkan Alisya.
"Tapi kamu bukan keluarga dari nona Alisya bukan?" Bahkan kedua anak buah itu sedikit mendorong tubuh Nicholas yang terus memaksa untuk masuk.
"Asal kamu tahu saja, jika tuan mu itu tidak menyusup lewat jalur dalam, sudah pasti aku yang akan mengusir kalian dari sini!" Nicholas ingin sekali rasanya menghantam mereka berdua, namun dia tidak ingin membuat keributan disana, dan merusak citranya sendiri didepan keluarga Alisya.
"Maksud anda apa?" Tantang mereka kembali.
"Sudahlah, aku tidak akan mengusik tuanmu, aku hanya perlu berbicara dengan wanitaku saja, awas minggir kalian!" Nicholas berusaha menepis lengan mereka.
"Tapi anda tidak boleh masuk!" Cegah mereka kembali dengan paksa.
"Atau aku akan melaporkan kalian semua ke kantor polisi sekarang!" Ancam Nicholas yang tidak punya pilihan, padahal dia saja tidak tahu kantor Polisi didaerah situ.
"Laporkan saja, kami hanya sekedar menjalankan perintah!" Mereka terlihat santai saja, karena irang tang ada dibelakang mereka tidak main-main.
"Kalau aku beberkan aksi kalian saat berada di negri tetangga, apa kalian tidak memikirkan keluarga kalian jika kamu dipenjara!"
"Maksud kamu apa!" Anak buah itu bahkan menarik kerah kemeja Nicholas.
"Eh... Apa itu? kenapa seperti ada suara orang berlari, jangan-jangan ada penyusup yang datang kemari, aish... harusnya kalian itu mengurus mereka, bukan aku!" Nicholas kembali membuat drama yang berhasil mengelabuhi kedua anak buah itu.
"Mana?" Teriak mereka berdua sambil menoleh mencari sumber suara yang tidak mereka dengar.
Namun saat mereka menoleh dan bersiaga didepan sana, Nicholas berjalan cepat dengan sedikit menyeret kakinya untuk masuk kedalam rumah wanita idamannya.
"Alisya?" Teriak Nicholas dengan semangat.
Degh!
"Ehh... Mas?"
Senyum Nicholas yang tadinya lebar, tiba-tiba langsung pudar. Betapa hancurnya hati seorang Nicholas, saat perjuangannya seolah terasa sia-sia.
Dia melihat Alisya berpelukan dengan Yoga Pratama, bahkan dengan senyum yang merekah, apalagi hal itu disaksikan oleh keluarga besarnya.
Dan yang lebih membuat seorang Nicholas merasa insecure, seluruh keluarganya bertepuk tangan bahagia melihat mereka berpelukan.
"Maaf, saya menggangu, kalau begitu saya permisi!" Nicholas langsung menundukkan kepalanya kearah mereka sejenak dan langsung berlalu dari hadapan mereka.
Saat kedua anak buah Yoga tadi merasa dibohongi, mereka segera ingin menangkap Nicholas, namun dengan dua kali kibasan tangannya saja, dia berhasil menyingkirkan anak buah itu dengan emosi yang membara.
Bug
Bug
Hantaman tangan Nicholas berhasil menumbangkan kedua anak buah itu, entah dia dapat energi dari mana, atau kerasukan setan dari mana, namun kekuatan Nicholas seolah terasa begitu kuat dan luar biasa.
"Mas, tunggu!"
Alisya ingin berlari mengejarnya, namun Nicholas tidak lagi menggubrisnya dan langsung masuk kedalam mobilnya.
Dugh!
"Aww... Astaga!" Saat Alisya berlari dia tidak memperhatikan rok panjangnya yang menjuntai, akhirnya tersandung dan dia terjungkal saat ingin mengejar Nicholas.
"Ya ampun mbak, hati-hati mbak!" Kedua anak buah Yoga ingin membantunya,namun Alisya langsung menolaknya.
"Mas Nicholas, jangan pergi dulu!" Alisya tidak memperdulikan lututnya yang berdarah saat terkena kerikil-kerikil kecil yang melukainya, dia tetap berusaha ingin mengejar Nicholas.
Brem!
Brem!
Namun apalah daya, Nicholas sudah memacu mobilnya, bahkan dengan kecepatan yang langsung tinggi, sehingga menimbulkan suara yang menggegerkan seluruh isi keluarganya.
__ADS_1
Urat-urat yang ada diwajah Nicholas seolah menegang, tatapan matanya memerah penuh dengan amarah, hatinya begitu terluka karena merasa kecewa.
Ternyata rasa sayangnya yang begitu besar dan rasa cintanya yang sangat menggebu itu seolah dihancurkan oleh kejadian ini.
Nicholas bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta, jadi kalau dia merasakan kesakitan karena ulah seorang wanita, sudah pasti itu bukan perkara main-main.
Bisa saja, setelah itu dia tidak mau lagi merasakan apa itu cinta, saat kebencian dan syaiton seolah menguasai dirinya.
Alisya hanya bisa menjambak hijabnya dan terduduk di rerumputan hijau didepan rumahnya yang basah karena suhu dingin dimalam hari, sambil menatap kepergian mobil Nicholas yang menjauh dari rumahnya.
"Mas... kamu pasti sudah salah sangka."
Rasa perih di kedua lututnya kini baru terasa, dia meniupnya perlahan dengan nafas yang masih terdengar ngos-ngosan.
"Alisya, hati-hati nak, kok bisa sampai jatuh, mana sampai berdarah lagi?" Ibu Alisya langsung membantu putrinya untuk bangun dari sana.
"Memangnya siapa pria itu, kenapa dia datang dan pergi dengan tiba-tiba?" Ayah Alisya merasa heran sendiri, karena dia memang belum pernah melihat sosok Nicholas ataupun mengenalnya.
"Dia kekasihku Ayah." Celoteh Alisya tanpa ragu lagi.
"HAH?"
Kedua orang tua Alisya langsung berteriak bersamaan, mereka tidak pernah mendengar cerita dari putrinya itu kalau dia punya kekasih, bahkan sampai sedewasa ini.
Itu mengapa mereka saat itu menyutujui jika ada yang menyunting putrinya, karena kedua orang tua Alisya menggangap Yoga adalah orang baik, jadi mereka tidak ragu, apalagi Yoga sudah banyak membantu keluarganya, bahkan tidak meminta bayaran, namun punya keinginan untuk mengkhitbah Alisya menjadi istrinya.
Karena dia sudah banyak bercerita dan mengakui kalau Yoga memang sudah menyukai Alisya sejak masih di bangku sekolahan.
"Nak, sebenarnya kamu memutuskan pernikahan kamu dengan Yoga karena kelakuan Yoga atau karena kekasihmu itu?" Ayah Alisya langsung memegang kedua bahu Alisya agar dia menatap wajah ayahnya.
"Tapi Bu..." Alisya juga tidka mungkin menjelaskan panjang lebar dalam situasi seperti ini, apalagi Yoga dan keluarga lainnya masih menunggu didalam.
"Nak, tidak baik memutuskan sebuah pernikahan hanya karena ada orang ketiga?" Ibu Alisya mengusap wajah cantik putrinya yang terlihat sendur.
"Bukan kekasihku yang menjadi orang ketiga buk."
"Jadi?" Kedua orang tua Alsiya terlihat menyimak dengan serius.
"Aku sebenarnya sudah punya hubungan dengan dia terlebih dahulu, tapi aku nggak enak jika harus menolak Yoga, karena itu permintaan dari kalian." Ucap Alisya dengan jujur.
"Astaga Nak, kenapa kamu tidak bercerita dengan kami tentang itu?" Ibu Alisya merasa tidak tega jadinya.
"Aku hanya belum sempat buk, tapi saat itu kalian sudah memberi keputusan, dan keluarga Yoga juga sudah ada dirumah, lalu aku bisa apa?" Keputusan yang dia ambil saat itu memang berat, namun dia tidak menyangka kalau masalahnya malah menjadi semakin berat seperti sekarang ini.
"Ya ampun, lalu apa kamu masih mencintainya." Tanya Ibu Alisya kembali.
"Banget buk, Alisya sayang banget sama dia, hiks.. hiks." Kalau sudah membahas masalah hati, air mata Alisya langsung turun tanpa permisi.
"Astagfirullahal'adzim.. Maafkan kami nak, kami tidak tahu, kalau begitu keputusan kamu dengan Yoga tadi sudah benar."
Akhirnya mereka bertiga berpelukan, mencoba menenangkan isak tangis putrinya yang kembali terdengar setelah tadi terkuras habis, saat tadi berembuk masalah dengan seorang Yoga Pratama.
__ADS_1
"Tapi aku takut, jika dia berbuat nekad setelah ini buk." Ucap Alisya disela-sela tangisannya.
"Berbuat nekad bagaimana, apa sampai ingin bunuh diri?" Tanya Ayah Alisya yang hanya asal bicara saja.
"Ayah, jangan menakut-nakutiku!" Umpat Alisya yang malah jadi kepikiran.
"Ckk... kalau dilihat dari merk mobilnya tadi, dia anak orang kaya ya, tidak mungkin mereka melakukan hal sebodoh itu, mereka pasti akan dengan mudahnya mencari pengganti." Wajah Ayah Alisya langsung berganti seperti terlihat sulit digambarkan, antara kesal dan seolah tidak suka.
"Sepertinya iya, emang kenapa Yah?" Setahu Alisya memang Nicholas orang kaya, walaupun dia hanya asisten saja.
"Bukannya Ayah ingin melarangmu nak, tapi kalau bisa carilah jodoh yang sepadan denganmu, dan yang penting setara dengan keadaan ekonomi keluargamu." Pungkas Ayah Alisya yang langsung memalingkan wajahnya.
"Kenapa Ayah berbicara seperti itu?" Tanya Alisya dengan heran.
"Ayah hanya mengingatkan saja." Ucapnya singkat.
"Tapi dia bilang sangat menyayangiku dan sangat mencintaiku Yah." Alisya semakin bingung dibuatnya.
"Aish... sayang dan cinta saja tidak cukup nak, mungkin benar dia begitu, tapi orang tuanya dan keluarganya, apa mereka ridho kamu menikah dengannya, sedangkan kita orang biasa, bahkan pekerjaan orang tuamu ini hanya buruh dan serabutan, yang tidak pasti penghasilannya." Gurat wajah Ayah Alisya terlihat begitu sedih, seolah ada sesuatu yang mengganjal dan membuat dirinya begitu tidak rela jika putrinya terluka nantinya.
"Lalu kenapa, Ayah dan Ibu malah menjodohkan aku dengan Yoga Pratama? Dia orang kaya loh Yah, kenapa Ayah menyetujuinya?" Tanya Alisya yang mengingat sosok Yoga, yang kini sudah menjadi mantan suaminya.
"Awalnya kami memang ragu, namun Yoga meyakinkan kami bahwa dia sudah menyukaimu sejak dulu nak dan yang membuat Ayah berani melepasmu, karena orang tuanya sendiri yang memintakannya dengan Ayah, itu maknanya orang tuanya menerima kamu dan saat itu Ayah juga belum tahu kelakuan Yoga yang sebenarnya, jadi Ayah setuju saja." Ayah Alisya memberikan alasan yang logis sesuai dengan apa yang dia tahu.
"Tapi Yah, aku juga sudah terlanjur sayang dengan Nicholas." Tubuh Alisya seolah kehilangan tenaga.
"Itu semua keputusanmu nak, tapi menurut ayah cari saja yang sepadan dengan kamu, karena modal cinta saja tidak selamanya indah nak." Diumurnya yang sudah setua itu, pahit manisnya kehidupan sudah dia rasakan, dia hanya ingin melihat putrinya bahgia, itu saja.
"Ibu juga pengennya kamu kuliah dulu yang benar, lulus jadi sarjana dan bisa cari modal, buat rumah dikampung kecil-kecilan saja tidak masalah, punya usaha sendiri, tidak harus banyak yang penting berkah, hidup tentram bersama keluargamu kelak." Itulah harapan seorang ibu Alisya, tidak pernah muluk-muluk keinginannya.
"Ibu kamu benar nak, kalau bisa sudahlah, lepaskan dia, cari jodoh yang sejajar dengan keluarga kita, buat apa mencari orang kaya, hanya bisa membuat kita tersiksa batin nantinya, ayah tidak mau rumah tangga kamu hancur untuk kedua kalinya, mengerti nak?"
"Kenapa Ayah sepertinya benci sekali dengan orang kaya? Apa ayah punya masa lalu yang buruk dengan orang kaya?" Tanya Alisya dengan tatapan curiga.
"Eherm... tentu saja tidak, Ayah hanya sering menonton film di channel ikan terbang itu bersama Ibumu." Ayah Alisya langsung membuat alasan lain.
"Ayah?"
"Sudahlah, ayok kita masuk, masih ada nak Yoga didalam sana, kasian dia masih dalam masa penyembuhan juga." Dia deolah enggan menceritakan kisah pahit yang terjadi di masa lalunya.
"Tunggu Ayah?"
"Ckk... sudahlah lupakan, owh ya buk, sekarang kalau malam ada filmnya nggak?" Ayah Alisya merangkul bahu istrinya.
"Entahlah Yah, TV kita nggak ada gambarnya, belum Ibu beliin STB."
"Ya sudahlah, Ayah masih punya banyak kuota yang kemarin dibelikan Abah di pondok, kita nonton aja yuk."
"Ya ampun Ayah, ngapain nonton sinetron, mending kita menyimak pengajian saja, sudah tua kok nontonnya sinetron." Ibu Alisya memukul bahu suaminya.
"Hehe... Ayah hanya bercanda buk, ayolah kita masuk."
__ADS_1
Orang tua Alisya akhirnya berjalan masuk kedalam rumah meninggalkan Alisya dengan sejuta rasa penasaran dihatinya.