Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
Bayangan masa lalu


__ADS_3

Senyum merekah dari bibir lelaki yang tengah duduk-duduk di teras rumahnya,udara dingin sampai tidak ia rasakan.Matanya menatap langit malam yang di taburi kemerlip bintang-bintang,satu bintang cahayanya begitu sangat terang di banding bintang lainnya.Ia tersenyum kembali saat bintang itu menjelma wajah seseorang yang ia cintai.


"Heeem,lagi jatuh cinta ya begini ini senyum-senyum sendiri,"ejek sang ibunda yang baru keluar mencari anak semata wayangnya.


Sedangkan yang di cari hanya diam saja tanpa meresponnya,bahkan menoleh pun tidak sama sekali.


"Rio,"teriak sang ibunda sambil menepuk bahu anaknya itu sedikit keras.


"Ah ibu,mengagetkan ku saja,"ucap Rio sambil bersungut.


"Mangkanya jangan melamun terus,"goda sang ibu.


"Gak melamun kok,liat bintang aja kok,"elaknya.


"Apanya gak melamun,di panggil berkali-kali gak ada jawaban gitu,"ucap ibunya.


Rio pun tersenyum kembali,ia kemudian memeluk ibunya yang duduk di sampingnya."Terimakasih ya bu,sudah merestui Rio dan Cinta."


Sang ibu hanya mengangguk sambil tersenyum senang melihat anaknya terlihat bahagia.Ya sekarang bu Halimah sadar,kebahagian seorang ibu adalah saat melihat anaknya bahagia.Orangtua hanya bisa mendoakan untuk kebaikan sang anak,apalagi selama ini Rio tidaklah pernah meminta apapun dari orangtuanya,dia lelaki yang mandiri,apa yang ia inginkan selalu ia dapat dari jerih payahnya sendiri.Bu Halimah tersenyum bangga melihat anak semata wayangnya itu,tidak menyangka dia tumbuh menjadi sosok yang di inginkan oleh setiap orang tua.


****


2 hari telah berlalu dan Rio sudah membawa cincin yang ia pesan beberapa hari yang lalu,segera ia menemui sang kekasih karena ibunya berpesan supaya membawa Cinta ke butik langganan keluarga untuk mencoba gaun pengantin yang akan di gunakan untuk acara ijab kobul dan resepsi.Tapi untuk saat ini mobil yang ia kendarai tidaklah melaju ke arah panti,melainkan ke kontrakan yang pernah ia tinggali dulu.Radit menelfonnya beberapa waktu sebelum ia hampir sampai di tempat Cinta,katanya darurat sehingga Radit memintanya datang ke kontrakan dengan membawa tukang pijat.Sempat heran sih tapi Rio tetap membawa tukang pijat sesuai permintaan Radit.


****


"Aduuuh,"teriak Radit saat pak tukang pijit itu mengurut salah satu kaki yang terkilir.Namun beberapa saat ia merasakan rasa sakitnya berkurang.

__ADS_1


"Kenapa bisa sampai terkilir sih Dit? kurang hati-hati ya kamu?"tanya Rio.


"Sudahlah kau pasti akan menertawakan aku jika aku cerita,"jawabnya sedikit sewot.


Rio pun hanya geleng-geleng kepala mendengarnya."Tidak cerita juga tidak masalah,"lanjutnya saat tukang pijit itu telah pamit pulang."Kenapa gak ke dokter saja sih? kan biar di periksa lebih lanjut,takutnya jika salah urut malah jadi komplikasi nanti."


"Kamu mendoakan aku komplikasi Yo?"


"Siapa yang mendoakan begitu,aku cuma menyarankan ke dokter kok,"jawab Rio menghela nafasnya kasar.


"Kamu mau kemana Yo rapi begitu,"tanya Radit penasaran.


"Tadi aja marah-marah,sekarang mau tahu saja,"ejek Rio."Aku mau ke tempat Cinta,mau ngajakin dia ke butik nyobain baju pengantin,"jawab Rio pada akhirnya.


"Aku ikut ya."Mendengar Radit ingin ikut Rio memicingkan matanya.


****


Dan kini mereka bertiga sudah berada dalam mobil.Cinta yang berada di samping kemudi dengan Rio sedangkan Radit duduk di tengah-tengah di bangku penumpang.


"Cin,ini cincin kita sudah jadi.Tadi aku mengambilnya,lihat deh bagus bukan,"ucap Rio sambil memberikan kotak cincin yang di bawanya pada Cinta kemudian membukanya.


"Eh coba-coba lihat,"tiba-tiba saja Radit merebut cincin itu dari tangan Cinta.


"Apaan sih kamu Dit? gak sopan banget tahu,"ucap Rio mengambil kembali cincinnya.


"Aaaa,"teriak Radit sambil memegangi kepalanya.

__ADS_1


Sekilas bayangan wanita berpakaian seksi yang tidak terlihat wajahnya serta toko perhiasan melintas di otaknya dan itu sungguh menbuat kepalanya begitu sakit.


Rio dan Cinta saling pandang."Dit kamu gak papa kan?"tanya Rio.


"Aku seperti mengingat sesuatu melihat cincin itu,tp apa? Aaaaa,"teriaknya lagi dengan kedua tangan masih memegangi kepalanya.


"Jangan di paksakan Dit,"ucap Rio.


Melihat Radit yang seolah mengingat sesuatu membuat Cinta sedikit takut.Takut jika Radit mengingatnya dan kembali seperti dulu,sebab ia sudah tenang jika Radit seperti ini.Sifatnya pun jauh lebih baik yang sekarang.Rio melirik Cinta sesaat,ia begitu tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Cinta.Sedangkan Radit dia lebih memilih memejamkan kedua matanya untuk mengurangi sedikit rasa sakit di kepalanya.


****


Setelah mengantar Radit ke rumah sakit,Rio melajukan mobilnya menuju butik langganan."Ada yang kamu pikirkan Cin?"tanyanya setelah sampai di tempat tujuan.Cinta menggeleng,Rio pun turun kemudian membuka pintu untuk wanitanya."Terimakasih Rio,"dan Rio pun tersenyum manis."Ayo,"ajaknya dan mereka berjalan beriringan masuk ke dalam butik.


"Jangan terlalu kau pikirkan Cin,kita hadapi sama-sama nantinya,"ucap Rio memecah keheningan di antara mereka.


"Cinta kan?"sapa salah seorang pengunjung butik.


Cinta pun menoleh merasa di sapa.Ia terkejut bukan main melihatnya.


Melihatnya ia tersenyum sinis."Pangling aku Cin melihat penampilanmu.Andai si..,"ia menjeda kalimatnya sejenak."Andai pelangganmu gak menyebut namamu beneran deh aku pangling."


Rio mengeryitkan kedua alisnya."A...


"Apa mau mu?"tanya Cinta memotong ucapan Rio.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2