
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya ayah kamu Rio,maaf aku baru mengetahuinya."
"Terimakasih Cin,"jawab Rio sambil membuka pintu mobil untuk wanita yang di cintainya.
Rio berencana membawa Cinta kerumahnya,sebenarnya tidak enak bagi Cinta karena masih dalam keadaan berduka seperti sekarang ini sang ibunda Rio malah ingin bertemu. Membicarakan tentang pernikahan tentu hal yang menyenangkan,namun waktunya menurut Cinta tidaklah tepat.Tapi jika keluarga menginginkannya ia bisa apa? apalagi dari pihak Rio sendiri.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk sampai ke rumah Rio,sesampainya di sana ternyata ibu Rio sudah menyambutnya di depan pintu.Senyum mengembang dari bibir wanita paruh baya itu yang mengetahui kedatangan anak dan calon menantunya.
"Kalian sudah sampai? ayo Cinta masuk!"
meraih bahu calon menantunya sang calon mertua menggiringnya masuk kedalam rumah dengan seribu macam pertanyaan.Entah mana dulu yang harus Cinta jawab,Rio pun akhirnya menyela pertanyaan sang ibu."Ibu ini belum duduk sudah di tanyai macam-macam pertanyaan,"sela Rio.
"Gak papa kox,"jawab Cinta sambil tersenyum.
"Tu...Cinta saja tidak masalah,"ejek sang ibu yang membuat Rio geleng-geleng kepala.
Di luar sana terlihat beberapa ibu-ibu sedang menatap sinis melihat kedatang Cinta kerumah bu Halimah."Eh lihat tu si p***r kok bisa ya di rangkul sama bu Halimah?"kata salah satu ibu-ibu itu.
"Bukannya bu Halimah benci banget ya sama si Cinta itu?"sahut yang lainnya.
"Halaaah namanya juga p***r pasti punya seribu macam cara buat ndapetin anaknya,"timpal yang lainnya.
"Betul itu,apalagi keluarga mereka kan kaya raya,di tambah sekarang pak Yusuf sudah meninggal,pasti mudah memanfaatkan anaknya."
Pembicaraan yang terdengar begitu keras itu terdengar di telinga Cinta,apalagi ibunya Rio,ia begitu merasa tidak enak hati pada calon menantunya."Sudah Cinta,gak usah di dengerin omangan ibu-ibu yang kurang kerjaan itu! maafkan ibu ya Cin,ibu dulu bersikap buruk padamu."
__ADS_1
Cinta tersenyum tulus,"tidak apa bu,Cinta juga sadar kok Cinta seperti apa.Mereka hanya tidak tahu bu,suatu saat mereka akan sadar seiring berjalannya waktu."
Biar bagaimanapun Cinta tetaplah manusia biasa,dan manusia mana yang tidak sakit hatinya di katakan sebagai seorang p***r.Meski dulu ia memang begitu kebenarannya.Tapi setidaknya ia sudah belajar menjadi lebih baik,dan jika ada orang yang mengatai demikian ia tetaplah berbesar hatinya.
Ibu Rio pun juga merasakan hal yang sama,ia berhutang nyawa pada wanita yang duduk di sebelahnya itu,karenanya Rio bisa tertolong.
Di lihatnya ibu-ibu tadi sudah pergi setelah Rio menyuruhnya pergi.Telingannya begitu panas mendengar ocehan ibu-ibu pengangguran itu.Gimana tidak pengangguran coba,ngomongin orang terus kerjaannya.
Setelah berbincang banyak hal serta tentang pernikahan Rio dan Cinta,sang ibu memutuskan jika pernikahan akan di adakan setelah tahun baru islam,dan itu 2 bulan lagi di hitung dari sekarang.Rio tersenyum lega,ia berharap tidak akan ada halangan apapun menjelang acara itu.Begitupun dengan Cinta dan bu Halimah.
****
Saat ini Cinta dan Rio berada di salah satu toko perhiasan langganan ibunya Rio,si pemilik toko paham betul siapa itu Rio,sang ibu yang setiap bulannya selalu berkunjung untuk membeli model perhiasan terbaru selalu di temani oleh anak semata wayangnya itu."Silahkan mas,masnya mau cari apa?"tanya si pemilik toko.
Si pemilik toko pun tersenyum,kemudian mengambil beberapa sepasang cincin yang terbaik.
Mata Cinta terpana melihat keindahan cincin-cincin itu,tetapi salah satu cincin di situ yang terlihat sederhana di banding lainnya dengan satu permata kecil berwarna putih berkilau menarik perhatiannya.Cinta mengambilnya lalu mengamatinya,"cantik,"begitu pujinya.
"Kau mau yang itu Cin?"tanya Rio dengan tatapan penuh cinta.
Cinta menggeleng,"tidak Rio,yang lain saja aku hanya ingin melihatnya saja.
"Yang ini saja mbak,"Rio mengambil cincin yang tadinya di pegang oleh Cinta.Ia tahu kalau Cinta menyukainya.Apapun itu jika wanitanya suka ia akan berikan.
Si pemilik toko tersenyum,,"pilihan yang tepat mas,mbaknya tidak salah menyukai cincin itu.Cincin ini keluaran terbaru edisi terbatas mas,hanya ada 2 pasang saja dan 1 pasangnya sudah di beli oleh pengusaha juga.Harganya pun sangat fantastis.Tapi saya yakin uang mas Rio tak akan habis hanya untuk cincin ini.
__ADS_1
"Jangan Rio,itu mahal sekali,"Rio dan pemilik toko pun tersenyum mendengarnya.
"Mau di ukir di dalamnya mas? setiap cincin di beri nama pasangannya?"tawar si pemilik toko.
"Boleh mbak,"jawab Rio.
"Tapi tunggu 2-3 hari ya mas,nanti saya hubungi jika sudah jadi,"Rio pun menyetujuinya.
"Rio...itu mahal sekali lo,"
"Sssttt,"jari telunjuk Rio menempel di bibir Cinta."Jangan kau pikirkan,semua buat kamu,"ucapnya kemudian saat mereka sudah berada di dalam mobil.Cinta memilih diam,sebenarnya Cinta jadi tidak nyaman.Ia takur jika nantinya Rio berfikiran kalah dirinya matre atau apalah itu.Padahal dia sudah berusaha mencegahnya.
Memikirkan yang tidak-tidak membuatnya jadi pusing.
"Antar aku pulang ya! kepalaku sedikit pusing."
"Kamu sakit Cin? bagaimana kalau kita ke dokter saja Cin?"tawar Rio kemudian.
Cinta menggeleng,"hanya pusing saja,istirahat sebentar nanti juga sembuh."
"Baiklah kalau begitu,"jawab Rio.
Mobil melaju membelah jalanan yang ramai tapi lancar.Biasanya kalau sore begini akan macet hingga terasa lelah menunggu lampu lalu lintas kembali berwarna hijau.Maklum,jalanan yang di lalui merupakan tempat pabrik-pabrik yang berjejeran di pinggirnya,jadi kalau sore hari begini pekerja pun perjalanan kembali ke rumah masing-masing.
Bersambung..
__ADS_1