Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
76. Kode 54 dan 77


__ADS_3

...Happy Reading...


Akhirnya mereka sampai kembali kedalam apartement milik Nicholas, Hanny dan Jeremy sengaja memilih menginap kembali di apartement asisten suaminya itu untuk menyusun sebuah rencana.


"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi saat kamu masuk kedalam rumah Alisya tadi, apa kamu bertemu dengannya?" Tanya Jeremy yang sebenarnya penasaran juga.


"Hmm, aku sudah berbicara dengannya!" Jawab Hanny sambil menyandarkan tubuhnya di sofa empuk ruang tamu itu.


"Lalu apa alasannya, kenapa dia tiba-tiba menikah dengan pria itu?" Tamya Jeremy yang menyusul duduk disamping istrinya.


"Dia dijodohkan oleh keluarganya tadi malam?"


"Tapi saat aku mengantarnya, rumah itu sepi!" Nicholas yang sudah mulai merasa tenang ikut berkomentar diruangan itu.


"Mungkin mereka sudah ada didalam saat kamu mengantar Alisya pulang." Jawab Hanny yang menduganya.


"Atau jangan-jangan pria itu juga sudah melihat kalian berdua, jadi dia mendesak Alisya untuk menikah malam ini juga?" Jeremy malah beranggapan lain.


"Aku sepemikiran denganmu mas!" Hanny pun sependapat juga.


"Harus dong sayang, kita kan suami istri!" Jeremy langsung tersenyum dengan bangga dan langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat.


"Tolong deh, bisa jaga perasaanku sedikit nggak? aku bahkan belum sempat memeluk Alisya, jadi jangan mengiming-imingi diriku dengan hal seperti itu, mohon pengertiannya!" Nicholas langsung berkacak pinggang ke arah mereka berdua.


"Pftthh... Sory deh, kamu hadap belakang saja, aku kedinginan tau, sudah jam berapa ini aku dan istriku bahkan belum memejamkan mata hanya untuk membahas tentang kamu dan wanitamu itu." Jeremy bahkan tidak melepaskan tangannya.


"Aku sayang dia bos, aku tidak rela jika dia dimiliki orang lain, lagipula aku rasa pria itu bukan pria baik-baik, wajahnya itu seperti tampang-tampang mafia gitu!" Nicholas kembali mengingat pria berwajah bengis tadi.


"Aku pun setuju dengan ucapanmu, tapi duduklah hadap ke belakang, jangan menghadap kami, biar kamu nggak iri, aku mau berpelukan dengan istriku!"


"Terserah kalian saja lah, asalkan kalian berdua membantuku, entah mengapa otakku jadi tidak bisa berpikir karenanya."


Karena mood Nicholas memang sudah buruk, dia memilih tiduran sambil tengkurap disofa seberang meja yang memang luas itu.


"Aku akan membantumu, janji kamu tetap dalam posisi seperti itu!" Ucap Jeremy kembali dan mulai memulai aksinya.


"Hmm... lalu apa rencana kalian untukku, komen kamu Bodat!" teriak Nicholas dari sebrang sana.


"Emm... Iya, kita tinggal menunggu hasilnya saja, aku sudah menyuruh anak buahku untuk menyelidiki suami dari Alisya."


Hanny pun menurut saja, saat suaminya sudah mengangkat tubuhnya diatas pangkuan ternyaman menurutnya.


"Apa kata Alisya tadi?" Tanya Nicholas masih dengan tubuhnya yang berposisi tengkurap.


"Dia tidak bisa menolak perjodohan itu, karena tiba-tiba keluarga pria itu datang dan mendesak dirinya untuk menikah malam itu juga." Jawab Hanny yang hanya bisa pasrah saja disaat suaminya sudah mulai membuka kancing baju miliknya.


"Apa mereka hanya menikah Siri?" Tanya Nicholas yang terus saja menginterogasinya.


"Yes." Hanny langsung memejamkan kedua matanya saat mulut suaminya sudah mulai menjepit puncak gunung Semeru miliknya.


"Berarti aku masih punya kesempatan untuk mendekatinya, karena mereka belum sah kan dimata hukum?"


"Umh... belum!" Hanny mulai menahan segala rasa saat angan suaminya berhasil bergerilya didalam gua.


"Tapi aku harus tetap bertemu dengan Alisya!"


"Aku.. aku sudah mengaturnya!" Konsentrasi Hanny mulai sedikit berantakan, namun dia masih mencoba menahan diri.


"Benarkah? kapan aku bisa menemuinya?" Nicholas masih saja terus mengeluarkan unek-uneknya.


"Besok, sebelum dia pergi ke luar negri!"


"Apa? Jadi mereka mau pergi keluar negri?" Nicholas semakim khawatir, namun dia masih bertahan diposisi yang sama.


"Hmh... itu mengapa mereka mendesak Alisya untuk segera menikah, agar dia bisa ikut keluar negri bersama." Hanny sudah mulai menjambak rambut suaminya saat dirinya seolah sudah terbang keawang-awang efek foreplay dari suaminya.

__ADS_1


"Sialaan, dia nyolong start duluan, padahal aku sudah lebih dulu menawarkan sebuah pernikahan untuknya!"


"Makanya jadi pria itu yang Sat Set, yang pasti dong, jangan cuma bilang besok dan nanti saja, karena tahun depan itu juga besok namanya!" Hanny berusaha agar suara desa hannya tidak terdengar.


"Aku sudah bilang, tidak akan sampai melewati satu purnama!"


"Satu purnama itu juga waktu yang panjang Sarmin, kamu tidak memberikan kepastian yang jelas sih!"


"Aku mana tahu jika dia akan menikah dadakan, kalau tau begitu juga pasti aku yang lebih dulu membawanya langsung kedepan penghulu."


"Aku sudah mengatur semuanya, sebelum tiba jadwal penerbangannya, kamu temui dia, tanyakan apa yang perlu kamu tanyakan dan jelaskan apa yang ingin kamu jelaskan."


"Baiklah, aku percayakan semua kepadamu."


"Ingat, itu satu-satunya kesempatan untukmu, jangan buang-buang waktumu!" Hanny sudah mengatur semuanya.


"Apa aku bawa dia kabur saja!"


"Jangan, itu bisa berdampak dengan keluarga Alisya nantinya, jangan memaksanya, akan ada banyak pihak yang terkena imbasnya nanti."


"Apa pria itu berbahaya?"


"Hmm... Aku rasa begitu!"


"Lalu bagaimana nasip Alisya, apa dia bisa aman?"


"Alisya bukan orang yang bodoh, dia sudah melalui lika-liku kehidupan yang tidak mudah dan terjal, aku rasa dia bisa mengatasinya."


"Ya Klkalau Alisya tahu, kalau dia tidak tahu siapa suaminya yang sebenarnya bagaimana?"


"Tapi tadi aku lihat dia baik-baik saja, aku rasa dia bisa mengatasinya."


"Apa tadi tubuh Alisya terlihat acak-acakan?"


"Apa pria itu sudah menyentuh Alisya?" Nicholas langsung terfikirkan hal itu kembali.


"Aku rasa belum, entah kalau saat ini!"


"Aish... Siaal, aku sungguh tidak rela, Bos beritahu aku solusinya!" Nicholas merasa curiga kenapa suara bosnya itu tidak lagi terdengar disana.


"Hmm.." Namun Jeremy hanya menggumam saja, karena mulutnya masih sibuk berpindah dari gunung ke gunung.


"Apa itu hmm? kenapa anda tidak berkomentar sedari tadi." Protes Nicholas kembali.


Plup!


"Tanyakan saja dengan istriku, dia yang lebih tahu!" Akhirnya dia melepas permennya agar asistennya tidak curiga.


"Ckk... tapi aku ingin tahu pendapat anda bos, biasanya hal-hal gila selain perusahaan itu anda jagonya, ayolah bos beri aku satu ide gila untuk menggagalkan malam pertama mereka!"


Slep!


"Emh... Mas, kenapa dimasukin?" Hanny tanpa sadar berbicara, saat guanya terasa penuh dibawah sana.


"Aku sudah nggak tahan sayang, dingin banget rumah si Sarmin ini!" Bisik Nicholas yang sedang mencari kehangatan.


"Tapi itu ada Sarmin mas!" Bisik Hanny yang langsung terlihat segan dan tidak enak hati.


"Nggak papa, sudah aku tutup dengan bantal, kamu hadap kesini saja, lagian Sarmin tidur tengkurap sekarang!" Bisik Jeremy kembali, lagian dia tidak melepas baju istrinya, hanya saja kancing baju beserta isinya memang sudah terlepas semua.


"Tapi mas, euh!" Hanny hanya bisa melengvh saat tangan suaminya sudah memaju mundurkan buntutnya.


"Tetaplah duduk santai diatas sana, biar aku yang bergerak!" Ucap Jeremy dengan senyum nakalnya.


"Bos?" Nicholas mulai merasa ada yang janggal.

__ADS_1


"Hegh.. Apah?" Tanya Jeremy yang terus menggencatkan senjatanya.


"Gimana ini?"


"Enak banget!" Celoteh Jeremy dengan mata yang terus merem melek.


"Apanya yang enak, Hanny lalu aku harus apa?" Nicholas kembali bertanya dengan Hanny.


"Terus aja, eugh!" Hanny pun tidak mau kalah untuk menggeserkan tubuhnya maju mundur cantik.


"Apanya yang diterusin!" Tanya Nicholas yang mulai curiga kembali.


"Goyangin sedikit mas, aduh.. dapat gaya baru kita!" Oceh Hanny tanpa sadar, karena terlalu menikmati alurnya.


"Kalian berdua ngomong apa sih?" Akhirnya Nicholas yang sudah tidak tahan segera bangkit dari tidurnya.


Wakwao!


Saat Nicholas dalam situasi bingung dengan apa yang mereka ucapkan, akhirnya dia membalikkan tubuhnya dan menoleh kearah sepasang suami itu.


"WOI, KALIAN SUDAH GILA YA!" Teriak Nicholas dengan mata yang hampir keluar dari cangkangmya.


"Emh... ngapain kamu menoleh kesini Sarmin, balikkan tubuhmu!" Ucap Jeremy namun tidak juga menyudahi aktifitasnya.


"Aish... kalian benar-benar ya, bisa-bisanya melakukan hal itu didepanku, aku sedang serius membahas tentang Alisya, anda malah mangku purel disana!"


"Aku sudah bukan Purel lagi ya, hati-hati kamu kalau ngomong, cepetin mas, jangan hiraukan dia!" Hanny merasa tidak terima dipanggil dengan sebuan Purel, akhirnya dia malah sengaja mengeraskan suaranya.


"Asiap sayang!"


"Bisa berhenti nggak kalian!" Teriak Nicholas namun tidak digubrisnya.


"Nggak! siapa suruh ngatain aku Purel!" Jawab Hanny yang masa bodoh, dia pantang dicibir.


"Dasar wong gemblung!" Umpat Nicholas yang memilih ingin pergi dari ruang tamu itu.


"Emh.. yes.. ough... kamu luar biasa mas, tarik terus mas!"


"Fuh... Nanti keluarnya bareng ya yank?"


"Okey, tapi setelah gaya lima empat dan tujuh tujuh ya mas."


"Siap Laksanakan Tuan Putri!"


"Woi... 54 dan 77 itu apaan?" Saat dia sudah menginjak tangga pertama dirumahnya menuju lantai atas, otak polosnya merasa penasaran saat mendengar angka itu.


"Diamlah, belum waktunya kamu mengetahui kode itu, sudah pergi tidur sana, adegan ini tidak baik di tonton oleh anak dibawah umur apalagi orang yang masih JOMBLO!" Teriak Hanny yang sengaja membuat Nicholas semakin kesal.


"Kyaaaaaaa! aku seharusnya tidak jomblo sekarang! Alisya kamu jahat sekali denganku dan kalian berdua...!" Nicholas menoleh sambil menggeratkan barisan giginya.


"Apa!" Tanya mereka berdua serentak tanpa merasa berdosa.


"Fuckk!" Nicholas akhirnya mengacungkan jari tengahnya kearah mereka.


"Bodo amat, janji enak, lanjut mass!"


"Hegh!"


Jeremy lama-lama mulai menemui banyak hal gila dan pengalaman baru, apalagi soal gaya bercinta, karena secara tidak langsung Hanny sering menuntunnya walau tanpa penjelasan, namun dengan sebuah gerakan.


Sedangkan Nicholas memilih masuk kedalam kamarnya dan membanting tubuhnya diatas ranjang miliknya.


Hatinya yang benar-benar terluka karena Alisya, ditambah adegan panas yang dilakukan oleh kedua bosnya tadi membuat tubuhnya terasa panas dingin, walau mereka masih menggunakan baju yang lengkap tadi, tapi pergerakan tangan dan tubuh Hanny, benar-benar menggambarkan betapa nikmat rasanya.


Ada yang tahu arti kode itu? yang belum tahu jangan coba cari tahu, apalagi yang masih lajang, muehehe...

__ADS_1


__ADS_2