
...Happy Reading...
Flashback
Suasana diruang keluarga Alisya terlihat begitu tegang, kedua orang tua Alisya seolah masih belum bisa menerima kenyataan bahwa menantu pilihan mereka ternyata adalah seorang Mafia.
Apalagi saat Alisya bercerita bahwa Yoga tidak segan-segan melukai bahkan membunuh seseorang tanpa perasaan.
"Ayah, ibu... Alisya sebenarnya tidak bermaksud membuat kalian merasa bersalah atau apapun itu, tapi ini semua nyata, Alisya melihat sendiri kelakuan Yoga saat berada diluar negri."
Alisya duduk bersimpuh diantara kedua kaki kedua orang tuanya, dia menceritakan semua tentang siapa Yoga yang sebenarnya dengan perlahan.
"Fuuh... Maafkan ayah."
Ayah Alisya langsung memalingkan wajahnya, dia tidak ingin air matanya terlihat oleh kedua wanita kesayangannya. Dia merasa gagal sebagai ayah, karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk putrinya.
"Ini bukan salah Ayah, aku tahu ayah pasti hanya ingin memberikan yang terbaik untukku." Alisya tidak ingin menabur rasa dendam, apalagi dengan orang tua yang sudah susah payah membesarkan dirinya sampai saat ini.
"Ayah memang seorang ayah yang buruk." Rasa sesalnya menggunung, padahal dia hanya bermaksud untuk memberikan yang terbaik saja sebisanya.
"Jangan begitu Yah, mungkin memang harus begini jalannya?" Alisya pun sebenarnya tidak tega, tapi dia tetap harus mengatakannya.
"Tidak! Andai saja Ayah bisa berguna dan menghasilkan uang banyak, pasti hutang keluarga kita tidak akan membengkak seperti itu dan kamu tidak harus menikah dengan Yoga."
"Ayah dan Ibu tidak memaksaku, aku sendiri yang menyetujuinya." Dia sadar keputusan itu memang dia yang mengambilnya walau memang dia sudah terhimpit saat itu.
Apa kata orang, jika keluarganya sudah banyak dibantu tapi tidak tahu rasa terima kasih.
"Itu karena kamu merasa segan dan tidak enak hati saja kan?" Ayah Alisya mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Benar." Jawab Alisya dengan cepat.
"Astaga, kenapa kamu jujur sekali nak." Ayah Alisya langsung tersenyun kecut mendengarnya.
"Bukannya kita harus jujur? Ayah sendiri yang mengajarkannya, bukan?" Alisya mencoba melumerkan ketegangan diantara mereka.
"Kamu sudah dewasa sekarang nak?"
"Aku memang sudah dewasa, bahkan sebelum waktunya." Jawab Alisya yang memang menyadari itu semua, diumurnya yang sekarang ini, dia sudah merasakan pahitnya kehidupan kota di era gempuran barang-barang elit tapi ekonomi sulit.
"Kamu memang anak pintar, sejak masih kecil lagi, atau mungkin sejak dalam kandungan ibumu kamu sudah pintar."
"Apaan sih Yah?"
"Itu kenyataannya, bahkan kamu dulu tidak pernah Ayah sekolahkan di PAUD dan TK, karena kecerdasan dan kelincahan kamu dulu, beberapa guru menyarankan kamu langsung masuk SD saja, dan mungkin sampai sekarang kamu pasti lebih muda diantara teman-teman kamu kan?" Ayah Alisya mengingat masa kecil putrinya dulu.
"Aku rasa Ayah mau berhemat uang kan saat itu?"
"Hmm... apa kamu juga sudah bisa membaca pikiran orang sekarang?" Senyum Ayah Alisya mulai terlihat, kulitnya yang tidak lagi sesegar dulu mulai terlihat kerutannya.
"Hehehe... Padahal aku asal menebak saja tadi loh Yah."
"Maafkan ayahmu yang tidak bisa membuat kamu seperti anak-anak yang lainnya nak, maaf." Rasa sesal dari seorang ayah kembali muncul didiri ayah Alisya.
"Sudah lah Yah, semua sudah terjadi, kita buang buruknya dan kita ambil hikmahnya saja." Alisya kembali mengeratkan pelukan dengan kedua orang tuanya.
Tok
Tok
Tok
"Permisi."
Disaat mereka bertiga sedang tersenyum dalam kesedihan, tiba-tiba ada seorang pria yang terduduk disebuah kursi roda, dengan didampingi beberapa orang berbaju hitam muncul dari arah pintu yang memang tidak terkunci.
"Huh!"
Ayah Alisya mencoba meredam emosinya, sesungguhnya dia ingin marah, memukulnya bahkan menghajarnya sampai babak belur.
Namun dia sadar, itu tidak akan ada faedahnya, karena amarah hanya akan menimbulkan masalah dalam hidup.
"Selamat malam, maaf jika kedatangan saya menggangu." Ucap Yoga dengan guratan wajah yang sulit tergambarkan.
"Masuklah."
Walau enggan menatap wajahnya, namun ayah Alisya tetap mempersilahkan dia masuk, karena dia memang butuh penjelasan dari sosok pria itu.
"Ayah, apa Alisya sudah bercerita tentang saya?" Yoga pindah tempat duduk disamping Alisya.
"Semuanya." Jawab Ayah Alisya dengan nafas beratnya.
"Hmm... walaupun mungkin ini terlambat tapi saya minta maaf."
"Maaf untuk?" Ayah Alisya terus mencoba menetralkan segala bentuk amarahnya.
"Untuk kesalahan yang saya buat." Bahkan sebenarnya Yoga malu ingin mengatakannya.
__ADS_1
"Yoga, jangan pernah menjadikan alasan cinta, sebagai tameng agar kamu bisa memenuhi segala obsesimu."
"Ayah, rasa cintaku dengan Alisya itu benar adanya, sejak masih jaman sekolah dulu aku sudah mengaguminya, bahkan setelah aku pindah pun bayangan Alisya masih bersarang fikiranku, sampai sekarang Yah." Yoga mengungkapkan perasaannya dengan jujur, bahkan saat dia mende sah pun terkadang yang ada diotaknya adalah Alisya.
"Wahaha... kamu terlalu naif sebagai pria." Tawa sumbang itu terdengar dari mulut Pria yang sudah sedikit beruban itu.
"Ayah, aku mengatakan semuanya dengan sungguh-sungguh." Ucap Yoga dengan mantap.
"Hmm... aku bisa memakluminya, lantas kenapa kamu menyakiti Alisya?" Cecar Ayah Alisya yang mulai masuk kedalam topik intinya.
"Aku tidak pernah menyakiti Alisya, aku bahkan selalu melakukannya dengan penuh kelembutan, tapi kalau dia melawanku, aku berhak menegurnya kan Yah, karena aku sudah sah menjadi suaminya."
"Hah? kamu sedang membahas apa?" Ayah Alisya seolah tidak paham dengan arah pembicaraan Yoga.
"Eherm.. maksud Yoga, dia tidak pernah main tangan Yah, dan memang dia tidak pernah memukul atau apapun itu denganku." Alisya paham maksud Yoga, namun dia mencoba mengalihkan ke topik lain saja.
Karena tidak mungkin juga Alisya menjelaskan tentang bagaimana Yoga suka nyemil aset berharga miliknya.
"Tuh kan Yah, saya sungguh menyayangi Alisya, soalnya saya mainnya yang lain, ya kan sayang?"
"Iya, main diranjang dengan wanita lain." Umpat Alisya perlahan, namun bisa didengar oleh kedua orang tua Alisya.
"APA!" Ayah dan Ibu Alisya langsung berteriak secara bersamaan.
"Alisya, kenapa kamu harus membahasnya, hal itu terjadi karena kamu selalu menolakku!" Yoga mencoba membela diri.
"Yoga, tapi kamu!"
"Apa kamu pikir aku tidak tahu kelakuanmu yang terus saja menipuku? apa aku sebodoh itu?" Dia sudah curiga saat melihat laporan foto dari anak buahnya yang memperlihatkan Nicholas memberikannya satu kotak pembalvt saat insiden penembakan itu.
"Yoga, maaf."
"Kita berdua sama-sama melakukan kesalahan, jadi impas kan?" Ucap Yoga kembali.
"Yoga, Ayah menginzinkan kamu menikahi Alisya, karena kamu bilang kamu bisa membuatnya bahagia bukan?" Ayah Alisya kembali bersuara.
"Iya Yah, tapi Alisya sendiri yang tidak mau aku buat bahagia?"
"Yoga, apa kamu tidak sadar dengan apa yang kamu lakukan?" Ayah Alisya masih tidak habis pikir, jika anak menantunya bisa jadi orang sekejam itu.
"Aku tahu."
"Yoga, suami istri itu partner hidup dalam segala hal, setiap hari yang kita lihat dia, dan bisa kamu bayangkan sendiri, jika saat bersamamu aku membayangkan kelakuan buruk kamu, bahkan semua kejahatan kamu, apa kamu tahu bagaimana jadinya aku, hanya akan tertekan batin karena membayangkan semua dosa yang akan kamu pikul, bahkan aku ikut menanggung dosanya, karena tidak bisa mengingatkanmu." Alisya langsung berbicara panjang lebar.
"Alisya, apa kamu berencana meninggalkan aku?" Firasat Yoga mengatakan hal lain.
"Ayah, ibu? kalian lihat sendiri kan, padahal aku malam-malam datang kesini karena ingin meminta maaf dan memulai kembali semuanya dari nol bersama Alisya, tapi kenapa malah dia ingin berpisah? Bukankah jika seorang suami ingin kembali ke jalan yang lurus itu seharusnya sang istri membimbing dan menemaninya, bukan malah meninggalkannya?" Dia kembali menyudutkan Alisya.
"Nak Yoga, Ayah sudah memberikan kesempatan pertama untuk kamu dengan mudahnya memiliki Alisya sebagai istrimu, namun kali ini Ayah tidak ingin melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya karena jujur saja, Ayah terlalu kecewa dengan semua sikapmu." Dia menajamkan pandangannya ke arah Yoga.
"Ayah, jangan begini, bantu aku." Pinta Yoga dengan sangat.
"Kamu boleh mengambil rumah ini, tanah ini dan bahkan semua aset yang Ayah punya untuk membayar hutang-hutang kami, kecuali Alisya." Dia bahkan rela tidur dimana saja, asal anaknya tidak tertekan batin karena hutang itu.
"Aish... kenapa kalian pemarah sekali, bukannya kalian egois karena tidak mau memaafkan aku, bukannya kalian keluarga yang taat dengan agama?"
"Yoga, jangan bawa-bawa soal agama, aku sudah memaafkanmu." Alisya merasa tidak suka jika seperti ini.
"Lalu kenapa kamu tidak bisa bertahan denganku, aku akan meninggalkan semua itu demi kamu Alisya?" Niatnya sudah bulat saat ini.
"Jangan berubah hanya demi orang lain,berubahlah karena niat baik dari dalam hatimu." Ucap Ibu Alisya yang sedari tadi menyimak saja.
"Ayah, ibu, Alisya tolonglah jangan begini?" Rengek Yoga.
"Yoga, bukannya aku tidak mau menemani perjalananmu menuju kebaikan, tapi aku takut jika nanti sikapku dan semua tentangku malah akan menggoyahkan pendirianmu, karena aku sama sekali tidak ada rasa denganmu, aku sungguh takut jika nanti hanya akan membuat luka dihatimu." Alisya mengeluarkan semua unek-unek yang dia simpan didalam hati.
Degh!
"Alisya, bahkan ucapanmu lebih menyakitkan daripada peluru yang menancap ditubuhku." Umpat Yoga yang merasakan sesak didadaa nya.
"Maaf, tapi aku tidak bisa membohonginya terus menerus, lebih baik kita bicara terbuka, lebih baik sakit diawal daripada terlalu lama tersimpan dan akhirnya akan menjadi bom waktu saja, yang bisa meledak kapan saja."
"Alisya aku sayang kamu." Ucap Yoga dengan suara lirih.
"Terima kasih Yoga, aku menghargai perasaanmu, tapi maaf sekali, aku tidak bisa membalas perasaanmu."
"Ckk... Bahkan kamu ternyata lebih jahat daripada mafia manapun!" Yoga mulai kehabisan kata-kata.
"Maaf."
"Hanya itu saja yang bisa kamu ucapkan!" Umpat Yoga kembali.
"Yoga?"
"Ayah, ibu aku pamit." Yoga seolah sudah tidak tahan lagi, dia menahan rasa kesalnya sedari tadi.
"Tunggu Yoga." Alisya langsung menahan lengan Yoga.
__ADS_1
"Apalagi?"
"Apa kamu bisa menjatuhkan talak itu sekarang?" Pinta Alisya.
"ALISYA!" Teriak Yoga dengan tatapan mata elangnya.
"YOGA, jangan menaikkan suaramu!" Umpat Ayah Alisya yang tidak suka.
"Tapi Ayah?"
"Lepaskan dia!" Ucap Ayah Alisya sambil menajamkan pandangannya.
"AYAH!"
"Sebagai pria, jika kita merasa tidak mampu untuk membahagiakan pasangan kita, lebih baik kita memberanikan diri untuk melepaskannya, karena mungkin hanya itu lah cara terbaik kita untuk mencintainya."
"Aissh!"
"Yoga, ini permintaan terakhir saat aku menjadi ayah mertuamu, tolong jangan membuat Ayah menjadi Ayah yang buruk dan Ayah yang hanya bisa merenggut kebahagiaan putrinya."
Jika berpisah adalah jalan satu-satunya, Ayah Alisya akan mendukungnya.
"Woah... kenapa jam segini ada yang mengiris bawang, mataku kenapa perih sekali." Entah mengapa hati Yoga sedikit tersentil karenanya.
"Yoga, kita bisa menjadi rekan saja." Pinta Alisya.
"Tidak ada pertemanan antara pria dan wanita, semua itu hanya modus belaka!"
"Baiklah, mungkin kamu butuh waktu, silahkan memikirkan dulu hubungan kita, apa yang terbaik untuk masa depan kita masing-masing." Alisya sebenarnya tidak tega, namun didalam hatinya ada sosok pria lain yang harus dia jaga.
"Aku pulang!"
"Hati-hati dijalan."
"Alisya?"
"Ya?"
"Alisya, apa aku boleh memelukmu?" Yoga kembali menoleh kearah Alisya.
"Hah?"
"Untuk terakhir kalinya, aku masih berstatus suamimu sekarang bukan? masak mau meluk aja nggak boleh?"
"Haish... Dasar Mafia kejam." Umpat Alisya yang mau tidak mau hanya bisa menyetujuinya saja.
Grep!
Alisya memilih memeluk tubuh Yoga dari belakang dan memejamkan kedua matanya, dia pun tidak tega sebenarnya, namun dia tidak ingin terlilit dengan sebuah dosa karena terus membohongi perasaan terhadapnya.
"Dari depan Alisya, aku ingin melihat wajahmu juga?" Pinta Yoga dengan manja.
"Kenapa banyak maunya?" Umpat Alisya sambil mencubit pinggang Yoga.
"Jadi pisah nggak, apa lanjut aja nih?" Ledek Yoga yang sebenarnya belum rela namun apa mau dikata, mungkin ini konsekwensi hidupnya.
"Iya, ini mau pindah kedepan."
"Tambah kiss satu kali boleh?" Pinta Yoga yang semakin menjadi.
Pletak!
"Tawar aja terus, kamu kira aku pasar?" Alisya dengan beraninya menyentil kening suaminya dan mungkin hanya dia satu-satunya orang yang Yoga izinkan menyentuh bagian wajahnya.
"Jadi kamu supermarket yang harganya pas gitu?"
"Kita lagi ngomongin apa sih Yoga?"
"Harga beras yang naik terus, sama harga minyak yang sudah kembali naik."
Orang tidak pernah tahu sisi lain dari Yoga, seburuk apapun dia dimasa sekarang, dulu dia juga pernah menjadi orang baik yang selalu membantu teman-temannya dikala kesusahan.
"Woah... tidak aku sangka, ternyata kamu tahu harga perdapuran ya Yoga?" Ibu Alisya terkekeh sendiri saat mendengar ocehan Yoga.
"Atau kamu sebenarnya Mafia Dapur?" Ledek Alisya saat Yoga masih terus menempel ditubuhnya.
Perpisahan memang menyakitkan namun didunia ini tidak ada yang namanya pertemuan abadi, karena suatu saat kita juga pasti akan terpisahkan oleh Maut, hanya tinggal menunggu waktu dan giliran saja.
"Hmm...mungkin aku akan beralih profesi kesana." Jawab Yoga sambil mengungselkan wajahnya ditubuh Alisya.
"Bahahahaha."
Akhirnya mereka bertiga bisa tertawa bersama, walau entah apa yang mereka rasakan dalam hati masing-masing, namun ayah dan ibu Alisya merasa sedikit lebih lega, karena beban dihatinya sedikit berkurang atas kesediaan Yoga untuk melepas Alisya malam itu.
Dan ternyata kenyataan pahit itu memang sering datang diwaktu yang tidak tepat, karena disaat semua bisa tersenyum, Nicholas datang menyaksikan hal itu semua, apalagi disaat Yoga kembali meminta pelukan terakhir dari Alisya.
Flashback off
__ADS_1