
...Happy Reading...
Malam itu mata Nicholas sama sekali tidak bisa terpejam, dia sudah berusaha tidur sejenak, sekedar beristirahat untuk persiapan menghadapi kenyataan hidup yang terkadang perih menyayat hati.
Namun apa mau dikata, jika kedua matanya seolah menantang dunia, sehingga Nicholas memilih untuk bangun saja dan mencari sesuatu didalam kulkas, untuk sekedar mengganjal perutnya yang kosong.
"Anane mung Treno... Kalih welasku.. Anane mung iki, sing tak duweni... Doyo-doyo nganduli doyo-doyo nangisi, kesandung-sandung aku, maksakne atimu...."
Sepanjang perjalanan menuju lantai bawah, Nicholas sengaja melantunkan lagu terbaru dari Denny Caknan, yang menggambarkan nasip ngenes yang menimpa dirinya kali ini, apalagi lagu itu sering sekali dia dengar di warung-warung makan lesehan yang sering dia lewati.
"Eugh.. emh.. satu kali lagi yank, masih bangun ini si Marjuki!"
Saat Nicholas ingin menghidupkan lampu ruangan bawah, dia mendengar suara kasak-kusuk dari arah ruang tamu.
"Udah mas, aku belum sholat subuh, nanti kehabisan waktu." Jawab Hanny yang sudah melakukan kegiatan dua ronde senam untuk mengawali pagi yang dingin ini.
"Sebentar aja yank, satu kali tanjakan lagi ya?" Rengek Jeremy dengan suara paraunya, seolah tidak cukup sekali saja jika dia sudah bertempur dengan istrinya.
Glodak!
Klonteng!
"Woi... tak habis-habis lagi kalian bercinta! mengotori rumah suciku aja kalian bisanya, mau berapa kali kalian melakukan hal itu dalam semalam, apa nggak takut kalian berdua kalau belum tua, tapi udah Turun Berok, hah!"
Dengan wajah kesalnya Nicholas sengaja menendang apa yang ada disekelilingnya, dia bahkan tidak perduli lagi dengan barangnya yang mungkin rusak karena berjatuhan dilantai.
"Udah ya mas, yang punya rumah ngamuk itu!" Ucap Hanny sambil mengusap wajah tampan suaminya yang masih merengek manja.
"Ckk... Biarkan saja, orang separuh uang dari apartement ini juga aku yang memberikannya, harap maklum saja lah, dia kan anak Sad Boy sekarang." Jeremy masih mengungselkan wajahnya diantara dua gunung kembar milik istrinya.
"Bukan Sad Boy aja, tapi dia cowok korban ditinggal kawin, sudah dong mas kasihan nanti dia ngiler!" Hanny langsung membenahi kemejanya yang compang-camping karena ulah suaminya.
"Emang mereka juga udah kawin yank?" Jeremy malah berpikiran hal lain.
__ADS_1
"Bisa jadi, mungkin juga kawinnya barengan dengan kita tadi malam atau pagi tadi." Hanny pun ternyata bisa mengikuti kemana arah jalan pikiran suaminya.
"SHUT UP!" Teriak Nicholas sambil menutupi kedua telinganya, hal itulah yang paling membuat dia tidak rela saat mengingat tentang Alisya.
"Pfffthhh!" Jeremy dan Hanny langsung menahan tawa secara bersamaan, entah mengapa mereka paling suka melihat rona wajah Nicholas saat seperti itu.
"Bisa nggak sih kalian sedikit lebih mengerti tentang perasaanku ini." Ucap Nicholas sambil memukul-mukul dadaa kelarnya.
"Utututu... Alahai... pakai bajumu mas, tenangkan asistenmu itu, kalau dia sampai gila karena cinta, bisa-bisa rumah sakit jiwa dia robohkan nantinya."
Hanny terus saja meledeknya, walau sebenarnya dia juga kasihan, namun dia selalu memantau anak buahnya yang masih mencari informasi tentang siapa itu Yoga Pratama.
"Tapi nanti siang tambah lagi ya?" Pinta Jeremy dengan gilanya.
"Boleh, untuk mas apa sih yang enggak?" Jawab Hanny yang semakin memancing keributan dengan Nicholas.
"Ya Salam, tolong hilangkan lah syaiton-syaiton jahat yang ada dirumahku!" Nicholas mulai menengadahkan kedua tangannya untuk berdoa.
"Amin! aku mau mandi basah dulu Min Sarmin, setelah itu sholat subuh, nanti aku bantu doa juga, okey?" Namun Hanny dengan santainya malah mengaminkan doa itu.
Dan Jeremy tidak pernah mau meninggalkan kesempatan emas dalam kesehariannya itu setelah menikah.
"Hai orang-orang yang beriman! kamar mandi dirumah ini tidak hanya satu tau nggak!" Selalu saja ada hal yang membuat Nicholas iri dengan pasutri yang satu ini.
"Apasih, protes aja kamu itu Mblo, mandi bareng dengan istri itu termasuk sunnah tau nggak, apalagi setelah berjima', bisa dapat pahala ibarat sedekah 1000 ekor kambing kepada fakir miskin." Jelas Hanny yang pernah mendengar hal itu dulu.
"Mending gue jual tuh kambing!" Umpat Nicholas yang kembali kesal dibuatnya, mulai saat ini dia hanya berharap agar hatinya lebih dikuatkan lagi.
"Itu hanya ibarat kata Min.. Sarmin, makanya buruan nikah, jadi hidupmu berkah, udah enak dapat pahala lagi, nikmat Tuhan mana yang kau dustakan!" Jeremy muali mengeluarkan khutbah dadakannya.
"Luar biasa Pasutri yang satu ini, kalau ngomong aja faseh, tapi kalau jaga perasaan orang nggak bisa, buruan sana mandi, asal jangan kalian habiskan air dirumahku ini!" Teriak Nicholas yang sudah tidak tahan lagi.
"Hei Bandit, buatkan sarapan juga ya, aku nggak bisa masak!" Teriak Hanny dengan santainya sambil berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Dih.. Malu-maluin, jadi istri kok nggak bisa masak!" Umpat Nicholas seketika.
"Kenapa? kalau cuma nggak bisa masak tidak masalah dong, kita bisa beli makanan dari luar, yang penting tugas istri itu bisa memuasskan kebutuhan ranjang, jadi suami tidak jajan di luar, ya kan mas?" Hanny langsung menggandeng lengan suaminya dengan mesra.
"Betul.. Betul.. Betul!" Jeremy mengiyakan saja, karena dia memang tidak pernah mempermasalahkan hal masak memasak, karena dia bisa mencari asisten rumah tangga pikirnya.
"Dasar wanita, memang tidak pernah mau kalah!" Hujat Nicholas kembali.
"Mau masakin sarapan nggak, atau nggak jadi aku temuin dengan Alisya nih?" Hanny seolah punya senjata andalan.
"Iya.. Iya.. Dasar Bodat, selalu saja punya cara untuk mengelabuhi diriku yang lemah ini!"
Akhirnya Nicholas hanya bisa mengumpat saja sambil melangkahkan kakinya menuju ruangan dapur mini di apartementnya, dia memang asisten serba bisa, karena sedari kecil dia terbiasa mandiri, jadi kalau hanya soal masak memasak dia bisa melakukannya, walau mungkin rasanya tidak seperti masakan para koki Restoran.
Dulu saat dia kuliah, semua dia lalukan sendiri, apalagi karena memang dia kuliah di luar negri, tidak semua masakan luar bisa diterima oleh lidahnya. Jadi dia memilih memasak sendiri, walau hanya otodidak namun rasa dari masakannya cukup bisa menggoyang lidah.
"Wah... lumayan juga rasa masakan si Sarmin bin Bandit ini mas, hmm.." Hanny bahkan tersenyum dengan lebarnya saat merasakan nasi goreng spesial buatan Nicholas.
"Makan yang banyak sayang, biar kamu tambah semlehot." Jawab Jeremy sambil tersenyum saat memandang wajah cantik istrinya.
"Mas mau aku gemuk?" Tanya Hanny sambil menaikan kedua alisnya.
"Tambahin dikit, biar anget kalau dipeluk!" Jawab Jeremy dengan senyum nakalnya.
"Suapin." Rengek Hanny sok manja.
"Asiap kesayangan aku." Jeremy memang selalu memperlakukan Hanny istimewa, tidak mau menolak apapun permintaan dari istrinya.
Sedangkan Nicholas hanya bisa memandang mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.
Demi bisa bertemu dengan Alisya nanti, Nicholas rela melakukan apa saja, bahkan dia rela tersiksa batin melihat kedua bosnya mengumbar keromantisan mereka, bahkan pasutri itu seolah menjadi pemilik rumah itu dan Nicholas malah seperti orang yang sedang menumpang.
__ADS_1
To Be Continue...