
Satu minggu kemudian Radit di perbolehkan pulang setelah kondisinya kembali pulih,tapi tetap saja dia masih tidak bisa mengingat sesuatu,bahkan namanya sendiri.
"Tenanglah,sebisa mungkin aku akan membantumu,"ucap Rio pada Radit saat mereka tiba di kontrak'an Rio.Ia terpaksa membawanya kekontrakan sebab ia sendiri tidak mengetahui rumah Radit.
Dengan sedikit sisa tabungan miliknya,ia membuka usaha kecil-kecilan untuk menghidupi dirinya setelah ia tahu ayahnya telah mengambil alih kembali perusahaan.Sudah biasa baginya hidup sederhana,tapi ia juga kecewa melamar pekerjaan ke perusahaan mana pun selalu di tolak dan itu sudah pasti karena campur tangan ayahnya.
Radit kini sudah kembali keperusahaan setelah Rio memberitahu bahwa tentang kekayaan yang dimilikinya.Hampir ia tidak percaya.
"Apa aku sekaya itu Rio?"tanyanya sambil jalan beriringan di temani Rio.
Rio tersenyum kecil"Ya...kau sangat kaya,usahamu ada dimana-mana.Dan ini adalah salah satunya.
"Dan apa kau mau bekerja di sini?"mendengarnya Rio sejenak menghentikan langkahnya."Kau bisa memperkerjakan seseorang untuk menunggui usahamu yang kecil itu, dan di sini kau akan dapat gaji yang besar,"ucapnya sembari tertawa menatap Rio berdiam diri.
"Aku tahu biaya rumah sakit kau yang mengurusnya,dan aku sangat berhutang budi padamu Rio.
Rio tersenyum kecil"Lebih baik aku mengurus usaha kecilku dari pada kerja padamu,setidaknya aku tetap bosnya dan tidak jadi bawahanmu."
"Ya ya ya ok ok pak bos,tapi aku akan mengganti biaya rumah sakit kemarin,aku takut kamu kehabisan uang."
"Dan uangku sangat banyak,tidak perlu kau pikirkan itu,"tolak Rio.
Ya begitulah,selama lebih dari 1minggu mereka bersama,hanya ada candaan tidak keseriusan dalam hal mengolok-ngolok.Niat Rio hanya ingin membantu supaya ingatan Radit kembali lagi dengan perlahan.
****
Sore hari ke duanya baru keluar dari perusahaan Radit,seperti sepasang kekasih keduanya selalu bersama."Apa kamu punya kekasih?"tanya Radit tiba-tiba.
Tidak ada jawaban dari Rio,ia hanya tersenyum penuh arti,tapi senyuman itu akhirnya memudar ketika mengingat hubungannya dengan orang tuanya.Dan Radit melihat itu,ada sesuatu yang sedang Rio pikirkan.Menepuk bahu lelaki di sampingnya."Ayo jalan,"ajak Radit.
Sampai di depan gedung,Rio tiba-tiba keluar dari mobil."Hei..."teriak Radit.Terang saja Radit teriak,mobil yang mereka tumpangi tidak berhenti total.Rio langsung membuka pintu mobil begitu saja,dan setelah memperhatikan kemana langkah Rio pergi,Radit pun turun menyusulnya.
"Mawar putih ini untuk kesetiaan abadi,sangat cocok dengan tuan yang memiliki wajah serta kepribadian yang demikian,"ucap sang ibu penjual bunga.
__ADS_1
"Tapi saya ingin memberikan pada..,"
"Calon istri bukan?"potong sang ibu itu.Dan Rio tersenyum tapi sejenak ia memicingkan matanya."Dari mana ibu tahu?"
Hanya senyuman sebagai jawaban atas pertanyaan yang Rio berikan."Bawalah,"sang ibu itu memberikan 1ikat mawar putih lengkap dengan plastik pembungkus serta pita di bagian tangkai untuk mempercantik penampilan.
"Kau itu ya,tiba-tiba turun tanpa ngasih tahu.Kalau sampai terjatuh bagaimana? nanti aku yang kau salahkan.Hei...kau beli bunga? cie..cie...,"goda Radit.
Rio pun tak menghiraukan Radit ia malah berjalan sambil mencium aroma khas dari bunga mawar itu menuju mobil mereka yang terparkir di pinggir jalan masih di depan perusahaan.
"Setelah semua fasilitas ku tarik ternyata kamu menumpang pada rivalmu Rio?" sejenak Rio berhenti ketika akan membuka pintu mobilnya,suara bariton itu sungguh tidak asing baginya,biar bagaimana pun lelaki paruh baya yang sekarang ada di hadapannya adalah ayahnya sendiri,ia sungguh tidak ingin beradu mulut dengan beliau.Meski keadaan yang di katakan oleh sang ayah itu tidak benar,Rio tidak ingin berkata lebih jauh lagi.Ia hanya tersenyum menanggapinya lalu masuk ke dalam mobil setelah tahu Radit berjalan ke arahnya.
Melihat anaknya acuh beliau geram,apalagi ketika melihat Radit yang hanya berjalan melewatinya begitu saja.Ayah Rio tahu siapa itu Radit,dan kini mereka berada dalam satu mobil.Pikirannya mengira bahwa keduanya berencana ingin menghancurkan perusahaan miliknya.
"Kau..,"belum sempat berkata beliau memegangi bagian dadanya.Rasa sakit itu kembali lagi bahkan kini lebih sakit di bandingkan yang kemarin.Hingga beberapa menit kemudian sang asisten yang baru keluar dari kantor mengetahui atasannya sedang tidak baik-baik saja berlari menghampiri.
Bruk..
Ayah Rio terjatuh bersamaan saat sang asisten datang."Tuan...tuan...bangun tuan...ada apa ini?"ia pun panik,sangking paniknya sampai lupa memberi kabar pada keluarga tuannya.
****
"Sepertinya hubungan kalian sedang tidak baik?"tanya Radit.
Mendengar pertanyaan itu,Rio menghela nafas kasar.Sebenarnya ia tidak ingin orang lain tahu tapi Radit melihat dengan mata kepala sendiri bahwa apa yang di katakannya memang benar.
"Orangtuaku tidak merestui hubunganku dengan kekasihku,aku berniat menikahinya."
"Lalu?"Rio menatap Radit sekilas."Kekasihku ingin restu dari orangtuaku jika ingin menikahinya,dia punya masa lalu yang kelam."
Radit pun mengerti sekarang,"dan kau memilih wanita yang tepat,"ungkapnya."Wanita baik-baik pasti akan seperti itu,restu orangtua nomor 1."
Sejenak Rio berfikir bahwa hilangnya ingatan Radit ternyata membuatnya menjadi lelaki yang berfikir positif."Kalau begini kan lebih baik hilang ingatan saja,"begitu pikirnya.
__ADS_1
Mobil yang ia kendarai kini berhenti di tepat di depan panti.
"Kenapa kita kesini Yo?"tanya Radit.
"Sudah kamu diam saja,"jawab Rio sambil meraih mawar putihnya yang ada di kursi penumpang.
Raditpun akhirnya mengerti,"boleh aku ikut turun?"
Mendengar pertanyaan Radit,Rio menghentikan aktifitasnya sejenak.Kemudian ia tersenyum."Tentu boleh,"jawabnya kemudian.
"Apa yang terjadi jika Radit melihat Cinta? Apa ia akan mengingatnya?"tanyanya dalam hati.
Bukannya takut Radit akan mengingat kembali,ia hanya tidak ingin Cinta ketakutan setelah melihat kehadiran lelaki ini,karena ia tahu betul Cinta sudah mati-matiab ingin lepas dari jeratan Radit.
Tol tok tok..
Rio mengetuk pintu."Assalamualaikum,"ucapnya.
Dari balik jendela terlihat ibu Ningsih yang mengintip dan tak lama pintu pun terbuka."Waalaikumsalam nak Rio."
"Cintanya ada bu?"
"Ada,mari masuk nak Rio,"jawab bu Ningsih.
Rio pun masuk di ikuti Radit di belakangnya,sedangkan bu Ningsih masuk ke dalam.Tak lama kemudian Cinta datang dengan nampan yang berisi 2 gelas teh hangat beserta gorengan yang barusan ia masak.
Radit hanya menatap wanita yang tengah berjalan menghampiri mereka.Gamis yang ia pakai begitu pas dengan postur tubuhnya,dengan kerudung panjang yang menutupi hingga dadanya serta wajah natural terlihat tanpa make up tapi terlihat sangat cantik.Ia menepuk pundak Rio dengan begitu keras.
"Au,apa sich?"tanya Rio.
"Kamu tidak salah memilih calon istri Yo,cantiknya kebangetan,"puji Radit.
Sedangkan Cinta Ia begitu kaget melihat ada Radit di samping Rio,bu Ningsing memang bilang ada 2 tamu saat Cinta membuatkan teh,tapi ia sungguh tidak menyangka bahwa tamu itu adalah Radit.
__ADS_1
Bersambung.