
Bukan suatu alasan kehidupan yang masih kekurangan menjadikan kita lupa akan beramal,justru dari situ kita tahu betapa sulitnya yang mereka lalui karena kita juga pernah merasakannya.Berapa pun dan apapun bentuk pertolongan yang kita berikan akan sangat berarti bagi mereka yang sangat membutuhkan.Karena mereka yang begitu membutuhkan akan sangat merasa bersyukur dan berterima kasih dengan apa yang ia dapatkan tanpa melihat apa itu pemberiannya.
Seperti yang sosok wanita ini lakukan.
Saat mentari mulai bersinar,Cinta sudah selesai dengan segala rutinitasnya.Ia berencana akan pergi ke pasar lagi bersama bu Ningsih.Sebelumnya bu Ningsih sudah berkali-kali menolak jika Cinta ingin ikut,namun Cinta tidak tega jika wanita paruh baya itu ke pasar sendiri dengan menenteng begitu banyak belanjaan,pasti berat sekali.Akhirnya bu Ningsih pun mengijinkan dengan syarat menunggu di luar saja biar tidak terlalu banyak jalan,mengingat kakinya yang masih sakit.Tapi bukan Cinta namanya jika hanya berdiam diri saja.
"Baiklah,tapi pelan-pelan saja ya Cin,"ucap bu Ningsih yang pada akhirnya menyerah.
"Baik bu,"jawab Cinta.
"Cinta,"teriak seseorang.
Cinta mencari-cari asal suaranya dan ternyata berasal dari kerumunan orang penjual baju anak-anak yang berada agak jauh dari tempatnya.Mantan Istri Cito itu berlarian menghampiri Cinta melihat Cinta sendiri yang terlihat menahan sakit saat berjalan.
"Hai Cin,nanti malam datang ya kerumahku,hari ini aku libur kerja dan masak banyak,"ucap mantan istri Cito.
Rasanya begitu canggung,tapi sebisa mungkin Cinta menutupinya.Ia berusaha mengakrapkan dirinya seperti halnya wanita itu.
****
Banyak sekali pilihan menu masakan yang tersaji di atas meja,mulai dari Daging rendang,Ayam rica-rica,bola-bola Udang,Gurame bakar ,tumis kangkung bercampur tauge,sayur bayam di campur dengan potongan jangung manis,cah Brokoli,dan es campur.
"Semua ini kamu yang buat mbak?"tanya Cinta.
"Tentu..lalu siapa kalau bukan aku?"jawabnya.
"Dan sebanyak ini? ada acara apa? kalau hanya untuk kita kenapa harus segini banyaknya mbak?"tanya Cinta merasa heran.
"Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku Cin,dan hari ini anakku kebetulan sedang ulang tahun,"terang mantan istri Cito sambil mengecup pucuk kepala anaknya.
__ADS_1
"Waaah ulang tahun yaa,selamat ya sayang..semoga sehat selalu,menjadi anak yang sholihah,"ucap Cinta dengan mengusap rambut anak itu.
"Ayo di makan Cin,keburu dingin nanti,"titahnya kemudian.
Dalam diam Cinta memperhatikan ibu dan anak itu,ia begitu merasa bersalah.Karenanya mereka jadi kehilangan seorang ayah,karenanya mereka hidup seperti ini.Hidup di tempat kos yang hanya cukup di tiduri 2 orang saja,bahkan tempat untuk memasaknya pun terlihat di depan pintu luar kamar.Dengan keadaan yang seperti ini,kenapa mantan istri Cito harus memasak segini banyaknya.Pasti tidaklah sedikit ia mengeluarkan uang untuk berbelanja.Hingga tak sadar air mata yang tadinya menggenang kini sudah tak mampu bertahan lagi dan akhirnya lolos membasahi pipinya yang mulus.
"Looo kok diem saja Cin,ayo di makan,ucap mantan istri Cito membuyarkan lamunan Cinta.
"Eh iya mbak,mbaak,"ucap Cinta kemudian.
Mendengarnya mantan istri Cito menghentikan aktifitas makannya."Ya Cin ada apa?"
"Maaf,mbak masak segini banyaknya apakah tidak mubazir,apa tidak lebih baik uang itu untuk sekolah anak mbak saja,"tanya Cinta hati-hati.
Ia meletakkan sendoknya kembali setelah mendengar pertanyaan itu."Hari ini aku dapat rezeki Cin,dan sesekali aku ingin menyenangkan anakku juga ucapan terima kasihku ke kamu,"
"Tapi di sini aku yang salah mbak,justru aku yang harusnya berterima kasih sudah mau memaafkan aku,"ucap Cinta dengan air mata yang terus mengalir."Jika saja kejadian itu tidak terjadi mungkin semuanya tidak akan seperti ini kan mbak?"
Hati siapa yang tak tersentuh melihat pemandangan yang begitu menyejukkan hati.
"Ya Allah ternyata wanita ini begitu baik,dan aku sudah menghancurkan rumah tangganya,"Cinta terisak dalam diam.
Mereka pun makan malam dengan tenang meski sesekali terdengar percakaan,hingga tak sadar sudah begitu banyak makanan yang Cinta habiskan.
"Cin ini sebagian kamu bawa pulang ya,berikan pada anak-anak supaya bermanfaat dan lebih berkah,"ucapnya kemudian setelah Cinta berniat akan pamit pulang.
Cinta melihat isi dalam kantong plastik itu,"ini semua mbak? kenapa tidak untuk mbak sendiri,kan bisa buat besok lagi."
"Aku sudah ada,sudah ku sisihkan secukupnya.Biarlah itu untuk mereka,pasti mereka senang,"tuturnya.
__ADS_1
"Tapi mbak,"
"Sudahlah kamu bawa ya,"potongnya."Tu kamu sudah di jemput."
Terlihat mobil Rio yang memang baru saja datang,ia turun lalu langsung membukakan pintu untuk Cinta.
Cinta pun segera masuk kedalamnya setelah berpamitan.
Dalam perjalanan.
Mobil yang ia kendarai melaju dengan pelan, bermaksud ingin lebih panjang waktunya bersama Cinta.
"Apa yang terjadi?"tanya Rio tiba-tiba.
"Tidak ada,"jawab Cinta.
"Lalu kenapa matamu begitu sembab?"
Mendengarnya Cinta memalingkan wajahnya ke luar jendela."Cinta,"panggil Rio kemudian.
Cinta menoleh menampilkan senyum cantiknya sebagai tanda bahwa ia baik-baik saja.
"Aku hanya tidak ingin kamu terus berfikir yang telah berlalu Cin,semua sudah terjadi dan tidak bisa kembali seperti dulu lagi."
"Entahlah Rio,mereka terlihat begitu bahagia tapi aku tahu dari matanya tersimpan sebuah kesedihan.Apalagi anak itu masih kecil,setiap hari harus di tinggal ibunya dan dengan siapa dia ada di rumah itu? anak itu juga pasti membutuhkan kasih sayang orang tuanya dan..."
"Ssstttt,"Rio menjedanya."Aku tahu,nanti kita pikirkan sama-sama."Cinta langsung menoleh menatap lelaki yang akan menjadi suaminya itu."Kamu serius Rio?"
Dan lelaki itu mengangguk sebagai jawabannya.
__ADS_1
Hening kembali,Rio melajukan mobilnya lebih cepat dari sebelumnya.Mengingat sudah mulai larut,Cinta harus istirahat untuk pemulihan kakinya.
Bersambung...