
Perbuatan yang melanggar peraturan perusahaan sudah seharusnya mendapatkan sanksi,apalagi kasus yang di alami oleh lekaki umur 36 tahun itu,dengan penghianatan yang telah di lakukannya seharusnya ia harus mendekam di penjara.Tapi Rio hanya mengeluarkan dari perusahaannya saja mengingat ia mempunyai istri yang sedang hamil tua tentu ia tidak tega melakukan hal itu.Lelaki yang pernah melecehkan Cinta di depan matanya.Ya dialah orangnya.
Keluar dari perusahaan dengan kinerja buruk tentunya akan susah mendapatkan pekerjaan di perusahaan lain.Sedangkan seorang atasan yang telah memanfaatkannya pun tak mau menerimanya.
Ia begitu frustasi,setiap hari jalan kesana kemari mencari pekerjaan untuk biaya hidup dan biaya persalinan sang istri.Ia begitu menyesal dengan apa yang sudah di lakukannya,tidak seharusnya ia melakukan penghianatan itu.
Bajunya lusuh dengan keringat bercucuran.Begitu sulit ia mencari pekerjaan,ia bahkan rela bekerja sebagai apapun asalkan sang istri bisa makan di rumah,termasuk menjadi kuli bangunan yang saat ini sedang ia lakukan.
Satu-satunya kendaraan yang di milikinya telah ia jual untuk biaya hidupnya bersama sang istri.Terpaksa ia harus berjalan kaki,rasa lelah letih lapar dan haus kumpul jadi satu.Ia duduk-duduk sebentar di pinggir jalan demi memgurangi rasa penatnya,sambil menunduk meresapi yang pernah di lakukannya dulu ia menitikkan air mata dengan penyesalan mendalam.Hidup foya-foya,bermain wanita, judi,bahkan tak jarang istri jadi pelampiasan jika kalah permainan.
"Minumlah,barangkali anda butuh ini,"ucap seorang wanita berdiri dengan memegang sebotol air mineral.
Lelaki itu mendongak,melihat wanita itu."Cinta,"lirihnya.
"Kau mengenalku?"tanya Cinta.Cinta pun melihat lagi dengan seksama,siapa lelaki sedang duduk ini.
Ia pun kemudian mengingat kembali setelah mengamatinya.Cinta tak ingin bertanya kenapa lelaki ini bisa sampai seperti ini sekarang.Padahal di perusahaan Rio dia sudah dapat tempat yang bagus,gaji pun lumayan besar.
"Ambillah,"ucap Cinta menyondorkankembali minumannya yang belum di terima oleh lelaki itu.
Lelaki itu pun menerimanya.Di lihatnya tangan sebelah kiri Cinta menteng tas belanjaan."Ia begitu malu dengan wanita ini,sudah merendahkannya dan kini wanita ini pula yang menolongnya dengan sebotor air tepat di saat kering di kerongkongannya.
"Kau butuh pekerjaan? aku lihat kau seperti habis nguli?"tanya Cinta.Lelaki itu hanya menganguk,mulutnya serasa kaku saat ingin menjawab,begitu malu hingga lidahnya terasa kelu.
__ADS_1
"Ayo ikut dengan ku,"ajak Cinta.
Cinta menghentikan salah satu bemo yang hendak melintas di dekatnya.Ia masuk kedalam di ikuti lelaki itu di belakangnya.Tidak ada percakapan antar keduanya,mereka larut dengan pemikirian mereka masing-masing.Hingga tak terasa bemo pun sampai melewati panti tempatnya tinggal.
"Pak pak pak berhenti,"ucap Cinta.Ia pun turun dan memberi ongkos untuk 2 penumpang.
"Terimakasih mbak,"ucap pak sopir karena Cinta memberikan sisa uang kembaliannya pada pak sopir.
"Terimakasih kembali pak,"jawab Cinta.
"Ayo,"ajak Cinta pada lelaki yang mengikutinya itu.
Ia berjalan menuju tepat di depan panti.
"Eh mbak Cinta,ada mbak?"tanya ibu itu ramah.
"Ibu kemarin bilang katanya butuh pegawai laki-laki kan?" tanya Cinta dan sang ibu langsung fokus pada lelaki yang berada di belakangnya.Cinta tahu apa yang di pikirkan oleh sang ibu itu.
"Tenang saja bu,dia pekerja keras bu,dia juga orang yang jujur karena mas ini teman kerja saya dulu jadi saya tahu betul dia seperti apa,"terang Cinta berusaha meyakinkan.
Sang ibu pun tersenyum ramah,"baiklah kamu bisa bekerja di sini mulai besok."
Sangking gembiranya lelaki itu sampai mencium punggung tangan sang ibu berkali-kali sambil mengucap terima kasih,tapi seketika itu pula ia lepaskan karena sadar tangannya begitu kotor.
__ADS_1
Sedangkan Cinta sudah meninggalkan tempatnya setelah berpamitan pada ibu pemilik tanpa di sadari oleh lelaki itu.
Lelaki itu pamit,ia ingin segera memberi tahu kabar bahagia ini pada istrinya.Namun tiba-tiba langkahnya terhenti,ia mencari-cari sosok wanita yang tengah bersamanya tadi."Cinta,ia pun memanggil manggil nama itu berulang kali,namun ia tak menemukannnya juga.
Belum sempat ia berterimakasih,ia datang dan pergi begitu saja tanpa ia tahu jejaknya."Keburukan yang telah ku lakukan padanya,sudah pasti sangat melukai perasaannya.Dan kini apa yang telah aku lakukan padanya,ia balas dengan kebaikan ini.Di saat aku terpuruk,saat orang lain tidak lagi percaya padaku,dan di saat semua hanya melihat keburukanku.Tapi wanita itu,dengan yakinnya memberiku kepercayaan."
******
Di panti.Cinta sedang mengeluarkan semua belanjaannya.Semua ini untuk keperluan esok hari,supaya bu Ningsih tidak perlu repot-repot pergi ke pasar dulu saat ingin memasak untuk semuanya.
"Kenapa kau berbelanja sebanyak ini dengan uang pribadimu nak?"tanya bu Ningsih yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.Sambil tersenyum Cinta menanggapinya,"hanya sedikit bu,untuk besok pagi saja.Maaf ya bu,besok Cinta tidak bisa bantu ibu karena pagi-pagi sekali Cinta harus pergi.Doakan Cinta ya bu."
"Memang kau mau kemana pagi-pagi sudah harus pergi nak?"tanya bu Ningsih.
"Cinta dapat panggilan kerja bu,"dan bu Ningsih tersenyum senang mendengar kabar baik itu."Pasti nak,apakah nak Rio akan menjemputmu?"
"Ah ibu ini,sudah Cinta bilang Rio itu bukan calon suami Cinta.Dia itu dulu atasan Cinta,"terang Cinta.
"Mungkin untuk saat ini belom,tapi nanti siapa yang tahu takdir."jawab bu Ningsih.Rio lelaki yang baik,dia juga turut menyumbang di panti ini.Dia sama sepertimu nak,namanya tidak ingin di ketahui oleh orang lain,dalam arti ia hanya ingin saat memberi hanya tangan kirinya saja yang jadi saksi."
Cinta hanya diam kalau sudah bicara soal takdir,namun sebisa mungkin ia akan menjauhi Rio pun juga dengan hatinya.
Bersambung...
__ADS_1