
...Happy Reading...
Permata tak akan bisa diasah tanpa gesekan, begitu pula manusia, tak ada yang sempurna tanpa sebuah cobaan dalam hidup, jika kita bisa melewati ujian hidup, niscaya kita akan naik kelas.
Alisya tidak bisa berbuat apa-apa sampai saat ini selain mengikuti kemana suaminya akan membawa dirinya pergi.
Walau sebenarnya Alisya juga tahu kalau suaminya juga seorang Pendosa, namun demi keselamatan keluarganya, dia akan bertahan sebisa mungkin untuk menghadapi kenyataan hidup yang memang terasa pahit.
"Alisya, kenapa kamu lama sekali, kalau sampai kita ketinggalan pesawat bagaimana?" Wajah Yoga terlihat kesal saat menatapnya.
"Maaf Yoga, tadi di Toilet antri dan aku tidak tahu Toilet yang lain disana, jadi aku terpaksa menunggu giliran saja." Jawab Alisya tanpa berani menatap wajah suaminya terlalu lama.
Mereka memang seumuran, namun setelah lulus sekolah, Alisya sudah tidak pernah bertemu lagi dengan Yoga, dia seolah menghilang ditelan bumi, namun tiba-tiba datang menjadi sosok Hero untuk keluarganya.
Alisya memang tahu, jika keluarganya punya hutang, tapi dia tidak menyangka jika hutang itu ternyata berbunga, maklum saja karena keluarganya meminjam uang itu dari Rentenir, bahkan jumlah hutangnya saat ini menjadi hampir tiga kali lipat dari pinjaman semula.
Sedangkan keluarganya hanya mampu membayar bunganya setiap bulan, itu pun terkadang menunggak, hingga akhirnya utang mereka membengkak, karena memang ayah Alisya hanya kerja serabutan dan kalau sore dan malam mengajar di Pondok Pesantren yang memang tidak bergaji, namun Abah tetap memberi uang namun hanya sebatas uang kasih sayang, bukan gaji per bulan.
Sedangkan Alisya kuliah karena uang beasiswa dan uang hasil kerja part timenya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya bersama kakek disebuah rumah kecil namun diperkotaan.
Rumah dan tanah pekarangan mereka menjadi jaminan utangnya, jika Yoga tidak datang saat jatuh tempo pelunasan saat itu, mungkin keluarganya kini sudah digusur dan jika keluarganya ikut tinggal bersama Alisya di kota, biaya hidup di sana mahal, lain dengan di tempat kelahiran Alisya dulu.
"Ya sudahlah, pesawat kita akan berangkat sebentar lagi."
"Hmm."
Alisya tidak banyak berkata, dia hanya menggangukkan kepalanya saja tanpa mau bertanya, kemana tempat tujuan mereka pergi.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, akhirnya Alisya dan Yoga sampai di negara tetangga yang masih serumpun dengan negara kita.
"Kita akan tinggal disini selama kurang lebih dua minggu ke depan, sekalian kita bisa bulan madu." Jawab Yoga saat mereka sampai disebuah Hotel yang mewah disana.
Degh!
Bulan madu? huuh... Ya Tuhan, jika memang dia tidak baik untukku dan masa depanku, tolong jauhkan dia dariku dan lindungilah hambamu ini, amin.
"Okey, kalau begitu apa kamu butuh sesuatu, biar nanti aku mintakan ke bawah?"
Walau bagaimana pun juga, Yoga adalah suaminya yang sudah sah secara Agama, jadi sebagai istri dia harus tetap melayani suaminya dengan baik, namun jika masalah ranjang sebisa mungkin dia akan mencegahnya dengan cara apapun itu.
"No, aku hanya butuh kamu!"
__ADS_1
Grep!
Yoga langsung menarik lengan Alisya dan menyentakkan tubuhnya kedalam pelukan hangat dari dirinya.
"Yoga, ada apa?"
Alisya ingin bangkit dari sana, namun Yoga sudah mengungselkan kepalanya diceruk leher Alisya, walaupun hijabnya masih terpasang rapi, namun cukup membuat Alisya merasa geli.
"Sudah lama aku menginginkanmu, apa kamu juga tidak menginginkan aku?"
Yoga memang sudah mengagumi Alisya sejak di bangku sekolah, namun Alisya memang tidak pernah mau pacaran sedari dulu, dia hanya fokus belajar dan belajar, hingga dirinya selalu menjadi siswa berprestasi karena dia sadar dia anak orang tidak berpunya, jika bukan kecerdasan apa lagi yang bisa dia banggakan dari dirinya.
"Yoga, aku boleh mandi dulu nggak, badan aku pasti bau kan?" Degup jantung Alisya sudah tidak menentu, dia merasa ketakutan sendiri jika terus berada dalam pelukan Yoga seperti ini.
"Gimana kalau kita mandi bareng saja nanti, aku bisa membantu menggosok tubuhmu sayang." Yoga bahkan menciumi bahu Alisya yang masih berbalut baju lengan panjang.
Astagfirullah, bagaimana ini?
"Yoga, aku kan masih datang bulan, lagian ini masih deras-derasnya, apa kamu tidak jijik nantinya?" Alisya kembali menemukan alasan yang paling pas menurutnya.
"Haish... kenapa kamu datang bulan pas dihari kita menikah sih? Kamu sengaja ya? atau kamu hanya pura-pura saja, agar bisa menghindar dariku?" Yoga merasa tidak terima, padahal keinginannya sudah menggebu.
"Bukan begitu, tapi memang udah jadwalnya Yoga." Alisya mencoba berbicara tenang, walau hatinya sudah deg-degan, takut jika dramanya terbongkar disaat Nicholas belum datang menjemputnya.
"Tidak Yoga, sungguh!" Alisya langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Mana buktinya?"
"Aku masih menggunakan pembalvt Yoga."
"Mana! Aku mau lihat, buka bajumu sekarang juga!" Yoga langsung menarik baju Alisya.
Astaga, mati aku, bagaimana ini?
"Masak dibuka sih Yoga, aku kan nggak enak." Alisya seolah perang batin dengan dirinya sendiri.
"Nggak enak kenapa, nggak usah malu, aku ini suamimu, aku berhak melihat isi seluruh tubuhmu itu!"
Iya juga sih, tapi gimana dengan Nicholas? Mas... buruan tolong jemput aku!
"Tapi?"
__ADS_1
"Sini aku buka!" Yoga mulai memaksanya.
"Jangan Yoga!"
"Berarti kamu bohong denganku?" Yoga langsung memelototkan kedua matanya.
"Tidak tapi?"
Krak!
Yoga langsung membuka paksa baju Alisya, alhasil pakaiannya robek Yoga buat.
"Ckkk...! sampai kapan kamu datang bulan!"
Saat Yoga memeriksanya, ternyata Alisya memang menggunakan pembalvt disana, bahkan dia menggunakan yang paling panjang dan tebal, akhirnya Yoga hanya melihatnya dari luar saja, tidak memeriksanya sampai dalam.
Alhamdulilah... untung dia tidak memeriksa dalamnya, aku lupa ngasih obat merah tadi karena buru-buru.
Alisya akhirnya bisa bernafas dengan lega, saat Yoga langsung memalingkan wajahnya dan memejamkan kedua matanya untuk menahan hasratnya yang sudah menggebu.
"Kalau begitu aku ke kamar mandi dulu ya, mau bersih-bersih sekalian mandi juga." Alisya langsung ingin bangkit dari sana, namun Yoga kembali menarik tubuhnya.
"Aku sudah teringin sekali, jadi kalau punyamu tidak bisa dipakai, gunakan cara lain untuk mengeluarkannya." Yoga langsung menarik paksa hijab yang Alisya gunakan dan membuangnya kesembarang arah.
"Hah, maksud kamu apa?"
Alisya langsung panik, dia bingung sendiri harus bagaimana, karena memang dia tidak tahu caranya.
"Jangan sok polos deh, masak gitu aja nggak tahu, cepat buka bajumu saja!" Pinta Yoga yang langsung melepas kaosnya dan menampakkan tubuhnya yang memang terlihat kekar.
"Aku... aku beneran nggak tahu Yoga!" Bahkan bibir Alisya sampai bergetar, saat Yoga sudah melepas celana Jeans yang dia pakai dan meninggalkan Boxer saja ditubuhnya.
"Kamu pernah makan es krim?" Yoga bahkan sudah duduk bersandar dibahu ranjang sambil memamerkan mie cap dua telor disana.
"Pernah, tapi anu.. emm.. itu?" Alisya kelabakan sendiri jadinya, apalagi saat Yoga benar-benar mengeluarkan senjata berisi dua peluru miliknya.
"Ayo makanlah, anggap saja ini Es Krim rasa coklat susu!"
Duaaaarrr!
Alisya hanya bisa melotot saja saat melihat apa yang ada didepan mata, dia merasa serba salah, dilain sisi Yoga suaminya, namun di sisi lain hatinya sudah terisi bahkan terikat janji dengan Nicholas.
__ADS_1
Jangan menyerah saat doa-doamu belum terjawab. Jika kamu mampu bersabar, Allah mampu memberikan lebih dari apa yang kamu minta.
TO BE CONTINUE...