Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
107. Lah kok Ganteng?


__ADS_3

...Happy Reading...


Kemesraan pasutri yang baru saja halal beberapa saat yang lalu itu, langsung teralihkan begitu saja, ketika ada sesosok pria yang menggunakan sarung hitam bermotif emas yang dipadu padankan dengan kemeja lengan pendek ketat berwarna putih, dan tidak lupa dengan peci putih yang menghiasi kepalanya, menambah kesan islami namun tetap menawan dan juga elegan.


"ALISYA!"


Dan pria itu adalah Yoga, sang mantan suami dari Alisya yang kini sudah berubah total secara penampilannya.


"Lah kok Ganteng? vibesnya jadi tambah keren, ehh.. opsh!"


Alisya langsung membungkam mulutnya sendiri saat tanpa sadar memuji penampilan mantan suaminya yang kini sedang tersenyum manis kepadanya.


"Sayang! Kamu memuji mantanmu!" Nicholas langsung mendelik kesal seketika, nalurinya sebagai lelaki seolah terusik karenanya.


"Eh... enggak, maaf sayang tadi aku salah bicara!" Alisya merasa sangat bersalah, seharusnya dia tidak bicara seperti itu saat sudah bersuami, namun apa daya penampilan Yoga kali ini benar-benar membuatnya terkejut, dari yang biasanya berpakaian serba hitam dan selalu menggunakan jaket kulit, kini lebih terlihat sejuk dipandang mata.


"Penilaian pertama itu biasanya tidak pernah salah!" Yoga yang merasa dipuji langsung terbang melayang dengan sombongnya.


"Sayang, aku benci kamu!" Umpat Nicholas sambil melengos.


"Maaf sayang, tapi kamu kan juga ganteng, pake banget lagi." Alisya langsung menggengam jemari suaminya untuk kembali memenangkan hatinya.


"Yang keras ngomongnya!" Lirik Nicholas yang sebenarnya sudah semriwing hatinya, karena pujian dari Alisya, apalagi ditambah dengan usapan lembut di pipinya, itu sungguh melelehkan hatinya.


"Kamu paling ganteng dihati aku mas Nicholas." Ucap Alisya kembali walau sambil mengeratkan giginya, tidak mungkin juga dia berteriak seperti yang suaminya inginkan, sedangkan masih banyak saudara Alisya yang berada dirumahnya.


"Masak?" Dan Yoga semakim marak untuk meledek Nicholas disana.


"Diam kau!" Hujat Nicholas sambil melotot kesal kearah Yoga yang malah tersenyum dengan lebarnya.


"Alisya bagaimana? apa kamu sekarang menyesal sudah memilih dia dibanding aku yang sekarang? tidak ada kata terlambat untuk kembali padaku, karena aku akan tetap menunggumu sayang." Entah mengapa semakin dilarang Yoga semakin meraja lela untuk meledeknya.


"Jangan panggil dia sayang, dia milikku sekarang!" Nicholas langsung memeluk tubuh istrinya dengan posesif, seolah merasa tidak terima jika ada yang mengusik miliknya.


"Tapi dia juga pernah jadi milikku sebelumnya, apa kamu lupa?" Yoga bersidekap dengan santainya sambil terus melirik ke arah Alisya yang sudah jengah karena perdebatan mereka.


"Itu karena kamu menikungnya dariku!" Jawab Nicholas sambil berkacak pinggang kearahnya.


"Siapa bilang? jauh sebelum kamu mengenal Alisya, aku sudah lebih dulu mengenalnya, bahkan menyukainya sejak kami masih di bangku sekolah, hanya saja Alisya hanya fokus pada sekolah saat itu, dia tidak mau pacaran dulu, kalau tidak mungkin aku sudah berpacaran lebih dulu dengannya, jadi siapa yang merebut dia lebih dulu disini?" Yoga langsung menceritakan kisahnya terdahulu.


"Itukan hanya cinta monyet dan aku tidak perduli!" Nicholas tidak mau tahu, yang penting Alisya hanya miliknya kali ini.


"Monyet dari mana, kamu pikir kita di hutan? orang sampai sekarang rasaku juga masih sama!" Yoga pun tidak mau kalah dalam hal apapun, apalagi hanya berdebat.


"Itu derita elu, tapi saat ini dan untuk selamanya Alisya akan menjadi milikku, bahkan rasa sayang dan cintanya hanya untukku, jadi jangan coba-coba menjadi duri dalam hubungan kami, pergi sana, aku tidak mengundangmu bukan!" Nicholas masih tersulut emosi, padahal biasanya dia pandai bersikap tenang walau sebenarnya sedang risau, tapi itu hanya didepan klien kerjanya.


"Sombong sekali kamu, hei bro... asal kamu tahu saja, walau begitu aku yang sudah lebih dulu menikmati tubuhnya, werk!" Semakin direndahkan Yoga bahkan semakin menggila.


"Menikmati gundulmu itu, dia masih ori tau nggak!" Njcholas sudah mengepalkan kedua tangannya karena merasa kesal saat dia mengungkit soal hal diatas ranjang.


"Owh ya? harusnya kamu melihat tatto buatanku di tubuh Alisya saat itu." Senyum Yoga benar-benar mencabar seorang Nicholas saat itu.


"Sayang!" Namun Alisya yang menjadi sasarannya.


"Bukannya aku dulu sudah jujur denganmu mas, tapi kan hanya sebatas itu saja." Alisya tidak mampu untuk mengelaknya, karena Yoga memang sudah melakukannya dulu.


"Kamu dengar itu, pasang telingamu, jadi jangan kepedean kamu jadi mantan!" Nicholas kembali menegaskannya.


"Siapa bilang, aku sudah mengintip bagian lainnya kok, bahkan tangan kekarku ini sudah menyentuhnya, hahaha."


"Alisya, kamu bohong denganku?" Nicholas langsung mencengkeram lengan istrinya walau tidak terlalu kuat.


"Nggak ada mas, jangan terpancing emosi begitu, bisa nggak?" Alisya masih mencoba tenang.


"Aku juga sudah pernah mencvmbvnya, dan yang paling penting aku lebih dulu merasakan hangat ditubuhnya dalam pelukan Alisya."


"Sialaaaaan.. mafia yang satu ini, memang cari perkara!" Nicholas langsung menyingsingkan kemejanya.


"Mas Nicholas!" Alisya langsung memeluk tubuh suaminya dari belakang, agar tidak bertindak gegabah dalam hal ini.

__ADS_1


"Sayang, tapi dia sama saja mengejekku!" Umpat Nicholas dengan wajah cemberut.


"Terlepas benar atau tidak, tapi yang terpenting sekarang hanya kamulah pemenang hatiku, untuk selamanya, jangan marah-marah begini, malu dilihatin sama saudara-saudara kita disana." Alisya mengusap dadaa bidang suaminya dengan penuh kelembutan.


"Janji ya? jangan menoleh ke pria manapun selain aku sayang?" Nicholas menangkupkan kedua tangannya diwajah cantik istrinya.


"Iya, pasti mas." Akhirnya senyum Alisya terbit semanis mungkin.


"Heleh... segitu saja nyalimu bro, nggak jadi baku hantam kita? sini... mau gue cuma pake sarung juga bakal gue jabanin dah, maju kamu!" Yoga sebenarnya hanya merasa iri saja, kenapa Alisya tidak melakukan hal itu dengannya ketika dia marah dulu pikirnya.


"Dasar mafia gila, berhembus kau dari sini!" Andai mereka hanya berdua, sudah pasti melayang satu pukulan kearah wajahnya rivalnya itu.


"Kalau aku nggak mau, kamu bisa apa!"


"Mas Yoga sudah cukup, tolong lah jangan buat keributan disini, ada yang bisa aku bantu mas?" Alisya langsung berdiri diantara mereka, takut jika benar-benar berantem karena memperebutkan dirinya.


"Haish... kamu yang lembut seperti ini, yang membuat aku selalu gagal move on darimu Alisya." Umpat Yoga yang langsung melepas pecinya dan menjambak rambutnya.


"Mas ada perlu denganku atau ayahku? atau siapa, biar aku panggilkan sekarang?" Ujar Alisya kembali, kepalanya sudah pusing mendengar ocehan dua pria itu.


"Sayang, makanya jangan bersikap baik dengan pria lain, selain aku!" Nicholas langsung menarik kembali tubuh Alisya agar tidak terlalu dekat dengan Yoga.


"Mas, aku berpisah dengan mas Yoga secara baik-baik, aku tahu dia sudah berubah sekarang."


"Apanya yang berubah, yang namanya mafia tetap saja mafia." Umpat Nicholas yang tidak percaya begitu saja.


"Cukup mas, jangan melihat orang dari sisi buruknya saja, semua pasti punya masa lalu."


"Kamu malah membela dia dibanding aku?"


"Bukan begitu mas, astaga sabar dulu kenapa?"


"Cih... ternyata pria pilihanmu juga pemarah orangnya? apa bedanya denganku dulu, bukannya masih lebih sabar aku dibanding dia sekarang, kita balikan aja yuk?" Goda Yoga yang kembali menyalakan api peperangan disana.


"Woah... sepertinya kesabaranku sudah habis ini!" Nicholas langsung melepas jas miliknya, tubuhnya seolah terbakar dengan segala ucapan mantan suami dari istrinya itu.


Cup


"Lagi."


Rengek Nicholas dengan manjanya, emosinya tiba-tiba melunak, api kemarahannya seolah tersiram oleh bongkahan gunung es dan meleleh seketika.


"Lanjut nanti malam saja." Bisik Alisya.


"Kamu sudah bisa menggodaku sekarang ya?" Nicholas langsung menoel dagu istrinya, baru kali ini Alisya berinisiatif untuk mencivmnya terlebih dahulu, apalagi hal itu dia lakukan dihadapan mantannya dan itu membuat diri Nicholas seolah menjadi pemenang seketika.


"Hedeh... sepet mata gue ngelihatnya, apapun itu semoga kamu bahagia Alisya." Akhirnya Yoga menyerah disana.


"Thank you, Dia pasti bahagia denganku." Namun Nicholas yang menjawabnya terlebih dahulu dengan bangganya.


"Aku hanya mendoakan Alisya saja, tapi tidak denganmu!" Umpat Yoga kembali.


"Mas Yoga, sudah dong, malu dilihatin orang itu, sebenarnya ada perlu apa mas, biar aku bantu." Alisya yakin Yoga sebenarnya sudah berubah sejak kedatangan dirumahnya yang terakhir kalinya.


"Aku ingin menemui Abah." Jawabnya singkat, karena tadi saat dia pergi ke Pondok Pesantren, santrinya bilang kalau dia sedang pergi kerumah Alisya, jadi dia menyusulnya.


"Abah dari pondok pesantren?" Tanya Alisya yang mencoba memperjelasnya.


"Iya, siapa lagi Abah disini."


"Mas Yoga sekarang mengaji dengan Abah di Pondok pesantren?" Senyum Alisya semakin melebar, dia semakin yakin kalau Yoga sudah belajar memperbaiki diri.


"Sementara ini aku hanya datang saat malam hari saja, tapi bulan depan aku akan full tinggal di Pondok Pesantren dengan Abah, jika kamu rindu aku, kamu bisa mengunjungiku disana."


"Enak saja, tidak akan aku biarkan kalian bertemu! aku akan segera memboyongnya istriku ke kota!" Nicholas tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi pikirnya.


"Hedeh... sakit kepalaku kalau terus-terusan begini!" Alisya memegangi kepalanya sendiri, sulit sekali membuat mereka berdua berdamai dan berbicara dengan kosa kata yang ramah didengar telinga.


"Dia yang mulai cari masalah duluan yank!"

__ADS_1


"Kita pergi ke masjid aja yuk." Alisya langsung memilih membawa suaminya pergi saja.


"Ngapain, waktu sholat dzuhur masih lama lagi yank?"


"Biar hati mas lebih adem!" Padahal hanya itu cara untuk memisahkan keduanya agar tidak kembali bertengkar.


"Tapi Alisya?" Yoga seolah mencegahnya.


"Abah sedang ngobrol dibelakang sama Ayah, mas Yoga bisa langsung masuk aja." Jawab Alisya dengan cepat.


"Aku hanya bercanda tadi, jangan terlalu diambil hati, saat itu aku sudah berjanji tidak akan menggangu kebahagiaan kamu, walau aku tidak kalian undang, tapi aku ingin mengucapkan happy wedding mantanku." Yoga akhirnya berkata jujur, agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara mereka kembali.


"Heh?"


"Mungkin bahagiamu bukan milikku dan senyum indahmu itu bukan penghias hari-hariku, aku doakan semoga kamu memiliki kehidupan pernikahan yang bahagia dan jangan lupa doakan aku juga semoga bisa secepatnya menyusul seperti dirimu, untuk segera menemukan teman hidupku yang masih dalam tahap pencarian." Ujar Yoga kembali, dia sudah mulai bisa legowo dan ingin memulai hidupnya dengan warna baru dan yang pasti menuju kebaikan.


"Terima kasih mas Yoga, aku berharap nanti apapun dan siapapun yang mas pilih dalam perjalanan hidup mas Yoga, aku akan selalu berharap dan mendoakan yang terbaik buat mas, dan mendapatkan pasangan yang baik, juga bisa menemani mas dalam suka maupun duka, tentu saja dijalan yang Allah ridhai, amin." Alisya sungguh merasa lega kali ini, karena memang seperti inilah yang dia harapkan.


"Boleh peluk nggak Al?" Pinta Yoga yang sengaja kembali memancing perkara.


"Enak saja, nggak boleh, ayok kita pergi yank!" Nicholas langsung merengkuh tubuh istrinya.


"Sekali lagi makasih mas, aku tinggal dulu ya, assalamu'alaikum." Alisya menoleh sambil tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Yoga.


Walau bagaimanapun juga, dia tidak bisa membenci Yoga, karena pria itu pernah menjadi suaminya.


Melihat Yoga yang sudah berubah seperti sekarang ini, Alisya sudah sangat bersyukur karena akhirnya dia kembali ke jalan yang benar.


"Kenapa sih, kamu masih baik sama mantan kamu!" Umpat Yoga sambil menggandeng tanan istrinya menuju masjid kecil disamping rumah Alisya.


"Karena dia hanya mantan mas, dan kamu itu masa depan aku, jadi tidak perlu merasa cemburu dengannya."


"Kalau kamu begitu, kesannya kamu itu masih ngasih harapan sama dia."


"Ya enggaklah, aku hanya ingin bersikap baik saja dan berdamai dengan masa lalu, agar hubungan kita kedepannya tidak ada pihak penggangu mas."


"Kamu yakin dia tidak punya rencana lain?" Nicholas masih belum bisa percaya begitu saja.


"Jangan berprasangka buruk, pikirkan yang baik-baik saja, agar kenyataannya nanti baik semua."


"Tapi yank?"


"Mau lanjut bulan madu, atau mau berantem aja nih?" Alisya langsung memeluk pinggang suaminya.


"Kalau nyicil sekarang boleh nggak yank?" Otak mesvmnya langsung terbit seketika.


"Nyicil apaan sih mas?" Satu cubitan akhirnya mendarat dipinggang suaminya saat dia sudah berulah.


"Aku sudah tidak sabar memiliki kamu sepenuhnya yank!" Rengek Nicholas dengan manjanya.


"Apa sih mas, disini masih banyak saudara kita loh."


"Tapi kita sudah sah sayang, lagian sudah tidak ada acara apa-apa setelah ini, jadi boleh ya?"


"Tapi dimana? ini masih siang loh mas, jangan aneh-aneh deh." Alisya kembali dibuat pening oleh suaminya.


"Bagus kalau siang-siang kita buatnya yank, jadi nampak jelas semuanya, dan nanti anak kita juga pasti mendapatkan jalan yang terang juga."


"Teori dari mana itu mas." Alisya langsung menjelingkan kedua matanya.


"Dek Sholeh, carikan abang tempat dek!" Tiba-tiba saat melihat sekitar masjid, dia menemui Sholeh yang sedang melintas disana membawa satu botol air.


"Eh Abang? tempat buat apa?" Tanya Sholeh yang berlari mendekat kearah mereka.


"Tempat pembuatan adek kamu!" Jawab Nicholas yang langsung mendapat tabokan manja dari istrinya.


"Hush... Mas ini lah, sembarangan aja kalau ngomong!"


"Okey!"

__ADS_1


Sholeh si otak cerdas dan berjiwa sosial tinggi, serta cekatan itu, langsung bergegas pergi dari sana setelah berfikir sesaat tentang apa yang diminta oleh Abangnya, bahkan tanpa banyak bertanya terlebih dahulu.


Lanjut belah duren nggak nih? atau mau masak sosis sama tempe mendoan aja?🤣


__ADS_2