
...Happy Reading...
Bukan hal yang sulit bagi Hanny untuk menyesuaikan diri dalam suasana dan lingkungan yang baru.
Dan Ustazah yang menjadi koordinator di pondok pesantren itu sangat ramah, sehingga membuat Hanny merasa sangat nyaman, apalagi ada Alisya yang selalu ada disampingnya.
"Gimana Han, nggak kepanasan lagi kan?"
Begitu sampai di didalam pondok pesantren itu, Hanny sudah menggunakan busana muslim sekaligus hijab yang menutupi bagian dadaanya.
"Hmm... udah lumayan sih, cuma masih agak gimana gitu rasa-rasanya, apa nggak boleh pakai celana panjang aja disini, aku agak ribet pakai sarung kayak begini." Umpat Hanny yang terus membenahi roknya, takut merosot pula nantinya.
"Tidak apa-apa, namanya juga masih belajar, nanti kita beli kerudung dan rok yang bahannya adem, biar kamu nggak kepanasan, kalau di pondok pesantren memang tidak diperbolehkan memakai celana panjang, sekalipun tidak ketat juga tetap dilarang." Ujar Alisya yang hanya bisa memakluminya, karena memang tidak ada proses yang mudah dalam menuju kebaikan.
"Sip, kamu beli yang banyak, gunakan saja kartuku itu, sekalian kita bagi-bagikan sama teman-teman kita yang ada di pondok pesantren ini." Jawab Hanny yang memang sudah bertekad untuk membenahi diri.
"Siap boskuh!"
"Jangan panggil aku bos!"
"Katanya aku asisten kamu?"
"Owh... Iya juga yah, terserah kamu saja deh, tapi yang pasti aku lebih suka jika kamu anggap teman atau saudara mungkin."
Hanny merasa bahwa mengenal Alisya adalah suatu berkah tersendiri baginya, dan mampu membuat Hanny kembali mengucap syukur, karena ternyata Tuhan masih menyayanginya, walau mungkin Hanny sudah melakukan kesalahan yang fatal, namun Dia masih menyisakan Alisya didalam kehidupannya, bahkan menemaninya dengan ikhlas hati.
Ting
Ting
Saat mereka berdua masih saling mengobrol, tiba-tiba ponsel Hanny berbunyi, terlihat beberapa pesan masuk di ponselnya.
"Siapa?" Tanya Alisya yang langsung menoleh ke kanan dan ke kiri.
Sesungguhnya mereka tidak diperbolehkan membawa ponsel disana, namun karena mereka baru saja sampai jadi belum sempat menyimpannya.
"Salah satu anak buah gue, ehh... emm... bisa dibilang salah satu karyawan gue juga."
Hanny bahkan sampai keceplosan kalau dirinya sebenarnya punya beberapa anak buah yang masih setia bekerja dengannya.
"Owh... kirain dari pak Jeremy?" Celetuk Alisya tanpa sadar, karena dulu jika Hanny tidak sedang bersama Jeremy, ponsel Hanny memang selalu berbunyi, yang semua berisi chat dari Jeremy.
"Jangan sebut namanya." Hanny terlihat menurunkan kedua bahunya dengan lemas.
"Kenapa, apa kamu menyesal?" Tanya Alisya kembali.
"Sesal itu pasti ada, tapi aku tidak mungkin juga memaksakan kehendakku kan, jadi aku memilih ganti nomor untuk sementara waktu, aku ingin menepi sesaat, dengan memperbaiki kehidupanku, agar nanti saat aku kembali ke kota sudah dengan Jiwa yang baru."
Semua memang terasa berat bagi Hanny, namun jika tidak dicoba, dia tidak akan pernah tahu hasil akhirnya.
"Lalu kenapa hanya menyebut namanya saja kamu tidak mau?"
"Emm... aku hanya rindu."
Bahkan bibiir Hanny seolah bergetar saat mengatakannya, ada beban berat yang seolah mengganjal di hatinya.
"Kamu masih belum bisa merelakannya?" Alisya langsung menggengam kedua tangan Hanny yang sudah terasa dingin dan berkeringat.
"Aku... aku sudah berusaha Alisya, tapi tidak mudah melupakan dia begitu saja, terkadang hatiku rasanya sesak sekali Sya, wajahnya selalu saja memenuhi pikiranku, aku begitu tersiksa saat mengingat segala tentangnya."
Air mata Hanny kembali menetes seketika, padahal belum ada dua puluh empat jam dia tidak melihat Jeremy, namun rasanya sudah seperti setahun.
"Ya sudah, ini semua hanya tentang waktu saja, coba kamu lihat dulu pesannya, siapa tahu penting, soalnya setelah ini kita tidak diperbolehkan lagi memakai ponsel selama didalam lingkungan pondok pesantren." Jelas Alisya yang memang sudah paham duluan dengan peraturan pondok pesantren.
"Mungkin mereka hanya melapor tentang emm..."
Baru satu pesan bergambar saja yang Hanny lihat, tangannya sudah kembali terlihat gemetaran.
Alisya yang melihatnya langsung mengambil ponsel itu dari tangan Hanny, takut pecah jika terjatuh nantinya.
Namun saat dia ikut melihat pesan itu, ternyata itu adalah foto resepsi pernikahan dari Jeremy.
"Hanny.. apa kamu baik-baik saja?" Alisya tahu apa yang Hanny rasakan, karena memang seharusnya Hanny lah orang yang ada didalam gambar itu.
"Dia terlihat tersenyum di foto itu Alisya, apa begitu mudahnya dia melupakan aku?" Ada rasa tidak rela, namun Hanny seolah tidak punya kuasa untuk marah, apalagi melarangnya karena dia merasa sudah tidak punya hak lagi atas diri Jeremy.
"Huft... aku pun tidak tahu Hanny, aku tidak berani menyimpulkannya." Jawab Alisya yang ikut penasaran juga.
Sebenarnya ada rasa janggal saat melihat tinggi badan mereka yang sama, padahal tubuh Jeremy sangat proporsional dan tergolong tinggi sebagai pria, ternyata masih bisa kalah saing dengan pasangannya, pikir Alisya karena kemarin dia tidak melihat dengan jelas tubuh Dinar.
"Dia benar-benar sudah menggeser posisiku dengan wanita lain, apa mungkin aku tidak seberharga itu di matanya ya Sya?" Hanny benar-benar down kali ini, seolah harapannya sudah benar-benar pupus tak bersisa.
"Bukannya kata orang cinta itu tidak harus memiliki Hanny?" Ucap Alisya yang sebenarnya hanya menghibur saja, dia pun tidak punya pengalaman soal cinta-cintaan.
"Awalnya, aku pikir aku adalah satu-satunya, tapi ternyata aku adalah salah satunya." Rasa insecure kembali terlihat dari sosok Hanny.
"Mungkin dia hanya terpaksa melakukan itu Hanny." Alisya mengusap punggung Hanny yang sudah terlihat bergetar.
"Saat dia datang, harusnya ku suguhkan kopi bukan hati, karena semesta hanya mengizinkan aku untuk mencintainya bukan untuk memilikinya."
Disaat keadaan seolah menyiksanya, kata-kata sedih pun keluar dari mulutnya dengan lancar begitu saja.
"Hanny?" Alisya sebenarnya bingung harus bagaimana, apalagi dia yang tidak punya jam terbang soal cinta.
"Kenapa harus aku Alisya, kenapa? hiks.. hiks..."
Hanny sudah menahannya, namun suara tangisan itu tidak lagi bisa ditahan.
"Sudahlah, lambat laun kamu pasti bisa untuk melupakannya."
"Aku tidak yakin." Umpat Hanny perlahan.
"Ibarat kata, kamu bisa tenang ketika naik kereta, padahal kamu tidak kenal dengan Masinisnya, namun kenapa baru segelintir cobaan seperti ini saja kamu sudah ragu terhadap hidupmu, padahal jelas-jelas kamu tahu siapa Tuhanmu."
"Aku tahu Sya, tapi saat melihat dia mencivm orang lain di foto itu, hatiku seolah teriris, sakit banget rasanya."
Saat melihat pesan bergambar yang terakhir kalinya, Hanny sudah tidak bisa lagi menahan deraian air matanya, padahal seharusnya dia yang ada didalam gambar itu.
"Itu kan hanya foto aja Han, lagian mereka sudah sah Han, kamu harus belajar untuk melupakannya, jangan pernah punya fikiran kamu akan menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka." Alisya langsung memperingatkan akan hal itu.
__ADS_1
" Tapi aku masih belum bisa rela sepenuhnya." Rengek Hanny dengan wajah yang terlihat tertekan sekali.
"Rejeki, jodoh dan maut sudah ada yang mengaturnya, jatuh cintalah hanya kepada Tuhanmu, gantungkan hidupmu hanya kepada-Nya, bukan dengan makhluk-Nya."
"Aku pasti akan mencobanya Sya, walau entah bagaimana hasilnya."
"Insya Allah kamu pasti bisa Hanny, sekarang lebih baik kita belajar mengaji saja dengan Ustazah, biar hati kamu bisa merasa lebih tenang."
Glodak!
Prangg!
Hanny dengan santainya melempar ponsel bergambar gigitan buah apel itu di lantai, hingga membuat benda itu pecah dan berderai.
"Hanny, kenapa kamu melemparnya?" Jiwa Alisya seolah meronta-ronta saat melihat ponsel yang berga puluhan juta itu remuk dalam sekejab saja.
"Aku tidak mau melihat foto itu lagi." Umpat Hanny tanpa rasa penyesalan sedikitpun.
"Astaga Hanny, kamu hanya tinggal menghapus saja foto itu, kenapa harus dihancurkan ponselnya?" Alisya bahkan sudah menghitung harga ponsel itu, walau second juga masih laku mahal kalau dijual pikirnya.
"Karena foto itu pernah tersimpan di sana, jika kita ingin melupakannya, hancurkan saja semua kenangan tentangnya, lagian kita juga tidak boleh main ponsel kan disini."
"Ya ampun Hanny, ponselmu itu mahal harganya, bahkan bisa buat beli beras berpuluh-puluh karung."
Alisya bahkan ingin mengambilnya, namun Hanny melarangnya dan malah membuangnya ke tempat sampah.
"Hiks.. Hiks.. lebih mahal lagi semua kenangan tentangnya Alisya." Ucap Hanny yang sudah kembali mewek.
"Sstthh... sudahlah Han, sini aku peluk dulu, lupakan dia, walau sulit tetap harus bisa, isi pikiranmu dengan hal-hal yang baik dan positif lainnya, jangan biarkan dia kosong, karena nanti kamu hanya akan mengingatnya, okey?"
Akhirnya hanya pelukan Alisya lah yang bisa menenangkan Hanny dari rasa sakitnya, yang sebenarnya masih belum rela jika Jeremy bersanding dengan orang lain.
Disaat Hanny seolah terpuruk dengan Foto Jeremy yang sedang mencium kening dari pasangan dalam resepsi pernikahan yang digelar Akbar itu, ada seseorang yang lebih tersiksa batin karena kejadian itu.
Bukan hanya Hanny saja yang terluka, bahkan Nicholas pun ikut menjadi korbannya.
"Bos... pinggangku sakit, mau sampai kapan Anda menyiksaku seperti ini?" Bisik Nicholas dari balik masker.
"Diam kamu, jangan banyak bicara, nanti kalau ada tamu undangan yang mendengarnya bisa berabe dan panjang urusannya!" Jeremy melotot ke arah Nicholas yang terus saja mengaduh sedari tadi, dari ujung kepala sampai ujung kaki semua dia komentari.
Bahkan dia sengaja mematahkan hak sepatu yang dia pakai, agar tidak kesulitan saat berjalan.
"Tapi kepalaku sakit sekali bos, ini sanggulnya gede banget." Berulang kali dia memegangi rambut palsu yang menempel di kepalanya.
"Mau duduk juga nggak enak bos, perutku dikasih korset kenceng banget ini, mana ditambah apalagi ini untuk mengganjal buntutku, aduh... rasanya nggak enak banget bos!"
Untuk membuat tubuh Nicholas agar terlihat seperti wanita tulen, para perias itu menyuruh Nicholas memakai pengganjal buntut buatan, bahkan double, agar terlihat seksih.
"Tahan saja dulu, nanti aku naikkan double bonus akhir tahun kamu!" Bisik Jeremy agar Nicholas merasa terhibur.
"Tapi sampai kapan aku terhimpit oleh baju seksi seperti ini, aku seolah hampir tidak bisa bernafas karenanya, depan belakang semua di ganjal oleh busa ini bos."
Bukan hanya buntut buatan, Nicholas bahkan menggunakan pelindung gunung yang diganjal juga.
"Aku akan mempercepat acara resepsinya, tapi kamu bisa diam nggak, jangan ngoceh aja terus kamu!" Telinga Jeremy seolah terasa panas karena Nicholas terus saja berbisik dengannya.
"Bos nggak tahu sih gimana rasanya jadi aku sekarang!" Nicholas bahkan hampir gila karenanya.
"Setelah sesi foto nanti, kita langsung turun saja, nanti biar yang lainnya yang mengisi acara sampai selesai."
"Fuuh... Terkutuklah kau Hanny! kalau sampai kita bertemu lagi, aku akan balas dendam denganmu!"
Entah kenapa firasat Nicholas mengatakan kalau setelah ini mereka pasti akan berjumpa lagi.
"Okey, kedua mempelai silahkan ambil posisi, kami akan mengabadikan moment kalian."
Salah satu pembawa acara di pesta pernikahan itu mempersilahkan tukang foto disana untuk mengambil gambar Jeremy dan Nicholas yang sudah menahan segala rasa di atas panggung pelaminan disana.
__ADS_1
"Silahkan mencium kening pasangannya."
"Hah?" Jeremy langsung sontak berteriak, bahkan Nicholas hampir ikut berteriak namun dengan cepat Jeremy menginjak kakinya.
"Silahkan pak, ini moment penting loh."
"Haish... baiklah."
Tidak ada pilihan lain selain menurut, karena banyak pasang mata yang memperhatikan ke arah mereka, bahkan banyak yang ikut mengabadikan foto mereka dengan ponsel masing-masing.
"Dan yang terakhir, silahkan saling bercivman satu sama lain!"
"Tidak usah mbak, saya rasa sudah cukup tadi." Jeremy langsung menolaknya dengan tegas kali ini.
Civm
Civm
Civm
Namun sebagian tamu undangan yang datang langsung memberikan sorakan penyemangat untuk mereka.
"Jangan malu, kalian sudah sah kan? Ini hal yang wajar, biarkan moment ini terus bisa dikenang sampai tua nanti, ayo silahkan."
"Jangn bos, tolong jangan lakukan itu." Bisik Nicholas kembali yang sudah ketar-ketir.
"Kamu mau acaranya cepat selesai nggak?" Bisik Jeremy yang tidak bisa menolaknya jika sudah begini.
"Tapi jangan di bibir juga bos, aku masih normal!" Umpat Nicholas yang langaung protes.
"Cuih... Kamu pikir aku seorang pelangi apa? yang doyan sesama pisang, jangan ke geer an kamu, aku pun tersiksa karenanya, bukan cuma kamu saja."
"Ya sudah, jangan lakukan itu bos, please!" Nicholas bahkan mencengkeram jas milik Jeremy.
"Jangan coba-coba membuat mereka merasa curiga Nick, kalau ada salah satu dari mereka yang membeberkan berita ini, selesai hidupmu!" Ancam Jeremy dengan kesal.
"Bunuh saja aku bos, daripada harus Anda siksa batinku seperti ini!"
"Diam kamu, pejamkan saja matamu!" Jeremy tidak lagi memperdulikan rengekan asistennya, dia langsung saja memeluk pinggang Nicholas yang tubuhnya sudah dipenuhi dengan berbagai sumbatan itu.
"Aaaa... tapi bos!"
"Ini tidak akan lama, tahan saja nafasmu, awas saja kalau mulutmu bau jigong!" Umpat Jeremy yang sudah memiringkan wajahnya.
Cup
"Hmpth!"
Duar!
Nicholas hanya bisa pasrah saja ketika bibir seksinya yang sudah berwarna merah itu disambar oleh Jeremy.
Dia hanya bisa menahan nafasnya dan mencengkeram baju pengantin yang dia pergunakan, untuk melampiaskan segala kekesalan dirinya.
Dan ekspresi dari Jeremy pun tak kalah memprihatinkan, perutnya seolah terasa mual dan ingin muntah setelah mencicipi bibiir tebal milik asistennya yang sama-sama memiliki Pisang Raja.
__ADS_1
..."*Terwujud maupun tidak terwujud sebuah harapan tetaplah Bersujud, karena sejarah akan mengandung hikmah, bila Hambanya berdoa diatas Sajadah*."...