Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
55. Mantan Purel


__ADS_3

...Happy Reading...


Jeremy dan Nicholas memang tumbuh dari keluarga yang minim tentang pengetahuan Agama, yang mereka tahu kewajiban dalam Agama mereka pada umumnya hanya Sholat saja, itupun terkadang masih sering bolong-bolong dan belum bisa mengerjakannya dengan kusyu', karena terkadang masih saja ada yang dia pikirkan saat membaca bacaan dalam sholat.


Bahkan saat sedang sholat berjamaah pun konsentrasi mereka masih sering terganggu, karena bisa-bisanya saat membaca doa, mereka bisa sambil membaca tulisan di kaos dari punggung jamaah yang ada di Shaf depannya.


Namun itu bukan sepenuhnya salah mereka, karena sedari kecil orang tua mereka sibuk dengan urusan dunia saja dan masih sering mengabaikan urusan Akhirat.


Sehingga anak pun mengikuti kebiasaan orang tua, karena sebaik-baiknya guru adalah orang tua kita sendiri.


"Bos, mereka semua pakai sarung, kita boleh masuk nggak ya?" Nicholas masih terlihat clingak-clinguk didepan gerbang utama gedung itu.


"Hanny mana Jer, kok sedari tadi aku lihatnya penghuni pondok pesantren ini cuma pria saja? bagian ceweknya mereka umpetin dimana ya?"


Lain yang diperhatikan Nicholas, lain pula yang ada didalam pikiran Jeremy, karena memang tujuan utama mereka pada awalnya hanya ingin bertemu dengan Hanny.


"Assalamu'alaikum, ada yang bisa saya bantu?"


Salah satu santri pria di pondok pesantren itu langsung keluar begitu ada orang yang terlihat asing berdiri tepat didepan gerbang, apalagi mereka menggunakan setelan jas serba hitam bahkan komplit dengan dasi mahal di leher mereka.


"Saya mau bertemu dengan Hanny." Jawab Jeremy dengan cepat.


"Assalamu'alaikum." Ucap Santri itu kembali.


"Wa'alaikumsalam." Nicholas langsung menjawabnya.


"Gitu dong Om, Hukum menjawab salam dalam Islam adalah Wajib, sebagaimana dalam Al-Qur'an surat an-Nisa ayat 86. Allah SWT berfirman: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu dengan yang serupa." Santri itu mengucapnya dengan faseh sekali.


"Mampus kita bos, belum apa-apa udah diceramahin kita." Bisik Nicholas disamping terlinga Jeremy.


"Biarkan saja, itu hak mereka untuk berbicara bukan?" Jeremy pun tdak keberatan karenanya.


"Malu dong bos, dia lebih muda dari kita, tapi pengetahuannya lebih banyak dari kita."


Mereka berdua malah asyik saling berbisik dihadapan santri cowok yang ada dihadapan mereka.


"Eherm... apa ada yang bisa saya bantu Om? apa anda mencari seseorang di pondok pesantren kami?" Tanyanya kembali.


"Owh... Iya, saya sedang mencari Hanny, bisa tolong panggilkan dia kemari, saya ingin berbicara dengan dia, sekarang juga." Titah Jeremy yang membuat santri itu melongo saat mendengarnya.


"Maaf Om, Hanny itu siapa?" Dia sama sekali tidak tahu nama-nama santri yang ada disana.


"Dia sebenarnya calon istri saya, tapi malah kabur kesini." Jeremy seolah curhat tentang nasip dirinya.


"Sstttt... nggak usah curhat juga dong bos." Nicholas langsung menyiku pinggang atasannya.


"Hanny itu laki-laki apa perempuan Om?"


"Ya perempuan lah, namanya saja Hanny, masak kumisan dan jenggotan, ente kadang-kadang ente ya?" Jawab Jeremy yang langsung heran sendiri, karena sudah jelas kalau nama Hanny itu adalah nama perempuan.


"Kalau begitu anda salah tempat Om, disini bagian santri Cowok kalau santri perempuan ada di gedung sebelah."


Dua gedung itu memang pemiliknya satu orang, namun memang santri perempuan dan laki-laki tinggal terpisah, bahkan tidak pernah bertemu jika tidak ada acara khusus atau saat sholat berjamaah.


"Owh begitu, tapi pintu gerbang utamanya ada disini, jadi kami lewat mana kalau mau masuk?"


"Om mana boleh masuk kesana, apa Om juga salah satu santri di pondok ini? kenapa saya tidak pernah melihatnya?" Santri itu kembali memperhatikan kedua pria tampan dihadapannya kini.


"Bukan, saya hanya mau mencari Hanny, dia tinggal disini katanya, bener ngak sih Nick, atau jangan-jangan kamu salah tempat? Dih... malu-maluin deh kamu ini?" Jeremy langsung menyalahkan Nicholas seketika.


"Beneran bos, kata anak buah kita mereka memang ada disini kok!" Nicholas sudah memastikan keakuratan dari hasil penyelidikan mereka.


"Trus mana orangnya?"


"Emm... begini dek, kalau pengurus pondok pesantren ini ada nggak?" Nicholas kembali bertanya kepada santri itu.


"Ada, tapi kalau tidak ada kepentingan soal pondok pesantren saya tidak berani memanggilkannya, apalagi hanya urusan kekasih Om yang kabur, maaf saya tidak bisa membantu, permisi." Santri itu malah ingin menutup kembali gerbang itu.


"Eh dek... tunggu!" Jeremy lansung menahannya.


"Begini Om, kami tidak pernah bertatap muka dengan santriwati kalau tidak ada acara penting, jadi saya benar-benar tidak tahu siapa itu Hanny." Santri itu menjawabnya dengan sopan dan jujur, karena memang itu kenyataannya.


"Begini saja, kami ingin bertemu dengan pemilik pesantren ini."


"Tapi sekali lagi saya tegaskan, kalau saya tidak berani memanggil beliau jika hanya untuk menanyakan tentang calon istri Om yang kabur, sekali lagi maaf, permisi." Santri itu langsung membungkukkan diri.


"Kami ingin memberikan sumbangan untuk pembangunan pondok pesantren ini."


Jeremy langsung menemukan cara jitu, saat melihat ada sebuah bangunan baru yang masih dalam proses perbaikan didalam sana.


"Berarti bukan hanya mencari calon istri anda yang kabur itu kan?"


"Iya, nggak usah disebutin ulang terus juga bisa kan? Kaburnya itu yang nggak enak didengar?" Umpat Jeremy yang langsung memutarkan kedua bola matanya.


"Hehe... maaf, soalnya anda sendiri tadi yang mengatakannya bukan?"


"Ckk.. Sudahlah."


"Kalau begitu mari saya antarkan Om-Om sekalian masuk ke dalam ruangan Pak Kyai."


Santri cowok itu pun tidak salah, dia hanya melakukan tugasnya sesuai prosedur menjadi santri disana, karena memang gedung santri cowok dan santri cewek berbeda.


"Silahkan masuk Om, jangan lupa ucapkan salam terlebih dahulu, permisi."


"Tunggu." Jeremy kembali menahannya lagi.


"Iya Om, ada hal lain yang bisa saya bantu?" Tanya Santri itu dengan sikap ramah.


"Ini uang jajan untukmu."


Jeremy menyodorkan beberapa puluh uang lembar berwarna merah ke tangannya.


"Tidak perlu Om, terima kasih sebelumnya."


"Terima saja dek, tidak baik menolak rezeki bukan, bagi-bagi aja sama teman -teman yang lainnya buat jajan juga?" Nicholas langsung ikut berkomentar disana.

__ADS_1


"Kalau begitu terima kasih banyak Om, semoga rejeki Om semakin bertambah, berkah, barokah, amin yarobal'alamin."


Dia bahkan mengucap syukur alhamdulilah berulang-ulang kali, sambil mengantongi puluhan lembar uang itu dengan senyum yang merekah.


"Amin."


Jeremy san Nicholaspun ikut tersenyum saat melihat uang yang tak seberapa baginya, tapi sangat berharga untuk mereka.


"Assalamu'alaikum Pak Kyai." Sapa Jeremy yang benar-benar mengikuti ajaran santri cowok tadi."


"Wa'alaikumsalam, panggil saja saya Abah." Jawab Pria tua yang selalu menggunakan sorban putih itu.


"Iya Abah."


"Kalian ada keperluan apa, saya fikir kalian bukan santri dari pondok pesantren ini bukan?"


Apalagi pakaian yang mereka kenakan jelas-jelas bukan menggambarkan kebiasaan santri yang ada di pondok pesantren itu.


"Em... Saya memang ada beberapa tujuan untuk datang kesini Abah."


"Kalau begitu silahkan duduklah dulu, terangkan maksud dan tujuan kalian berdua." Abah langsung mempersilahkan mereka duduk di kursi ruangan itu.


"Begini Bah, saya ingin memberikan bantuan ke pondok pesantren ini, apa boleh?" Tanya Jeremy kembali.


"Jika memang kamu ingin membantu sebagai ladang pahala untuk kamu tidak masalah, kami akan menerimanya dengan senang hati, tapi..."


"Tapi apa Bah?"


"Jika kamu mengajukan syarat lain setelahnya, berarti kamu tidak ikhlas, dan sesuatu yang tidak ikhlas itu tidak baik ke depannya, jadi tidak membantu pun tidak masalah bagi kami."


Degh!


Entah mengapa pemilik pondok pesantren itu seolah tahu apa yang menjadi tujuan kedatangan mereka, walau tanpa ada yang memberitahukan alasan dirinya dengan beliau saat ini.


"Boleh saya jujur Abah?" Jeremy tidak punya cara lain, karena jujur adalah cara terbaik dalam segala hal.


"Memang itu yang harus kalian lakukan." Jawab Abah dengan seutas senyuman.


"Saya memang ingin bertemu dengan seseorang disini, tapi untuk masalah sumbangan untuk pondok pesantren ini saya sungguh ingin melakukannya Abah."


Daripada ketahuan, Jeremy sengaja membongkarnya lebih awal secara blak-blakan.


"Hmm... siapa dia, apa kalian wali dari salah satu santri kami?"


"Bisa jadi Bah." Jawab Jeremy yang terlihat ragu.


"Emm... maksud kami begini Abah, kami memang bukan wali sah nya tapi..." Nicholas ingin membantu menjawabnya, namun Abah langsung memotongnya.


"Tidak usah muter-muter, katakan saja sejujurnya."


"Saya ingin mencari keberadaan calon istri saya yang katanya kabur ke sini Abah." Akhirnya Jeremy mengatakan kejadian yang sesungguhnya.


"Calon istri?" Kedua alis Abah langsung terangkat keatas.


"Ya namanya Hanny." Ujar Jeremy kembali.


"Bukan Ukhti Abah, tapi Hanny."


"Iya, saya paham maksud kalian, tapi sepertinya saya tidak bisa membantu kalian, karena kalian juga bukan wali dari mereka bukan, jadi biarkan mereka belajar tentang Agama disini."


Sedikit banyaknya Abah sudah mengetahui tentang latar belakang Hanny dari istri beliau, karena yang mengajarkan langsung cara sholat dan mengaji adalah dirinya.


"Tapi saya ingin bertemu dengannya Abah?" Pinta Jeremy yang terlihat memaksa.


"Tapi Dia belum tentu ingin bertemu dengan kalian bukan?" Jawab Abah dengan santainya.


"Hah?" Jeremy tidak bisa berkata apa-apa jika sudah begini.


"Sudahlah, lebih baik kalian pulang saja, saya ada acara lain setelah ini."


"Kalau saya ikut tinggal disini apa boleh?" Jeremy tidak kehabisan akal sampai disitu saja.


"Hah, anda bercanda bos, bagaimana dengan uusan kantor?" Bisik Nicholas yang seolah tidak setuju, karena dia yang akan kerepotan sendiri jika harus bolak-balik ke tempat itu, apalagi jaraknya lumayan jauh.


"Saya juga ingin belajar agama."


"Kalau tujuanmu untuk belajar tentu saja boleh."


"Tapi bolehkan saya bertemu dengan Hanny, sebentar saja, karena ini menyangkut tentang persoalan penting Abah."


"Anak muda jaman sekarang, selalu saja berani melakukan apapun sebelum keinginannya tercapai." Abah hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


"Tolong abah, ada hal yang harus saya bicarakan dengan dia, karena dia sama sekali tidak bisa di hubungi Abah."


"Ada masalah yang terjadi diantara kalian?"


"Iya Abah dan ini sangat penting."


"Kalau soal itu Abah tidak bisa membantu kalian, di pondok ini sudah ada peraturannya tapi Abah juga bukan Tuhan yang berhak melarang hubungan diantara sesama manusia, namun ada larangan-larangan yang seharusnya kalian tahu dalam agama, bahwa tidak disarankan berbuat hal sebelum menjadi mahramnya, mengerti kalian?"


"Mengerti Abah."


"Silahkan pulang saja dulu, saya tahu niat awal kalian kesini bukan untuk belajar atau menimba ilmu di pondok pesantren ini, belajar ilmu agama disini bukan karena unsur keterpaksaan, jadi kalau kalian memang tidak menginginkannya dari hati, lebih baik tidak perlu." Tegas Abah kembali.


"Maafkan kami abah."


"Tidak ada yang perlu disalahkan, kalau begitu kalian boleh pulang."


"Tapi Abah?" Jeremy masih ingin menahan Abah, namun Nicholas langsung memotongnya.


"Baik Abah, maaf sudah mengganggu." Nicholas langsung mencengkeram lengan Jeremy, takut jika ucapannya nanti tidak berkenan di hati pemilik pondok pesantren itu.


Akhirnya mereka memilih keluar dari ruangan Abah, berharap mendapatkan info seputar Hanny, namun kenyataanya tidak mendapatkan apapun walau sudah dengan iming-iming sumbangan.


"Mungkin niat kita dari awal memang tidak bagus, itu kenapa Allah tidak memberikan jalan untuk kita."

__ADS_1


Jeremy berjalan gontai dengan kedua tangannya yang dia masukkan ke saku celana, sesungguhnya dia belum rela pergi dari tempat itu sebelum bertemu dengan Hanny, namun apa daya, semesta seolah sulit untuk mempertemukan mereka berdua.


"Ssttt... Om?"


Saat mereka berdua berjalan dalam diam menuju pintu keluar dari pondok pesantren itu, tiba-tiba santri yang dia beri uang jajan tadi memanggil mereka sambil berbisik.


"Eh... kamu lagi?" Jawab Jeremy dengan tampang lemas tanpa adanya semangat.


"Nggak bisa ketemu calon istri yang kabur ya Om?"


"Ckk... namanya Hanny." Lama-lama Jeremy menyesal juga sudah curhat dengan santri itu.


"Emm... ini bukan kong kalingkong ya Om, cuma saya ingin memberikan sedikit balas jasa dari uang saku yang anda berikan tadi, lumayan sudah pertengahan bulan bisa buat beli endomie satu pondok, hehe..."


"Syukurlah kalau bermanfaat untuk kalian semua."


"Maaf nih sebelumnya, kalau Om memang mau ketemu sama Tante Hanny, Om berdua bisa ikut kami sholat berjamaah sore ini di Masjid Inti."


"Apa aku bisa bertemu dengan Hanny disana?"


"Bisa, walau mungkin tidak bisa saling menyapa tapi untuk sekedar melihatnya aku rasa bisa, karena semua santri di Pondok ini diwajibkan untuk ikut sholat berjamaah."


"Cocok itu, pukul berapa sholatnya dimulai?" Jeremy lansung tersenyum saat ada hawa-hawa menyegarkan.


"Nantilah Om, kan belum adzan lagi?"


"Tapi kami boleh ikut nggak, kami kan orang luar." Nicholas takut jika salah langkah lagi.


"Memang masjid itu biasanya hanya untuk kami para santri sih Om, tapi kalau mau beribadah sama Allah masak nggak boleh, itu kan kewajiban kita sebagai umat muslim."


"Good Boy, terima kasih ya."


"Tapi saya tidak menjanjikan kalian bisa ngobrol disana, karena ini adalah peraturan pondok pesantren kami."


"Tidak masalah, bagi saya sudah bisa melihat Hanny dalam keadaan baik-baik saja, itu sudah lebih dari cukup." Jawab Jeremy dengan mantap.


"Sip, kalau begitu mari ikut ke kamar kami, saya pinjamkan sarung dan peci untuk Om berdua."


"Memangnya pakaian kami tidak sopan begitu, atau kurang menutupi aurat juga?"


"Bukan tidak sopan, batasan aurat laki-laki kan antara pusar dan lutut, tapi biar Om berdua tidak terlihat menonjol dan menjadi pusat perhatian di Masjid, lebih baik Om berdua menggunakan sarung dan peci seperti kami."


"Nama kamu siapa?"


"Sholeh Om."


"Okey Sholeh, kalau uang jajanmu kurang, lain kali kalau om kesini lagi, Om akan mencari kamu ya, saat ini Om tidak banyak bawa uang cash." Jeremy menepuk bahu Sholeh dengan perlahan.


"Woah... terima kasih banyak Om, kalau begitu kita segera ganti pakaian, alhamdulilah Adzan sudah berkumandang Om."


Jeremy langsung terlihat bersemangat, walau dia hanya menggunakan sarung dan kemeja juga peci, tapi sama sekali tidak mengurangi nilai ketampanannya, bahkan malah bertambah.


Dia dan Nicholas bahkan dengan sengaja menunggu Hanny didekat perbatasan antara santri perempuan dengan santri laki-laki.


Semua santri sudah mengambil tempat duduk mereka masing-masing, menunggu suara Iqamah dikumandangkan, namun Jeremy tidak juga melihat Hanny datang ke masjid itu.


"Apa mereka lupa ya Nick, kenapa belum datang?" Umpat Jeremy dengan wajah gelisah.


"Mana mungkin."


"Siapa tahu mereka sedang nonton drama Korea, jadi kelupaan gitu?" Dia sering melihat Hanny dulu kalau sedang gabut, yang dia lakukan adalah menonton drama Korea.


"Hei bos, ini pondok pesantren, bukan di Apartement?"


"Haish... lalu kemana mereka?"


"Heh... aku seperti pernah melihatnya, tapi siapa dia?" Tiba-tiba pandangan Nicholas seolah teralihkan.


"Mana?"


"Tuh, yang baru saja datang?" Nicholas menunjuk dua wanita berpakaian muslimah yang berjalan menuju masjid lewat jalur perempuan.


"Itu kan my Hanny, Bandit!"


"Masak itu si Bodat, kok bisa tambah cantik begitu, eh... Iya, itu temannya kan, woah... Benar-benar seperti bidadari surga mereka."


"My Hanny cantik sekali, kalau seperti itu berasa Mantan Purel rasa Ukhti kan Nick?"


"Siji, loro, telu... mangku Purel neng karaokenan, ndemek pupu sampe munggah neng semeru!" Sontak Nicholas langsung bersenandung lagu jawa yang lagi ngehits sekarang.


Pletak!


"Diamlah, suaramu jelek!" Jeremy langsung menyentil kening asistennya.


"Aish, lagunya cocok ini." Umpat Nicholas dengan tawa recehnya.


"Hanny!"


Saat melihat wajah Hanny yang terlihat lebih cantik dan mempesona ketika menggunakan hijap syar'i, Jeremy tidak lagi memperdulikan tempat dimana dia berada sekarang,bahkan larangan-larangan yang sudah diterapkan dalam pondok pesantren itu.


Jeremy langsung saja berlari dengan sekuat tenaga, bahkan sampai nekad melompati pagar pembatas, agar dia bisa segera bertemu dengan Hanny.


Kraaak!


Tuiing!


"HAH!"


Jeremy lupa kalau dia sedang menggunakan sarung, jadi saat dia meloncat ternyata kain sarungnya menyangkut di ujung pagar dan terjadilah sesuatu yang tidak Jeremy inginkan.


Jangan berduka, apa pun yang hilang darimu, karena akan kembali lagi dalam wujud lain.


Umar bin Khattab said...


"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, karena hasil akhir dari semua urusan di dunia ini sudah ditetapkan oleh Allah. Jika sesuatu ditakdirkan untuk menjauh darimu, maka ia tak akan pernah mendatangimu. Namun jika ia ditakdirkan bersamamu, maka kau tak akan bisa lari darinya."

__ADS_1


Author kasih part panjang sekali, semoga kalian tidak bosan😁


__ADS_2