
Cinta duduk di sofa tunggal berseberangan dengan Rio,ia mempersilahkan Rio dan Radit menikmati apa yang sudah di sajikan.
"Mbak Cinta cantik sekali pantas saja Rio klepek-klepek cintanya setengah mati,"tiba-tiba Rio mengatakan sesuatu yang membuat Cinta sukses menatap heran padanya.Mendengarnya Rio terbatuk-batuk.Apalagi dengan Cinta,ia melihat Rio yang hanya tersenyum saja,padahal di dalam otaknya sudah berjejeran pertanyaan yang ingin ia tanyakan.
Sedangkan Rio sendiri tahu apa yang sedang di pikirkan oleh wanita cantik yang duduk di hadapannya itu."Dia mengalami kecelakaan dan sekarang ia menderita amnesia."tuturnya kemudian.
Hampir tak percaya dengan apa ia dengar,ia ingin bertanya lebih banyak lagi tapi melihat yang sedang di bicarakan ada di hadapannya ia pun merasa tidak enak.Untuk sementara ia sedikit merasa lega, bersyukur jika Radit melupakannya.Tapi entah nantinya setelah ingatannya kembali,akan lebih baik begini begitu pikirnya.
"Cinta..,"ucapan Rio terjeda saat mendengar handphonenya berdering.Di lihatnya sang ibu yang menelphone di saat ia akan memberikan sesuatu yang dari tadi ia sembunyikan di belakang dengan salah satu tangannya.
"Assalamualaikum,"ucap Rio saat menerima panggilan itu.Entah apa yang terjadi,tiba-tiba Rio beranjak dari tempat duduknya meninggalkan apa yang ia bawa.Di ikuti Radit yang kebingungan melihat Rio langsung pergi begitu saja.Sesaat Rio menoleh kebelakang sebelum keluar dari pintu."Maaf Cin aku harus pergi assalamualaikum,"pamitnya kemudian.
"Waalaikumsalam,"jawab Cinta tanpa bertanya tentang apa yang terjadi.Sebab menurutnya sedang genting,jadi Rio pergi begitu saja.Sejenak matanya fokus pada sesuatu yang ada di sofa.Ia pun mengambilnya,senyumnya merekah ketika ia tahu apa yang tengah di ambilnya itu.Di hirupnya aroma bunga yang begitu harum,bahkan rasanya sampai kehati merangsek sampai ke sela-sala yang terdalam."Terimakasih Rio,"gumamnya dalam hati.
Dengan memejamkan matanya ia menghirup aromanya kembali,senyuman itu terus merekah seperti tak ingin pudar hingga ia tak menyadari bu Ningsih duduk di hadapannya sambil geleng-geleng kepala.Saat matanya terbuka betapa kagetnya Cinta.
"Ibu...kapan ibu ada di sini?"
__ADS_1
"Sejak kamu senyum-senyum sendiri,"jawab bu Ningsih lalu pergi begitu saja.
Merasa malu dengan apa yang ia lakukan,Cinta bergegas masuk kedalam kamarnya.Tak lupa seikat bunga ia bawa,ia peluk pelan dalam dekapannya saat membaringkan tubuhnya di kasur.Matanya terus menatap kelopak-kelopak bunga mawar putih yang sangat cantik itu sambil terus tersenyum.Hingga ia pun tertidur dengan bunga di sampingnya.
*****
"Apa yang terjadi dengan ayah bu? Kenapa ayah sampai seperti ini?"tanya Rio saat melihat tubuh sang ayah sudah di balut dengan kain kafan.
Ia merasa begitu bersalah,tidak seharusnya ia meninggalkan sang ayah begitu saja.Ia semakin bersalah saat tak bicara sepatah katapun.Namun,semua itu ia lakukan karena tidak ingin berdebat dengan ayahnya.
"Aku turut berduka ya Yo,kamu yang sabar dan ikhlas ini sudah takdir dariNYA,"ucap Radit mengelus pundak Rio.
Banyak yang hadir dalam proses pemakaman,termasuk rekan-rekan bisnis Rio juga ayahnya,mereka turut berbelasungkawa atas meninggalnya almarhum.Karangan bunga pun berjejeran di pinggir jalan depan rumah Rio dari para rekan bisnisnya.Mereka sungguh tidak menyangka almarhum pergi secepat itu.
"Pulanglah kerumah nak,ibu sudah tua dan sekarang ayahmu sudah pergi,apa kau tega melihat ibu sendirian di sini? janganlah kau ambil hati perkataan ayahmu nak,maafkan lah...biar bagaimana pun beliau adalah ayah kandungmu sendiri."Pinta sang ibu di sela-sela isak tangisnya.
Dan Rio mengangguk menyetujui pinta ibunya.
__ADS_1
Ya...saat ini mereka sudah kembali dari pemakaman.Duduk berdambingan dengan kepala sang ibu bersandar di lengan anaknya.Sungguh pemandangan yang jarang bahkan tak pernah di lihat.Maklum karena kesibukan orangtuanya membuat status ibu dan anak itu layaknya orang tidak saling kenal.Pagi pulang malam,begitulah keseharian mereka.Sedangkan Rio tidak terlalu ambil pusing,ia begitu memahami orangtuanya.Karena sudah pasti demi siapa mereka sampai seperti itu.
"Kau ingin menikahi Cinta kan Rio?"tanya ibunya tiba-tiba.
Seketika Rio menatap lekat wajah wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Ibu merestui kalian nak,menikahlah jika keadaan sudah membaik,ibu tidak bisa menghalangi niat baikmu.Ibu tahu kamu sudah dewasa,bisa membedakan mana yang terbaik untukmu dan ibu rasa Cinta memang wanita yang terbaik buat mu nak!"
"Apa ibu yakin? ibu tidak bercanda kan?"tanya Rio hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Sang ibu tersenyum tulus,bahkan ia sangat yakin mengingat Cinta mengorbankan salah satu ginjalnya tanpa pamrih.
Melihat ibunya tersenyum meneduhkan Rio langsung memeluk wanita yang begitu besar jasanya itu."Terima kasih ya bu!"sangking bahagianya tak terasa ia sampai menitikkan air matanya,air mata kebahagiaan setelah kesedihan melanda keluarganya.
"Berbahagialah nak,kebahagiaanmu adalah kebahagiaan ibu juga.Jangan pernah kau menyakitinya kelak karena dia wanita yang begitu baik hatinya."
Mendengarnya lagi-lagi Rio hampir tak percaya,dulu mereka yang begitu membenci Cinta karena masalalunya,kini berubah 180 derajat.
__ADS_1
Bersambung...