
Di depan pintu kamar Sarah, Gavin bertemu dengan Suster Nia. Dia melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki Suster Nia.
Suster Nia dengan percaya diri tersenyum manis pada Gavin.
“Apa kau orang yang tadi ingin menyentuh wajahku?!” Suara dingin Gavin terdengar di telinga Suster Nia.
Suster Nia masih menatap mata Gavin dengan lekat. Dan tersenyum tanpa mengatakan apapun.
“Kau!! Aku peringatkan sekali ini. Jangan sampai kau berani menyentuhku. Atau rumah sakit ini akan aku tutup selamanya. Hanya karena satu kesalahan yang kau lakukan, bisa merugikan rumah sakit sebesar ini.” Ucap Gavin seraya menatap tajam Suster Nia.
Suster Nia yang mendengarnya, langsung bergidik ketakutan. Tak disangka, ucapan pria tampan itu bisa sedingin batu es.
Setelah memperingatkan Suster Nia, Gavin melangkah pergi meninggalkannya. Badan kekar Gavin terlihat jelas dari belakang. Suster Nia yang melihatnya hampir saja meneteskan air liurnya.
“Hemm..Kamu buat aku semakin penasaran pria tampan. Aku jadi lebih semangat untuk mendapatkanmu.” Suster Nia menelan ludahnya sendiri dan sudut bibirnya terangkat sedikit.
Apa yang sedang ada di pikiran Suster Nia, dan apa yang direncanakannya?
Di dalam kamar.
Sekarang hanya tinggal Bi Mira dan Sarah yang ada di kamar pasien VVIP.
“Sarah, cepatlah bangun. Tuan Gavin selalu menunggumu, dia sangat khawatir padamu. Bangunlah dan peluk dia, buatlah dia bahagia bersamamu, Sarah.” Bi Mira mengusap wajah Sarah dengan handuk basah, sembari berbicara pada Sarah.
Walaupun Sarah tak bisa menjawabnya, setidaknya Sarah bisa mendengar perkataannya.
Setelah selesai mengusap wajah dan badan Sarah, Bi Mira berdiri. Dia meletakkan handuk dan baskom yang berisikan air hangat di atas meja.
“Sarah, Bibi ke toilet dulu ya. Ada panggilan alam tiba tiba datang.” Dengan tersenyum Bi Mira berbicara pada Sarah.
Saat Bi Mira sudah masuk ke kamar mandi, ada seseorang yang sudah mengintipnya dari balik kaca pintu kamar. Setelah dilihat situasi sudah aman, seseorang itu mulai membuka pintu dengan pelan.
Seerrttt...
Terdengar suara pintu kamar dibuka. Seseorang itu berjalan berjinjit kearah ranjang tempat Sarah tidur.
“Mati kau, Sarah!! Kau sudah tak berguna di sini. Nyawamu sekarang ada di tanganku.” Ucap seseorang di telinga Sarah.
Seseorang itu mulai menyuntikkan sesuatu pada kantong infus Sarah.
“Selamat tinggal, Sarah.” Setelah menyuntikkan sesuatu, orang tersebut pergi dengan senyuman iblisnya.
Tak lama kemudian, alat rekam detak jantung Sarah berbunyi.
Tiiitttttt... Tiitttttt.. Tiittttt
Didalam toilet Bi Mira mendengar alat rekam detak jantung Sarah berbunyi.
__ADS_1
"Hah..Suara ini!!" Bergegas Bi Mira keluar dari toilet.
Mata Bi Mira melebar, dia terkejut melihat Sarah sudah kejang. Dengan tangan gemetar dia menekan tombol darurat yang ada di atas ranjang pasien. Setelah berusaha menekan nekan tombolnya, tetapi tak ada juga yang datang ke kamar Sarah.
Bi Mira mulai panik, dia berlari keluar mencari Suster atau Dokter yang sedang berjaga. Namun, dia juga tak mendapati siapapun di sana. Bi Mira semakin panik, lalu dengan cepat dia mengambil handphonenya dan menelepon Gavin.
Tutt..Tutt..
“Ayoo..Tuan Muda, angkatlah teleponnya.” Bi Mira mondar mandir menunggu jawaban telepon dari Gavin.
📞”Halo, Bi.” Akhirnya terdengar suara Gavin dari seberang telepon.
📞”Tuan Muda. Sarah, Tuan.” Bi Mira menjadi gugup berbicara, karena sudah semakin panik.
📞”Bi Mira, bicara yang benar. Ada apa dengan Sarah?” Suara Gavin mulai panik.
📞”Sarah kejang, Tuan. Di sini saya tak menemukan siapapun, Tuan. Suster dan Dokter yang berjaga juga tak ada di sini.” Karena panik Bi Mira menangis, saat memberitahu Gavin.
Mata Gavin melebar dan mulutnya menganga, karena terkejut mendengar ucapan Bi Mira.
📞”Apa!!! Kenapa bisa tak ada seorangpun di sana, Bi. Ya sudah, sekarang Bi Mira tenang dulu, terus temani Sarah. Saya dan Ari akan segera mencari dokter yang bisa secepatnya menangani masalah ini.”
📞”Baik, Tuan.” Bi Mira menutup telepon. Detak jantung Bi Mira bergemuruh. Dia tak tahu harus bagaimana. Dia hanya bisa memegangi tangan dan badan Sarah supaya bisa lebih tenang.
Di depan pintu Lift.
"Apa yang sudah terjadi dengan Sarah, Tuan? Kenapa Anda sangat panik?" Ari menoleh dan menatap wajah Gavin yang sedang panik.
Ari hanya menganggukkan kepala dan berlari mencari Dokter dan Suster.
Gavin berencana menaiki lift untuk bisa lebih cepat sampai di kamar Sarah. Namun, setelah beberapa kali menekan tombol, pintu lift tetap tak bisa terbuka. Dengan terpaksa Gavin harus berlari menaiki tangga darurat, supaya lebih cepat sampai di kamar Sarah.
Gavin harus terus menaiki tangga darurat sampai di lantai 5. Dengan sekuat tenanga dia berlari dan sesekali berhenti untuk mengatur nafasnya.
“Hah..Hah..Hah..Akhirnya aku sampai juga di sini.” Nafas Gavin terengah engah. Dengan cepat dia membuka pintu yang ada di tangga darurat. Dan segera berlari ke kamar Sarah.
Cekleekk..
Gavin membuka pintu kamar. Di dalam kamar Sarah sudah ramai dengan Dokter dan Suster. Mereka semua menoleh, melihat siapa yang membuka pintu kamar.
“Kalian sudah ada di sini?” Gavin berjalan dengan langkah cepat.
“Tuan Muda, Sarah hampir saja meninggalkan kita. Kalau saja dokter ini tak segera menangani Sarah, mungkin ceritanya akan berbeda hari ini, Tuan Muda.” Bi Mira menangis dan menghampiri Gavin yang sedang berdiri di samping dokter.
Gavin hanya melirik Bi Mira dengan sudut matanya. Dia tak mengatakan apapun setelah mendengar perkataan Bi Mira.
“Kantong infus Nyonya Sarah, sudah tercampur dengan obat yang bisa memicu kecepatan detak jantung, Tuan. Itu sangat fatal, jika terlalu lama dibiarkan, dan bisa menyebabkan kematian. Tetapi, Nyonya Sarah lebih kuat dari dugaan kami.” Dokter Kevin yang memeriksa Sarah menjelaskan pada Gavin.
__ADS_1
Mata dan pikiran Gavin hanya terfokus pada Sarah. Cukup telinganya saja yang mendengarkan perkataan Dokter Kevin.
“Siapa yang sudah berani mencelakai wanitaku. Kenapa tak ada Dokter dan Suster yang berjaga di depan. Dan satu lagi, kenapa lift di rumah sakit ini rusak. Sepertinya sudah ada yang merencanakan semua ini.” Terdengar suara Gavin berubah menjadi dingin, sehingga atmosfer di ruangan kamar saat ini menjadi sangat dingin.
Semua menunduk, tak ada yang berani berbicara lagi.
“Apa aku sekarang berbicara dengan orang yang tak punya mulut?! Jawab!!” Gavin menatap tajam seluruh orang yang ada di kamar saat ini.
“Maaf, Tuan. Kami sudah lalai menjalankan tugas. Dan kami semua memohon maaf pada Anda. Kami akan berusaha mencari siapa pelakunya. Dan untuk lift yang rusak, nanti kita akan mengkonfirmasikan kebagian teknisinya untuk segara diperbaiki, Tuan.” Dokter Kevin menjawab seraya menundukkan matanya saat berbicara pada Gavin.
“Memang harus seperti itu. Tapi aku sudah kecewa dengan rumah sakit ini. Bukankah rumah sakit ini mempunyai Dokter yang terpilih dan Suster yang sudah berpengalaman? Kenapa pelayanannya sangat buruk seperti ini? Memalukan!!” Kekesalan Gavin ditumpahkan pada mereka semua.
“Dan aku sudah meminta Suster dan Dokter di sini untuk menjaga wanitaku selama 24jam. Tetapi, kemana mereka semua. Kenapa mereka tak ada di sini!! “ Lanjut Gavin dengan mengibaskan tangannya.
Sebelum mereka menjawab, ada seseorang yang membuka pintu kamar.
Sreettt..
Masuklah Dokter Tio dan Suster Miya yang seharusnya berjaga di depan.
Gavin melirik mereka dengan sudut matanya. Tanpa menoleh Gavin bertanya pada mereka.
“Apa yang sudah kalian lakukan saat ada pasien yang butuh pertolongan!! Kenapa sampai lalai menjalankan tugas!! Aku mempercayai kalian untuk menjaga wanitaku. Tetapi, kalian sudah membuatku kecewa, kalian semua tak bisa dipercaya!!” Teriak Gavin. Amarahnya sudah semakin memuncak. Dadanya naik turun karena sangat marah.
“Maaf, Tuan. Kami semua tiba tiba sakit perut dan sampai lupa menjaga Nyonya Sarah.” Jawab Suster Miya.
Gavin menoleh menatap Suster Miya.
“Hah..Alasan macam apa itu! Kenapa bisa semuanya sakit perut? Apa kau coba membodohiku?!” Suara dingin Gavin seakan menusuk telinga Suster Miya. Mereka semua bergidik melihat Gavin melotot pada Suster Miya.
“Saya tidak berani membodohi Anda, Tuan. Saya berkata yang sebenarnya.” Suster Miya terus menunduk tak berani menatap Gavin.
Gavin memijit keninganya karena sangat pusing memikirkan semua ini. Pelaku penusukan Sarah belum juga ketemu. Dan sekarang, sudah ada pelaku lainnya yang ingin membunuh Sarah. Apa yang sudah dilakukan Sarah sampai banyak orang yang ingin sekali dia pergi meninggalkan dunia ini?
Gavin memejamkan mata dan mengatur nafasnya.
“Siapa yang tak hadir di ruangan ini.” Ucap Gavin dengan kedua tangan di masukkan ke kantong celana.
“Hanya Suster Nia yang tak hadir, Tuan. Dia izin pulang dahulu, karena ibunya tiba tiba jatuh sakit.” Suster Miya menjelaskan.
“Ari, mendekatlah." Gavin melambaikan tangan pada Ari.
"Kau harus mencari tahu, siapa pelakunya lewat cctv ruangan di sini. Setelah itu, cari tahu di mana rumah Suster Nia. Jika benar dia yang melakukannya, segera temukan dan bawa dia ke hadapanku. Jangan membuatku kecewa lagi!” Gavin menatap tajam pada Ari.
“Baik, Tuan.” Ari menunduk dan segera pergi meninggalkan kamar.
“Untuk kalian. Keluarlah!! Aku peringatkan sekali lagi pada kalian semua. Jika kalian mengulangi kesalahan kembali, aku tak akan memafkan kalian. Dan aku akan menghancurkan rumah sakit ini beserta isinya.” Dengan kedua tangan diletakkan di depan dada dan tatapan tajam, Gavin memperingatkan mereka semua.
__ADS_1
Mereka semua mengangguk dan pergi keluar dari kamar Sarah.
Setelah kejadian itu, kamar Sarah dijaga ketat oleh anak buah Gavin. Tak ada seorangpun yang bisa masuk kecuali, keluarga dari Gavin.