
Bi Mira baru saja sampai di terminal bus, dia harus menunggu anaknya yang datang menjemput. Semalam saat di perjalanan , dia menelepon, memberitahu anaknya, kalau dia akan pulang ke kampung hari ini.
Bi Mira menunggu di depan loket tiket bus, dengan bibir tersenyum.
Akhirnya, setelah beberapa tahun tak pulang kampung, sekarang dia bisa pulang kampung tanpa harus memikirkan majikannya lagi. Dia sudah bebas sekarang.
Beberapa saat menunggu anaknya datang, Bi Mira mencoba menelepon Tuan Mudanya. Sudah berkali-kali menelepon, tapi nomor itu tak juga aktif. Dia ingin
bertanya, kenapa Tuan Muda tak datang ke rumahnya?Lalu, kemana mereka pergi. Apa mereka sudah tertangkap dan dibawa pulang anak buah Tuan Gumalang?
“Bu, Ibu. Ngapain melamun?” Doni anak Bi Mira saudah sampai di terminal. Dia memanggil Ibunya supaya tersadar dari lamunannya.
“Heh, kamu sudah datang. Ayo, kita pulang. Ibu sudah kangen sama Caca dan Diki.” Bi Mira tersadar dari lamunannya, berdiri dan naik di atas motor. Tak banyak
tas yang dibawa Bi Mira. Dia hanya membawa tas berisi baju dan beberapa alat-alat mandi yang dibelinya kemarin sebelum dia diusir oleh majikannya.
“Ibu, kenapa tiba-tiba pulang? Kan ini bukan hari libur atau lebaran? Apa, ada masalah di tempat kerja?” Doni bertanya sambil matanya fokus melihat ke jalan.
“Tak ada apa-apa. Ibu sudah tua, saatnya Ibu istrirahat, Don. Ibu juga tak akan kembali bekerja disana.” Jawab Bi Mira.
“Loh, Ibu sudah pensiun nih, ceritanya?” Doni tertawa.
“Bisa aja kamu, Don. Bagaimana pekerjaan kamu? Kenapa, kamu tak bekerja hari ini? Ini kan bukan hari libur?” Bi Mira balik bertanya.
“Di rumah tak ada yang bisa menjemput Ibu. Jadi Doni sengaja mengambil cuti sehari, Bu.” Jawab Doni.
Mereka saling bercerita sepanjang jalan. Sampai tak terasa sudah sampai di
rumah.
“Alhamdulillah, kita sudah sampai, Bu.” Motor Doni berhenti tepat di depan pekarangan rumah Bi Mira. Rumah yang selalu dia rindukan, sekarang dia akan menghabiskan waktu, di sisa umurnya yang semakin tua di rumah ini.
Caca dan Diki berlarian keluar menyambut neneknya yang sudah lama tak pulang ke rumah. Nenek. Mereka bersamaan memanggil Nenek. Caca dan Diki langsung
memeluk Bi Mira, menciumnya. Bi Mira langsung memeluk erat dua bocil yang sangat dia rindukan.
Caca dan Diki adalah anak Doni. Mereka berumur 4 tahun dan 6 tahun.
“Kalian sudah semakin besar dan tinggi, ya.” Mata Bi Mira berkaca-kaca setelah bertemu dengan kedua cucunya.
“Tante Dini, dimana? Kenapa dia tidak ikut keluar?” Bi Mira bertanya.
Dini adalah adik kandung Doni. Dia sudah cukup umur, namun belum juga mendapatkan jodoh. Sudah berapa banyak pria yang ditolaknya, bukannya sok jual mahal atau terlalu pemilih. Tetapi, lebih ke teliti mencari pasangan. Dia pernah mengalami kegagalan dalam hubungan. Dia pernah ditinggal calon suaminya, padahal tinggal selangkah lagi menuju pelaminan. Sungguh masa lalu yang menyakitkan. Trauma itu masih membekas di pikiran dan hatinya.
__ADS_1
“Tante ada di dalam, Nek. Dia sedang menyiapkan makanan lezat untuk Nenek. Ayo, kita masuk, Nek.” Dua bocil itu menggandeng tangan Neneknya.
Doni tersenyum, melihat Ibunya sudah kembali berkumpul dengan anak dan cucunya.
***
“Permisi, Mbok Ju. Mbok.. Saya masuk, ya.” Sekumpulan Ibu-ibu datang ke rumah Mbok Ju. Mereka ingin memastikan, siapa wanita yang mereka lihat tadi
pagi. Apakah benar dia calon mantunya Mbok Ju atau bukan.
Mbok Ju sedang merapikan masakan yang sudah matang di atas meja makan. Mendengar ramai-ramai di depan rumahnya, dia langsung keluar dari dapur.
“Astaga, apa yang kalian lakukan sepagi ini, beramai-ramai di rumah saya?” Bi Mira berseru.
“Mbok, kita mau tanya sesuatu. Kita tadi pagi lihat ada wanita cantik sedang nyapu halaman, siapa itu Mbok?” Ibu pertama bertanya.
“Iya, siapa itu? Dia calon mantumu, Mbok. Hebat sekali anakmu bisa mendapatkan calon istri secantik itu.” Timpal Ibu ke dua. Mereka bersahut-sahutan saling bertanya. Sampai Mbok Ju kewalahan menjawab mereka.
Ssstt.. Mbok Ju meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya sendiri. Menyuruh mereka diam.
“Kalian pagi-pagi kesini hanya untuk bergosip, tentang wanita cantik yang ada di rumahku? Bukan maen kalian. Lebih baik kalian pulang, masak di rumah, beberes. Jangan malah pada ngumpul buat ngerumpi.” Mbok Ju menggelengkan kepalanya.
“Jawab aja Mbok. Dia calon mantumu, kan?” Sergah Ibu ke tiga.
Saat mereka sibuk bertanya soal wanita cantik, keluarlah Gavin dari kamar Pak Kasim. Walaupun, baru bangun, tidur rambut acak-acakan. Tetapi, wajah Gavin
“Mbok, Mbok. Pria itu siapa? Kenapa, bisa tampan sekali.” Ibu-ibu histeris melihat Gavin.
Hahh.. Mbok Ju menghela napas. Mbok Ju menepuk jidat, kenapa, si Gavin harus keluar kamar disaat ramai seperti ini? Batin Mbok Ju.
“Ihh.. Kamu tampan sekali. Namamu siapa? Mau tak, aku jodohkan dengan anak gadisku?” Entah kapan Ibu-ibu itu sudah berkerumun di depan Gavin. Mata mereka berbinar saat menatap wajah Gavin.
Gavin terkejut dengan adanya Ibu-ibu yang tiba-tiba berebut ingin menyentuh wajah tampannya. Dia dengan cepat menepis tangan Ibu-ibu yang tak sopan.
“Eh.. Apa-apaan, nih? Kenapa kalian seperti ingin memakanku?” Wajah Gavin sangat panik, dia diserang hampir sepuluh Ibu-ibu.
“Aduh-aduh. Mundur semua! Kalian sudah tak sopan dengan tamu saya.” Pak Kasim keluar dari dalam kamar. Dia sudah mendengar keramaian di rumahnya sejak
tadi.
Ibu-ibu itu membelalak kaget. Suara Pak Kasim terdengar galak, wajahnya juga tak kalah galak dari suaranya. Mereka langsung mundur sedikit, dan ada
yang sedang berbisik.
__ADS_1
“Ih.. Pak Kasim ngapain sih, sok galak kaya gitu? Kita kan,
cuma pengen kenalan aja sama pria tampan ini.” Suara Ibu-ibu itu terdengar di telinga Mbok Ju yang sedari tadi ada di belakang mereka.
Eheem.. Mbok Ju melotot pada Ibu-Ibu tadi yang berbisik pada temannya.
“Kalian pulang saja, tak ada informasi yang akan kalian dapat disini.” Seru Mbok Ju.
Yaahh.. Mereka akhirnya bubar dengan perasaan kecewa. Tapi, yang namanya Ibu-ibu tak pernah mau kalah. Mereka tetap akan mencari informasi, ketika pas pada waktunya.
***
Tuan Gumalang berdiri di dekat jendela, menatap pemandangan di taman kecil yang ada di sekitar rumahnya. Dia menelepon Khan yang semalaman tak memberi kabar tentang Gavin.
📞“Halo.” Tuan Gumalang memulai percakapan.
📞“Halo, Tuan.” Khan menjawab dari seberang telepon.
📞“Bagaimana, dengan Gavin. Apakah sudah kamu temukan? Kenapa, kamu tak memberikan kabar, sampai pagi ini?”
📞“Maaf, Tuan. Kami kehilangan jejaknya. Mobil yang saya pakai tiba-tiba mogok, saat mengejar mobilnya Tuan Muda.”
📞“Alasan macam apa ini? Kalian membawa mobil tak cuma satu, melainkan tiga mobil, termasuk yang kau pakai. Apa kalian ingin membodohi saya? Kau kan bisa
bepindah mobil yang lain. Kenapa, harus menunggu mobil yang mogok? Dasar bodoh!!”
Tuan Gumalang menggeram, dia meremas handphone yang dipakenya.
Khan tak bisa berkata lagi. Dia hanya diam saat Tuan Gumalang memarahinya.
“Kau tak bisa diandalkan Khan. Tugas kecil seperti ini, tak bisa kau selesaikan. Saya kecewa!!” Tuan Gumalang mematikan sambungan telepon.
Hah.. “Anak buah tak berguna!! Aku harus menemukan Gavin.” Dia lalu melangkah keluar dari kamar, menuruni tangga dan mengambil kunci mobil. Tuan Gumalang mengendarai mobilnya sendiri. Saat ini dia sudah sangat marah, semua anak buahnya tak bisa diandalkan.
Pagar otomatis segera terbuka, mobil Tuan Gumalang keluar dari rumah, melesat membelah keramaian Ibukota. Di dalam mobil, dia menelepon Ari. Setelah menunggu beberapa detik Ari mengangkat teleponnya.
“Halo, Tuan.” Suara Ari terdengar di seberang telepon.
“Hemm. Dimana kau sekarang.”
“Saya sedang di rumah sakit, Tuan. Maaf, jika saya tak berpamitan kemarin malam. Saya panik, Tuan. Istri saya masuk rumah sakit.”
“Tak perlu menjelaskan panjang lebar. Saya sekarang hanya butuh informasi dimana Gavin sekarang. Suruh hacker kenalanmu melacak lokasinya kembali.” Tuan Gumalang berbicara langsung ke intinya.
__ADS_1
“Baik, Tuan. Saya akan segera menghubunginya.”
Setelah mendapat jawaban, Tuan Gumalang langsung mematikan sambungan teleponnya, lalu melanjutkan perjalanannya.