
Sertt.. Tiba-tiba mobil sedan yang ditumpangi Khan berhenti mendadak. “Ada apa, Bay. Kenapa, kau berhenti di tengah jalan begini?” Khan menoleh pada anak buahnya yang memegang setir.
“Tak tahu, Bos. Saya akan cek mesinnya dulu.” Bay turun dari mobil dan membuka kap mobil yang dikendarainya. Asap mengepul keluar dari dalam mesin mobil. Bay terbatuk-batuk, karena tak sengaja menghirup asap itu.
Khan melhat asap mengepul di depan mobil, dia lalu bergegas turun dan melihat apa yang sudah terjadi pada mobil ini.
“Ada apa ini, Bay. Kenapa, mesinnya sampai mengeluarkan asap seperti ini?” Khan bertanya sambil mengibas-ngibaskan tangannya, mengusir asap yang ada di mesin.
“Sepertinya mesinnya panas, Bos. Saya juga tak mengerti soal mesin. Bagaimana, ini Bos?” Bay juga ikut mengusir asap di mesin mobil itu.
Hah.. Khan berkacak pinggang di depan mobil. Kenapa, hari ini sungguh sial. Tuan Muda lolos dari kejarannya, dan sekarang mobilnya mogok di tengah jalan. Mobil anak buahnya yang lain juga ikut berhenti. Namun, mereka semua tak ada yang mengerti tentang mesin mobil. Lengkap sudah penderitaannya.
Beberapa saat Bay dan Khan masih menatap asap yang keluar dari mesin mobil. Asapnya berasngsur hilang. Bay lalu menutup kap mobil. Tak ada yang berubah jika hanya membukannya dan menatap mesinnya saja.
Mereka berdua lalu duduk diatas kap mobil. Melamun, mengingat Nasib mereka yang sangat malang hari ini. Jika, mereka menelepon Tuan Gumalang hanya gara-gara mobil mogok, bisa habis riwayat mereka. Tugas mereka belum selesai, tapi sudah menelepon Bos besar. Seperti menghantarkan nyawa ke kandang harimau yang sedang lapar.
Keadaan beberapa saat lengang, hanya ada suara jangkrik dan kodok yang bersahut-sahutan. Mereka berada di jalanan yang kanan kirinya hanya ada hamparan sawah. Jika, ingin ke perkampungan, mereka harus menempuh jarak kurang lebihnya 100km. Itu jarak sangat memakan waktu. Apalagi, di perkampungan seperti itu jarang sekali ditemui bengkel mobil.
Khan sesekali menghembuskan napas, dia melihat jam yang ada di tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, mana ada bengkel atau montir yang masih bekerja. Mau tak mau, mereka harus menunggu sampai pagi hari. Terpaksa, mereka tidur di pinggir jalan malam ini.
“Kalau sampai besok kita tak bisa membawa Tuan Muda pulang ke rumah, sia-sia saja pengorbanan kita mala mini, Bay.” Suara Khan memecah keheningan malam.
“Hemm.. Entahlah, Khan. Aku masih tak yakin dengan itu.” Jam kerja sudah selesai, jadi mereka bisa berbicara dengan santai. Anak buah yang lain sudah tidur, supaya besok mereka bisa mencari montir di dekat lokasi mereka saat ini.
Hoaamm.. Bay sudah mulai menguap. Dia sudah sangat lelah seharian menyetir mobil sendiri. “ Aku mau masuk mobil dulu, Khan. Sudah tak sanggup menahan ngantuk mataku. Kamu, tak mau masuk mobil, Khan? Di luar sini juga sangat dingin udaranya. Istirahat saja dulu, besok pagi kita bekerja keras lagi.” Bay menepuk Pundak Khan.
Khan mengangguk. “Kamu, masuk saja dulu. Nanti, aku menyusul. Aku masih mau melihat bintang. Jarang-jarang aku bisa bersantai menikmati pemandangan bagus malam ini. Tolong ambilkan jaket di dalam mobil, Bay.”
__ADS_1
Khan masih menatap bintang di atas langit. Dia merebahkan badannya di atas kap mobil. Bersender di kaca depan mobil.
Bay melemparkan jaket miliknya dari belakang. Khan dengan cepat menangkap jaketnya.
Khan mulai berkhayal. “Kapan, aku bisa segera bebas dari pekerjaan yang melelahkan ini. Aku juga ingin mencari pasangan seperti Tuan Muda. Dan bisa bebas pergi kemana saja tanpa harus memikirkan keuangan. Aku ingin jadi orang kaya.” Khan meletakkan kedua tangannya di bawah kepalanya. Dia melebarkan jaketnya untuk menutupi dadany supaya tak terlalu terkena angin. Bisa repot, kalau sampai dia sakit.
Banyak sekali yang dia pikirkan malam ini. Biasannya dia tak pernah seperti ini. Dia tak pernah memikirkan dirinya sendiri, dia hanya memikirkan misinya yang harus selalu berhasil, supaya Bosnya senang dengan keberhasilannya.
Tak terasa Khan memejamkan matanya. Dia tertidur pulas di atas kap mobil. Tak dirasakannya angin dingin yang menerpa tubuh kekarnya.
Di rumah Gumalang.
Sudah larut malam Tuan Gumalang belum bisa memejamkan matanya. Dia masih mondar mandir memikirkan Gavin, yang belum juga pulang. Walaupun, dia ayah yang kejam, tapi dia sebenarnya sangat sayang pada anaknya. Dia sesekali melihat handphonenya.
“Kenapa, Khan belum juga kasih kabar.” Hah… Tuan Gumalang meletakkan handphonenya, lalu duduk dan bersender di kursi kerjanya. Dia merasa haus, gelas kaca yang dibawanya sudah habis tak ada airnya. Tuan Gumalang berjalan keluar ruangan menuju dapur.
Tuan Gumalang bersender di depan lemari es sambil membawa segelas air putih.
“Apa yang sudah aku lakukan hari ini? Apa aku sudah sangat keterlaluan pada Bi Mira?” Dia menunduk lesu mengingat betapa kejamnya dia pada pembantu rumahnya yang sudah bekerja berpuluh tahun disini. Yang sangat sayang pada keluarganya. Namun, dengan satu kesalahan dia langsung mengusir Bi Mira tanpa mendengarkan penjelasan.
Krukk.. Perutnya terasa sangat lapar, karena dari siang tadi belum makan apapun. Biasanya Bi Mira yang menyiapkan segala makanan dirumah ini. Masakannya juga lezat, tak kalah dengan masakan koki di resto yang mahal.
Karena, sudah tak tahan dengan rasa laparnya, Tuan Gumalang membuka lemari es. Matanya melebar, terkejut karena isi lemari esnya. Ternyata, Bi Mira tak pernah melupakan tugasnya sebagai pembantu yang harus menyiapkan makanan untuk majikannya. Semua itu kesukaan Tuan Gumalang.
Bi Mira sudah menyiapkan berbagai masakan, sebelum dia beranjak pergi dari rumah Gumalang. Dia tahu kalau majikannya tak bisa memasak, maka dari itu dia sebisa mungkin memasak makanan yang Tuan Gumalang suka. Bi Mira kembali ke kampung halamannya, dia berharap Gavin dan Sarah sudah sampai di rumahnya. Dengan senang hati, Bi Mira bisa menghabiskan masa tuanya di kampung halamannya. Melihat tumbuh kembang cucunya yang menggemaskan. Itu adalah impian semua nenek di seluruh dunia ini.
“Maafkan saya, Bi. Saya tak bisa mengendalikan emosi sesaat. Terimakasih atas semuanya.” Dirinya hanya bisa menyaksikan makanan lezat di depannya. Dia tak tahu, bagaimana caranya memanaskan masakan dan juga tak tahu caranya menyalakan kompor.
__ADS_1
“Apa aku harus menahan lapar malam ini sampai esok pagi? Hemm.. Ini tak bisa dibiarkan, aku harus menyuruh Ari untuk memanaskan makanan ini.” Tuan Gumalang pergi meninggalkan dapur, dia berjalan keluar rumah mencari Ari.
Tengok sana, tengok sini, tapi tak ada tanda-tanda Ari ada disini. Dia hanya melihat penjaga rumah yang sudah tertidur lelap.
“Pak Bari, Pak.. Bangun. Tolongin saya.” Tuan Gumalang menggoyangkan badan Pak Bari. Setelah beberapa saat dia berusaha membangunkan Pak Bari, akhirnya ada hasilnya juga. Pak Bari bangun dan mau menolong majikannya yang kelaparan.
Pak Bari langsung menuju dapur untuk memanaskan makanan. Yang diambil Tuan Gumalang dan meletakkannya di atas meja makan. Beberapa saat, wangi makanan tercium sampai ke ruangan kerja Tuan Gumalang.
Tok tok tok, “ Permisi, Tuan. Ini makanannya sudah siap.”
“Masuklah.” Tuan Gumalang sibuk menatap layar komputernya, seperti ada hal yang sangat serius disana.
“Ini, Tuan. Apa anda membutuhkan yang lainnya lagi? Saya akan berjaga di depan kembali, Tuan.” Pak Bari meletakkan nampan yang berisi dua mangkuk makanan, sepiring nasi dan satu gelas air putih.
“Tak perlu. Kamu sudah bisa kembali berjaga di depan.” Ucap Tuan Gumalang tanpa melihat Pak Bari. Matanya masih terfokus pada layar komputer.
Sebelum Pak Bari meninggalkan ruangan, Tuan Gumalang memanggilnya lagi. “Pak Bari, apa kamu tahu dimana Ari sekarang? Seharusnya dia ikut berjaga di rumah ini.” Kali ini, Tuan Gumalang menatapnya.
“Saya tadi melihat Ari terburu-buru pergi menggunakan mobil, Tuan. Namun, dia tak mengatakan apapun pada saya.” Jawab Pak Bari.
Tuan Gumalang mengangguk samar. Benar yang dilihatnya di CCTV sekarang, Ari memang pergi meninggalkan rumah ini. Tapi, kemana dia malam-malam begini pergi.
“Ya sudahlah, kamu bisa kembali sekarang, Pak.” Ucap Tuan Gumalang.
Kini ruangan hanya menyisakan dirinya dan layar computer yang sedang menyala. Dirinya masih bertanya-tanya, kemana Ari pergi. Kenapa, dia tak izin dulu. Pasti ada sesuatu yang sangat mendesak. Tuan Gumalang meraih nampan di depannya, dan mulai menyantap makan malamnya.
Hemm.. Tuan Gumalang tersenyum, dan sangat menikmati setiap suapannya.
__ADS_1