
“Tempat apa ini. Sudah sempit, bau comberan. Ihh...” Cia menggerutu kesal.
“Bisa diam gak, sih. Berisik banget daritadi.” Tania melotot pada kakaknya. Dan Cia hanya nyengir, saat adiknya memarahinya.
Brukk.. Tiba-tiba Badan Cia menabrak badan Tania yang di depannya.
“Kenapa berhenti? Yang mana rumah si brengsek itu.” Cia clingak clinguk mencari rumah Ryan.
Suutt.. Tania memberi kode pada kakanya untuk diam. Lalu dia berjalan mengendap-endap maju lebih ke depan lagi. Ternyata Ryan sedang ada di rumah bersama dengan seorang wanita. Siapakah wanita itu?
“Tan, kenapa dia ada di dalam rumah bersama wanita?” Bisik Cia di telinga Tania.
“Aku tak tahu, Kak. Bagaimana kalau kita menangkap basah mereka.” Ucap Tania pelan.
Hemm.. Cia mengangguk setuju. Lalu mereka mundur beberapa langkah lagi mencari tempat yang lebih aman. Mereka ingin membuat rencana terlebih dahulu, sebelum menangkap Ryan dan wanita yang bersamanya.
“Di mana Gavin? Kenapa dia tak ada di sini?” Tania clingak clinguk mencari pria itu. Dirinya baru ingat, kalau Gavin juga ikut dengannya.
“Perasaan tadi dia ada di belakangku. Kenapa sekarang dia menghilang.” Cia juga ikut clingak clinguk mencari Gavin.
Saat mereka sedang panik mencari Gavin, mereka melihat seorang pria berbadan tinggi sedang makan nasi goreng yang ada di depan warung. Dengan santainya dia menikmati nasi goreng itu sendirian. Dengan mata melotot dan tangan di letakkan di pinggang, mereka berdua berjalan bersamaan mendekati pria itu.
“Kau, benar-benar tak setia kawan, Vin. Bisa-bisanya kau menikmati nasi goreng itu sendirian.” Cia melotot pada Gavin.
“Aku lapar. Tadi di hotel aku tak sempat makan apa-apa. Dan kalian kan sedang serius tadi, makanya aku tak mengajak kalian. Takut menganggu, nanti aku juga yang kena marah.” Gavin terkekeh dan menyendok nasi goreng yang masih tersisa.
“Alasan saja kau.” Sekarang gantian Tania yang melotot pada Gavin.
“Sudah ketemu sama kekasihmu, Tan?” Gavin bertanya dengan santai.
“Sudah, tapi gara-gara kau, kita gagal memergoki mereka.” Tania menjawab dengan wajah yang kesal.
Uhuk.. Uhukk.. “Memergoki? Memangnya dia selingkuh?” Gavin tersedak karena terkejut mendengar jawaban Tania.
Tania mengangkat bahu. “Kita belum tahu, dia selingkuh atau tidak. Tapi yang jelas, tadi dia sedang berbicara dengan seorang wanita sambil tersenyum-senyum. Dan mereka terlihat sangat dekat.” Tania menunduk dan wajahnya berubah jadi suram.
Cia mengusap-usap punggung Tania. “Sabar, Tan. Untung saja kau baru berpacaran dengannya. Jika sudah menikah baru tahu sifat aslinya, pasti akan lebih menyakitkan.
“Apa nasibku akan sama dengan dirimu, Kak?” Tania bertanya, matanya sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
“Nasibmu lebih beruntung daripada diriku. Jadi jangan disamakan.” Cia menyendok nasi goreng. Dirinya dan Tania juga ikut memesan nasi goreng.
“Memangnya kamu kenapa tak jadi menikah, Cia.” Gavin sudah selesai makan. Dan kini tenaganya sudah pulih kembali.
“Saat sehari sebelum pernikahanku, calon suamiku pergi dengan selingkuhannya. Dan dengan bangganya, dia mengirimkan foto dirinya dengan wanita ****** itu.” Cia langsung tertunduk sedih.
Cia sudah berusaha mengubur dalam-dalam pengalaman pahitnya itu. Tapi, karena kejadian hari ini, Cia jadi teringat kembali masa lalunya. Selama bertahun-tahun, Cia terpuruk dan hampir mengakhiri hidupnya.
“Apa kau mengenal wanita itu?” Gavin bertanya lagi.
Cia hanya mengangguk. Dia tak berselera lagi untuk melanjutkan makan nasi gorengnya.
Tania melihat kakanya bersedih lagi, dia langsung memeluk dan menenangkannya.
Gavin hanya menatap dua bersaudara itu saling menangis dan saling menguatkan satu sama lain. Ternyata, masih banyak orang yang punya masalah lebih besar daripada dirinya.
Setelah mendengar cerita Cia, Gavin jadi lebih bersemangat untuk membantu mereka.
“Mau sampai kapan kalian menangis seperti itu di depanku?” Gavin menyela tangisan mereka berdua.
Tania dan Cia segera mengusap air mata yang terus keluar membasahi pipi mereka.
Benar juga, tujuan mereka datang ke sini bukan untuk menangis, melainkan untuk mencari Ryan, si pria brengsek yang tak tahu diri itu.
"Nah, gitu dong semangat. Jangan jadi wanita lemah dihadapan pria yang tak pantas untuk ditangisi." ucap Gavin.
Setelah itu mereka kembali ke tujuan awal. Mereka berjalan bersama menuju rumah Ryan kembali. Sesampainya di depan pekarangan rumah Ryan, Tania mulai mengintip. Dia bersembunyi dibalik semak-semak.
Tania melihat Ryan dan wanita itu masih sibuk mengobrol, sesekali Ryan dan wanita itu tertawa bahagia.
“Ryan.” Tania akhirnya berteriak dan muncul dari semak-semak. Tania sudah tak tahan dengan kemesaraan yang mereka perlihatkan. Mereka hampir saja berciuman, tetapi Tania dengan cepat menggagalkannya.
Mereka berdua terkejut, lalu berdiri bersamaan. “Tania.” Seru Lea dengan wajah yang panik.
“Jadi, ini yang kalian lakukan di belakangku selama ini?” Tania berjalan mendekati mereka.
“Tan, tenang dulu. Ini tak seperti yang kau lihat. Kau salah paham dengan kita.” Ryan bergegas menghadang Tania untuk tidak mendekati Lea.
“Aku salah paham? Bukti sudah di depan mata, tapi kamu masih bilang aku salah paham?” Tania terkekeh.
__ADS_1
“Bukti apa? Kita hanya teman, Tania. Aku hanya mengobrol dengan Lea. Dan dia hanya berusaha menghiburku.” Ryan membela diri.
“Mana ada wanita dan pria yang berteman akrab seperti ini, kalau bukan sepasang kekasih.” Cia melangkah maju di depan Tania. Cia ingin sekali menonjok wajah pria brengsek itu.
“Kau! Pria tak tahu diri. Sudah punya kekasih yang cantik, kaya, baik. Masih saja mencari sampah seperti dia?” Cia melotot tajam pada kedua sejoli itu.
“Kau tak pantas memanggil sampah pada Lea. Dia itu wanita yang lebih baik daripada Tania.” Ryan melotot pada Cia.
“Apa kau bilang! Dia lebih baik dariku? Kau sudah gila, Ryan.” Tania menatap tajam Ryan.
"Iya. Aku memang sudah gila. Aku gila karenamu, Tania. Kamu sudah mengkhianatiku. Kamu tega meninggalkanku dan bertunangan dengan pria lain. Apa itu masih bisa dibilang wanita yang baik?" Ryan pura-pura menampakkan wajah sedih.
"Aku tak mengkhianatimu, Ryan. Justru aku kesini untuk memberi kabar kalau aku batal bertunangan. Tapi, ternyata kamu sudah berselingkuh dengan sahabatku sendiri. Kalian jahat!!" Tania menangis histeris.
Mereka berempat saling beradu mulut. Dan Gavin hanya sebagai penonton di sana.
“Cinta segitiga. Selingkuh dengan sahabatnya sendiri.” Gumam Gavin sambil menggelengkan kepalanya.
“Hei, kalian. Apa sudah selesai bertengkarnya? Aku lelah ingin pulang saja.” Gavin menyerah setelah hampir satu jam menunggu mereka selesai bertengkar.
“Kalau kau mau pulang, pulang saja. Aku masih ada urusan dengan pria brengsek ini.” Jawab Cia sambil menunjuk wajah Ryan.
“Baiklah. Aku pulang.” Gavin melangkah pergi meninggalkan medan pertempuran itu.
Dia juga harus segera menemui Sarah. Dan memberi tahu kabar baik hari ini. Sepanjang jalan Gavin selalu tersenyum, mengingat kejadian di acara pertunangan tadi, sungguh akting yang sangat bagus.
Saat Gavin sampai di villa, hari sudah sangat malam. Gavin sengaja tak memberitahu orang-orang di villanya, kalau dia datang berkunjung.
“Tuan. Sejak kapan anda ada di sini? Kenapa anda tak memberitahu kami, kalau anda datang hari ini.” tanya tukang kebun yang melihat Gavin sedang berdiri di depan mobilnya.
“Aku sengaja tak memberi kabar, karena aku ingin memberikan kejutan pada Sarah.” Gavin tersenyum. Terlihat kebahagiaan di wajah Gavin saat ini.
“Emm... baiklah. Silahkan masuk, Tuan. Nyonya Sarah sedang ada di dapur membantu bi Siti mencuci piring.” Tukang kebun itu membukakan pintu untuk Gavin.
Gavin mengangguk dan masuk ke dalam villa. Suasana di dalam villa membuatnya tenang. Apalagi, sekarang di dalamnya ada wanita yang sangat dia cintai, terasa lebih nyaman untuk tinggal di villa selamanya.
Bi Siti terkejut melihat Gavin sudah berdiri di pintu dapur. Bi Siti ingin menyapa, tapi Gavin memberikan kode pada bi Siti untuk diam. Bi Siti lalu mengendap-endap pergi meninggalkan Sarah yang masih sibuk dengan piring kotor.
Setelah melihat bi Siti sudah menghilang dari dapur, Gavin mulai maju mendekati Sarah.
__ADS_1
“Bi, ini piringnya.” Ucap Sarah tanpa menoleh lagi.
Tanpa ada jawaban, piring itu sudah diambil dan diletakkan di rak piring. Sarah sedikit merasa heran, kenapa bi Siti jadi tak bersuara sedikitpun. Dengan penuh rasa penasaran, akhirnya Sarah menoleh ke belakang. Dan betapa terkejutnya dia, melihat Gavin yang sudah berdiri tegap di belakangnya sekarang.