Tergoda Tuan Muda Tampan

Tergoda Tuan Muda Tampan
Bab. 50 Bertemu Seseorang


__ADS_3

“Vin, kapan kamu datang?” Sarah tersenyum bahagia saat melihat pria yang sangat dirindukannya tiba-tiba datang mengunjunginya.


“Aku baru saja sampai. Aku merindukamu, Sayang.” Gavin memeluk badan Sarah dari belakang, lalu mencium tengkuk Sarah dengan mesrah.


Sarah menggeliat karena geli. “Vin, jangan seperti ini. Nanti kalau mereka melihat kita bagaimana? Aku malu, Vin.” Sarah berbalik badan menatap Gavin.


“Tenang saja, Sayang. Mereka tak akan berani melihat kita.” Gavin mulai mencium bibir Sarah.


Sarah hanya tersenyum dan membalas ciuman itu.


“Bagaimana dengan pertunanganmu? Apakah berjalan lancar?” Sarah bertanya dengan wajah yang sedikit murung.


“Sangat lancar. Dan aku sangat bahagia saat ini.” Gavin menjawab dengan sebuah senyuman.


“Ohh...” Sarah mengangguk dan berjalan pergi meninggalkan Gavin di dapur.


“Kamu kenapa, Sarah?” Gavin berusaha menahan Sarah untuk tidak pergi.


“Aku tak apa-apa, Vin.” Sarah menampakkan senyuman palsu.


“Tenang saja, aku bahagia bukan karena berhasil bertunangan. Tapi, aku bahagia karena berhasil  menggagalkan pertunangan itu.” Gavin paham betul dengan perubahan sikap Sarah.


Sarah menoleh dan menatap lekat wajah Gavin. “Apa kamu sedang berusaha menghiburku, Vin?”


“Aku sungguh-sungguh Sarah. Aku tak sedang menghiburmu, ini beneran terjadi. Apa kamu sudah tak percaya denganku?” ucap Gavin sambil menarik tubuh Sarah, supaya lebih dekat dengannya.


Sarah menggeleng tak percaya.


“Baiklah, apa aku harus menciummu dan kita bermain malam ini supaya kamu bisa percaya lagi denganku?” Gavin menggodanya.


Wajah Sarah seketika berubah menjadi kemerahan karena malu. Tapi dia berusaha tetap biasa saja. “Oke, anggap saja aku percaya padamu. Tapi, malam ini tak ada permainan lagi.” Sarah segera berbalik dan berlari meninggalkan Gavin yang masih berdiri di dapur seorang diri.


Gavin hanya tersenyum melihat wanitanya yang mulai memancing gairahnya. Lalu dia melangkah untuk menyusul Sarah.


Sesampainya di depan kamar, Gavin berdiri sejenak dan memantapkan hati. Malam ini dia akan membuat Sarah benar-benar jadi miliknya seutuhnya. Dia lalu membuka pintu kamar dan berjalan masuk.


“Sarah. Jangan membuatku semakin tak bisa menahan keinginanku. Kamu sudah kalah tadi, aku tahu kamu sedang malu-malu. Makanya, kamu lari. Ya, kan? Keluar dong, Sayang. Jangan bersembunyi lagi.” Gavin duduk di atas kasur empuk dan matanya menatap kamar mandi yang ada di dalam kamar.

__ADS_1


Setelah beberapa menit, Sarah keluar dengan menggunakan baju dinas yang super sexy. Mata Gavin terbelalak melihat Sarah memakai baju dinas itu.


“Kejutan.” Sarah berjalan mendekati Gavin dengan senyuman yang merekah.


Gavin terkekeh. “Wow!! Ini kejutan yang sangat membuatku senang, Sayang. Kamu sudah merencanakan ini?” Gavin menarik tubuh Sarah untuk lebih dekat dengannya. Lalu menyuruh Sarah untuk duduk dipangkuannya.


Emm.. Sarah mengangguk semangat. “Bagaimana aku memakai baju ini? Apakah cocok?”


“Cocok sekali, kamu lebih cantik memakai ini. Jika aku bisa setiap hari melihatmu memakai baju ini, aku akan selalu pulang cepat, supaya bisa bermain denganmu.” Goda Gavin.


“Ya sudah, mau bermain sekarang?” Sarah mulai membuka satu persatu kancing kemeja Gavin.


Malam ini adalah malam yang lebih indah dari malam sebelumnya. Mereka berdua sama-sama menikmati hubungan layaknya pengantin baru. ******* demi ******* keluar dari mulut mereka.


“Apa kamu menikmatinya, Sayang.” Sarah membelai rambut Gavin yang berantakan.


“Em... aku sangat menikmati surga dunia ini. Acch... terus seperti ini Sayang. Aku tak mau kamu berhenti.” Ucap Gavin dengan mesrah.


Huh... sesekali Gavin menghembuskan nafas dan meringis keenakan. Selama hampir satu jam lebih mereka melakukan hubungan suami istri. Setelah kelelahan melakukannya, mereka tertidur pulas.


Matahari sudah menampakkan sinar terangnya. Sinarnya menembus sampai kamar yang mereka tempati. Mata Sarah mengerjap-ngerjap karena terkena sinar matahari. Sarah merasakan badannya yang terasa sakit, akibat semalam terlalu semangat bermain dengan Gavin.


“Selamat pagi juga, Sayang.” Sarah membalikkan badannya dan sekarang menatap Gavin yang masih memejamkan matanya.


“Rasanya seperti sedang di surga. Saat membuka mata, aku bisa melihat bidadari yang sangat cantik di depan mata.” Ucap Gavin sambil mencium kening Sarah.


Walaupun Gavin masih memejamkan mata, tapi tubuhnya sudah sadar seratus persen.


“Gombal kamu, Vin. Ayo bangun, ini sudah siang. Apa kamu tak merasa lapar?” Sarah mendorong sedikit ke belakang tubuh Gavin.


“Aku tak lapar, karena aku sudah kenyang melihatmu ada di depanku.” Gavin mulai membuka matanya dan menatap lekat wanita yang dia cintai.


Sarah hanya tersenyum menatap pria yang membuatnya sangat bahagia sekarang. “Aku mencintaimu, Vin.” Sarah mencium bibir Gavin.


Gavin sedikit terkejut mendengar kata-kata Sarah. Tapi, dia sangat senang bisa mendengar Sarah mengucapkan kata-kata itu. “Aku lebih mencintaimu, Sarah.” Gavin memeluk kembali tubuh Sarah, dan sekarang tubuh mereka melekat satu sama lain.


Siang harinya, Gavin dan Sarah pergi untuk berbelanja. Mereka pergi ke pasar tradisional untuk membeli bahan makanan yang sudah habis.

__ADS_1


“Apa kamu harus membeli semua ini, Sarah?” ucap Gavin. Dia sudah kelelahan membawa banyak kantong plastik di tangannya.


“Emm... apa kamu sudah lelah membawa semua itu?” Sarah berhenti melangkah dan menatap wajah Gavin yang penuh dengan keringat.


Gavin baru pertama kalinya belanja di pasar tradisional. Dia tak terbiasa dengan panas matahari yang langsung menembus kulitnya. Wajahnya memerah dan penuh dengan keringat. Sesekali dia mengusap keringat yang mengalir di wajahnya.


“Kita istirahat dulu, Sarah.” Gavin mencari tempat yang teduh dan yang banyak jajanan. Dia mengatur nafas dan merenggangkan tangannya yang pegal.


“Baiklah. Kamu mau makan apa?” Sarah melihat-lihat jajanan yang ada didekat tempat mereka istirahat.


Saat Sarah sedang sibuk memilih jajanan, dia tak sengaja menyenggol seorang pria tinggi di sebelahnya. Mata mereka lalu bertemu dan menatap satu sama lain.


Sarah kembali menghampiri Gavin dengan wajah panik dan ketakutan. Badannya panas dingin dan bergetar.


“Vin, ayo kita pulang.” Sarah mengambil semua belanjaan miliknya.


Gavin yang masih kelelahan, dia belum sepenuhnya sadar bahwa sarah sedang ketakutan saat ini.


“Kenapa pulang sekarang? Aku belum selesai memakan ini, Sarah.” Teriak Gavin sambil tetap mengunyah makanan.


Sarah tak menghiraukan teriakan Gavin, dia tetap berjalan dan sedikit berlari menuju mobil Gavin. Tak dirasakannya tangannya yang sudah hampir berdarah karena terlalu berat membawa belanjaan.


Setelah Gavin menghabiskan makanannya, barulah dia menyusul Sarah yang sudah berdiri di sebelah mobilnya.


“Masuklah, sudah aku buka kuncinya.” Ucap Gavin sambil berjalan mendekati mobilnya.


Kemudian Sarah meletakkan semua belanjaannya di dalam bagasi mobil. Lalu dia berlari membuka pintu mobil depan, duduk di jok dan menghembuskan nafas lega.


“Kamu kenapa meninggalkanku?” Gavin sedikit cemberut saat melihat sikap Sarah yang tiba-tiba pergi begitu saja.


“Aku hanya lelah dan ingin cepat sampai rumah, Vin.” Jawab Sarah dengan memalingkan wajahnya.


“Kan bisa bicara pelan-pelan. Tak perlu buru-buru seperti tadi.” Gavin masih saja belum sadar dengan perubahan sikap Sarah.


“Maaf.” Ucap Sarah sambil dirinya menatap ke luar jendela.


“Hemm... kali ini aku maafin kamu. Tapi, lain kali jangan seperti ini lagi.” Gavin berniat menggenggam tangan Sarah. Tapi dengan cepat Sarah menghempaskan tangan Gavin. Gavin sedikit terkejut dengan sikap Sarah.

__ADS_1


Lalu Gavin melihat tangan Sarah yang lecet dan memerah. “Tangan kamu kenapa, Sarah?” tanyanya sambil menatap tangan Sarah lalu berpindah lagi menatap jalanan.


Sarah hanya menggelengkan kepala dan tetap menatap jalanan yang mereka lewati. Suasana mobil menjadi lengang, hanya terdengar suara lagu yang diputar di dalam mobil.


__ADS_2