
Sarah mulai menyalakan kran shower. Dia duduk meringkuk dan membiarkan seluruh badannya basah terkena air. “Begini rasanya mencintai tanpa restu dari orang tua. Harus rela berkorban walaupun sebenarnya tak sanggup meninggalkannya.” Kedua sudut bibir Sarah terangkat sedikit, terlihat senyuman tipis di wajah cantiknya. Airmatanya mengalir deras bersamaan dengan jatuhnya air kran di wajahnya. “Aku mencintaimu Gavin, aku sungguh mencintaimu. Tapi aku tak bisa mengungkapkan perasaanku. Apa yang aku takutkan selama ini sudah menjadi kenyataan, dan inilah nasibku yang harus bisa melepaskanmu, merelakanmu untuk yang lainnya.”
Rasa perih akibat luka sobek karena tertusuk pisau, tak sebanding dengan rasa perih yang harus merelakan seseorang yang sangat dicintai.
Tok..Tok.. Pintu kamar mandi diketuk dari luar.
“Sarah, semuanya sudah beres. Bibi pulang duluan, ya. Tuan Gumalang menyuruhku pulang secepatnya. Kamu harus bisa jaga diri baik-baik, jangan lupa kasih kabar ke Bibi, ya. Bibi sudah menganggapmu sebagai anak Bibi sendiri.” Suara Bi Mira dari luar pintu kamar mandi.
Sarah tak menjawab apa-apa. Karena dia masih sangat bersedih. Dia harus pergi meninggalkan lelaki yang sangat dia sayangi.
Bi Mira yang tak mendapati jawaban dari Sarah, sejenak dia termenung di depan pintu kamar mandi, lalu pergi begitu saja. Dia paham sekali dengan keadaan Sarah sekarang. Namun, dia tak bisa membantu apa-apa.
Setelah puas melampiaskan kesedihannya di bawah kucuran air, Sarah keluar dari kamar mandi. Sarah bergegas meninggalkan rumah sakit, sebelum Gavin kembali ke rumah sakit untuk menemuinya.
Di kantor.
Gavin menutup laptopnya dan meregangkan badannya. “Akhirnya selesai juga pekerjaan ini. Aku harus segera ke rumah sakit untuk menjemput Sarah.”
“Kamu mau kemana, Vin?” Tuan Gumalang membuka pintu dan masuk ke ruangan Gavin.
__ADS_1
“Aku mau menjemput Sarah, Pi.” Jawab Gavin tanpa menghiraukan Papinya yang sedang berdiri di hadapannya.
“Papi sudah memecat Sarah, Vin. Dan Papi juga menyuruhnya untuk pergi meninggalkanmu.” Tuan Gumalang mulai duduk di kursi.
Gavin yang mendengar ucapan Papinya, langsung menoleh dan berbalik badan menghampiri Papinya yang sedang santai duduk di kursi. “Coba ucapkan sekali lagi, Pi. Apa aku tak salah dengar?”
“Kamu tak salah dengar, Vin. Papi sudah tahu semua tentang hubunganmu dengan Sarah. Dan juga status Sarah. Papi sudah berpesan padamu, jangan pernah mempunyai hubungan spesial dengan pembantu itu. Tetapi, kamu tak menghiraukan ucapan Papi.” Tuan Gumalang menatap tajam pada Gavin.
“Kenapa dengan hubungan kita, Pi? Apa ada yang salah? Lalu, apa masalahnya dengan status Sarah? Aku sungguh mencintainya. Aku tak pernah memandang statusnya. Sekarang Sarah juga sudah bercerai dengan suaminya. Lalu, apa lagi yang dipermasalahkan, Pi?” Gavin menghela nafas untuk bisa lebih bersabar menghadapi Papinya.
“Kamu dan Sarah tak sederajat , Vin. Papi tak mau jika kamu harus menikahi wanita yang sudah pernah menikah sebelumnya. Terlebih lagi, Sarah itu hanya Pelayan. Dia tak pantas untukmu. Kamu masih bisa mendapatkan yang lebih baik dari dia. Masih banyak wanita kaya dan cantik diluar sana. Kenapa harus Sarah yang kamu pilih, Vin.” Papi Gumalang beranjak dari tempat duduknya. Dia lalu menghampiri Gavin dan hendak menepuk pundaknya.
Gavin dengan kasar menepis tangan Papinya. Dia saat ini sangatlah marah. Apa yang sudah dilakukan Papinya sangatlah keterlaluan. Papinya sudah terlalu jauh untuk ikut campur urusan asmaranya.
“Papi memikirkan masa depanmu, Vin. Papi tak mau kamu sampai salah memilih pendamping hidup. Papi ingin kamu selalu bahagia, tanpa harus menanggung malu.”
“Malu? Apa maksut Papi dengan kata Malu? Apa karena Sarah hanya seorang Pelayan, jadi Papi malu mempunyai menantu seperti dia?”
“Iya, Papi malu mempunyai menantu seorang Pelayan. Mau ditaruh di mana muka Papi nanti, jika semua orang tahu kalau kamu akan menikahi seorang Pelayan? Wanita yang lebih kaya di luar sana masih banyak, Vin. Kenapa kamu harus memilih seorang Pelayan? Papi tak habis pikir denganmu.” Papi Gumalang membuang muka, dia juga sangat kesal karena anaknya sangatlah keras kepala.
__ADS_1
“Terserah, Papi. Papi memang orang yang egois. Mami meninggal juga karena keegoisan Papi. Apa Papi tak sadar tentang itu? Hah...Papi memang selalu benar dan tak pernah mau disalahkan.” Ucap Gavin dengan nada amarah. Sebelum amarahnya semakin memuncak, lebih baik dia pergi. Gavin lalu meninggalkan Papinya yang masih berdiri mematung, setelah mendengar ucapannya itu.
Braakkk... Suara pintu yang dibating sangat keras.
Dengan langkah cepat Gavin menuju mobilnya yang terparkir di depan gedung kantornya. Dia harus secepatnya sampai di rumah sakit. Sebelum Sarah pergi terlalu jauh.
"Tuan Muda mau kemana?" Ari berlari menghanpiri Gavin yang ingin masuk ke mobil.
"Kau tak perlu tahu, cukup sampai disini pengkhianatan yang kau lakukan padaku, Ri. Aku sangat kecewa padamu. Kau juga tak perlu jadi Asistenku lagi." Tanpa menatap Ari, Gavin masuk ke dalam mobilnya dan langsung tancap gas, mobilnya melesat jauh di kegelapan malam.
Ari menundukkan pandangannya. Dia menyesal telah mengkhianati bosnya itu. Dia juga tak bisa melewatkan kesempatan untuk mendapatkan uang banyak, karena saat ini dia sedang membutuhkan uang banyak untuk biaya rumah sakit istrinya.
"Maafkan saya, Tuan Muda. Terserah anda bisa memecat saya atau tidak akan memaafkan saya. Yang terpenting istri saya bisa selamat dan sehat kembali." Ari menatap jalan kosong yang ada didepannya.
"Kemana dia pergi, Ri?" Suara Tuan Gumalang terdengar dari arah belakang.
Ari lalu berbalik dan mundur memberi salam pada bos besarnya. "Maaf, Tuan. Tuan Muda saat ini marah pada saya, karena saya sudah menceritakan semuanya pada anda. Saya juga dipecat Tuan Muda, Tuan." Ari menunduk sedih karena sudah tak bekerja dengan Tuan Mudanya. Dia sudah hampir 10 tahun bekerja dengan Gavin, dan hanya karena satu kesalahan, membuat 10 tahun itu tak mempunyai berarti apapun.
Tuan Gumalang menepuk pundak Ari. "Tak apa, Ri. Kamu masih bisa bekerja pada saya. Bagaimana keadaan istrimu? Apakah sudah lebih baik?"
__ADS_1
"Terimakasih, Tuan. Istri saya saat ini sudah lebih baik. Hari ini sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit, Tuan. Terimakasih sudah membantu saya." Ari masih menunduk saat berbicara pada bosnya.
"Saya ikut senang. Kamu pulang saja lebih cepat hari ini, Ri. Supaya bisa mengantarkan istrimu pulang." Tuan Gumalang tersenyum pada Ari.