Tergoda Tuan Muda Tampan

Tergoda Tuan Muda Tampan
Bab. 34 Perkampungan


__ADS_3

Ari sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dia mendapat kabar dari Ibu mertuanya, bahwa istrinya masuk rumah sakit kembali. Sebelumnya, istrinya sudah masuk rumah sakit, karena terjadi pendarahan hebat. Sampai dia harus mencari donor darah yang pas dengan darah istrinya. Itu awal mula dia mengkhianati Gavin. Dia saat itu sedang butuh dana besar untuk membayar tagihan rumah sakit. Dan saat itu, kebetulan Tuan Gumalang mendengar perbincangannya dengan mertuanya.


📞“Bu, Tiara bagaimana keadaannya? Apakah sudah mendapat penanganan dari Dokter?” Ari sedang berbicara di telepon dengan Ibu mertuanya.


📞“Tiara sedang ditangani Dokter, Ri. Kamu sudah sampai mana?” Ibu mertua bertanya.


📞“Aku sedikit lagi sampai, Bu. Nanti, saya akan segera mengurus administrasi.” Setelah berbicara Ari menutup sambungan teleponnya. Sesampainya dia di rumah sakit, Ari langsung memarkir mobilnya dan segera berlari ke bagian Administrasi. Beberapa menit mengurus administrasi, dia berlari kembali ke ruangan operasi. Dia bertemu dengan Ibu mertuanya dan keluarga dari istrinya.


Ari dan Tiara saat ini sedang melakukan program hamil. Sudah hampir 3 tahun menikah, mereka belum dikaruniai


anak. Namun, saat usahanya sudah berhasil, dan Tiara bisa hamil. Sekarang, tiba-tiba saja Tiara mengalami pendarahan hebat. Rahimnya bermasalah. Kata Dokter, ada tumor ganas yang bersarang di rahim Tiara. Dengan terpaksa, Dokter harus melakukan operasi pengangkatan rahim, jika tak segera diangkat itu akan membahayakan nyawa Tiara.


Ari sangat shock ketika mendengar kabar yang sangat mengejutkan ini. Kakinya tiba-tiba melemas tak berdaya, dia pun terduduk di lantai, wajahnya menunduk, airmatanya mengalir deras. Dadanya terasa sangat sesak. Ingin berteriak tapi tak bisa.


Bagaimana, jika nanti Tiara sadar dan dia bertanya soal anak yang baru saja dikandungnya itu? Penjelasan apa yang akan aku sampaikan padanya, nanti? Sudah lama dia dan Tiara mendambakan seorang anak kecil. Namun, semua itu harus segera berakhir. Kenapa, Tuhan tak adil pada keluargaku? Ari memukul lantai dengan tinjunya.


Tiara berada di ruang operasi selama hampir tiga jam. Selama itu juga, Ari hanya berdiri mematung, menatap pintu ruang operasi. Dia tak banyak bersuara, mulutnya seperti terkunci. Keluarga dari mertuanya, sangat paham akan kondisi Ari sekarang. Mereka juga tak banyak bertanya pada Ari.


Setelah tiga jam, akhirnya pintu ruang operasi terbuka. Tiara didorong keluar oleh Suster menuju kamar rawat inap, dan Dokter yang mengoperasi Tiara berjalan menghampiri Ari. Dokter ingin membicarakan keadaan Tiara.


Di tempat lain.


“Hai, Tian. Apa yang kamu lakukan tengah malam seperti ini?” Bagus bertanya. Bagus adalah teman baru Tian di tempat barunya sekarang.


Tian sekarang berada di sebuah desa yang lumayan jauh dari kota. Dia bersembunyi disana supaya tak ada yang tahu keberadaannya.


“Aku sedang mencari angin, Gus. Kamu, sedang apa ikut keluar?” Tian balik bertanya.


“Sama. Aku juga sedang cari angin.” Bagus lalu duduk di sebelah Tian. Mereka berdua duduk di teras depan, kontrakan.

__ADS_1


“Besok, kau tak kerja? Jam segini masih belum tidur.” Bagus menoleh pada Tian, yang hanya menatap jalanan yang sudah sangat sepi.


Tian hanya mengangkat bahu untuk menjawab pertanyaan dari Bagus. Lalu dia menghembuskan napas pelan. Dia saat ini sedang bekerja sebagai tukang bangunan. Terlepas dari dia yang dulu hanya bisa minta uang pada Sarah, sekarang dia harus membanting tulang untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Perasaan bersalah selalu menghantuinya, selama 3 bulan terakhir ini, sudah tak terhitung berapa banyak dia bermimpi buruk.


Dan hari ini, dia juga bermimpi buruk lagi. Dia bermimpi, Sarah datang kepadanya dengan membawa sebilah pisau. Dengan wajah yang seram, Sarah membantainya tanpa ampun. Mimpi itu selalu datang berulang kali, setiap hari.


Bagus beranjak dari tempat duduknya. “Ayo, kita masuk. Besok kan kita harus bangun pagi untuk bekerja.”


Hemm.. Tian hanya menjawab seadanya. Dia masih duduk dan menyenderkan kepalanya di tiang tembok. Dia merenungi nasibnya yang semakin lama, semakin tak tahu arah.


Aku harus menemui Sarah di Ibukota. Aku harus meminta maaf padanya. Jika, dia mati aku akan berziarah ke kuburannya. Jika, dia masih hidup aku akan bersujud di hadapannya, meminta ampun. Aku akan menepati janji itu. Tangannya mengepal, memberi semangat pada dirinya sendiri.


Tian beranjak berdiri, masuk ke dalam kontrakan, bersiap untuk tidur kembali.


***


Malam mulai berganti dengan pagi. Setiap pagi, di kampung udaranya sangat sejuk, embun pagi masih terlihat disetiap helai rerumputan yang tumbuh segar. Setiap jam empat pagi, alarm di tubuh Sarah berbunyi. Dia sudah terbiasa bangun pagi, sebelum orang-orang bangun. Sarah mulai mencuci piring di dapur, walaupun dapurnya sangat sederhana tak ada wastafel seperti di rumah Gavin, dia tetap bersedia mencuci semua perabotan dapur yang kotor di rumah Bu Juariyah.


Bu Juariyah mendengar suara berisik dari dapur, dia pun bergegas menghampiri suara itu. Menyibakkan tirai pembatas antara dapur dan ruangan depan. Dia terkejut melihat Sarah sudah sibuk di dapur.


“Sarah, sepagi ini kamu sudah sibuk di dapur? Ibu saja belum bangun, kamu sudah sibuk sendiri.” Bu Juariyah mengikat rambutnya yang panjangnya sepundak, sudah banyak yang berwarna putih rambutnya.


“Saya hanya mencuci perabotan, Bu. Supaya nanti Ibu bisa segera memasak tanpa harus mencuci perabotan dahulu.” Ini memang sudah kebiasaannya melakukan pekerjaan rumah. Sarah sudah selesai mencuci piring. Dia bersiap mengambil sapu, namun sudah mencari kesana kemari masih belum ketemu juga.


Bu Juariyah melangkah ke kompor gas yang ada di dapur. Mulai mengambil beberapa bahan masakan, seperti bawang, cabai dan sayuran yang dia simpan di samping kompor. Dia melihat Sarah yang kebingungan.


“Kamu mencari apa?” Bu Juariyah bertanya.


Sarah tersenyum. “Saya mencari sapu, Bu.”

__ADS_1


“Oh, sapu. Itu ada di ruangan depan, dekat kursi panjang.” Ucap Bu Juariyah.


Dia sudah sibuk mengupas bawang dan memotong cabai, juga sayur.


Sarah berjalan masuk ke ruangan depan dan langsung menyambar sapu yang disenderkan di dinding tembok. Dia mulai menyapu dari dapur sampai ke bagian ruang tamu. Setelah itu, dia berganti sapu lidi untuk menyapu halaman depan.


Di luar masih sangat sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang lewat. Mungkin, mereka akan pergi ke pasar untuk belanja bahan makanan atau mereka akan bekerja di kota. Setiap orang yang lewat depan rumah Pak Kasim, pasti melirik Sarah yang sedang sibuk menyapu. Dua Ibu-Ibu yang hendak ke pasar juga lewat depan rumah Pak Kasim.


“Heh, Ibu. Wanita cantik itu siapa? Bukannya, anak-anak Mbok Ju laki-laki semua, ya? Kok tiba-tiba ada wanita di rumahnya.” Bisik ibu itu.


“Iya, juga ya. Apa mungkin itu calon menantunya Mbok Ju? Acch.. Tapi, masa iya, ada wanita cantik yang mau dengan anak Mbok Ju.” Timpal si Ibu satunya, dengan sedikit tersenyum.


Sarah menoleh pada Ibu-Ibu yang sedari tadi memperhatikannya.


“Pagi, Bu.” Sapa Sarah. Dia tersenyum ramah pada kedua Ibu itu. Mereka sontak kaget dengan sapaan Sarah. Mereka ketahuan sedang memperhatikan Sarah dan membicarakannya.


Mereka mengangguk bersamaan membalas sapaan Sarah. Lalu mereka melanjutkan perjalanannya ke pasar.


Setelah selesai menyapu halaman, Sarah duduk sebentar mengambil napas. Huh.. Sarah mengusap pelipisnya yang berkeringat. Sinar matahari mulai menyinari apa saja yang dilaluinya. Wangi aroma masakan Bu Juariyah tercium sampai di luar rumah, membuat perut Sarah menjadi lapar setelah bekerja dari bangun tidur.


“Bu, sudah selesai masaknya? Ibu masak apa, kok aromanya menggoda banget.” Sarah bertanya sambil melihat masakan yang ada di atas kompor.


“Masak sayur sop, sambal terasi dan tempe goreng.” Bu Juariyah menjawab dengan tersenyum.


Huuu.. “Wanginya bikin perut saya lapar, Bu.” Dia kembali mendekatkan wajahnya ke panci yang berisi sayur sop.


“Kamu, mau sarapan sekarang?” Bu Juariyah bertanya.


“Nanti saja, Bu. Saya mau mandi dulu. Badan saya sudah sangat bau.” Sarah mengambil handuknya yang tergantung di tali tambang.

__ADS_1


“Oh, ya. Sarah, kamu cukup memanggil saya Mbok Ju aja. Orang kampung sini biasa memanggil saya dengan panggilan itu.”


“Baiklah, Bu. Ehh, Mbok Ju.” Sarah tersenyum lalu melangkah keluar, menuju kamar mandi.


__ADS_2