
“Omong kosong apa yang Papi katakan. Sarah tak mungkin seperti itu. Sarah bukan wanita yang gampang kenal dengan pria lain.” Ucap Gavin sembari beranjak berdiri dan pergi meninggalkan papinya.
Hah.. Papi Gumalang menghela napas. “Terserah kamu, Vin. Kamu bisa membuktikan sendiri kalau Sarah memang bukan wanita yang baik untukmu.”
Gavin hanya mendengarkan celoteh papinya yang semakin menyakiti hatinya.
Brakk.. Suara pintu di banting. Gavin segera membuka baju, lalu berendam di bak mandi. Pikirannya melayang kemana-mana, memikirkan bagaimana nasib Sarah sekarang. Apa benar yang dikatakan papi, jika Sarah sudah pergi meninggalkannya dan pergi dengan pria lain?
Kepala Gavin saat ini sangat sakit, dia ingin istirahat sejenak setelah itu dia akan kembali ke rumah pak Kasim untuk mengecek, apakah Sarah masih ada di sana atau sudah pergi.
Setengah jam Gavin berendam di dalam bak kamar mandi. Setelah pikirannya kembali segar, dia keluar dari kamar mandi dan memakai baju tidur. Malam ini dia tak akan keluar kamar, dia harus mengumpulkan tenaga untuk rencanya besok.
Setelah Khan pergi, datanglah satu mobil dengan dua penumpang pria dengan badan kekar. Sarah hanya melihatnya dari balik jendela yang menghadap ke halaman depan.
“Apa yang akan aku lakukan sekarang? Aku tak punya teman mengobrol, aku hanya sendirian di sini. Walaupun ada dua orang itu, tapi mereka tak bisa diajak berbicara santai. Apalagi aku ini seperti tawanan mereka.” Hemm.. Sarah melangkah ke dapur, dia ingin mencari kesibukan supaya tak cepat bosan.
Dia membuka lemari es. Memilih sayur, daging, dan lauk lainya. Malam ini akan ada makanan lezat yang akan dia makan sendiri. Setelah semua bahan siap di atas meja dapur, dia mulai mengambil pisau dan celemek untuk melindungi bajunya supaya tak kotor.
Selama satu jam Sarah sibuk di dapur, memasak tiga hidangan sekaligus. Ada sayur sop dengan isian tulang iga, tak lupa dia menggoreng ikan dan memasaknya kembali dengan irisan cabai hijau yang di bumbui dengan saus tiram, dan yang terakhir dia membuat makanan penutupnya yaitu kue basah yang isiannya daging sapi dan sayur wortel yang sangat lezat.
Wangi masakan Sarah tercium sampai di luar rumah.
“Wangi masakan, Can. Bikin perut keroncongan aja.” Ucap Sandi sambil mengendus-ngendus aroma masakan.
“Iya. Aduh.. Aku udah laper banget, nih.” Candra mengusap perutnya yang semakin lapar.
__ADS_1
Tap Tap Tap.. Suara langkah kaki Sarah menuju ruang depan.
“Hai, kalian. Mau makan tidak? Saya udah masak banyak tuh. Makan bareng, yuk.” Seru Sarah sambil menunjuk makanan yang sudah terhidang di atas meja. Rencanya Sarah ingin makan malam sendiri, tapi itu tak mungkin. Karena masakannya terlalu banyak untuk dia sendiri.
Sejenak Candra dan Sandi berpikir, setelah itu mereka saling melempar pandangan. Karena, sudah tak tahan dengan perut laparnya itu, akhirnya mereka setuju untuk makan bersama.
Dengan cepat mereka mengambil piring dan segera menyendok nasi, mengambil sayur dan lauk. Airliur mereka hampir menetes melihat makanan yang tersedia di atas meja. Menggoda sekali masakan Sarah.
Hemm.. “Sarah, masakanmu enak banget. Rasanya pas banget di lidah kami, apa boleh aku nambah lagi?” Candra tanpa malu dia bertanya.
Sarah mengangguk. “Silahkan, makan sebanyak yang kalian mau. Masih banyak makanan di sini, jangan khawatir kehabisan.” Sarah menjawab dengan melemparkan senyum manisnya.
Mereka mengangguk dan melanjutkan memakan makanan yang masih tersisa di piring.
Beberapa menit berlalu, makanan di piring sudah habis. Makan malam mereka sangat menyenangkan. Tidak disangka, ternyata mereka berdua sangat asyik ketika sedang santai dan tidak sedang bekerja.
“Sarah, kamu kenapa bisa ada di rumah ini?” Jack bertanya.
Sarah sekilas menatap Jack yang masih sibuk memakan cemilan sambil menonton televisi.
“Kalau aku bercerita pada kalian, apakah kalian akan melapor ke Tuan Gumalang?” Tanya Sarah sambil menatap kedua penjaganya.
Seketika Jack dan Zein berhenti mengunyah, mereka menatap satu sama lain. Seolah-olah sedang memberikan kode. Setelah itu terdengar hembusan nafas dari kedua penjaga itu.
“Kita tidak mungkin melaporkan sesuatu yang tidak seharusnya dilaporkan, Sarah.” Ucap Zein, sekarang mereka berdua menatap Sarah.
Sarah mengangguk setuju dengan ucapan Zein.
__ADS_1
“Aku tak tahu kenapa aku bisa di rumah ini. Setahuku, Tuan Gumalang ingin aku menjauh dari Gavin. Dia tak sudi punya menantu yang miskin seperti aku.” Sarah menghela nafas, matanya terasa pedih saat mengingat Gavin.
“Lalu, apa yang bakalan kau lakukan setelah ini? Mungkin, sebentar lagi Tuan Gumalang akan menikahkan Tuan Muda dengan wanita yang keluarganya kaya raya, yang bisa sederajat dengan keluarga Gumalang. Apa kau sanggup jika itu benar-benar terjadi Sarah?” Secara terang-terangan Zein bertanya soal yang paling ditakutkan Sarah.
Sarah menggeleng pelan, “Aku tak tahu, Zein. Aku sudah menduga kalau Tuan Gumalang akan menjodohkan Gavin dengan wanita yang lebih kaya. Entah aku sanggup atau tidak, aku tak tahu.” Sarah menunduk, air mata yang menggenang di matanya akhirnya turun juga.
“Kau, menangis Sarah? Menangislah sepuasmu, karena mungkin hanya itu yang bisa mengobati rasa luka yang kau alami saat ini.” Ucap Zein dengan nada pelan.
“Aku menangis bukan karena aku takut kehilangan Gavin.” Sarah menyeka air matanya.
“Lantas, kau menangis karena apa?” Zein bertanya.
“Aku menangis karena, aku merasa sangat buruk dan sangat hina. Sampai orang lain saja tak mau menerimaku. Dari kecil orang tuaku sudah pergi meninggalkanku, mungkin itu karena aku penyebabnya dan pernikahan aku pun juga kandas di tengah jalan, aku juga penyebabnya dan sekarang, aku di asingkan di tempat ini, tempat yang jauh dari orang yang sayang padaku, semua itu aku juga yang jadi penyebabnya. Jika aku mengingat itu semua, rasanya aku ingin sekali mati saja, daripada harus hidup dengan hati yang tersiksa seperti ini.” Semakin tak terkendali air mata Sarah yang turun membasahi pipi.
Malam ini tiba-tiba turun hujan yang sangat deras, sesuai dengan perasaan dan hati Sarah yang sangat sedih. Hatinya terasa sedang di cabik-cabik sampai tak tersisa, jika harus mengingat setiap kejadian yang sangat membuatnya terpuruk.
“Sarah, mungkin lebih baik kamu pergi dari sini dan temui Tuan Muda.” Zein merasa kasian pada Sarah.
Sarah mendongak melihat Zein, juga Jack. Jack tak percaya jika Zein bisa berkata seperti itu.
Jack menyenggol lengan Zein. “Zein, yang benar saja. Jika, Sarah kabur dari rumah ini, kepala kita yang bakalan di penggal sama Tuan Gumalang. Kalau bicara itu yang benar-lah. Jangan terbawa perasaan kaya gini.” Jack melotot pada Zein.
“Tapi aku kasian pada Sarah. Aku tak tega melihatnya sendirian di sini. Seharusnya dia bisa bebas beraktivitas di luar sana seperti wanita-wanita yang lain. Bukannya di kurung di rumah ini, dan entah kapan dia akan bisa bebas. Ini seperti penjara, Jack.” Zein membalas ucapan Jack yang tak punya hati sedikit pun pada wanita.
“Itu sudah risiko yang harus Sarah tanggung sendiri, Zein. Itu salah dia yang sudah mendekati majikannya sendiri. Padahal, sudah di larang berkali-kali. Kenapa, kau jadi pakai perasaan seperti ini. Tuan Gumalang mengirim kita ke sini untuk mengawasinya, bukannya menyuruhnya kabur. Gimana sih.” Jack tak mau kalah berdebat dengan Zein.
Sarah terdiam mendengar mereka mendebatkan masalah pribadinya, lalu dia beranjak berdiri dan melangkah pergi menuju kamarnya meninggalkan dua orang penjaga yang masih sibuk berdebat.
__ADS_1