
“Vin.” Bisik Sarah di telinga Gavin.
“Biarkan aku seperti ini sebentar saja, Sarah. Aku sangat merindukan pelukan darimu, ingin rasanya aku menghentikan waktu, supaya kita bisa seperti ini lebih lama lagi.” Ucap Gavin. Dia semakin membenamkan wajahnya di pundak Sarah.
Sarah hanya bisa pasrah, sebenarnya dia juga merindukan pelukan dari Gavin. Wangi aroma tubuh Gavin mengobati rasa sakit hati yang dia alami selama beberapa hari terakhir ini. Sarah mulai mempererat pelukannya.
Setelah puas memeluk tubuh Sarah, Gavin melonggarkan pelukannya dan menatap lamat-lamat wajah cantik Sarah. Seketika itu mata mereka saling beradu pandang.
“Sarah, aku sangat mencintaimu. Jangan pernah kamu meninggalkanku lagi, aku tak bisa hidup tanpamu Sarah.” Gavin membingkai wajah Sarah dengan ke dua tangannya, dia lalu mencium kening dan berpindah ke bibir manis Sarah. Beberapa detik kemudian mereka sudah berciuman. Setelah itu Gavin melepas ciumannya dengan perlahan.
“Ayo kita pergi dari sini, Sarah. Aku akan membawamu ke tempat yang lebih aman untukmu. Dan yang terpenting, aku bisa menemuimu setiap hari.”
“Kamu mau membawaku ke mana? Nanti kalau Papi kamu tahu, aku akan ada dalam bahaya lagi, Vin.”
“Kali ini Papi tidak akan menemukan kita. Sekarang kita harus pergi, sebelum mereka tahu kalau aku ada di sini.” Gavin melangkah mendekati lemari baju, lalu membukanya dan merapikan baju-baju Sarah.
Sarah hanya berdiri mematung melihat Gavin sedang merapikan baju-bajunya. Rasanya masih seperti mimpi melihat Gavin sekarang ada di depan matanya. Hatinya sangat senang sekaligus khawatir.
Setelah merapikan semua baju, Gavin dan Sarah keluar dari kamar dan berjalan pelan menuju pintu keluar. Anak buah Tuan Gumalang masih tertidur pulas, mereka masih belum sadar kalau ada yang keluar dari rumah itu.
Aacchh.. Zein merenggangkan tubuhnya, namun matanya masih terpejam. Lalu dia tertidur kembali dengan mengganti posisi, sementara Jack masih belum bergerak.
Mereka berdua menghentikan gerakan kaki, saat melihat Zein bergerak. Menghela nafas sebentar, lalu melanjutkan melangkah lagi. Akhirnya dengan perjuangan mengendap-endap tadi, mereka sampai di teras depan. Gavin kembali menutup pintu rumah itu dan bergegas berlari masuk ke dalam mobil.
“Kamu harus memasang sabuk pengaman, karena aku akan menyetir lebih cepat daripada biasanya.” Ucap Gavin sambil menghidupkan mesin mobilnya dan mulai memakai sabuk pengaman untuk dirinya sendiri.
Emm.. Sarah mengangguk dan tangannya memasang sabuk pengaman. Mobil melaju dengan cepat, tak butuh waktu lama mobil Gavin sudah memasuki jalan raya. Sudah sangat jauh mereka meninggalkan rumah itu.
Gavin sangat fokus dengan jalanan di depannya, dan Sarah hanya menatap pemandangan di luar jendela. Hari ini dia sudah bebas, sudah bisa melihat dunia luar kembali. Sarah beberapa kali tersenyum, ketika melihat pemandangan indah yang mereka lewati.
“Vin, apa yang ingin kamu ceritakan kepadaku?” Sarah menoleh ke arah Gavin.
__ADS_1
Wajah Gavin berubah murung, sepertinya sangat susah untuk dia mengatakan apa yang seharusnya dia katakan.
“Tapi aku tak ingin melihatmu menangis, Sarah.” Gavin sekilas menatap ke arah Sarah.
“Kenapa aku harus menangis? Apa ini kabar buruk untuk hubungan kita?”
Hemm.. Gavin mengangguk dan menghela nafas berat.
“Katakan saja, Vin. Aku tak apa, jangan pikirkan perasaanku.” Sarah menunduk.
Gavin menepikan mobilnya di pinggir jalan, lalu dia menggenggam tangan Sarah. mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. “Aku akan bertunangan dua minggu lagi, Sarah.” Gavin menatap Sarah yang masih tertunduk lesu.
Sarah tak sanggup menatap wajah Gavin, air matanya sudah tumpah keluar ketika mendengar perkataan Gavin. Rasanya seperti di jatuhi benda yang sangat berat sampai dirinya tidak bisa bergerak. Hanya bisa menghela nafas dan sesekali tangannya menyeka air mata yang tak bisa berhenti.
Gavin semakin erat menggenggam sebelah tangan Sarah. Dia tahu rasanya ada di posisi Sarah saat ini. Melihat Sarah menangis seperti itu, hati Gavin sangat hancur. Rasanya dia sudah gagal membahagiakan wanita yang sangat dia sayangi.
“Sarah.” Tangan Gavin menarik wajah Sarah untuk menoleh ke arahnya. “Jangan menangis seperti ini, Sarah. Aku tak sanggup melihatmu seperti ini.” Gavin menyeka air mata Sarah yang terus mengalir.
Gavin sedikit mendekat dan memeluk tubuh Sarah dengan erat. “Sarah, tolong berhenti menangis. Ini sangat menyiksaku.” Gavin juga ikut menangis.
Sarah berusaha melepaskan pelukan Gavin. Tapi tak bisa, Gavin semakin mempererat pelukannya.
“Lepaskan aku, Vin. Kamu sudah akan bertunangan dengan wanita lain, jangan mendekatiku lagi.” Sarah berkata dengan suara yang bergetar.
Gavin menggeleng. “Tetaplah ada di sisiku, Sarah. Aku tak akan mencintainya walaupun hanya seujung rambut. Cintaku hanya untukmu, aku tak akan membagi cinta ini untuk orang lain.”
“Itu tak mungkin, Vin. Setelah kamu bertunangan, kamu akan segera menikah dengannya. Setiap hari kamu akan selalu melihatnya dan bersamanya. Dan di saat itulah tumbuh benih cinta dalam hati kalian seperti aku dan kamu dulu.” Sarah menjawab.
“Itu tak mungkin, Sarah. Percayalah padaku.” Sebisa mungkin Gavin meyakinkan Sarah.
“Sayangnya aku tak percaya dengan kata-katamu, Vin.” Sarah masih terus memberontak, supaya bisa lepas dari pelukan Gavin.
__ADS_1
“Jika aku tak menepati janji itu, kamu bisa membunuhku saat itu juga, Sarah.” Gavin melepaskan pelukan dan menatap mata Sarah yang memerah karena menangis.
Sarah menggeleng, dia memalingkan wajah dan menyeka air mata yang masih terus mengalir keluar.
“Percaya-lah.” Ucap Gavin, lalu melanjutkan perjalanan mereka kembali.
Ari masih mengikuti mobil Gavin. Namun, kali ini dia tidak melapor pada Tuan Gumalang.
“Mereka berdua mau kemana?” Gumam Ari dengan matanya masih fokus menatap mobil Gavin yang tepat di depannya.
Gavin belum menyadari bahwa Ari mengikutinya sampai di sebuah villa sederhana miliknya sendiri. Di sini suasananya lebih tenang, sejuk dan segar. Banyak pepohonan yang menjulang tinggi di setiap sisi jalan.
“Kita mau kemana, Vin?” Sarah menoleh pada Gavin.
“Aku akan mengajakmu ke villa milikku sendiri, Sarah. Kita akan tinggal di sana.” Jawab Gavin.
“Tapi, kamu kan harus kembali ke rumah. Nanti kalau Papimu mencari keberadaanmu bagaimana?”
Hah.. Gavin menghela nafas, “Papi kali ini tak mungkin mencariku. Karena dia tahu kalau aku pasti akan pulang dan menepati janjiku padanya.”
Karena isi surat perjanjian itu menyangkut nyawa Sarah. Maka dari itu dia harus memperjuangkannya.
Akhirnya mereka sampai dan mobil memasuki pekarangan villa. Mereka berdua keluar bersamaan, memandangi pepohonan yang hijau dan rumput-rumput hijau yang di rawat setiap hari. Gavin mengagandeng tangan Sarah untuk memasuki villa. Di sini ada dua pembatu dan satu pengurus kebun, mereka sudah bekerja di sini hampir lima tahun lamanya.
“Mari masuk. Aku akan memperkenalkan dirimu dengan pembantu dan pengurus kebun di rumah ini.” Gavin tersenyum.
Namun, sebelum mereka masuk ke villa, ada mobil sedan hitam ikut memasuki pekarangan villa. Sarah dan Gavin terkejut, mereka takut jika penumpang mobil itu adalah papinya. Tapi mereka salah sangka, ternyata itu Ari.
Ari memutuskan untuk menemui mereka, dan ingin berbicara secara langsung.
“Kenapa kau mengikutiku. Apa Papi yang menyuruhmu?” Gavin melangkah maju mendekati Ari.
__ADS_1