
Tania mengangguk memberikan kode pada Gavin. Lalu dia memulai pertunjukkan yang sudah mereka susun tadi.
Aachh.. Tania melemparkan cincin yang dia bawa ke kerumunan para tamu undangan. Para tamu undangan sontak terkejut dengan sikap Tania yang tiba-tiba membuang cincin pertunangannya itu.
“Kau, berani-beraninya berdiri di hadapanku sekarang. Apa kau tak punya malu? Sudah aku tolak berkali-kali, kau masih saja berusaha ingin memilikiku. Sudah aku bilang, aku sudah punya kekasih. Apa telingamu tak bisa mendengar?” Tania menggeleng, dia pura-pura menampakkan wajah kesal.
“Aku hanya tak mau kehilangan wanita secantik dan sebaik dirimu, Tania.” Gavin berusaha menyentuh tangan Tania, namun dengan cepat Tania menepis tangan Gavin.
“Jangan pernah menyentuhku, Gavin. Aku jijik dengan dirimu.” Tania-pun menuruni panggung dan meninggalkan Gavin yang masih berdiri mematung di sana. Dia lalu berlari keluar hotel dengan pura-pura menampakkan wajah yang masih kesal.
Para orang tua mereka dan para undangan hanya termangu melihat pertunjukan yang dramatis itu.
“Apa yang sudah terjadi ini?” Bisik wanita yang sedang berdiri tak jauh dari orang tua Tania.
“Entah. Apa mereka dijodohkan. Zaman sekarang masih ada saja yang menjodoh-jodohkan anak-anak.” Balas wanita di sebelahnya.
“Pi, bagaimana ini? Kita sudah sangat dipermalukan.” Bisik Rara istri Frans.
“Aku rasa ini memang rencana mereka, yang tak mau dijodohkan. Mereka sengaja membuat keributan supaya acara pertunangan ini gagal.” Jawab Frans dengan suara tenang.
“Apa itu benar?” Rara masih bingung dengan sikap anaknya itu.
“Cia, apa kamu ikut dalam skenario ini?” Papinya menatap Cia yang masih berdiri di samping mereka.
“Aku?” Cia menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk. “Aku kan sedari tadi dengan Papi dan Mami, mana ada aku ikut-ikutan rencana kenak-kanakan itu.” Cia menampakkan wajah kesal.
“Tapi, kamu tadi kan sempat mengobrol dengan mereka berdua.” Papinya masih menyangkal jawaban Cia.
“Cia hanya basa-basi dengan mereka, Pi. Kita cuma mengobrol tentang masa kecil kita yang seringkali berantem saat kita berkumpul, itu saja. Papi tak percaya dengan Cia?” Cia melotot pada Papinya.
Heem.. Frans menghela nafas panjang. Dia lalu menghambil handphone di kantong celananya dan menelepon anak buahnya.
“Kamu apa-apan, Vin. Kenapa buat Papi malu.” Papi Gumalang melotot pada Gavin yang baru sampai di depannya.
“Memang aku salah apa, Pi. Yang ngebatalin pertunangan ini kan Tania, kenapa Papi marah padaku?” Gavin memasukkan kedua tanganya di masing-masing kantong celana.
“Kamu sudah merencanakan ini semua, kan? Papi tahu semua akal bulusmu. Kau tak pernah menyukai Tania. Dan semua ini hanya sandiwara kalian!!" Dada papi Gumalang turun naik karena sangat kesal.
“Aku merencanakan apa? Aku saja tak tahu apa-apa.”Gavin masih menjawab dengan tenang.
__ADS_1
“Pembohong!!” Plakk.. Papinya menampar pipi Gavin.
Gavin terkejut, dengan perasaan kesal dia melotot pada papinya, tanpa berkata lagi dia langsung pergi meninggalkan papinya yang masih melotot padanya.
Tamu yang kebetulan melihat kejadian itu, mereka memilih diam tak berani bertanya pada Gumalang dan Gavin.
“Lang, kenapa kau menampar Gavin. Itu bukan salahnya, yang bersalah adalah Tania. Kau seharusnya lebih bisa bersabar, Lang.” Ucapa Frans saat dia mendekati sahabatnya itu.
“Aku sudah tak bisa bersabar menghadapi anak itu, Frans. Gavin tak pernah menyukai Tania, dia hanya menyukai satu wanita.” Gumalang masih sangat kesal, kedua tangannya masih saja mengepal.
“Untung ini hanya pertunangan, Lang. Kalau ini pernikahan, bisa-bisa kau membunuh anakmu sendiri.” Frans terkekeh.
“Bisa jadi.” Jawab Gumalang dengan suara dingin.
“Sudah, jangan marah lagi. Tak apa, mungkin mereka memang tak berjodoh.” Frans berusaha menenangkan sahabatnya.
Di luar hotel.
Hah Hah Hah.. Nafas Tania tersengal-sengal karena berlari tadi. Dia menelan ludah lalu berusaha berdiri tegak. “Di mana Ryan. Kenapa dia tak ada di sini?” Tania mencari-cari kekasihnya itu di pinggir jalan.
“Tania, mau kemana kamu?” Teriak Cia dari kejauhan.
“Memangnya kamu janjian di mana sama dia.” Tanya Cia.
“Aku sudah janjian di sini, Ka. Tapi, aku tak menemukannya. Nomornya juga gak aktif, aku gak bisa menghubunginya.” Tania menghentakkan kakinya, karena kesal.
Setelah pertunangan batal, Gavin langsung tancap gas menuju villa miliknya. Sarah pasti sudah menunggunya di sana.
Di dalam perjalanan Gavin baru teringat dengan kedua teman wanitanya tadi.
“Halo, Cia. Apa kau sudah bertemu dengan Tania?” Tanya Gavin di telepon.
“Halo, Vin. Aku sekarang sudah bersama dengannya. Tapi, Tania kehilangan kekasihnya. Dia sedang marah-marah sekarang, Vin.” Jawab Cia dari seberang telepon.
“Emm... Apa perlu aku kesana? Mungkin sekarang saatnya aku membalas kebaikan kalian." ucap Gavin sambil tersenyum sendiri.
“Boleh juga tawarannya. Jemput kami di pinggir jalan depan gedung tua yang tak jauh dari hotel tadi, Vin.” jawab Cia.
__ADS_1
“Baiklah.” Gavin mematikan teleponnya dan langsung memutar setir mobilnya untuk kembali menjemput kedua wanita itu.
Setelah satu menit mobil Gavin sampai di pinggir jalan sesuai arahan Cia tadi. Kedua wanita itu sedang menunggunya di pinggir jalan. Melihat mobil Gavin sudah sampai, mereka langsung berlari memasuki mobil Gavin.
“Terimakasih, Vin. Sudah menjemput kita.” Ucap Cia dengan tersenyum bahagia.
“Sama-sama. Berarti kita impas, ya.” Gavin berkata. “Lalu, kalian mau kemana? Khusus hari ini aku akan mengantar kalian kemanapun kalian pergi.”
“Serius kau, Vin. Aku sangat ingin mencari Ryan. Kemana dia sebenarnya, kenapa dia tak menungguku di tempat tadi. Kita harus ke rumahnya sekarang." Tania mengepalkan kedua tangannya.
"Rumahnya di mana?" tanya Gavin sambil terus fokua menyetir.
"Rumahnya ada di jalan Gandaria, belakang hotel Gandaria.” Tania langsung bersemangat.
“Oke, Nona-Nona cantik. Pakai sabuk pengaman kalian, mobil akan melesat dengan cepat.” Jawab Gavin. Dia langsung menambah kecepatan mobilnya, supaya cepat sampai di tempat tujuan.
Butuh waktu setengah jam untuk sampai di rumah Ryan. Saat mereka sampai di gang rumah Ryan, mobil Gavin tak bisa masuk. Dengan terpaksa mereka bertiga turun dan berjalan kaki menuju rumah Ryan.
“Kau sering ke sini, Tan?” Cia bertanya.
“Tak juga. Aku ke sini kalau Ryan tak ada kabar saja.” Jawab Tania dengan suara malas.
Cia tiba-tiba mengehentikan langkahnya. “Apa Ryan seringkali seperti ini padamu?” Cia menatap wajah adiknya.
Tania mengangguk lemas. “Entah kenapa aku masih mempertahankan hubungan ini, Ka. Sebenarnya aku lelah dengan hubungan yang tak tahu arah seperti ini.” Wajah Tania berubah sedih saat berkata seperti itu.
“Aduh, Tania. Bodoh sekali dirimu. Lebih baik tadi kau bertunangan saja dengan Gavin, daripada harus kembali lagi dengan pria brengsek seperti dia.” Cia memukul kepala adiknya.
“Aduh, Kakak. Sakit tahu!!” Tania melotot pada Cia dan mengusap kepalanya yang sakit.
“Hei kalian!!” Seru Gavin. Dia sekarang memasang wajah kesal.
“Apa. Kamu mau marah padaku?” Cia melotot pada Gavin. “Lalu kau juga, Vin. Kenapa tadi menolak bertunangan dengan adikku.” Cia sekarang bertanya pada Gavin dengan garang.
“Sebelumnya kan aku sudah bercerita, kalau aku sudah punya kekasih yang sangat mencintaiku. Tak seperti kekasihnya Tania, yang suka menghilang seperti hantu.” Gavin membela diri sendiri dan memalingkan wajahnya.
Hah.. “Aku pusing dengan kalian.” Cia memijit kepalanya yang sebenarnya tak pusing.
“Sudahlah, Kak. Ayo ke rumah Ryan. Gak ada gunanya Kakak marah-marah seperti ini.” Tania berjalan lebih dulu. Dan mereka berdua mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Rumah Ryan ada di dalam gang yang sempit, kalau ada motor lewat badan mereka harus miring terlebih dahulu, supaya tak tersenggol.