
Gavin tidur sekamar dengan Pak Kasim, dan Sarah tidur sekamar dengan Bu Juariyah. Karena, mereka belum menikah, jadi mereka tak diperbolehkan tidur sekamar.
Di kamar Pak Kasim tak ada AC, hanya ada kipas. Gavin yang terbiasa menggunakan AC, tak bisa tertidur pulas. Kamar terasa sangat panas dan pengap. Dia berguling sana berguling sini, sampai menimbulkan suara yang berisik. Pak Kasim terbangun dari tidurnya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya melihat Gavin yang belum juga tidur.
“Nak, apa yang kamu lakukan? Kenapa belum juga tidur. Ini sudah sangat malam.” Pak Kasim bertanya.
Gavin terkejut, dia menoleh pada Pak Kasim. “Ehh.. Pak Kasim jadi terbangun, ya.” Hoaam.. Gavin menguap. Dia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.
“Iya. Kenapa kamu belum juga tidur?” Pak Kasim mengucek matanya.
“Saya kepanasan, Pak. Saya tak bisa tidur jika udaranya sangat panas.” Gavin mengibas-ngibaskan tangannya di depan dadanya, menjadikan tangannya sebagai kipas.
“Maaf, ya, Vin. Di rumah Bapak tak ada AC seperti di rumahmu. Hanya ada kipas kecil disini.” Ucap Pak Kasim.
“Saya yang seharusnya minta maaf, Pak. Saya sudah berisik dan Bapak sampai terbangun.” Gavin menunduk, dia beringsut turun dari ranjang dan hendak keluar kamar.
“Sekarang kamu mau kemana,Vin.” Pak Kasim bertanya.
Gavin berhenti melangkah dan menoleh. “Saya mau mandi, Pak. Saya tak kuat dengan keringat yang terus mengalir di badan saya. Terasa lengket sekali badan saya.” Gavin tersenyum terpaksa, tangannya menggaruk rambut kepalanya yang tak gatal.
Pak Kasim bangun dari tidurnya dan duduk di ranjang, mengernyitkan dahi. “Kamu yakin, mau mandi tengah malam begini, Vin? Air disini sangat dingin saat malam hari.” Ucap Pak Kasim.
“Tak apa, Pak. Justru itu yang saya cari, dengan mandi di tengah malam seperti ini, mungkin bisa menghilangkan
keringat di badan saya.” Setelah menjawab Gavin melangkah keluar menuju kamar mandi. Walaupun kamar mandi di rumah Pak Kasim berada di luar rumah, dia tak takut. Paling juga hanya hantu yang akan ditemuinya nanti.
Gavin masuk ke dapur dan meraih handuknya yang tergantung di tali tambang. Dia lalu membuka pintu belakang dan berjalan masuk ke kamar mandi. Hanya lampu kuning yang menerangi pintu belakang rumah. Lampu kamar mandi juga memakai lampu kuning. Suasana seram mulai terasa saat Gavin melangkah keluar dari rumah. Dia berjalan selangkah demi selangkah menuju kamar mandi. Kamar mandi yang letaknya tak jauh dari rumah, tapi saat tengah malam begini, terasa sangat jauh sekali.
Gavin sedang berkonsentrasi penuh saat melangkah, dia takut salah berpijak. Tapi, saat itu juga terdengar suara langkah kaki dari arah belakang. Gavin berhenti melangkah, dia ingin sekali menoleh ke belakang. Namun, kepalanya terasa terkunci, sangat susah untuk digerakkan. Semakin dekat suara langkah kaki itu. Bulu kuduk Gavin semakin merinding, jantungnya berdetak cepat, napasnya juga tak beraturan. Keringat dingin mulai keluar. Gavin sesekali menelan ludahnya sendiri.
Saat ketegangan menyeliputi pikiran dan hatinya, tiba-tiba ada tangan yang memegang pundaknya. Blupp..
Gavin menutup mata. Dia meringis, karena ketakutan. Gavin menelan ludahnya lagi. Badannya terasa kaku, tak bisa lari. Aduhh, siapa sih yang ada di belakangku. Batin Gavin.
__ADS_1
Saat dia ingin berteriak minta tolong, terdengar suara wanita.
“Vin, kamu kenapa?” Suara lembut Sarah terdengar dari arah belakang. Setelah mendengar suara Sarah, Gavin langsung bernafas lega. Dia menoleh kebelakang, dan tersenyum pada Sarah. Ternyata suara langkah kaki yang mengikutinya dari belakang, adalah langkah kaki milik Sarah.
Hufftt.. Gavin menghembuskan napas. Dia mencoba tersenyum kembali supaya tak terlihat sedang gugup. Dia mengira Sarah adalah hantu yang sedang mengikutinya. Gavin mengusap keringat di pelipisnya.
“Kenapa, kamu tak menyahut saat aku panggil tadi? Lalu, kamu mau apa, tengah malam begini keluar rumah, Segala bawa-bawa handuk.” Sarah mengeryitkan dahi, terheran dengan tingkah laku pria di depannya itu.
“Aku mau mandi. Sangat panas di kamar tadi. Aku tak bisa tidur. Rasanya aku tak kuat, jika harus menunggu besok pagi, mandinya.” Jawab Gavin dengan wajah memelas.
“Kamu yakin, mau mandi tengah malam, Vin? Nanti, kalau kamu masuk angin, bagaimana?” Sarah menatap pria tampan di hadapannya.
“Tapi, badanku sudah sangat lengket dan bau, Sarah. Coba kamu cium sini, pasti tercium bau keringat di ketiakku.” Gavin menyodorkan ketiaknya pada Sarah.
Sarah dengan cepat mundur beberapa langkah, menghindari ketiak Gavin yang bau keringat. Sarah mengibaskan tangannya.
"Kenapa, kamu mundur Sarah. Aku ingin kamu tahu, kalau aku tak bohong." Gavin melangkah maju.
"Jangan mendekat!!" Seru Sarah, sambil kelima jarinya diangkat ke depan, menghasang Gavin.
“Kamu cuci muka saja, Vin. Setelah itu, kita duduk santai di kursi ini. Sambil menikmati sinar terang rembulan dan indahnya bintang malam ini.” Sarah memiringkan kepalanya ke kursi yang ada di sebelahnya.
Gavin menampakkan wajah tak setuju dengan ucapan Sarah. Bibirnya cemberut dan wajahnya masam. Namun, dia tetap ke kamar mandi hanya untuk cuci muka dan sekalian membasahi rambutnya, supaya lebih segar.
Beberapa saat, Gavin kembali dari kamar mandi dengan baju yang setengah basah, terkena tetesan air dari rambutnya. Sarah melotot melihat Gavin, orang ini sangat keras kepala sekali, tak mendengarkan ucapannya.
“Kenapa, kamu basah-basahan seperti ini, Vin.” Seru Sarah. Dia lalu melemparkan handuk ke wajah Gavin. Dia sangat kesal saat ini.
“He he he.. Aku tak tahan, jika sudah melihat air, sayang.” Seperti tak punya salah, Gavin malah tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi putihnya.
Huhh.. Sarah semakin kesal pada Gavin. Dia lalu meninggalkan Gavin sendirian di belakang rumah. Melihat Sarah sedang marah, Gavin segera menarik tangannya. Namun, dengan cepat Sarah mengibaskan tangan Gavin, sampai terhempas ke udara. Dia lalu masuk ke dalam rumah tanpa berkata apapun.
Gavin jadi merasa bersalah, karena tak mendengarkan ucapan Sarah. Dia lalu duduk di kursi belakang rumah sendirian, menikmati angin malam yang menerpa wajahnya. Dia menatap langit yang penuh dengan bintang. Menakjubkan, itu yang pertama kali terlintas di pikiran Gavin.
__ADS_1
“Benar apa yang dikatakan Sarah. Bintang malam ini memang sangat indah.” Gavin tersenyum sambil menatap bintang dan rembulan.
“Ucapanku memang selalu benar.” Seru Sarah dari arah belakang. Gavin terkejut sampai hendak terjatuh dari kursi yang dia duduki.
Sarah melemparkan kaus polos ke badan Gavin. Dengan cepat Gavin menangkap kaus pemberian Sarah. Dia lalu berganti pakaian di kamar mandi. Walaupun Sarah sedang marah, tapi dia tak akan tega membiarkan orang yang dia sayang jatuh sakit.
“Aku pikir, kamu masih marah. Dan tak mau bicara lagi padaku.” Gavin kembali dari kamar mandi. Dia lalu duduk kembali di kursi semula.
“Aku memang masih marah padamu." Sergah Sarah. "Tapi aku tak akan setega itu, membiarkanmu kedinginan. Jika kamu sakit, aku juga nanti yang akan repot.” Sarah memalingkan wajah, lalu menatap langit malam yang indah. Rasanya ingin sekali pergi ke langit dan bertemu dengan banyak bintang disana. Pasti akan sangat seru dan menyenangkan. Sarah tersenyum tipis.
“Terimakasih, sudah peduli padaku. Kamu memang yang terbaik, Sarah.” Gavin menarik tangan Sarah. Dan mendudukkannya di pangkuannya.
Sarah terkejut, dia tak sempat memberontak. Dengan sekuat tenaga dia ingin berdiri. Namun, Gavin memeluk Sarah dengan erat. Gavin meletakkan dagunya di atas pundak Sarah. Napas Gavin berhembus pelan. Sarah menelan ludah, dia sangat gugup jika berada di situasi yang seperti ini.
Beberapa detik kemudian, mereka saling tatap. Tak ada rasa marah lagi di hati Sarah. Sekarang malah muncul pikiran ingin mencium bibir Gavin. Namun, dia segera menghilangkan pikiran kotor itu. Tapi, berbeda dengan Gavin. Dia tanpa permisi, langsung menyambar bibir Sarah yang terbuka sedikit.
Gavin mencium bibir Sarah. Memaksakan lidahnya masuk ke dalam rongga mulut Sarah. Sarah terbawa suasana, matanya terpejam. Dia membalas ciuman Gavin, dengan mengalungkan kedua tanganya di belakang kepala Gavin. Gavin pun semakin mempererat pelukannya. Di bawah sinar rembulan, mereka saling menautkan hati mereka.
Braakk.. Suara benda jatuh dari dalam dapur, membuyarkan suasana romantis. Mereka terkejut, melepaskan ciuman dan berdiri berjauhan.
Pintu dapur dibuka dari dalam. Wajah Pak Kasim muncul dari sana. Pak Kasim sempat kaget, sampai mundur lagi, setelah kakinya selangkah keluar dari pintu. “Astaga, apa yang kalian lakukan tengah malam begini di belakang sini?” Pak Kasim mengerutkan dahi. Benar-benar tak disangka anak muda jaman sekarang, perilakunya di luar dugaan.
“Saya habis mandi, Pak. Ini saya sedang membawa handuk dan sudah berganti pakaian.” Jawab Gavin sambil tersenyum.
“Kamu jadi, mandi tengah malam, Vin?" Pak Kasim sungguh terheran dengan perilaku Gavin.
"Benar-benar tak disangka, kamu sekuat itu dengan air dingin. Saya saja, yang dari kecil tinggal disini, tak pernah berani mandi tengah malam begini.” Pak Kasim menggelengkan kepala.
“He he he, iya, Pak.” Jawab Gavin.
“Sudah, kalian masuk sana. Nanti, masuk angin.” Pak Kasim menyuruh mereka segera masuk. Dia lalu melangkah menuju kamar mandi.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah bersamaan. Saat melangkah Gavin tak sengaja menendang benda yang terjatuh tadi.
__ADS_1
“Oh, ini yang tadi jatuh. Bikin kaget saja.” Gavin meletakkan kembali panci di dapur.
Sarah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar Bu Juariyah. Lalu Gavin juga masuk kembali ke dalam kamar Pak Kasim.