
Papi Gumalang beranjak berdiri dari kursi, dia berjalan mendekati Gavin.
“Kamu benar, Vin. Papi yang menyuruh Sarah pergi dari kehidupanmu. Tapi itu semua demi kebaikanmu. Papi ingin kamu menikah dengan wanita yang Papi pilihkan untukmu.” Papi Gumalang mengusap lengan Gavin.
Gavin dengan kasar menepis tangan papinya. “Aku tak mau menikah dengan wanita manapun. Meskipun Papi memaksaku. Aku lebih baik pergi dari rumah daripada harus menikah dengan wanita lain yang aku tak pernah mencintainya.” Gavin sudah mengambil keputusan untuk melawan papinya demi Sarah.
“Soal cinta bisa tumbuh kapan saja, Vin. Yang terpenting kamu harus menikah dulu dengan wanita pilihan Papi.” Papi Gumalang tidak mau kalah dengan Gavin.
Gavin hanya menatap wajah papinya yang sudah mulai keriput. Orang tua satu ini sama kerasnya dengan dirinya. Gavin berfikir sejenak, bagaimana caranya membujuk papinya supaya mau memberi tahu dimana Sarah sekarang.
“Baiklah, jika itu yang Papi inginkan. Aku akan menuruti apa kata Papi.” Akhirnya Gavin menyerah dengan keputusan papinya.
“Itu baru anak Papi. Papi bangga punya anak sepertimu, Vin.” Senyum bahagia terukir di wajah tua papinya.
Setelah mendapat persetujuan dari Gavin, papinya berbalik badan ke meja kerjanya dan mengambil map yang berisi selembar kertas. Di atas kertas tertulis perjanjian persetujuan pernikahan yang harus ditanda tangani Gavin.
“Tanda tangan di sini, Vin.” Papinya menyerahkan map itu.
“Apa ini, Pi?” tanya Gavin.
“Itu perjanjian kita, Vin. Kamu bisa membacanya terlebih dahulu sebelum menandatanganinya.” Ucap Papinya sambil menyerahkan bulpen ke Gavin.
Gavin menerima bulpen itu dan mulai membuka map yang dia pegang, lalu membacanya dengan seksama. Wajahnya terlihat serius, sesekali dia menaikkan sebelah alisnya, seperti ada yang aneh dengan isi perjanjian itu.
“Perjanjian macam apa ini, Pi? Kenapa isinya seperti ini, hanya pihak Papi yang diuntungkan dalam perjanjian ini.” Gavin menatap papinya sekilas, lalu matanya berpindah kembali ke kertas perjanjian itu.
“Itu sudah sangat adil bagimu, Vin. Jika kamu mau menandatanganinya, hari ini juga detik ini juga Papi akan memberitahumu, di mana Sarah sekarang.” Papi Gumalang berkata dengan kedua tangan diletakkan di depan dada.
Hah.. Gavin menghela nafas. “Tapi ini memang tak adil, Pi. Kenapa aku harus bertunangan dengan wanita yang tak pernah aku kenal sebelumnya?”
“Setelah pertunangan itu, kamu juga pasti akan mengenalnya lebih jauh, Vin. Itu hanya masalah waktu saja.” Bujuk papinya.
__ADS_1
“Dan pertunangan ini akan di lakukan dalam dua minggu setelah perjanjian ini di tandatangani, yang benar saja, Pi.” Gavin melemparkan map itu di atas meja kerja papinya.
“Kenapa? Kamu tak mau, apa hanya sejauh ini pengorbanan yang kamu lakukan untuk wanita yang tak berguna itu?” papi Gumalang berkata.
Gavin memalingkan wajahnya, dia sangat benci melihat wajah orang tua yang ada di hadapannya sekarang. Hah.. “Papi, kenapa bawa-bawa Sarah dalam masalah ini? Apa ini tujuan Papi menyembunyikan Sarah, dan menyuruhku menikah dengan wanita lain.” Tanya Gavin.
“Iya. Jawaban kamu betul sekali. Tujuan Papi hampir saja terpenuhi, asal kamu segera menandatangani surat itu. Dan Papi akan segera melepaskan Sarah.” Wajah papi Gumalang semakin terlihat serius.
Gavin tak habis pikir dengan orang tua ini. semakin tua semakin licik pikirannya. Gavin sudah tak ada pilihan lain. Inilah pilihan yang harus dia pilih, dia harus melakukan ini untuk bisa bertemu dengan Sarah kembali.
Gavin sudah menandatangani surat perjanjian itu. Dengan berat hati Gavin menyerahkan kertas yang di pegangnya.
“Tapi, beritahu dahulu di mana Sarah. Baru aku akan memberikan kertas ini pada Papi.” Ucapnya sambil menarik kembali kertas itu dari tangan papinya.
Papi Gumalang menyeringai melihat kelakuan Gavin. “Baiklah. Papi akan memberi tahumu.”
Setelah Gavin mendapatkan lokasi di mana Sarah di sembunyikan, dia langsung bergegas keluar dari perusahaan menuju mobilnya.
Saat mobilnya memasuki lahan kosong, di sana terlihat bangunan rumah sederhana, namun terlihat mewah, ada juga mobil sedan berwarna hitam yang terparkir rapi di depan rumah itu. Pasti itu rumah yang di tinggali Sarah. Pikir Gavin.
Mobilnya lalu memasuki pekarangan rumah itu. Gavin diam sejenak, mengamati rumah dan sekelilingnya. Terlihat sepi seperti tidak ada orang di dalamnya. Karena penasaran Gavin turun dari mobil. Dia ingin melihat lebih dekat rumah itu, kenapa papinya membangun rumah di lahan kosong seperti ini.
Perlahan dia berjalan memasuki teras rumah, pintu rumah itu terbuka sedikit. Tanpa sadar dia sudah mengintip dari luar dengan sebelah matanya.
“Kenapa sepi di sini? Apa Sarah sudah di pindahkan ke tempat lain?” Bisik Gavin masih mengintip dari luar.
Saat dia tengah asyik mengintip, keluarlah wanita cantik dari dalam kamar. Dia seperti baru saja bangun tidur, karena masih menggunakan piama.
“Sarah.” Seru Gavin.
Gavin lalu menyelinap masuk ke dalam rumah, untung saja pintu rumah sudah terbuka. Jadi dia lebih mudah untuk masuk ke dalam. Berjalan pelan supaya penghuni rumah tak menyadari dia masuk ke dalam.
__ADS_1
Melihat ke sekeliling dalam rumah yang terkesan elegan dengan warna dinding abu-abu dan dipadukan dengan warna putih, ini rumah yang cukup nyaman. Itulah kesan pertama Gavin untuk rumah ini.
Dia mulai melangkah memasuki ruangan dapur, masih berjalan pelan sambil melihat kedua anak buah papinya yang masih tertidur. Di ruangan dapur ada satu kamar mandi yang lampunya menyala.
Pasti Sarah ada di dalamnya. Gavin melangkah mendekati kamar mandi dan bersiap ingin mengetuk pelan pintunya. Namun, sebelum dia mengetuknya, pintu kamar mandi sudah terbuka.
Aacchh... Sarah menjerit seketika, karena dia kaget melihat ada pria di depan kamar mandi. Gavin dengan cepat menutup mulut Sarah dengan sebelah tangannya, dan sebelah tangannya lagi merangkul pinggang Sarah.
Mata Sarah melebar saat dia tersadar, ternyata pria itu adalah Gavin. Orang yang dia rindukan selama beberapa hari terakhir ini.
“Diam. Nanti mereka bangun dan menganggu waktu kita.” Bisik Gavin di telinga Sarah.
Emm... Sarah hanya mengangguk, karena mulutnya masih di tutup tangan Gavin.
Setelah mendapat jawaban dari Sarah, Gavin mulai melepaskan tangannya dengan perlahan dari mulut Sarah.
Sarah menatap Gavin dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Kamu, baik-baik saja?” Ucap Sarah pelan.
Gavin mengangguk. “Aku baik-baik saja. Kamu bagaimana, apakah baik-baik saja? Apa mereka pernah menyakitimu atau pernah menyentuhmu?” Gavin berkata sambil memeriksa tubuh Sarah.
Sarah tersenyum bahagia. “Aku baik-baik saja, Vin. Mereka sangat baik padaku. Bagaimana kamu bisa sampai di sini. Apakah Papimu yang memberitahu?” Mereka masih saling tatap di depan kamar mandi.
“Iya. Tapi, Papi memberitahu lokasimu tak cuma-cuma. Aku harus menandatangani surat perjanjian.”
Sarah menatap Gavin beberapa detik. “Perjanjian apa?” Sarah bertanya.
“Ayo kita ke kamar. Nanti aku akan menceritakan semuanya kepadamu.” Ajak Gavin sambil menggandeng tangan Sarah memasuki kamar.
“Ceritakan sekarang, Vin.” Sarah berkata sambil menutup pintu kamar.
Gavin berbalik dan memeluk tubuh Sarah, mencium aroma wangi dari tubuh Sarah yang sangat dia rindukan.
__ADS_1