
“Kamu masih muda, masih banyak pria di luar sana yang mau berhubungan denganmu. Lebih baik, kamu tinggalkan Tuan Muda, dan kamu bisa melanjutkan hidup dengan bebas, tanpa harus dikurung seperti ini.” Ucapnya sambil terus berfokus pada jalanan.
Sekarang, Sarah mengerti kenapa Khan tiba-tiba membawanya pergi dari rumah Pak Kasim. Itu karena, dia akan diasingkan dan dijauhkan dari Gavin. Tanpa bertanya dia sudah mendapat jawabannya.
“Aku sudah berusia 35 tahun sekarang, dan bukan wanita muda yang masih berumur 25 atau 28 tahun.” Sarah berkata. Namun, dia tetap manatap luar jendela tanpa menoleh pada Khan sedikitpun.
“Kamu, tak sedang berbohong kan? Mana ada, wanita umur 35 tahun tapi wajahnya masih seperti wanita umur 25 tahun?” Khan tak percaya dengan ucapan Sarah.
Hahhh.. Sarah menghela napas panjang. Dia tak membalas ucapan Khan lagi. Tak ada mood untuk berdebat hal yang tak penting.
Beberapa menit lengang kembali. Mereka sudah sampai di Ibukota, setelah perjalanan hampir 6 jam penuh. Mereka sampai di depan di rumah yang halamannya lumayan luas.
Sarah menatap rumah itu, berlantai satu. Mungkin, akan nyaman tinggal di dalamnya. Banyak muncul pertanyaan di kepalanya. Rumah siapa ini? Kenapa dia di bawa ke sini? Lalu, apa hubungannya dengan dirinya?
Namun, dia lagi-lagi tak berani mengutarakan semua pertanyaan itu. Dia hanya diam, menunggu Khan berbicara dahulu.
Khan mematikan mesin mobil, lalu membuka pintu mobil. “Ayo, turun. Kita sudah sampai.” Ucap Khan.
Sampai? Maksutnya apa? Apakah dia akan tinggal di sini? Semakin membingungkan. Sarah menggelengkan kepala.
Khan melihat Sarah belum juga beranjak dari jok mobilnya.
Dia mengernyitkan dahi, “Kau tak mau turun, dari mobil? Mau mati kehabisan napas-kah?” Seru Khan dari luar mobil, dia masih membuka setengah pintu mobilnya menunggu Sarah turun dari sana.
Sarah menoleh, “Aku tak mau turun. Tak ada orang di sana, kalau sampai kau macam-macam padaku? Aku minta tolong pada siapa?” Sarah menatap fokus rumah itu.
Hisshhh.. Khan memalingkan wajahnya, “Heh, siapa juga yang mau apa-apakan kau. Aku bukan pria murahan, yang mau dengan wanita tua sepertimu.” Jawab Khan ketus.
Sarah melotot pada Khan yang masih menunggunya di luar mobil. Dia menghela napas lalu membuka pintu mobil dan keluar. Berjalan sampai di depan mobil.
Khan menutup pintu mobil dan menguncinya.
__ADS_1
Khan berjalan terlebih dahulu, memimpin.
“Kamu akan tinggal disini untuk sementara waktu.” Ucap Khan tanpa menoleh sedikitpun pada Sarah.
Ini salah satu jawaban dari pertanyaan yang aku pikirkan tadi, sebelum turun dari mobil.
Khan tetap berjalan di depan Sarah, tangannya merogoh kantong celana mengambil kunci rumah. Itu, pasti kunci rumah ini.
“Kamu tak akan tinggal sendirian di sini. Akan ada dua penjaga yang akan menjaga rumah ini, sekaligus mengawasimu, jika suatu saat kamu pergi diam-diam dari sini.”
Lagi-lagi Khan tak menatap Sarah saat berbicara. Seolah-olah dia sedang berbicara pada tembok saja.
Ini juga jawaban yang dia inginkan. Jawaban demi jawaban keluar dari mulut Khan, tanpa dia mengutarakan pertanyaan yang ada di kepalanya saat ini.
Masuk ke dalam rumah, melihat ke semua bagian dalam rumah. Lumayan mewah, dan di dalamnya hanya ada dua kamar dan satu kamar mandi. Ada dapur yang cukup luas. Di pojok dapur juga ada kulkas dan perabotan dapur lainnya, tertata rapi. Cat putih mendominasi rumah ini.
“Di dalam kulkas ini, sudah ada bahan makanan yang cukup untuk satu bulan ke depan. Kamu tak perlu bingung harus membeli semua ini di mana jika sudah habis. Kami akan mengirimkannya lagi setelah semua habis.” Khan membuka pintu kulkas yang berisi sayuran dan bahan-bahan makanan lainnya.
“Apa, semua ini Tuan Gumalang yang menyediakan?” Sarah membuka suara untuk bertanya.
“Iya. Sampai urusan Tuan Gumalang dan Tuan Muda selesai, baru setelah itu kamu boleh pergi dari sini. Dan bisa bebas melakukan apa saja, yang kamu inginkan.” Kali ini Khan menatap Sarah.
“Kenapa, aku di tempatkan di rumah ini? Dan lokasi rumah ini juga jauh dari keramaian dan jalan raya.”
“Itu tujuan Tuan Gumalang menyuruhku membawamu ke rumah ini. Supaya, kamu tak lagi menemui Tuan Muda. Dan Tuan Muda juga tak lagi menemuimu. Mungkin dia juga tak akan bisa menemukkanmu. Selama kamu tinggal di sini.” Khan menjawab.
Inilah jawaban inti dari pertanyaan yang dia pikirkan, semenjak Khan membawanya kemari. Sarah diam kembali, dia shock mendengar jawaban dari Khan. Lebih baik dia tinggal di kampung dengan Pak Kasim dan Mbok Ju, daripada harus tinggal di sini sendirian.
“Pasti kamu sedang berpikir, kenapa kamu tak tinggal di kampung saja? Benar kan?”
Khan seperti dukun saja, kenapa tiba-tiba dia bisa tahu apa yang sedang Sarah pikirkan. Apa memang dia punya pekerjaan sampingan menjadi dukun atau peramal, yang bisa membaca pikiran orang?
__ADS_1
Khan menatap wajah Sarah, dia tahu. Yang di ucapkan tadi, memang benar.
“Aku akan menjawab pertanyaanmu. Jika kamu masih tinggal di kampung itu, Tuan Muda akan bisa datang kapan saja, tanpa Tuan Gumalang tahu. Dia akan selalu menemuimu, dengan sifatnya yang keras kepala itu. Tuan Gumalang sudah paham betul dengan sifat anaknya. Maka dari itu, kamu di tempatkan di rumah ini. Supaya tak ada yang mengetahui, kamu tinggal di mana sekarang.”
Sudah jelas semua jawaban yang dia inginkan.
Kali ini Sarah menunduk lesu, bersender pada dinding tembok, menghadap jendela. Meratapi nasibnya yang dibuang seperti sampah.
“Aku akan ke sini sebulan sekali, untuk mengantarkan bahan-bahan makanan. Jangan berharap lebih pada Tuan Muda. Dia mudah saja melupakanmu, dia akan segera menemukan wanita pengganti dirimu. Masih banyak wanita di luar sana yang lebih cantik darimu, terlebih lagi mereka lebih kaya. Kamu tak akan bisa masuk ke dalam keluarga Gumalang. Itu mustahil bagiku.” Khan terus mengoceh tanpa henti.
Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk langsung ke jantungnya. Menyakitkan, tapi benar juga yang dikatakan Khan. Pria memang lebih mudah mendapatkan wanita lain, jika pasangannya sudah tak memberi kabar lagi. Di dunia ini tak ada orang yang bisa dipercaya seratus persen, kecuali percaya dengan diri sendiri.
Setelah selesai berbicara panjang lebar, Khan pamit pergi.
“Apa kamu, tak pernah menggunakan perasaan saat berbicara dengan wanita? Atau, kamu memang tak punya hati?” Sarah menoleh menatap punggung Khan dari belakang.
Khan mendengar pertanyaan itu, seketika itu dia berhenti melangkah, namun dia tak berbalik menatap Sarah.
Satu pertanyaan yang langsung bisa menusuk hatinya. Sarah benar, dia memang tak pernah punya perasaan atau hati selama ini.
Dia tak mau melakukan semua pekerjaan dengan perasaan, itu akan menghambat pekerjaannya.
Khan menutup matanya dan menghela napas pelan, lalu melanjutkan langkah kakinya menuju mobil. Tanpa ada jawaban dari sana.
Setelah Khan masuk ke dalam mobil, matanya mulai berkaca-kaca. Ada sedikit rasa bersalah menghampiri dirinya. Namun, ini semua hanya pekerjaan yang memang harus segera diselesaikan.
***
“Apa yang Papi lakukan? Kenapa, aku tak bisa menentukan jalan hidupku sendiri? Aku sudah dewasa, Pi. Aku bukan anak kecil yang harus menuruti semua kemauan Papi.” Gavin membuka pintu rumah dan duduk di sofa.
“Papi hanya ingin yang terbaik untukmu, Vin. Sarah itu tak pantas untukmu. Dia hanya memanfaatkan kekayaan yang kita punya. Setelah semua dia dapatkan, dia akan pergi meninggalkanmu. Sekarang saja, dia pergi meninggalkanmu. Dia tak mungkin menunggumu di kampung itu. Dia pasti akan mencari mangsa yang lebih kaya darimu. Itulah sifat orang miskin seperti Sarah. Apalagi, dia itu janda cantik, yang bisa memikat hati pria mana saja yang dia mau.” Papinya juga ikut duduk di sofa seberang dirinya.
__ADS_1