Tergoda Tuan Muda Tampan

Tergoda Tuan Muda Tampan
Bab. 43 Flashback


__ADS_3

“Zein, lebih baik kita melapor pada Tuan Gumalang.” Jack mengeluarkan handphone yang ada di kantong celananya.    


Zein mengangguk setuju.


Jack sudah dua kali menelepon, namun belum juga ada jawaban dari Tuan Gumalang. Saat menelepon yang ketiga kalinya barulah Tuan Gumalang mengangkatnya.


“Dasar bodoh!!” Seru Tuan Gumalang dari seberang telepon.


Jack tersentak dengan suara amarah Tuan Gumalang.


“Maaf, Tuan.”


“Kalian di bayar untuk bekerja, bukan untuk bersantai.” Teriak Tuan Gumalang.


“Maaf, Tuan. Kami sudah lalai.” Jack hanya bisa menunduk, ketika mendengar bosnya marah-marah.


“Dengan kamu meminta maaf, apakah semuanya kembali seperti semula. Kalian saya pecat! Tinggalkan rumah itu dan kembalikan mobil yang kalian pakai.” Ucap Tuan Gumalang, lalu dia menutup telepon lebih dulu.


Jack terduduk lemas, dia merasa sangat payah tak bisa melaksanakan tugas dengan baik. Dia menggigit bibirnya sendiri dan menundukkan kepala.


“Semua ini karena kecerobohanmu, Zein!” Jack melotot pada Zein.


Zein tak membalas ucapan Jack, dia juga sangat shock dengan kejadian yang tiba-tiba seperti ini.


“Kita sudah tak punya pekerjaan lagi, Tuan Gumalang sangat marah pada kita.” Ucap Jack.


Zein masih belum mengatakan apapun.


“Ayo, kita kembali ke rumah Tuan Gumalang. Kita harus mengembalikan mobil itu.” Jack beranjak dari sofa dengan wajah lesu. Zein mengikutinya dari belakang. Mereka berdua meninggalkan rumah rahasia Tuan Gumalang.


 


Gavin selama tiga hari menemani Sarah tinggal di villa miliknya. Hari ini waktunya dia harus kembali ke rumah Gumalang.


“Vin.” Sarah menatap wajah Gavin yang masih tertidur pulas di sebelahnya.


Gavin mendengar panggilan itu, dia berusaha membuka matanya. Hemm.. Gavin menatap wajah Sarah.


“Kamu hari ini harus kembali ke rumah. Apa setelah ini kamu tak akan kembali ke sini lagi?” Bisik Sarah.


“Aku akan selalu berusaha meluangkan waktu untuk menemuimu , Sayang.” Gavin tersenyum sambil tangannya mengusap bibir merah Sarah.


“Apa itu janji, atau hanya omong kosongmu saja?” Sarah menggenggam tangan Gavin.


“Itu janji.” Tangan Gavin membelai rambut Sarah.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan menantimu untuk menepati janji itu.” Sarah membenamkan wajahnya di dada Gavin.


“Aku mau lagi.” Bisik Gavin di telinga Sarah.


Sarah mendongak dan matanya melotot pada Gavin, bibirnya cemberut memprotes.


“Kenapa? Kamu tak mau lagi.” Goda Gavin dengan menyeringai.


Sarah menghela nafas, lalu dengan malu-malu dia mencium bibir Gavin. “Aku mau, tapi badanku terasa sakit semua, Vin. Sudah tiga hari ini kamu mengajakku bermain terus.”


Wajah Gavin tampak kecewa. “Ok, alasanmu bisa diterima. Tapi, setelah makan siang kamu harus mau bermain denganku.” Gavin melahap bibir merah Sarah. Bangun tidur enaknya sarapan yang bisa buat tubuh bergairah.


Sarah membalas ciuman Gavin, dia langsung berpindah posisi ke atas tubuh Gavin. Dan dengan semangat dia memainkan senjata pusaka yang Gavin punya.


“Katanya badannya terasa sakit semua? Kok, sekarang malah ngajakin?” Gavin sedikit mendorong badan Sarah ke belakang.


“Memang terasa sakit, Vin. Tapi aku tak bisa menahan kalau sudah seperti ini.” Sarah menyeringai.


“Kamu sekarang sudah semakin berani, ya.” Gavin membalikkan tubuh Sarah, sekarang dirinya yang berada di atas tubuh Sarah.


“Pelan-pelan, ya. Nanti, tulangku bisa patah kalau kamu terlalu kencang bermainnya.” Bisik Sarah.


Gavin tak menghiraukan bisikan itu. Dia mulai memainkan benda yang membuatnya sangat bergairah.


Uhh.. “Kamu menggemaskan sekali. Aku akan melahapmu sekarang.” Gavin semakin menggila. Tangannya menggelayar semakin ke bawah, dan tepat di benda yang sangat membuatnya tak bisa berfikir jernih.


"Aku tak bisa pelan kalau sudah berurusan dengan benda satu ini. Kamu harus tahan ya, Sayang." Ucap Gavin dengan nada sedikit mendesah.


 


“Di mana Gavin. Kenapa sudah tiga hari dia tak juga kembali.” Gumam Tuan Gumalang. Dia berjalan mondar-mandir di kamar, memikirkan anaknya.


“Kenapa nomornya selalu tak aktif jika berama wanita sialan itu. Bikin kesal saja!” Tuan Gumalang melempar handphonenya di atas kasur.


Jika saja istrinya masih hidup, dia tak mungkin kerepotan seperti ini menghadapi sikap Gavin yang sama kerasnya dengan dirinya. Ada rasa penyesalan dalam hatinya, kenapa dulu tak bisa menjaga istrinya dengan baik.


Flashback dua puluh tahun yang lalu.


Mami Siska adalah wanita idaman banyak pria. Dia adalah wanita yang tangguh, jujur dan dikenal sebagai wanita yang pekerja keras. Siska dan Gumalang bertemu saat mereka sama-sama mendaftar kuliah di universitas yang sama. Mereka tak sengaja bertabrakan saat ingin melihat daftar nama siapa saja yang di terima di universitas itu.


“Maaf, saya tak sengaja.” Ucap Gumalang sambil membungkuk mengambilkan buku-buku yang berjatuhan.


Siska hanya termangu melihat Gumalang yang dengan cepat mengambilkan bukunya. Siska juga terpesona dengan wajah tampan Gumalang yang sangat bersinar di matanya. Pandangan pertama yang mengalihkan dunianya sesaat.


“Hei, ini bukumu. Maaf, sekali lagi.” Gumalang menyerahkan buku Siska yang dia pungut tadi.

__ADS_1


Siska terkejut saat tangannya di senggol. Eh.. “Iya, tak apa. Terimakasih sudah mengambilkan buku saya.” Siska mengambil bukunya dan tersenyum pada Gumalang.


Saat itu sifat Gumalang masih sangat dingin, dia lalu pergi meninggalkan Siska yang masih berdiri mematung di depan papan informasi.


“Hei, Gumalang. Bagaimana hasilnya? Sudah tahu kan siapa saja yang berhasil masuk ke universitas ini?” Seru Frans dengan berlari mendekat ke arah Gumalang.


Hemm.. Gumalang mengangguk. Lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju kantin tempat mereka kuliah saat ini.


Keesokan harinya mereka sudah memulai hari pertama masuk kuliah. Gumalang mengambil jurusan manajemen bisnis, dan Frans mengambil jurusan kedokteran. Mereka tak satu jurusan, namun mereka selalu kompak seperti sebelumnya.


“Kamu jadi mengambil jurusan manajemen, Lang?” Tanya Frans sambil menyendok sarapan yang ada di depannya.


“Iya, aku akan berusaha membahagiakan orang tuaku. Mereka memintaku mengambil jurusan itu, walaupun sejujurnya aku tak suka dengan urusan bisnis seperti itu.” Jawab Gumalang.


Emm.. “Tak apa lah. Itu kan demi kebaikanmu dan juga keluargamu. Lagian siapa lagi nanti yang mau melanjutkan bisnis Ayahmu, kalau bukan dirimu, Lang.”


“Iya, kamu benar. Aku juga ingin membuktikan pada Ayahku, kalau aku bisa mandiri tanpa bantuannya. Aku akan membuka bisnisku sendiri, dan akan lebih berkembang lagi daripada bisnis Ayahku.”


“Iya, aku do’akan semoga kau bisa berhasil capai tujuanmu itu.” Frans mengangguk.


“Kau juga harus berhasil, Frans.” Gumalang menunjuk wajah Frans dengan sendok makan.


Lalu mereka melanjutkan sarapan sebelum kelas di mulai.


Setelah sarapan mereka habis, mereka melangkah keluar kantin menuju kelas masing-masing.


“Hei, dia cantik sekali.” Mata Frans melihat wanita cantik langsung berbinar.


Gumalang mendongak melihat siapa wanita cantik yang disebut sahabatnya itu. Dan ternyata itu wanita yang dia tabrak kemarin saat ingin melihat informasi mahasiswa yang berhasil lolos.


“Lang, lihat dia. Cantik sekali kan, aku tak pernah melihat wanita secantik itu. Senyumannya mengalihkan duniaku, Lang.” Frans semakin tak fokus dengan tujuannya setelah sarapan tadi.


“Hei, ayo kita masuk ke kelas.” Gumalang menarik Frans yang berbelok menuju wanita cantik itu.


Frans menghempaskan tangan Gumalang, dan tetap jalan ke depan menuju wanita itu. “Aku mau berkenalan dengan dia dulu, Lang. Setelah itu aku akan masuk ke kelas.”


Gumalang menghela nafas panjang, sifat sahabatnya ini tak pernah berubah dari dulu. Gumalang menggelengkan kepala dan tetap mengikuti Frans dari belakang.


Siska yang sedang berbincang-bincang dengan temannya tak sadar kalau Frans sudah berjalan mendekatinya.


“Hei. Apa aku boleh berkenalan denganmu?” Frans tanpa malu langsung menjulurkan tangannya ke Siska.


Siska terkejut dengan kedatangan Frans yang tiba-tiba. Dia hanya menatap Frans yang seperti orang kesurupan, senyum-senyum sendiri tak jelas.


“Kenalin aku Frans. Maaf membuatmu terkejut, aku terpesona dengan kecantikanmu.” Ucap Frans, tangannya masih menjulur ke depan menunggu Siska menjabat tangannya.

__ADS_1


Siska tersenyum lalu menjabat tangan Frans. “Aku Siska.”


Wajah Frans langsung memerah saat mendengar suara merdu Siska. 


__ADS_2