Tergoda Tuan Muda Tampan

Tergoda Tuan Muda Tampan
Bab. 28 Tergoda Tuan Muda Tampan


__ADS_3

Malam berganti pagi dengan begitu cepat. Matahari sudah menyebarkan sinarnya. Hari ini adalah hari minggu. Namun, tak ada hari minggu untuk keluarga Gumalang. Bagi mereka semua hari sama saja. Tak ada waktu untuk bersantai, apalagi berlibur. Semua orang yang tinggal di rumah Gumalang sudah mulai beraktifitas.


Sertt..Sertt.. Suara langkah kaki yang memakai sendal melangkah masuk ke dapur. "Bi, Gavin semalam tak pulang?" Tuan Gumalang bertanya sembari mengambil air di lemari es.


Bi Mira pagi-pagi sudah sibuk di dapur. "Tuan Muda belum pulang, Tuan. Apakah dia tak memberi kabar pada anda?" Bi Mira menjawab tanpa menoleh pada Tuannya. Dia sangat sibuk menyiapkan sarapan untuk Tuannya.


"Kemana dia semalaman, sampai tak pulang? Apakah dia masih bersama wanita itu? Kenapa dia tak pernah menurut apa kata orangtuanya. Keras kepala sekali anak itu." Suara Tuan Gumalang terdengar kesal.


Braakk.. Tuan Gumalang memukul meja karena kesal dengan sikap anaknya. Dari dulu Gavin memang tak pernah menuruti apa yang diucapkan Papinya. Dia hanya menurut pada Maminya.


"Astaga." Bi Mira terkejut dengan suara meja digebrak. Sendok sayur yang dipegangnya sampai terlepas dari genggamannya. Dia lalu mengelus dada, dan sesekali menghembuskan nafasnya, huufftt... Suasana seperti ini sudah biasa, ketika Tuan Gumalang marah pada anaknya.


"Ari! Kemari kau." Panggil Tuan Gumalang.


Ari sudah datang dari subuh. Dia selalu berjaga di depan pintu saat tiba di rumah Gumalang. Ketika mendengar Tuannya memanggilnya, dia langsung berlari mendekat.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Ari menunduk.


"Cari Gavin sampai ketemu. Bawa dia ke hadapanku. Anak itu sudah berani berulah lagi. Kali ini aku tak akan mengampuninya. Aku harus lebih keras padanya, supaya dia tahu aku tak bisa diremehkan lagi." Tuan Gumalang melotot, wajahnya merah padam karena semakin kesal, kedua tangannya mengepal.


"Baik, Tuan." Ari mundur sejengkal lalu berbalik dan lari keluar rumah.


***


Semalam Sarah dan Gavin menginap di rumah sakit. Pagi ini dia bersiap untuk keluar dari rumah sakit. Gavin selalu menemaninya. Sarah beranjak dari ranjangnya, berdiri perlahan supaya tak terjatuh lagi.


“Sarah, kamu akan tinggal dimana sekarang?” Gavin bertanya sambil menggandeng tangan Sarah, supaya dia tak terjatuh saat berjalan.

__ADS_1


“Belum tahu, Vin. Aku tak mungkin kembali lagi ke rumah Tian. Aku takut dia masih ada disana. Dan aku, juga tak bisa melihat wajahnya lagi.” Jawab Sarah seraya berjalan keluar menuju perkiran mobil.


“Kalau begitu, aku akan mencarikanmu tempat tinggal. Aku tak bisa membiarkanmu pergi sendirian lagi Sarah.” Gavin memeluk erat badan Sarah.


Emm.. Sarah mengangguk dan tersenyum pada Gavin. Dia sungguh beruntung mempunyai pria yang sangat menghargainya dan sayang padanya. Sarah memang sudah tergoda dengan Tuan Muda tampan itu. Hatinya sudah semakin mantap memulai sebuah hubungan lagi dengan seorang pria.


Terlepas dari masa lalu yang menyeramkan, sekarang Sarah sudah siap untuk menghadapi masa depan yang menyenangkan, bersama pria yang mencitainya dengan tulus.  


“Vin, aku pengen makan di restonya Bu Tika. Bolehkan kesana sebentar saja? Aku juga rindu dengan Bu Tika.” Sarah masuk ke dalam mobil. Dia duduk di jok depan sebelah Gavin.


“Emm, boleh. Tapi hanya untuk makan sebentar, ya. Kamu harus lebih banyak istirahat. Kata Dokter, kamu tak boleh terlalu lelah.” Gavin mengusap rambut Sarah, tatapannya hangat dan penuh dengan kasih sayang.


“Terimakasih, Tuan Gavin.” Ucap Sarah sembari tertawa kecil.


Gavin langsung menoleh dan matanya melotot menatap Sarah. Dia sekarang tak suka, jika Sarah memanggilnya seperti itu. “Kamu memanggilku apa? Coba ucapkan sekali lagi.” Tangan Gavin mengangkat dagu Sarah.


“Tu-a...” Sarah belum sempat mengatakannya, bibirnya sudah disambar oleh Gavin. Ciuman hangat mendarat di bibirnya yang kering. Gavin sengaja memancing Sarah untuk membuka mulutnya. Jadi, dia bisa lebih gampang ******* bibir Sarah. Sudah lama dia tak mencium bibir favoritnya itu.


“Kamu sudah semakin berani ya, Sarah. Apa karena koma 2 bulan, kamu jadi berubah Sarah?” Gavin menggoda Sarah seraya mencubit hidungnya.


“Iihh..Tuan Muda, sakit tahu.” Sarah membalas dengan nada menggoda.


“Kamu! Masih sanggup mendapat ciuman ganas dariku lagi?” Wajah Gavin maju lebih dekat.


“Hehehe.. Yang tadi sudah cukup, Gavin. Aku sudah tak sanggup jika harus diserang kembali.” Sarah memundurkan kepalanya, berjaga-jaga kalau nanti Gavin menyergapnya lagi.


Gavin mulai menyalakan mobilnya dan mamacu kecepatan mobilnya. Beberapa menit suasana mobil lengang, hanya terdengar pelan suara lagu yang diputar di mobil.

__ADS_1


Dertt..dertt.. Handphone Gavin bergetar. Dia mengambil dan melihat sekilas, siapa yang meneleponnya. Dia meletakkan kembali handphonenya dan fokus menyetir.


Sarah menoleh dan menatap Gavin. Wajah yang tadinya bahagia sekarang menjadi suram. "Kenapa tak diangkat, Vin?" Sarah bertanya, penasaran.


"Tak perlu diangkat. Itu tak penting." Jawab Gavin dengan mata terfokus ke jalanan.


Sarah hanya mengangguk, dia tak berani bertanya lebih. Pasti itu telepon dari orang yang sangat dia benci. Suasana lengang kembali.


“Vin, kenapa kamu membawa mobil sendiri? Kemana Ari? Aku tak melihatnya bersamamu?” Sarah memecah keheningan di dalam mobil.


“Jangan sebut nama itu lagi di depanku. Ari sudah mengkhianatiku. Dia yang sudah menceritakan semua tentang kita saat di luar kota kemarin”. Jawab Gavin dengan nada kesal.


“Baiklah, tak perlu kesal seperti itu. Semuanya sudah terjadi, dan aku kan hanya bertanya.” Sarah pura-pura sedih di depan Gavin.


“Aku kesal, jika teringat itu. Maaf ya, kamu jadi pelampiasan kekesalanku.” Gavin meraih tangan Sarah dan mencium punggung tangannya. “Kamu yang terpenting dalam hidupku. Jangan pernah pergi lagi tanpa kabar, ya?” Tatapan dan senyuman lembut itu kembali terukir di wajah tampannya.


Emm.. Sarah mengangguk sambil tersenyum pada Gavin.


Mereka berdua pergi mencari rumah sewa. Sepanjang jalan mereka bercanda, tertawa bersama. Seolah-olah dunia ini hanya milik mereka berdua.


“Kita mau kemana, Vin? Kenapa daritadi tak juga sampai?” Sarah memandangi jalanan di luar jendela. Hanya ada hamparan sawah dan pepohonan yang mereka lewati. Sudah hampir 1 jam lebih mereka ada di dalam mobil.


“Aku akan membawamu ke kampung halaman Bi Mira, Sarah. Disana kamu bisa tinggal dengan nyaman, tanpa ada gangguan dari Papi dan anak buahnya.” Jawab Gavin dengan tangannya yang masih sibuk menyetir.


“Kenapa harus membawaku ke kampung Bi Mira? Dan, sejak kapan kamu meminta izin pada Bi Mira. Padahal, tadi kamu baru saja menanyakan aku akan tinggal dimana? Apakah, kamu sudah merencanakan semua ini? Sebelum kita pergi tadi?"


"Iya. Aku hanya pura-pura bertanya. Apa kamu akan marah padaku?" Jawab Gavin, jujur.

__ADS_1


"Aku tak mau di kampung, Vin. Nanti aku akan susah kemana-mana. Aku tak kenal orang kampung sana. Aku mau tinggal di dekat rumah aku yang dulu saja. Supaya, aku juga bisa setiap hari ke resto Bu Tika. Aku akan cepat bosan jika hanya bersantai di kampung, tak ada yang bisa aku lakukan disana.” Protes Sarah pada Gavin.


“Tapi Sarah, ini demi kebaikanmu. Disana kamu tak akan sendirian, Sarah. Ada anak dan kerabat Bi Mira. Kamu tak akan kesepian lagi. Kalau kamu ada disini, aku tak bisa menjamin keselamatanmu Sarah. Kamu belum tahu, jika Papi sudah marah, semua akan dibinasakan.” Jawab Gavin. Dia menepikan mobilnya sejenak, supaya bisa lebih nyaman menjelaskan apa tujuan Sarah di bawa ke kampung Bi Mira.


__ADS_2