Tergoda Tuan Muda Tampan

Tergoda Tuan Muda Tampan
Bab. 26 Sarah Pergi


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam. Sarah dengan sekuat tenaga berjalan pelan untuk keluar dari rumah sakit. Suster Miya melihat Sarah keluar dari kamarnya dengan membawa tas, lalu menghampirinya. "Maaf, Nyonya Sarah. Anda mau kemana malam-malam? Apa tak bisa besok pagi saja, anda keluar dari sini?" Suster Miya bertanya.


"Tak apa, Sus. Lebih cepat saya keluar dari sini, akan lebih baik." Sarah menjawab dengan suara serak seraya tersenyum pada Suster Miya.


"Anda yakin, Nyonya? Apa perlu saya bantu anda sampai di depan rumah sakit dan sekalian untuk memesan kendaraan untuk anda pulang?"


"Tak perlu. Saya masih bisa berjalan sendiri, walaupun masih terasa agak nyeri di lutut."


"Ayolah, Nyonya. Izinkan saya membantu anda untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini, kita kan tak bisa bertemu lagi." Suster Miya tetap memaksa Sarah, dia tak mau sedikit pun melepaskan tangan Sarah.


Dengan terpaksa, Sarah mengikuti kemauanya. Akhirnya mereka berjalan berdua turun menuju pintu keluar rumah sakit. Suster Miya juga menyodorkan tongkat pada Sarah. Supaya dirinya bisa berjalan lebih nyaman. Sarah tersenyum pada Suster Miya. Dia tak akan pernah lupa dengan orang-orang yang sudah baik padanya.


"Sampai sini saja kamu membantu saya, Sus. Kamu juga pasti masih banyak pekerjaan. Saya sangat berterimakasih karena sudah dibantu selama berada di rumah sakit ini. Oh, ya. Ini tongkatnya, saya kembalikan. Saya sudah lebih enakan berjalan tanpa tongkat. Sekali lagi, terimakasih banyak, ya." Sarah menyodorkan tongkat dan berpamitan pada Suster Miya.


"Nyonya Sarah, hati-hati di jalan, ya? Kalau masih terasa sakit, istirahat saja dulu, jangan dipaksakan, Nyonya. Alamat rumah anda dimana, Nyonya? Saya pesankan mobil, ya. Untuk anda pulang. Anda jangan terlalu banyak jalan. Saya khawatir, nanti akan berdampak pada luka anda." Ucap Suster Miya. Dia masih saja khawatir pada Sarah.


"Sudah. Tak apa, Sus. Kamu tak perlu sekhawatir ini pada saya. Saya masih kuat berjalan sendiri." Sarah mengangguk kecil, lalu tersenyum pada Suster Miya. Dia melambaikan tangan dan berjalan menuju trotoar.


Dari rumah sakit masih baik-baik saja, tapi saat ditengah perjalanan, barulah terasa nyeri di sekujur badannya, nyeri itu terasa juga di bekas lukanya. “Aku harus kuat. Aku pasti bisa tanpa bantuan siapa pun.” Sarah berjalan di sepanjang trotoar. Dia tak tahu harus kemana dan tinggal di mana sekarang. Hari sudah semakin malam, tapi dia masih belum mendapatkan tempat tinggal.


Sarah merasakan perut dan dadanya semakin sakit. Dia meringis kesakitan. “Hahh..Eeesshhh.. Kenapa perut dan dadaku makin terasa sakit. Aku tak bisa melanjutkan berjalan kaki, kalau keadaannya seperti ini.” Dia memegang dada dan perutnya.


“Kenapa, pandangan mataku jadi kabur begini? Kepalaku juga, kenapa tiba-tiba sakit. Aku ke-na-pa?” Brukk..Sarah tiba tiba pingsan di atas trotoar.

__ADS_1


Saat itu, trotoar masih ramai pejalan kaki. Banyak orang yang melihatnya pingsan, mereka langsung berkerumun menghampirinya.


“Hei.. Wanita ini kenapa? Tolong dong, kasian dia. Kita bawa saja ke rumah sakit.” Ucap salah satu wanita yang ada diantara kerumunan itu.


“Ke rumah sakit? Nanti siapa yang akan bertanggung jawab? Kita kan tak mengenalnya?” Jawab pria yang juga ikut berkerumun.


Mereka bukannya cepat menolong Sarah, malah sibuk berdebat masalah tanggung jawab di rumah sakit nanti.


"Kau tak punya hati ya." Suara wanita itu tiba-tiba terdengar kencang. Sampai memicu keributan disana.


"Kau juga sama. Sesama wanita seharusnya saling mengasihi, tapi beda dengan kau. Kau malah melimpahkan masalah ini ke orang lain." Pria itu menjawab tak lupa dia juga mengencangkan suaranya.


***


Hah, Sarah ada dimana? Apakah dia benar-benar sudah pergi meninggalkanku? Batin Gavin.


Deru detak jantungnya semakin kuat, ketika tak mendapati Sarah di kamar. Dia segera keluar dan kembali berlari mencari Sarah. Saat akan masuk ke dalam lift, Gavin bertemu dengan Suster Miya.


"Suster Miya, anda melihat Sarah keluar dari kamar?" Gavin bertanya.


"Iya, saya melihat, Tuan. Justru saya yang mengantarnya sampai di depan pintu rumah sakit tadi. Ada apa ya, Tuan? Saya pikir anda sudah tahu, Nyonya Sarah pulang sendiri hari ini." Jawab Suster Miya.


"Anda tahu, Sarah pergi kemana?" Gavin bertanya kembali.

__ADS_1


"Saya tadi lupa menanyakan soal itu. Tapi, tadi saya melihat Nyonya Sarah berjalan di sepanjang trotoar depan situ. Tuan, Nyonya Sarah terlihat masih sangat pucat. Dia juga tadi berkata, kalau badannya masih terasa nyeri. Saya khawatir, kalau sampai terjadi hal buruk pada Nyonya Sarah." Suster Miya sedikit bercerita pada Gavin.


"Baiklah. Terimakasih atas bantuannya." Tanpa berlama-lama Gavin berlari kembali menuju mobilnya yang sedang terparkir.


Mobil Gavin langsung melesat cepat keluar dari parkiran rumah sakit. Saat dia sedang sibuk mengendarai mobilnya dan memperhatikan setiap orang yang berjalan di trotoar, tak sengaja dia melewati kerumunan orang di pinggir jalan. Dia lalu berhenti dan memarkirkan mobilnya. Dia pun ikut masuk ke kerumunan itu. Entah apa yang membuat Gavin bisa tertarik dengan kerumanan tersebut. Padahal, dia harus segera menemukan Sarah, sebelum terjadi hal yang buruk padanya.


Sebelum dia masuk lebih dalam kerumunan itu, dia samar samar mendengar beberapa orang sedang berdebat.


“Kamulah yang harus tanggung jawab. Kan kamu yang menemukannya duluan. Masa aku? Aku tak punya waktu untuk mengurus itu semua. Apalagi, aku tak mengenalnya.” Pria itu masih melanjutkan perdebatannya.


“Apa yang sudah kalian perdebatkan.” Suara berat Gavin memotong perdebatan itu.


Mereka seketika berhenti berdebat, setelah mendengar suara Gavin.


“Itu, tuh..Wanita itu tiba-tiba pingsan. Dan, kita tak bisa mengantarkannya ke rumah sakit. Nanti, kita lagi yang dimintain tanggung jawab dengan pembayaran rumah sakit. Sedangkan, kita saja tak mengenalnya.” Jawab wanita itu dengan menunjuk ke arah Sarah yang tergeletak di trotoar.


Mata Gavin mengikuti arah telunjuk dari wanita itu. Dan dengan sangat terkejut, dia mendapati Sarah yang tergeletak di atas trotoar, wajahnya pucat dan rambutnya berantakan. Dia dibiarkan tergeletak di jalanan yang dingin seperti ini.


Mereka yang sudah daritadi disini hanya sibuk mendebatkan sesuatu yang tak penting? Apa yang sudah dipikirkan oleh orang-orang ini. Apa mereka sudah tak punya hati untuk menolong sesamanya?


"Kalau anda mau menolong wanita itu, silahkan saja. Sekalian, bawa dia ke rumah sakit. Keluarganya saja tak mau peduli padanya. Apalagi kita, yang tak kenal sama sekali padanya." Ucap wanita itu seraya meletakkan kedua tangannya di dada.


Gavin merasa ucapan wanita itu sudah sangat kelewatan. Ucapan itu sudah menyinggung perasaanya, dia menatap tajam pada wanita itu. Dia juga mengingat setiap jengkal wajahnya. Dia akan membalas dendam pada wanita itu, jika nanti tak sengaja bertemu lagi padanya.

__ADS_1


Dasar wanita licik. Tak punya hati. Mati saja kau, buat apa hidup, kalau menolong sesama saja tak mau. Ucap Gavin dalam hati.


__ADS_2