Tergoda Tuan Muda Tampan

Tergoda Tuan Muda Tampan
Bab. 30 Semakin Rumit


__ADS_3

Sarah menghela napas panjang, dia kembali menatap keluar jendela. Entah apa yang sedang dipikirkannya, namun dia memang tak bisa menolak. Gavin lebih tahu apa yang terbaik untuknya.


“Hemm, baiklah. Aku akan mengikuti saran darimu.” Sarah menatap Gavin dengan senyum kecil di wajahnya.


Gavin mengusap rambut Sarah, lalu dia mencium keningnya.


“Kamu tak perlu khawatir sayang, aku akan sering mengunjungimu. Jadi, kamu jangan berpikir yang aneh-aneh, ya?”


Gavin membingkai wajah Sarah dengan kedua tangannya.


Sarah menatap matanya. Gavin pun menatap lekat wajah Wanita di hadapannya itu. Tatapan dua sejoli itu saling bertemu. “Kamu yang terbaik untukku. Kamu juga yang paling penting dalam hidupku. Aku akan selalu berusaha menjagamu, walaupun harus mengorbankan nyawaku sendiri.” Gavin tersenyum hangat.


“Apakah benar yang kamu katakan, Vin? Aku akan pegang janji yang kamu ucapkan.” Sarah meraih tangan Gavin dan menggenggamnya erat.


“Aku akan berusaha menepati janji itu, Sarah.” Gavin mencium punggung tangan Sarah.


Suasana di mobil terasa hangat dan romantis. Rasanya, ingin sekali Sarah menghentikan waktu. Supaya, bisa lebih lama menikmati waktu bersama Gavin. Tetapi, itu semua tak mungkin.


Setelah perbincangan lama di pinggir jalan, akhirnya mobil Gavin melaju kembali ke jalan raya. Namun, sebelum Gavin melaju cepat, ada mobil lain yang tiba-tiba menghadang laju mobilnya. Ada 3 mobil sedan hitam yang menghadangnya.


“Awas, Gavin!!” Seru Sarah. Tangan Sarah mencengkram tangan Gavin. Dia sangat terkejut tiba-tiba ada mobil lain di depan mereka.


Gavin pun lebih terkejut dan langsung menginjak pedal rem dengan cepat. Gavin bingung, kenapa mereka tiba-tiba bisa ada di depan mobilnya sekarang? Padahal, tadi jalanan sangat sepi.


Matanya terfokus pada plat nomor mobil yang menghadangnya. Dia mencoba mengingat-ingat plat nomor itu. Mata Gavin melebar kaget, karena dia teringat siapa pemilik mobil itu. Mobil itu adalah milik Papinya.


Kenapa, Papinya bisa secepat itu tahu, kalau dia ada di kampung ini? Pasti semua ini ulah Ari, dia pasti yang sudah berhasil melacak lokasinya saat ini. Karena, memang hanya Ari yang punya kenalan hacker yang bisa melacak lokasi seseorang dengan cepat.


Setelah mobil mereka berhenti di depan mobil Gavin, keluarlah seorang pria dari mobilnya dan melangkah menuju mobil Gavin.


Tok tok tok.. Pria yang menghadang Gavin bernama Khan, dia adalah orang kepercayaan Papi. Khan mengetuk jendela mobil Gavin. Dia sesekali mengintip ke dalam mobil. Melihat siapa yang Bersama Tuan Mudanya itu.

__ADS_1


Namun, sebelum Khan bisa melihat Sarah di dalam mobil, Gavin segera menutup kaca mobilnya. Dia mengaktifkan pelindung kaca mobilnya, supaya tak terlihat dari luar.


“Sarah, kamu harus segera bersembunyi disana. Mereka semua adalah suruhan Papi. Mereka pasti akan menangkapmu setelah melihatmu ada di mobilku.” Gavin menunjuk jok belakang.


“Baiklah.” Sarah mengangguk dan tak bertanya lagi. Dia langsung berpindah ke jok belakang dan bersembunyi dibawahnya. Dia tahu pasti ada sesuatu yang mengancam dirinya, terlihat dari wajah Gavin yang sangat serius.


Gavin menghela napas Panjang. Dia harus Menyusun strategi, supaya bisa lolos dari kepungan mereka. Setelah berpikir beberapa detik, Gavin memberanikan diri untuk membuka pelindung kaca mobil. Dia lalu menurunkan kaca mobilnya hanya setengah. Hanya setengah wajahnya saja yang terlihat.


“Ada apa kalian menghadangku.” Tanya Gavin dengan mata melotot pada Khan.


“Maaf, Tuan Gavin. Kami hanya melaksanakan tugas dari Tuan Gumalang, untuk memeriksa mobil anda.” Khan menundukkan matanya.


“Kenapa, kalian harus memeriksa mobil pribadiku. Apa kalian tak punya sopan santun? Aku bukan penjahat yang patut dicurigai. Aku tak akan mengizinkannya.” Gavin menolaknya, dia ingin menutup kaca mobilnya kembali. Tapi, dengan cepat tangan besar Khan menghalanginya.


“Maaf sekali lagi, Tuan Gavin. Terpaksa, kami melakukan ini. Kami tak bisa menolak perintah dari Tuan Gumalang.” Khan masih menahan kaca mobil Gavin, supaya tak tertutup rapat. Tanganya memberi kode pada anak buahnya, untuk turun dari mobil dan segera memeriksa mobil Gavin.


“Periksa seluruh isi mobil Tuan Muda. Jangan ada yang tertinggal, walaupun sehelai rambut pun.” Perintah Khan pada seluruh anak buahnya.


Mereka ada 8 atau 9 orang, banyak sekali.


Khan terkenal sangat kejam. Dia tak ada ampun, jika sudah mendapatkan tugas dari Tuan Gumalang. Dia harus segera menyelesaikan tugas itu, atau dia tak akan bisa pulang dan dengan nyawa sudah melayang.


Gavin harus segera meninggalkan lokasi. Dia tak bisa membiarkan mereka menemukan Sarah yang sedang bersembunyi di mobilnya.


Ketika, mereka sudah mulai bergerak memutari mobil Gavin, dengan cepat Gavin mengambil kesempatan, lalu menekan pedal gasnya dan langsung melaju meninggalkan mereka. Ini kesempatan terakhirnya untuk bisa kabur dari mereka,. Tanpa mereka duga, Gavin bisa lolos begitu saja dari kepungan. Mereka melongo kaget, melihat mobil Gavin melesat dengan cepat membelah kepungan.


“Sial!! Kenapa bisa lolos begitu saja.” Khan melemparkan tinjunya ke udara karena kesal.


“Segera kejar Tuan Muda. Cepat. Jangan sampai lolos lagi, kali ini!!” Khan sangat marah, dia menatap tajam ke jalanan yang sepi.


Rombongan Khan dan anak buahnya segera melaju pesat mengikuti jejak mobil Gavin.

__ADS_1


“Sarah, kamu sudah bisa keluar dari situ.” Ucap Gavin tanpa menoleh pada Sarah. Tangannya masih sibuk mengendalikan kemudi dan fokus pada jalanan. Beruntung jalanan kampung tak sepadat jalanan Ibukota. Jadi dia bisa lebih cepat melsat jauh, dan menghilang dari pandangan mereka.


Gavin juga harus segera mendapatkan tempat persembunyian yang tepat. Kalau bisa, tempat yang jauh, sampai mereka tak bisa menemukannya.


Sarah berpindah duduk di jok depan samping Gavin.


“Huftt.. Kita mau kemana lagi, Vin?” sarah menoleh pada Gavin yang sedang sibuk mengemudi.


“Aku juga belum tahu kita harus kemana, Sarah. Mereka masih saja mengikuti kita.” Sesekali Gavin melirik kaca spion, memastikan mobil di belakangnya tertinggal jauh.


Sarah menggaruk alisnya, yang sebenarnya tak gatal. Suasana lengang beberapa detik. Hanya terdengar desis mobi yang melaju kencang. Kenapa, jadi seperti ini keadaannya sekarang. Semakin rumit saja.


“Vin.” Sarah memecah keheningan di dalam mobil, dia menoleh pada Gavin.


“Hemm.” Gavin menjawab singkat.


“Bagaimana, keadaan Bi Mira? Papi kamu sudah mengetahui semuanya. Dia pun juga sudah mengetahui, bahwa Bi Mira yang memberi kita alamat rumahnya. Dan menyuruh aku tinggal disana.”


Sarah tiba-tiba teringat dengan Bi Mira yang masih tinggal di rumah Gumalang. Nyawanya masih terancam, kapan saja Tuan Gumalang ingin menghabisinya tak akan ada yang bisa menghentikkannya.


“Aku sampai lupa dengan keadaan Bi Mira. Itu yang aku pikirkan, saat Khan datang menghadangku tadi. Tapi, aku belum bisa menghubunginya sekarang. Jika, aku mengaktifkan handphoneku, Papi pasti akan terus menerorku. Dia akan terus meneleponku, dan dia juga akan mengancamku sampai aku bisa kembali ke rumah.” Gavin memeijit pilipisnya. Dia semakin pusing dengan semua ini.


Hah.. Sarah menghela napas panjang. Dia menatap hamparan pepohonan disepanjang jalanan yang mereka lewati.


“Semoga Bi Mira baik-baik saja disana. Semoga Tuan Gumalang juga tak berpikir pendek dan bisa mengendalikan emosinya untuk tidak menghabisi Bi Mira. Terhitung sudah 30 tahun lebih Bi Mira bekerja di rumahmu kan, Vin? Dan dia juga yang menjagamu sejak kamu belum lahir.”


“Iya, aku tahu itu. Namun, tindakan Papi tak bisa kita duga, Sarah. Dia tak sesederhana yang kita pikir. Dia terlalu rumit, aku sebagai anaknya saja, sampai sekarang belum paham dengan apa yang dipikirkannya. Mami yang sudah menemaninya dari nol dan sampai sekarang menjadi orang kaya, juga tak paham dengan jalan pikiran Papi yang selalu berubah-ubah. Sampai pada waktunya Mami harus menyerah dengan keadaan dan meninggalkanku sendirian yang dengan penuh tanya di kepalaku.” Suara Gavin sedikit berubah menjadi sedih.


“Aku tak paham dengan ucapanmu, Vin. Tapi aku merasa, ada sesuatu yang Papimu sembunyikan darimu dan Alm.Mami. Kamu harus tetap sabar. Suatu saat nanti, kamu pasti akan mengetahui semuanya, Vin.” Sarah mengusap Pundak Gavin. Menyemangatinya supaya tak larut dalam kesedihannya.


Gavin menoleh dan tersenyum padanya. “Terimakasih, Sarah.”

__ADS_1


__ADS_2