
Selama satu jam Siska pingsan. Dia sangat shock dengan kejadian yang menimpanya tadi.
“Di mana aku, Bu.” Siska bertanya dengan suara pelan.
“Kamu ada di rumah sakit, Sis. Kata dokter kamu mengalami shock berat, jadi kamu harus di rawat di sini selama satu malam, barulah besok pagi kamu di perbolehkan pulang setelah keadaanmu membaik.” Jawab bu Joy dengan suara lembut.
Siska hanya menatap wajah ibunya tanpa mengatakan apapun.
“Kamu jangan khawatir, Gumalang hanya pergi sebentar untuk menyelesaikan urusannya. Setelah itu, dia akan kembali kepadamu.” Bu Joy tersenyum menghibur anak sulungnya.
“Bagaimana dengan wanita yang sedang hamil itu, Bu?” Siska menundukkan matanya.
Hemm.. Bu Joy menghela nafas. “Dia pergi bersama suamimu. Dia terus berteriak ingin Gumalang bertanggung jawab atas perbuatannya, para tamu juga sudah mengetahui semuanya.” Bu Joy mengusap rambut Siska.
Siska menelan ludah dan air matanya mulai mengalir deras membasahi pipinya. Impiannya yang ingin mempunyai keluarga yang bahagia, sepertinya tak akan terwujud. Baru saja selesai acara akad nikah, mereka sudah langsung dihadapkan dengan masalah yang besar seperti ini.
“Sis, sepertinya ini sudah di rencanakan baik-baik oleh mertuamu.” Rara yang sedari tadi hanya berdiri mematung, tiba-tiba berkata seperti itu.
Siska mendongak menatap Rara. “Apa maksud ucapanmu, Ra.”
“Sepertinya wanita itu memang sudah di sewa oleh mertuamu untuk menghancurkan acara pernikahanmu. Tapi, wanita itu terlambat datang ke akad nikahmu, jadi dia berteriak seperti tadi. Dan orang tua Gumalang menyewa wanita yang sudah dikenal baik dengan suamimu. Jadi, seolah-olah itu real tanpa ada settingan.” Jawab Rara.
“Apa mereka sejahat itu dengan anaknya sendiri? Sampai tega menghancurkan pernikahan anaknya.” Siska memalingkan wajah.
“Mungkin saja seperti itu. Tapi itu baru dugaanku saja, kita harus membuktikan kebenarannya.” Rara menggenggam tangan Siska untuk menguatkan sahabatnya itu.
Siska mengangguk dan sedikit tersenyum menatap Rara.
Seminggu kemudian, setelah kejadian memalukan itu. Gumalang belum juga kembali menemui Siska. Dia masih belum bisa menemui istrinya itu, karena orang tuanya menahannya di rumah. Dia di kurung di dalam ruangan bawah tanah yang semua dindingnya tembok, hanya ada satu pintu dan satu fentilasi udara, selain itu tak ada celah untuk dia bisa menyelinap keluar, mirip sekali dengan penjara untuk para penjahat kelas berat.
Sedangkan Siska di rumah sangat mengkhawatirkan suaminya yang tak kunjung datang menemuinya.
Waktu cepat sekali berlalu. Sudah satu tahun lamanya Gumalang tak juga menemui Siska. Siska sudah hampir melupakan suaminya itu. Dia sudah tak ada harapan lagi untuk bisa membina rumah tangga bersama dengan Gumalang. Dia juga sudah mengubur perasaannya untuk Gumalang, dia tak mau berharap lagi sekarang.
Sekarang dirinya sudah membuka toko roti impiannya. Dia menguras semua tabungannya untuk modal membuka usaha. Saat dia sedang sibuk di dapur membuat roti, ada seorang pelanggan ingin bertemu dengannya.
“Bu, ada seorang pria yang ingin bertemu dengan Ibu.” Ucap Hera sambil melongokkan kepalanya ke dapur. Hera adalah karyawan satu-satunya di toko rotinya.
“Siapa, Her. Aku sangat sibuk saat ini, bilang saja aku tak bisa menemuinya.” Jawab Siska tanpa menoleh ke Hera. Tangannya masih sibuk mengaduk-aduk adonan.
__ADS_1
“Baiklah, Bu. Akan saya sampaikan pada pria itu.” Hera mengangguk.
“Maaf, Tuan. Bu Siska tak bisa bertemu dengan anda. Beliau sedang sibuk di dapur, jadi tak bisa menerima tamu.” Hera tersenyum memberitahu pria itu.
“Baiklah. Tolong sampaikan pada Bu Siska, kalau saya akan menemuinya setelah tokonya tutup.” Ucap pria itu sambil memberikan selembar surat pada Hera.
“Baiklah, saya akan menyampaikan pesan itu pada Bu Siska.” Hera mengangguk dan tersenyum. Dia mengambil surat itu dan menyimpannya di laci kasir.
Setelah memberikan surat, pria itu pergi meninggalkan toko roti. Dan Hera bergegas melayani pelanggan yang sudah mengantri untuk membayar roti yang mereka ambil.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, berarti saatnya toko roti tutup.
“Bu, pria tadi masih ingin bertemu dengan Ibu. Dia juga memberikan surat ini untuk Ibu.” Hera memberikan surat itu.
Siska menerima surat itu, dan hanya menatapnya dan tak berniat membukanya. Dia masih melanjutkan kesibukannya menutup toko. Lalu dia meletakkan surat itu di atas meja kasir.
“Kenapa tak di buka, Bu? Apa Ibu tak penasaran dengan isinya?” Hera bertanya.
“Surat itu tak penting, Her. Saya juga tak ada niat ingin bertemu dengan pria itu.” Siska melangkah ke dapur meninggalkan Hera yang sibuk membersihkan meja kasir.
Butuh waktu satu jam mereka membereskan toko roti. Lalu mereka keluar bersamaan dan mengunci toko.
“Saya duluan ya, Bu.” Hera berpamitan.
“Ichh.. Ibu apaan, sih. Saya kan jadi malu, tapi Ibu benar, sih.” Jawab Hera dengan wajah malu-malu.
Hemm.. “Ya sudah. Pergi aja, nanti dia kelamaan menunggumu.” Siska mendorong badan Hera untuk segera berlari menemui kekasihnya.
“Sampai bertemu besok, Bu Siska.” Teriak Hera sambil berlari menjauh.
Siska hanya melambaikan tangan dan melemparkan senyuman pada Hera.
Sekarang dia berjalan sendirian menyusuri trotoar menuju rumahnya. Toko roti Siska letaknya tak jauh dari rumahnya.
“Siska.”
Terdengar suara pria memanggil namanya. Siska tersentak dan berhenti melangkah, lalu dia menoleh ke belakang melihat siapa pria yang ada di belakangnya.
Siska termangu menatap pria itu, seperti melihat hantu. “Kamu mau apa menemuiku.” Siska sudah sangat mengenali pria itu, walaupun dalam kegelapan dia bisa mengenalinya.
__ADS_1
Pria itu berjalan keluar dari kegelapan. Dia lalu mulai mendekati Siska. “Kamu masih sangat mengenalku. Tapi, kenapa tadi aku ingin bertemu denganmu sebentar saja tak diperbolehkan? Apa kamu sudah melupakanku?”
“Iya. Buat apa aku masih mengingatmu, sedangkan kamu saja tak pernah mengingatku lagi. Dan hari ini aku sangat sibuk, jadi tak menerima tamu.” Ucap Siska dengan sikap tenang.
Pria itu terkekeh mendengar ucapan Siska. “Tak apa jika kamu sudah tak melupakanku, dan mungkin saja kamu sudah sangat membenciku sekarang.”
“Tak perlu basa-basi, kamu mau apa datang menemuiku.” Mata Siska beralih memandang jalanan yang masih ramai.
“Aku merindukanmu. Aku juga ingin membalas semua kesalahanku setahun yang lalu.” Jawab pria itu.
Hahh.. Siska menyeringai. “Kamu tahu, kalau kamu sudah sangat bersalah padaku dan juga keluargaku? Pergi tanpa memberi kabar, dan kembali dengan cara seperti ini? Kamu pikir, aku ini siapa? Kamu bisa seenaknya pergi dan kembali semaumu.” Siska melotot pada pria itu.
“Aku tahu, setahun yang lalu aku sudah sangat menyakiti hatimu dan mempermalukan keluargamu. Tapi, itu bukan karena aku sengaja, ada hal yang membuatku tak bisa pergi menemuimu. Dan barulah sekarang aku punya kesempatan untuk menemuimu, Siska.” Pria itu berusaha meraih tangan Siska. Namun, tangannya di tepis langsung oleh Siska.
“Jangan pernah menyentuhku lagi, Gumalang yang terhormat. Dan jangan pernah menemuiku lagi, cukup ini yang terakhir kamu bertemu denganku.” Siska berbalik dan pergi meninggalkan Gumalang yang masih berdiri di mematung.
“Aku akan tetap menemuimu, sampai kamu mau memaafkanku dan menerimaku kembali, Siska.” Teriak Gumalang.
Siska tak menghiraukan teriakan itu, dia tetap melangkah ke depan tanpa berbalik lagi ke belakang.
Keesokan harinya, Gumalang sudah menunggunya di depan pintu toko roti. Siska yang melihatnya, langsung berbelok arah tak jadi membuka tokonya.
Dia lalu merogoh tasnya mengambil handphone.
📞“Hera, hari ini toko roti tutup. Besok saja kita buka lagi.” Siska menelepon Hera.
Hera sudah hampir sampai, saat menerima telepon dari bosnya.
📞“Baik, Bu.” Jawab Hera dari seberang telepon.
Siska menutup teleponnya dan bergegas kembali pulang ke rumahnya. Selama hampir dua bulan Gumalang masih berusaha mendekati Siska, dia melakukan hal yang sama setiap harinya. Sampai pada suatu hari Frans berkunjung ke toko rotinya, dan menceritakan semua permasalahan yang dihadapi Gumalang setahun lalu.
“Hai, Sis. Beruntung sekali aku bertemu dengan pemilik toko roti super enak ini. Di mana karyawanmu yang cantik itu. Apakah dia tak masuk hari ini. ” Frans tersenyum pada Siska,saat dia memasuki toko roti.
“Kamu bisa aja, Frans. Iya, Hera izin tak masuk hari ini. Ngomong-ngomong sifatmu tak berubah ya, Frans. Walaupun sekarang kamu sudah menikah, tetap saja masih melirik wanita cantik selain istrimu.” Siska tersipu malu sekaligus mencibir Frans.
“Tak apa-lah. Yang terpenting aku tak pernah selingkuh.” Jawab Frans sambil memilih roti yang ingin dia beli.
“Sis, apa kamu sudah bertemu dengan Gumalang?” Frans bertanya saat dia ingin membayar roti yang dia beli.
__ADS_1
“Apakah Gumalang memintamu untuk mengatakan ini padaku?” Siska tampak tak begitu senang membahas soal ini.
“Gumalang tak pernah meminta bantuanku untuk berbicara masalah kalian, Sis. Dia selalu punya cara sendiri untuk bisa mendapatkan hatimu. Tapi, saat tadi pagi aku bertemu dengannya, wajahnya tampak begitu lesu dan seperti tak terurus. Badannya lebih kurus dibanding dulu saat masih kuliah. Apa kamu tak menemuinya? Atau kamu sengaja tak mau bertemu dengannya.” Frans menatap Siska dengan ekspresi ingin tahu.