Tergoda Tuan Muda Tampan

Tergoda Tuan Muda Tampan
Bab. 29 Pengkhianatan


__ADS_3

Setelah mendapat perintah dari bosnya, Ari segera berpikir, bagaimana caranya dia mendapatkan lokasi Gavin saat ini. Setelah berpikir beberapa detik, Ari teringat seorang hacker yang handal, dia merogoh saku celananya dan menghambil handphonenya. Mencari nomornya dan menelepon hacker itu. Setelah beberapa detik menunggu, akhirnya hacker itu mengangkat telepon.


📞”Halo.” Ari memulai percakapan.


📞”Iya, ada perlu apa kamu sepagi ini menepelonku.” Jawab seseorang di seberang telepon.


📞”Aku butuh bantuanmu segera, teman. Apakah, kamu sedang sibuk saat ini?” Ari bertanya, sudut bibirnya terangkat, menampilkan sebuah senyuman di wajahnya.


📞”Beruntung sekali kamu hari ini, teman. Aku sedang tak sibuk dan sedang tak ada pekerjaan.” Suara tawa pelan terdengar di seberang telepon.


📞”Bagus, jika seperti itu." Ari tersenyum.


📞"Jadi, apa yang harus aku lakukan untukmu?"


📞"Aku sedang mencari seseorang saat ini. Bisakah kamu menolongku? Lacak plat nomor yang sudah aku kirimkan kepadamu lewat email. Aku butuh hasilnya sekarang, jika kamu berhasil memberiku hasil yang memuaskan, aku akan mentransfer sejumlah uang yang kamu inginkan. Apakah kamu setuju?”


📞”Ok, Baiklah. Aku setuju. Bekerja denganmu, memang selalu menyenangkan, teman. Tunggu aku 5 menit untuk menyelesaikan semuanya untukmu. Dan aku akan segera mengirimkan hasilnya untukmu.” Terdengar kembali suara tawa hacker itu di seberang telepon.


📞”Ok., baiklah. Selamat bekerja.” Setelah menjawab, Ari menuntup telepon.


Sesuai perjanjian, Ari menunggu jawaban selama 5 menit. Dan dalam waktu 5 meniit itu, dia mencoba menghubungi Gavin. Namun, hasilnya nihil, nomernya sudah tak aktif.


Dertt.. Handphone Ari bergetar. Segera dia membuka handphonennya dan melihat pemberitahuan yang muncul di beranda. Setelah melihat sekilas, Ari bergegas berlari masuk ke dalam rumah Gumalang. Segera dia menemui Tuan Gumalang di ruang kerjanya.


Tok tok tok. Ari mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.


"Masuk." Terdengar suara Tuan Gumalang dari dalam ruangan.

__ADS_1


“Permisi, Tuan.” Ari membuka pintu ruang kerja bosnya.


“Hemm” Jawab Tuan Gumalang. Dia mendongak menatap Ari.


“Apa kamu sudah mendapatkan informasi, dimana Gavin sekarang?” Tuan Gumalang bertanya.


“Sudah, Tuan.” Ari menyodorkan handphone dan meletakkan di meja kerja Tuan Gumalang.


Tuan Gumalang melihat isi dari handphone itu. Seketika itu ekpsresi wajah Tuan Gumalang terlihat bingung dan kaget. Dahinya mengernyit, seperti ada yang aneh.


“Apa benar, ini lokasi Gavin sekarang?” Tuan Gumalang menatap Ari, dia tak percaya dengan hasil yang ditunjukkan Ari.


“Benar, Tuan. Teman saya tak pernah salah melacak lokasi seseorang.” Ari mengangguk.


Tuan Gumalang mengangguk tipis dan menghela nafas panjang. Menyenderkan punggungnya di kursi kerjanya. Dia melipat tangannya di atas dada dan memejamkan matanya. Ruangan lengang sejenak.


“Panggilkan Bi Mira, suruh dia kemari.” Tanpa membuka mata, Tuan Gumalang memberi perintah pada Ari.


Suara Tuan Gumalang memecah lamunan Ari. “Baik, Tuan.” Ari mengangguk dan berbalik badan keluar ruangan, mencari Bi Mira di seluruh ruangan rumah Gumalang.


Bi Mira sedang sibuk merapikan taman. Dia juga sesekali bersenandung, ketika menyirami bunga-bunga yang tumbuh sehat di taman. Sepertinya, suasana hati Bi Mira sedang gembira. Namun, kegembiraan itu segera sirna, setelah dirinya dipanggil Ari untuk menghadap Tuan Gumalang.


“Ada apa Tuan Gumalang tiba-tiba memanggilku, Ri?” Tanya Bi Mira sambil meletakkan selang dan gunting di atas rumput.


“Saya tak tahu, Bi. Saya hanya disuruh memanggil Bibi saja.” Ari punya firasat buruk, setelah melihat wajah masam Tuan Gumalang tadi.


Pintu ruang kerja Tuan Gumalang sengaja tak ditutup rapat. Dibiarkan sedikit terbuka.

__ADS_1


“Permisi, Tuan.” Bi Mira mendorong pintu dan melangkah masuk.


Ketika, Tuan Gumalang melihat Bi Mira masuk dan mendorong pintu, dengan sengaja dia melempar sebuah benda.


Praannkkk.. Gelas kaca dilempar tepat dihadapan Bi Mira. Hampir saja gelas kaca itu mengenai kakinya. Namun, dengan cepat Bi Mira melangkah mundur sampai terbentur pinggiran pintu, menghidari pecahan gelas itu. Mata Bi Mira melebar, dia terkejut dengan reaksi Tuan Gumalang, ketika melihatnya masuk ke ruang kerjanya.


Jantung Bi Mira berdetak kencang. Bi Mira mengelus dada dan mengatur nafasnya. Ada apa ini? Kenapa, Tuan Gumalang marah padaku? Apa yang sudah terjadi? Bi Mira bertanya-tanya dalam hati. Ruangan sejenak menjadi lengang hanya terdengar ketukan jari Tuan Gumalang di meja kerjanya.


Bi Mira hanya menunduk tak berani menatap wajah Tuan Gumalang. Dia sangat takut saat ini. Dia juga tak berani bersuara sedikitpun.


“Kenapa, Bi Mira sangat lancang, memberi tempat wanita itu untuk tinggal! Apa kau sudah bosan bekerja di rumah ini? Atau, kau sudah bosan hidup?” Seru Tuan Gumalang. Matanya menatap tajam pada Bi Mira. Dadanya naik turun karena sangat marah.


Buukkk.. Sekali lagi Tuan Gumalang melempar benda ke arah Bi Mira. Kali ini buku tebal yang dilempar, dan mengenai kaki Bi Mira. Aachh.. Bi Mira mengerang kesakitan. Merasakan kakinya yang sakit terhantam buku tebal.


“Kau, sungguh sudah membuat saya kecewa, Bi. Selama berpuluh tahun kau tak pernah ikut campur urusan keluarga ini. Tetapi, kenapa kali ini kau ikut campur sampai sejauh ini? Apa karena, kau sudah bekerja disini berpuluh tahun, jadi sangat berani? Merasa aman, merasa saya tak akan marah padamu? Kau salah, Bi. Mulai saat ini, kau dipecat! Kemasi semua barang-barangmu. Dan segera pergi dari sini! Saya tak mau melihat pengkhianat berada di rumah ini.” Suara Tuan Gumalang semakin meninggi diiringi dengan hentakan tangannya di meja.


Bi Mira kembali terkejut, dia menelan ludahnya sendiri. Badannya kini terasa gemetar, pasalnya tak ada yang bisa membantunya sekarang. Tak ada yang peduli jika dia dibunuh saat ini. Walaupun, dia sudah bekerja berpuluh tahun di rumah Gumalang, itu sama sekali tak berarti apapun.


“Ma-maafkan saya, Tuan Gumalang. Sa-y..” Ucapan Bi Mira terputus karena Tuan Gumalang mengeluarkan sebilah pisau dari dalam laci meja kerjanya.


Bi Mira kembali menelan ludah, nafas dan jantungnya sudah tak terkendali. Rasanya semua sesak, ingin segera lari, tapi, kenapa kaki sangat berat untuk melangkah. Mata Bi Mira hanya tertuju pada sebilah pisau yang dipegang Tuan Gumalang. Tuan Gumalang mengusap ujung tajam pisaunya, sesekali dia juga melirik tajam pada Bi Mira. Wajah Bi Mira sudah pucat pasih. Melihat Bi Mira ketakutan, Tuan Gumalang mengangkat sedikit sudut bibirnya. Matanya kembali menatap tajam pisau yang dipegangnya.


“Kau, tak mau pergi dari sini? Apa kau akan merelakan nyawamu demi anakku dan wanita itu? Bagaimana dengan keluargamu nanti?” Tuan Gumalang menoleh dan menatap Bi Mira. Sekarang tatapannya seperti mengejek. Dia tahu Bi Mira tak akan bisa melawannya.


“Saya akan segera pergi dari sini, Tuan. Terimakasih sudah memberi saya pekerjaan, sampai tak terasa sudah 30 tahun saya bekerja disini. Semoga anda diberikan kesehatan selalu, Tuan.” Bi Mira meneteskan airmata, menunduk dan melangkah mundur keluar dari ruang kerja Tuan Gumalang.


Ari hanya diam menyaksikan pertunjukkan di depannya. Dia tak berani ikut campur, atau dia juga akan dihabisi bosnya.

__ADS_1


__ADS_2