
Suster Miya meminta Gavin untuk keluar terlebih dahulu dari ruangan, supaya Dokter lebih bisa konsentrasi dalam pemeriksaan pasiennya. Dokter Tio pun bergegas memeriksa keadaan Sarah. Dia mulai dari mengecek tekanan darah lalu denyut nadi dan gejala apa yang pertama kali Sarah rasakan saat terbangun dari koma. Setelah beberapa saat pemeriksaan berlangsung, akhirnya semua selesai. Dokter dan Suster tersenyum lega. Terutama Dokter Tio dan Suster Miya, mereka tertawa bahagia.
Gavin yang sedang menunggu di luar kamar, sangatlah panik. Dia berjalan mondar mandir menunggu hasilnya.
“Kenapa lama sekali mereka di dalam sana, semoga Sarah baik-baik saja, Tuhan.” Gavin berdoa sembari menggigit jari telunjuknya.
Serrtt..
Akhirnya pintu kamar dibuka dari dalam oleh Dokter Tio. “Nyonya Sarah sudah sadar, Tuan. Saat ini Nyonya Sarah baik-baik saja, dia sudah berhasil melewati masa kritisnya. Tetapi, Nyonya Sarah sekarang tidur kembali, karena efek obat yang saya berikan. Nanti, sekitar 2jam Nyonya Sarah akan sadar kembali. Jadi, Tuan Gavin tak perlu khawatir lagi. Dan semua alat sudah dilepas, kecuali infus.” Dokter Tio menjelaskan keadaan Sarah pada Gavin dengan senyum di wajahnya.
“Syukurlah, Sarah sudah sadar dan baik-baik saja sekarang. Terima kasih, atas kerja keras kalian selama 2 bulan ini. Aku akan mengirimkan bonus pada kalian.” Gavin tersenyum lega mendengar kabar baik ini.
"Terimakasih, Tuan. Semaksimal mungkin saya membantu pasien kami. Dan Nyonya Sarah memang wanita yang sangat kuat dan hebat. Ini sebuah keajaiban, Tuan." Dokter Tio tersenyum sampai menampakkan deretan gigi putihnya. Dia juga merasa sangat senang mendengar ucapan Gavin. Hampir saja dia melompat kegirangan. Dia tak jadi menyesal karena sudah bekerja dengan orang kaya yang kadang-kadang membuatnya takut. Akhirnya, lelah dan ketakutan yang mereka rasakan selama 2 bulan ini, dibayar dengan hasil yang sangat maksimal.
Setelah Gavin berbicara dengan Dokter Tio, dia lalu berpamitan dan bergegas masuk ke dalam kamar. Gavin berlari kecil menghampiri Sarah. Dengan perasaan bahagia Gavin mencium kening Sarah.
“Sarah, aku tahu kamu wanita yang kuat. Terima kasih sudah kembali membuka matamu. Kali ini, aku tak akan membiarkanmu sendirian lagi.” Ucap Gavin seraya mengusap rambut Sarah.
Deerrtt derrtt..
Handphone Gavin bergetar. Ada pesan masuk dari Ari.
Tuan Gavin, saya sudah mengetahui alamat Suster itu sekarang. Saya dan anak buah, sudah mulai melakukan pencarian rumah dan tempat kerjanya. Jika, nanti kita sudah bertemu dengan Suster itu, kita akan langsung menangkapnya dan membawa ke hadapan Tuan.
Isi pesan dari Ari, yang menunjukkan perkembangan dari pencarian Suster Nia selama 2 bulan ini.
Setelah melihat pesan dari Ari, Gavin meletakkan kembali handphonenya dalam kantong celananya dan dia pindah untuk duduk di sofa.
Suster Nia akan menerima balasan atas perbuatannya sendiri. Dan masih ada satu target lagi yang belum ditemukan, yaitu orang yang sudah menusuk Sarah, alias mantan suami Sarah. Gavin sudah mengetahui semuanya, namun dia belum juga menemukan orang itu.
Pagi hari di rumah Gumalang.
__ADS_1
Bi Mira sangat semangat menyiapkan sarapan untuk dibawa nanti ke rumah sakit. Dia senang sekali mendapatkan kabar, bahwa Sarah sudah bangun dari tidur panjangnya.
Tuan Gumalang berjalan ke dapur. “Bibi, masak apa untuk mereka?” Tanyanya sambil mengambil air minum di lemari es.
“Saya masak kesukaan Tuan Gavin, Tuan.” Jawab Bi Mira dengan tangan masih sibuk memasak dengan senyum bahagia.
“Oh, jangan terlalu lama masaknya, Bi. Saya harus ke kantor lebih awal, karena harus ada rapat penting hari ini.” Ucap Tuan Gumalang.
"Baik, Tuan. Saya akan mempercepat semuanya." Bi Mira mengangguk semangat.
Setelah mendapat jawaban dari Bi Mira, Tuan Gumalang melangkah pergi meninggalkan Bi Mira, yang masih sibuk dengan masakananya.
Tak lama kemudian, Tuan Gumalang datang kembali ke dapur, untuk menyantap sarapannya.
“Sudah selesai belum, Bi? Kita harus berangkat sekarang, nanti saya terlambat.”
“Sudah semua, Tuan. Saya mau siap-siap dulu ya, Tuan.” Jawab Bi Mira sembari berlari ke kamarnya. Secepat kilat Bi Mira mandi dan mengganti bajunya.
Serrrrttt....
Suara pintu kamar didorong. Yang datang adalah Tuan Gumalang dan Bi Mira.
Gavin yang masih tertidur lelap tak mendengar mereka datang lebih pagi. Sarah sudah bangun lebih dulu. Dia terbiasa bangun pagi-pagi seperti hari biasa. Dia memberi salam pada Tuan Gumalang dan Bi Mira. Melemparkan senyuman karena mereka sudah sangat baik terhadapnya.
Bi Mira bergegas menghampiri Sarah, setelah meletakkan bekal di atas meja, yang ia bawa untuk Tuan Mudanya.
“Sarah, apa kabar? Apakah sudah mulai membaik keadaanmu?” Tangan Bi Mira menggenggam tangan Sarah. Matanya berbinar ketika melihat raut wajah Sarah yang tak pucat lagi.
Sarah tersenyum melihat kepedulian Bi Mira padanya. Rasanya sekarang dia seperti mempunyai keluarga baru yang sangat sayang padanya.
“Sudah lebih baik, Bi.” Jawab Sarah dengan suara yang masih serak.
__ADS_1
“Syukurlah Sarah, berarti sebentar lagi kamu akan pulang ke rumah.” Kata Bi Mira.
“Sarah, kamu tak perlu kembali lagi ke rumah saya. Gavin sudah tak membutuhkanmu lagi.” Suara berat Tuan Gumalang menyela pembicaraan mereka.
Seketika kamar itu menjadi hening, suasanya menjadi dingin. Mereka tak berani bertanya, apalagi membantah perintah Tuan Gumalang.
Suasana bahagia berubah menjadi suram seketika. Sarah yang berharap mempunyai keluarga baru, saat itu juga sirna sudah harapannya. Dia menunduk, matanya penuh dengan genangan airmata. “Baik, Tuan.” Dengan perasaan sedih, dia menjawab.
“Biaya rumah sakit sudah sepenuhnya saya tanggung, kamu tak perlu khawatir. Namun, saya punya satu permintaan yang harus kamu lakukan, jika kamu ingin membalas kebaikan keluarga kami.” Tuan Gumalang kembali berkata dan saat ini dia menatap tajam pada Sarah.
“Apa itu, Tuan?” Sarah mendongakkan kepalanya dan dia mengusap airmatanya yang sudah terlebih dulu turun membasahi pipinya. Sekarang Sarah menatap Tuan Gumalang yang ada di depannya.
“Kamu harus pergi sejauh mungkin untuk meninggalkan Gavin. Saya juga sudah mengetahui semua yang terjadi di luar kota kemarin.” Kedua tangan Tuan Gumalang diletakkan di depan dadanya.
Sarah terkejut mendengar perkataan Tuan Gumalang. Jantungnya berdetak lebih cepat sekarang, dia sesekali mengedip-ngedipkan matanya karena masih tak percaya dengan apa yang sudah diucapkan oleh Tuannya itu.
“Kamu dan Gavin sudah melakukan sesuatu yang tak seharusnya kalian lakukan, sungguh keterlaluan kalian! Apa kamu tak sadar jika dia itu majikanmu sendiri? Kalian tak pantas untuk bersama, derajat kalian berbeda. Saya tak mau, jika Gavin harus menikah denganmu.” Tuan Gumalang masih melanjutkan kata katanya.
Ucapan Tuan Gumalang sungguh sangat menyakitkan.
Sarah hanya bisa diam dan mendengarkan semua yang dikatakan Tuan Gumalang.
“Gavin tak pantas untukmu! Dia hanya pantas untuk wanita dari keluarga yang sederajat dengan keluarga Gumalang. Terlebih lagi yang masih single dan belum pernah menikah. Jangan pernah dekati Gavin lagi.”
Suasana berubah memanas, ketika Tuan Gumalang berbicara soal status sosial.
Sarah memejamkan matanya, menenangkan hati dan pikirannya. Airmatanya semakin deras menetes seiring dengan ucapan Tuan Gumalang yang dilontarkan padanya.
Bi Mira yang melihat Sarah menangis, rasanya ingin sekali memeluk dan menghiburnya. Namun, untuk saat ini dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menyaksikan dan mendengarkan setiap perkataan majikannya itu.
Inilah yang ditakutkan Sarah, selama dia dekat dengan Gavin. Suatu saat nanti dia pasti akan diusir dari rumah Gumalang. Dan itu semua sudah terjadi pada saat ini.
__ADS_1