Tergoda Tuan Muda Tampan

Tergoda Tuan Muda Tampan
Bab. 36 Pulang


__ADS_3

Beberapa menit menunggu. Akhirnya, Ari mengirimkan lokasi Gavin saat ini. Tuan Gumalang langsung menyalakan maps menuju lokasi.


📞 “Halo. Kau segera bersiap ikut denganku. Bawa beberapa anak buah yang bisa diandalkan. Kali ini, saya akan memberi kau kesempatan terakhir. Jika masih mengecewakan, kau tak akan bisa kembali dengan selamat.” Tuan Gumalang menelepon Khan sambil fokus menatap jalanan.


📞 “Baik, Tuan. Saya akan menggunakan kesempatan terakhir ini sebaik mungkin.” Jawab Khan di seberang telepon.


Sambungan terputus. Tuan Gumalang menekan pedal gas lebih dalam. Mobil melesat cepat di jalan raya. Membelah keramaian jalanan Ibukota. Tak perlu waktu lama, Tuan Gumalang sampai di lokasi Khan. Mobil yang mogok masih diperbaiki.


Khan dan beberapa anak buah bergegas masuk ke dalam mobil Tuan Gumalang. Salah satu dari mereka mengambil alih kemudi. Tuan Gumalang berpindah ke jok belakang.


“Kau bodoh sekali, Khan!” Seru Tuan Gumalang saat Khan mulai duduk di sebelahnya.


“Maaf, Tuan.” Hanya itu yang bisa dia ucapkan saat ini.


“Lihat lokasi yang aku kirimkan padamu. Aku tak bisa berlama-lama membiarkan anak itu bersantai disana.” Mata Tuan Gumalang menatap jalanan di luar jendela.


“Baik, Tuan.” Khan segera membuka maps dan memberikan pada anak buahnya yang duduk di sebelah sopir.


“Kita menuju lokasi yang ada di maps. Cari rute tercepat, supaya kita bisa lebih cepat sampai disana.” Ucap Khan pada anak buahnya.


“Baik.” Jawab mereka bersamaan.


Hampir 5 jam perjalanan menuju lokasi Gavin. Mobil mereka mulai memasuki perkampungan. Dengan mata tajam, Khan melihat setiap rumah yang mereka lewati.


“Berhenti, Bay.” Khan berseru.


“Tuan, bukankah itu mobil Tuan Muda?” Khan menemukan mobil Gavin yang terparkir di salah satu rumah warga. Gavin sampai saat ini belum juga mengaktifkan handphonenya.


Tuan Gumalang segera mengikuti arah pandangan Khan. Dia mengangguk-angguk, menghela napas. 


Akhirnya, aku menemukan anak sialan itu. Menyusahkan saja. Batin Tuan Gumalang.


“Kau turun dan temui dia. Beri tahu dia kalau aku ada disini.” Tuan Gumalang kembali membenarkan posisi duduknya, meletakkan kedua tangannya di depan dadan menatap lurus ke depan.

__ADS_1


“Baik, Tuan.” Khan segera membuka pintu mobil dan keluar, melangkah maju ke rumah itu. Sampainya dia di pintu utama, Khan melihat Sarah sedang duduk santai di kursi tamu. Dia ditemani Gavin dan segerombolan Ibu-Ibu. Khan mengehela napas, baru dia mengetuk pintu.


Tok.. Tok.. Mendengar suara ketukan pintu, mereka semua menoleh. Menatap Khan yang berdiri di depan pintu. Mata Gavin langsung melebar, dia menelan ludah ketika melihat Khan ada disini. Ibu-Ibu yang sedang berkumpul tadi, langsung beranjak dari kursi mereka.


“Wah.. Pria mana lagi nih, yang bertamu di rumah Mbok Ju. Kenapa, semua pria ini tampan-tampan sekali.” Salah satu Ibu-Ibu itu menghampiri Khan di depan pintu. Khan memang tak kalah tampan, dia tinggi dan juga punya badan yang kekar. Namun, wajahnya selalu masam ketika berhadapan dengan orang lain.


Khan langsung masuk ke dalam rumah, meninggalkan Ibu-ibu yang berbicara dengannya tadi.


“Tuan Muda, mari kita pulang sekarang. Tuan Gumalang juga sudah menunggu anda di dalam mobil.” Khan membungkuk di depan Gavin.


Huuu.. Sorak Ibu-ibu, ketika mendengar ucapan Khan. “Tuan Muda? Berarti kamu anak konglomerat, ya? Pantas saja tampan, dan punya mobil sebagus itu. Tak disangka tamu Mbok Ju bukan orang biasa.” Ucap salah satu dari mereka. Mereka bersamaan tertawa.


Shuutt.. Mbok Ju meletakkan telunjuknya di depan bibir. Memberi kode pada Ibu-ibu untuk diam, jangan ikut campur urusan mereka.


Sarah hanya terdiam mematung, melihat Khan datang menemui Gavin.


“Gavin. Siapa dia?” Mbok Ju akhirnya bertanya.


“Dia anak buah Papi saya, Mbok. Saya harus segera meninggalkan rumah ini. Terimakasih atas pertolongan Mbok Ju dan Pak Kasim. Masakan Mbok Ju sangat lezat." Sambil mengacungkan dua jempol pada Mbok Ju.


“Kau, Sarah. Kau juga harus ikut pulang. Tuan Gumalang juga sudah menunggumu.” Mata Khan melotot saat berbicara dengan Sarah. Nada bicara langsung berubah, saat bicara dengan orang lain.


“Heh, anak muda. Jangan bicara kasar begitu dengan wanita. Bicara yang sopan. Suatu saat, kau juga akan membutuhkan seorang wanita untuk menjadi pendampingmu.” Sergah salah satu dari mereka yang melihat Khan berbicara kasar pada Sarah.


Khan tak membalas, dia hanya menatap tajam pada Ibu-ibu yang berbicara padanya.


Shutt... Sekali lagi Mbok Ju memperingatkan Ibu-ibu untuk diam tak perlu ikut campur.


Dengan langkah cepat Gavin keluar dari kamar. “Ayo, Khan.” Gavin hanya melewati Sarah, dia tahu pasti Papinya akan menghabisi Sarah, jika Sarah ikut pulang bersamanya.


“Tuan Muda. Sarah juga harus ikut, Tuan Gumalang juga sudah menunggunya.” Ucap Khan.


Gavin hanya melirik Sarah yang masih menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


“Sarah, biarakan dia disini. Tak perlu mendengarkan perintah dari Papi.” Gavin lebih dulu keluar dari rumah Mbok Ju.


Pak Kasim baru pulang dari sawah, dari jauh dia melihat banyak mobil yang terparkir di depan rumahnya. Dan melihat Gavin dengan setelan jas berjalan keluar dari rumahnya dan masuk ke dalam mobil.


Pak Kasim berlari, bergegas masuk ke dalam rumah dan bertanya pada Mbok Ju. “Mbok, siapa mereka? Kenapa, Gavin ikut dengan mereka? Kenapa, mobilnya tak dibawanya? Lalu, Sarah kenapa ditinggal?” Pak Kasim melirik Sarah yang masih duduk diam di kursi.


“Aku juga tak tahu, Pak. Mereka tiba-tiba datang dan membawa Gavin.” Jawab Mbok Ju.


Ibu-ibu yang sedang berkumpul tadi, hanya menyaksikan Gavin masuk ke dalam mobil. Mereka tak banyak bertanya lagi seperti pertama kali bertemu dengan Gavin. Wajah mereka juga terlihat sedih melihat Gavin pergi dengan cepat.


“Mana sarah! Kenapa, dia tak ikut keluar dari rumah itu.” Seru Tuan Gumalang, saat melihat Gavin hanya seorang diri masuk ke mobil.


“Sarah tak tahu apa-apa, Pi. Papi tak perlu membawanya, cukup aku saja yang ikut pulang.” Jawab Gavin tanpa menatap Papinya.


Tuan Gumalang menghela napas. Dia melirik sopir, 'Berangkat'. Mobil lalu melaju keluar dari perkampungan. Tuan Gumalang diam-diam sudah mengirim pesan pada Khan, untuk membawa paksa Sarah.


Bawa wanita itu tanpa Gavin tahu, dan sembunyikan dia di tempat yang Gavin tak akan bisa menemukannya. Isi pesan dari Tuan Gumalang.


Khan langsung menjalankan tugas setelah mendapatkan perintah dari Bosnya. Dia kembali lagi masuk ke dalam rumah Pak Kasim.


“Sarah, ikut saya. Tuan Muda ingin kau ikut dengan saya.” Khan berbohong pada Sarah, supaya dia lebih mudah membujuknya.


Dan benar saja, Sarah langsung masuk ke kamar, mengambil semua barang-barangnya dan berpamitan pada Pak Kasim dan Mbok Ju, tak lupa dengan Ibu-ibu semua. Dia tak menaruh curiga pada Khan. Dia juga tak bisa tinggal di kampung tanpa Gavin.


Sarah masuk ke mobil bersama Khan. Mereka lalu meninggalkan halaman rumah dan keluar dari perkampungan.


Sepanjang jalan, Sarah tak banyak bertanya, yang terpenting dirinya bisa ikut pulang ke Ibukota. Mobil yang dikendarai Khan mulai berjalan keluar dari perkampungan. Setelah masuk ke jalan raya Khan menambahkan kecepatannya.


Suasana mobil lengang sesaat, hanya terdengar lagu pop yang di putar dengan volume rendah. Sarah sesekali menoleh ke sebelah, menatap wajah Khan yang sebenarnya tak seseram suaranya. Karena, pekerjaan saja yang menuntutnya berwajah seram seperti itu.


“Kenapa, daritadi kau seperti mengawasiku.” Seru Khan.


Sarah kepergok sedang memperhatikan Khan, dia langsung membuang muka pura-pura tak mendengar Khan berbicara padanya.

__ADS_1


“Seharusnya, kamu tak perlu berhubungan dengan Tuan Muda. Keluarga Gumalang itu sangat rumit, Sarah. Aku kasihan melihat kamu diperlakukan seperti ini.” Khan akhirnya mengeluarkan nada pelan dan lebih sopan , tak seperti barusan, bernada kasar.


Sarah mengangkat bahu, dan masih diam tak menjawab pertanyaan Khan. Banyak sekali pertanyaan di kepalanya, namun dia tak berani bertanya pada Khan. Takut nanti dia akan melapor pada bosnya.


__ADS_2