
Di dalam kamar, Sarah kembali menangis. Dia berdiri di tepian jendela kamarnya. Menatap langit malam yang gelap, hanya ada cahaya kilat yang menari indah di langit.
Seolah-olah langit saja tak mengizinkannya untuk bahagia sedikit pun. Benar, yang dikatakan Jack. Ini semua memang salahnya. Jika, dirinya tak ada di kehidupan Gavin, mungkin semua ini tak akan terjadi.
Tapi, semua memang sudah terjadi, kalau saja waktu bisa di putar kembali, Sarah lebih memilih ikut mati bersama dengan kedua orang tuanya. Daripada harus hidup, tapi terasa dianggap mati oleh orang lain.
Kesedihan menyelimuti hatinya, baru bahagia sebentar, sekarang sudah di hadapkan dengan kesedihan yang berkepanjangan. Terkadang Sarah berpikir, Tuhan tak pernah adil dengan kehidupannya.
Cukup lama Sarah berdiri di tepian jendela. Setelah lelah berdiri, Sarah berbaring di atas ranjang. Menatap langit-langit lalu segera tertidur. Mungkin saja, besok saat dia bangun, keadaannya sudah lebih baik daripada malam ini.
**
Pagi-pagi sekali Gavin sudah bersiap-siap untuk pergi menemui Sarah di rumah pak Kasim. Dia membawa mobilnya sendiri. Papi Gumalang hanya melihat Gavin dari balkon kamarnya. Dia tidak bisa menahan kepergian anaknya.
“Ikuti Gavin. Dia sudah keluar dari rumah Gumalang.” Tuan Gumalang menelepon Ari.
“Baik, Tuan. Saya sudah dalam perjalanan mengikuti Tuan Muda.” Jawab Ari dari seberang telepon.
“Bagus.” Seru Tuan Gumalang, lalu dia menutup sambungan telepon.
Gavin fokus pada jalanan di depannya. Jalanan Ibukota setiap harinya macet, dan itu membuat Gavin semakin kesal. Seharusnya dia tadi membawa motor saja, daripada membawa mobil jalannya sangat lambat. Gavin memukul setir mobil untuk melampiaskan kekesalannya.
“Sarah, tunggu aku di sana. Aku akan menjemputmu dan kita pergi sejauh mungkin.” Gumam gavin.
Perjalanan sangat lambat, memakan waktu hampir tujuh jam. Setelah bermacet ria, akhirnya Gavin sampai di depan rumah pak Kasim. Rumah pak Kasim terlihat sepi, seperti tidak ada orang di dalamnya. Pintunya juga tertutup rapat.
Gavin turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke teras rumah pak Kasim. Mengetuk pintu berkali-kali, namun tak ada jawaban. Dia berusaha mencari warga sekitar yang mungkin bisa di tanyai. Kebetulan ada ibu-ibu yang lewat di depan rumah pak Kasim. Gavin segera berlari menghampiri mereka.
“Maaf, Bu. Apakah saya boleh bertanya?” Ucap Gavin sambil melemparkan senyum pada ibu-ibu itu.
“Kamu, bukannya tamunya Mbok Ju yang kemarin nginep di sini, kan?” Salah satu ibu-ibu itu balik bertanya pada Gavin.
Gavin mengangguk semangat, “Iya, Bu. Betul sekali.”
__ADS_1
“Kamu ngapain ke sini lagi? Mbok Ju sudah tak tinggal di sini lagi, setelah kalian pergi.” Sergah ibu yang lain yang juga ikut mendengarkan pertanyaan Gavin.
Gavin mengernyitkan dahi, dia tak percaya apa yang di bicarakan sama ibu ini.
“Kira-kira mereka pindah kemana ya, Bu? Lalu, wanita yang tinggal di sini apakah ikut dengan Mbok Ju dan Pak Kasim?” Gavin bertanya lagi.
“Kita tak tahu mereka pindah kemana. Dan wanita yang pernah menginap di rumahnya sudah di bawa pergi dengan seorang pria yang kemarin menjemputmu. Wanita itu tak ikut dengan Mbok Ju dan Pak Kasim.” Jelas ibu yang satunya lagi.
Gavin sejenak terdiam mendengar penjelasan itu. Sarah pergi dengan Khan? Pasti ini semua ulah papi. Tapi, kemana mereka pergi. Batin Gavin.
“Ya, sudah. Kita mau lanjut ke pasar.” Ibu-ibu itu sudah tidak histeris lagi melihat Gavin, tidak seperti saat pertama kalinya mereka melihat Gavin. Seperti ada yang beda dengan sikap mereka, termasuk mbok Ju dan pak Kasim yang tiba-tiba pindah rumah.
Flashback sebelum mbok Ju dan pak Kasim pindah.
Malam harinya setelah Tuan Gumalang sampai di rumah, dia kembali menelepon Khan untuk diantar ke kampung yang mereka datangi tadi. Sampai di rumah pak Kasim sudah tengah malam.
Tuan Gumalang mengetuk pintu rumah pak Kasim, lumayan lama Tuan Gumalang menunggu pintu rumah di buka.
**
Ari masih mengikuti Gavin sampai di kampung. Dia juga sesekali melapor pada bosnya.
Gavin kembali ke Ibukota dengan hati yang gelisah, dia semakin resah memikirkan keadaan Sarah sekarang. Di mana Sarah tinggal sekarang, ke mana dia harus mencari Sarah.
“Ini semua pasti rencana Papi.” Hah.. Gavin memukul setir mobil lagi. Dia lalu bergegas kembali ke rumah dan ingin sekali bertanya pada papinya.
Perjalanan pulang kali ini lebih cepat dibandingkan dengan berangkat tadi. Jalanan tidak terlalu macet, Gavin bisa menyalip satu dua mobil di depannya. Dia sudah tak sabar ingin sekali bertemu dengan papinya.
Perjalanan memakan waktu selama lima jam. Sesampainya dia di rumah Gumalang, Gavin langsung memarkirkan mobilnya di depan pintu utama rumah Gumalang.
Dia bergegas keluar dari dalam mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Mencari papinya di kamar dan ruang kerjanya, tapi dua ruangan itu kosong tak ada orang. Gavin lalu berlari kembali keluar, dan menemui pak Bari.
“Pak Bari.” Gavin memanggil dari jauh.
__ADS_1
Pak Bari menoleh ke arah Gavin yang sedang berlari menghampirinya.
“Ada apa Tuan Muda. Kenapa anda seperti sedang panik? Apa terjadi sesuatu?” Pak Bari bertanya.
“Pak, Papi mana? Kenapa dia tak ada di rumah?” Ucap Gavin sambil mengatur nafasnya yang sedikit tersengal.
“Tuan Gumalang baru saja berangkat ke kantor Tuan Muda.” Jawab pak Bari.
Gavin bergegas lari masuk ke dalam mobilnya lagi, dan langsung tancap gas keluar rumah. “Terimakasih informasinya, Pak.” Teriak Gavin dari dalam mobil.
Pak Bari hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam ruangan security yang ada di dekat gerbang.
Mobil Gavin melesat cepat memasuki jalanan yang ramai. Dia bisa menyalip ke kanan dan ke kiri tak memikirkan nyawanya sendiri. Yang dipikirkannya hanyalah harus segera menemukan sarah.
Hanya butuh waktu lima belas menit Gavin sampai di perusahaan papinya. Dia segera berlari masuk ke dalam perusahaan dan naik ke atas menggunakan lift.
Saat dirinya sampai di depan pintu ruangan papinya, tak sengaja dia mendengar percakapan papinya di telepon dengan seseorang. Entah siapa seseorang yang ada di seberang telepon, yang jelas itu percakapan yang serius.
“Kau, jaga dia baik-baik. Jangan biarkan dia lolos dan pergi menemui Gavin.” Ucap papi Gumalang.
“Ok, Gavin jangan sampai tahu soal ini.” Papi Gumalang mengakhiri sambungan teleponnya.
Gavin terkejut dengan ucapan papinya. Dia lalu membuka pintu dengan kasar dan membanting pintu sampai terbentur ke dinding tembok. Papi Gumalang sangat kaget dengan suara pintu dibating.
“Apa-apaan kamu, Vin. Kamu sudah tidak punya sopan santun masuk ke dalam ruangan Papi?” Papi Gumalang mulai duduk di kursi kerjanya.
Gavin menghela nafas dan dengan sabar dia bertanya pada papinya. “Papi, ada di mana Sarah sekarang?” Gavin langsung ke intinya.
“Sarah? Mana Papi tahu, Vin. Kenapa kamu menanyakan Sarah pada Papi. Apa dia sudah tidak ada di kampung? Dia sudah pergi meninggalkanmu? Benar, kan yang Papi katakan, dia itu hanya wanita yang mengejar kekayaanmu saja.” Ucap Papi Gumalang tanpa rasa bersalah.
Gavin menyeringai sinis. “Jangan bohong padaku, Pi. Aku sudah mendengar percakapan Papi dengan seseorang di telepon tadi. Jadi, Papi tidak bisa mengelak lagi.” Gavin semakin mendekat ke meja papinya.
“Jawab, Pi.” Gavin menggebrak meja kerja dan menatap tajam pada papinya.
__ADS_1