Tergoda Tuan Muda Tampan

Tergoda Tuan Muda Tampan
Bab. 31 Makan dan Menginap


__ADS_3

Gavin melirik kaca spion, melihat mobil Khan yang sudah tertinggal jauh. Dia bisa sedikit bernafas lega. Gavin mengurangi kecepatan mobilnya, dia masuk ke dalam perkampungan. Dan ingin mencari penginapan untuk beristirahat sejenak.


Jalanan kampung berbeda dengan Ibukota. Di kampung jalanan tak terlalu ramai, hanya ada beberapa mobil saja yang lewat. Kebanyakan motor warga yang lalu Lalang dari kebun atau dari pasar dan dari tempat lain.


Gavin bisa mengebut dan menyalip tanpa hambatan. Itulah yang membuatnya bisa terlepas dari kejaran rombongan Khan dan anak buahnya.


“Disini tak ada penginapan seperti di Ibukota, Vin. Tempat makan saja tak ada.” Ucap Sarah. Matanya sibuk kesana kemari, mencari tempat yang bisa mereka singgahi.


Perut mereka juga keroncongan, karena dari siang mereka belum makan apapun. Mereka sibuk melarikan diri, sampai tak sempat memikirkan perut. Mereka sampai di perkampungan pada malam hari, jam 07.30.


Perkampungan yang mereka lewati masih lumayan ramai, warganya belum menutup pintu. Mereka masih sibuk dengan aktifitas masing-masing. Gavin berhenti di pinggir jalan dekat dengan perkampungan warga. Dia melihat seorang bapak-bapak yang mengendarai motornya melewati mobil mereka.


“Permisi, Pak. Maaf saya boleh bertanya?” Gavin membuka pintu mobil dan turun memberi salam pada bapak itu.


“Iya, ada yang bisa saya bantu, Nak?” Jawab Bapak. Bapak itu menghentikan laju motornya.


“Disini, apakah ada penginapan, Pak? Kami sedang mencari rumah yang bisa kita tempati untuk beberapa hari?” Gavin bertanya.


“Disini tak ada yang namanya penginapan, Nak. Ini perkampungan, siapa juga yang mau menginap di kampung.” Bapak itu tersenyum pada Gavin.


Iya juga sih, ini kan di kampung bukan Ibukota. Batin Gavin. Dia menghela napas, berpikir kemana lagi dia harus mencari tempat istirahat yang nyaman dan aman.


Si Bapak melihat raut wajah Gavin yang sedang bingung. “Kalau belum dapat tempat tinggal, kalian bisa tinggal di rumah saya dulu, tak apa, Nak. Kami juga hanya tinggal berdua saja. Anak-anak kami bekerja di Ibukota, mereka pulang hanya saat hari Raya atau saat ada tanggal merah saja. Selain itu, mereka sibuk bekerja.” Ucap si Bapak dengan senyum sumringah.


Gavin terkejut mendengar ucapan si Bapak. Dia tak menyangka masih ada orang baik pada jaman sekarang. Padahal, kita baru bertemu beberapa menit lalu. Bergegas Gavin menjawab, iya. Dengan sangat senang hati dia menerima pertolongan dari si Bapak.


Setelah mendapat jawaban dari Gavin, si Bapak langsung menyalakan mesin motornya dan bergegas pulang kerumah. "Ikuti saya, ya." Terukir senyum bahagia di wajah si Bapak.


Gavin mengangguk, dia juga bergegas masuk ke mobil dan menyalakan mesin, mengikuti si Bapak dari belakang. Dia tersenyum melihat Sarah yang tertidur duluan.


“Kamu pasti kelelahan, karena sudah seharian berkeliling. Setelah ini, kamu bisa sepuasnya istirahat, sayang.” Gavin mengusap rambut Sarah.

__ADS_1


Tak jauh dari tempat mereka mengobrol tadi, sampailah di rumah si Bapak. Rumahnya memang tak sebagus rumah Gumalang. Namun, ini sudah lebih dari cukup untuk dia dan Sarah beristirahat melepas lelah. Udaranya disini juga lebih sejuk dibanding rumahnya sendiri.


Gavin peralahan membangunkan Sarah, dia mengajak Sarah untuk masuk ke rumah si Bapak.


“Ini, rumah siapa, Vin?” Sarah terbangun dari tidurnya dan bingung melihat rumah yang ada di depannya sekarang.


“Ini rumah si Bapak, yang aku temui tadi di pinggir jalan. Dia dengan senang hati menerima kita untuk tinggal di rumahnya beberapa hari ke depan.” Gavin menjelaskan seraya membuka pintu mobil.


“Rasanya, seperti ada yang aneh, Vin. Apa kamu tak merasakan hal yang sama sepertiku?” Sarah meraih tangan Gavin. Dan menahannya untuk tidak keluar dari mobilnya.


Gavin kembali menggenggam tangan Sarah untuk meyakinkannya. “Tak apa, Sarah. Ada aku disini yang selalu melindungimu. Kamu tak perlu memikirkan hal buruk seperti itu. Kita harus punya prasangka baik pada orang yang sudah mau menolong kita.” Gavin membujuk Sarah untuk masuk ke rumah si Bapak.


Mereka berjalan beriringan. Melihat sekitar rumah yang masih asri. Halaman rumah yang masih ditumbuhi rumput hijau. Segar sekali menghirup udara malam di perkampungan ini.


“Silahkan masuk, Nak. Anggap saja ini rumah kalian sendiri. Saya akan memanggilkan istri saya dulu, ya.” Ucap si Bapak seraya merapikan rumahnya yang sedikit berantakan.


Gavin dan Sarah mengangguk bersamaan. Mereka tersenyum pada si Bapak, dan melangkah masuk ke dalam rumah.


“Rumahnya, lumayan nyaman, ya. Walaupun lantainya hanya dilapisi semen, mungkin aku akan betah tinggal disini, Sarah.” Mata Gavin masih mejelajah keseluruh ruangan di rumah itu.


Gavin tak terima ejekan dari Sarah. Mulutnya cemberut, tapi memang dia tak bisa mengelak, kalau memang kenyataan seperti itu. Gavin memang paling benci dengan kotor dan bau.


Pernah sekali tangannya hanya terkena kotoran cicak saja, dia sudah histeris. Bagaimana, jika dia sampai terkena kotoran sapi? Mungkin, sudah pingsan. Ha ha ha. Mereka berdua tertawa Bersama. Walaupun, percakapan itu membuat Gavin jadi teringat hal yang sangat menjijikkan.


“Hai, Nak. Kalian sedang apa masih masih berdiri saja? Duduk disini, walaupun kursi bapak tak sebagus yang kalian punya, tapi setidaknya masih nyaman untuk duduk.” Si bapak tersenyum, menunjuk kursi tamu miliknya yang sudah usang dan jadul.


“Maaf, jamuannya hanya makanan sederhana, ya. Yang terpenting kalian bisa makan malam ini, untuk mengisi perut yang lapar.” Si Bapak sibuk menyiapkan beberapa makanan di atas meja.


Sarah terheran. Kenapa, si Bapak tahu kalau kita sedang lapar? Padahal, kita belum berbicara soal perutnya yang lapar. Achh.. Biarkan lah, yang terpenting mereka bisa makan, malam ini.


Mungkin, hanya kebetulan saja si Bapak menawarkan makanan pada kita. Pikir Sarah dalam diamnya.

__ADS_1


“Wah, ada tamu berkunjung malam-malam ke rumah kita, Pak.” Seorang Ibu tua keluar dari dalam kamar.


Sarah dan Gavin tersenyum, mengangguk memberi salam. “Maaf, malam-malam kita bertamu, Bu. Maaf juga, kita jadi merepotkan Bapak dan Ibu.” Ucap Sarah seraya bersalaman pada mereka.


"Tak apa. Kita malah senang ada tamu berkunjung ke rumah kita." Jawab si Ibu.


“Perkenalkan saya Pak Kasim dan ini istri saya Juariyah.” Mereka memperkenalkan diri terlebih dahulu. “Nama kalian siapa? Kenapa, bisa malam-malam begini nyasar sampai ke kampung?” Gantian Pak Kasim yang membuka suara.


Sarah dan Gavin sudah mengambil piring, lalu menyendok nasi dan mengambil sayur. Mereka sudah tak tahan melihat makanan yang telihat lezat di atas meja.


“Kami ada kendala di jalan tadi, Pak. Ada yang tiba-tiba mengejar dan menghadang mobil kami. Jadi, tanpa rencana kami masuk ke perkampungan ini. Untuk bersembunyi dari mereka. Maaf sekali lagi, kami sudah merepotkan Bapak dan Ibu.” Mereka berdua berdiri dan menunduk meminta maaf pada Pak Kasim dan Ibu Juariyah.


“Aduh, tak perlu sampai seperti itu, Nak. tak perlu terlalu sungkan seperti itu. Kami terkadang merasa sepi, tak ada teman ngobrol di rumah. Makanya, kami sangat senang ada tamu datang ke rumah kita. Makanlah yang banyak, kami masih punya stok makanan di dapur.” Ucap Pak Kasim, wajahnya terlihat bahagia melihat Sarah dan Gavin makan dengan lahap.


Mereka mengangguk dan melanjutkan memakan sepiring nasi dan lauk yang mereka ambil tadi. Karena, sudah sangat lapar mereka sampai lupa memperkenalkan diri. Padahal, tadi Pak Kasim sudah bertanya, tapi tak dihiraukan.


Sepeiring nasi dan lauk sudah habis. Hah.. Gavin meletakkan piring dan mengusap perutnya yang sudah kekenyangan. Masakan Bu Juariyah sangat enak. Masakan Koki resto saja kalah dengan masakan Bu Juariyah. Apa karena, gratis ya. Jadi makanan apa saja jadi enak. Ha ha ha.


Setelah selesai makan, Sarah langsung membereskan piring kotor dan sisa makanan yang masih ada di meja. “Maaf, Pak. Dapur sebelah mana, ya?” Tanya Sarah.


“Aduh, Nak. Tak perlu membereskannya, biar istri saya saja yang membereskannya.” Pak Kasim mengambil piring dan mangkuk yang masih ada sisa makanan di tangan Sarah.


“Tak apa, Pak Kasim. Saya mau membantu disini, terimakasih banyak kami sudah dikasih makan enak, dan dikasih penginapan juga.” Sarah dengan cepat merebut piringnya kembali dari tangan Pak Kasim.


“Baiklah, kalau begitu, Nak. Kamu masuk saja ke dalam. Nanti kamu tengok ke kiri. Nah, disitu sudah terlihat dapur kami. Ada istri saya juga di dapur.” Pak Kasim membantu Sarah membuka tirai pembatas antara dapur dan ruang tamu.


Rumah Pak Kasim cukup luas. Ada 2 kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Namun, kamar mandi mereka masih berada di luar rumah. Maklumlah, masih daerah perkampungan, jadi belum ada kamar mandi di dalam rumah.


Pak Kasim kembali duduk di kursi Bersama Gavin. “Nak, siapa nama kalian. Kalian belum memperkenalkan diri, karena sibuk makan tadi?” Pak Kasim menoleh pada Gavin yang masih kekenyangan.


“Astaga, tadi Pak Kasim sudah bertanya, ya. Maaf, kami sibuk dengan makanan, Pak .” Gavin tersenyum sampai terlihat deretan gigi putihnya.

__ADS_1


“Nama saya Gavin, dan wanita yang bersama saya namanya Sarah.” Gavin memperkenalkan diri.


Mereka lalu mengobrol banyak hal. Berbagi pengalaman dan bergurau. Sarah masih sibuk di dapur membantu Bu Juariyah.


__ADS_2