
“Suaramu juga bagus, ya. Kamu sempurna sekali, punya wajah cantik, suaramu juga bagus. Pasti kamu anak orang kaya, ya?” Frans menggenggam erat tangan Siska.
Siska hanya terdiam mendengar ucapan Frans yang membawa status keluarganya. Dia dengan perlahan melepaskan tangan Frans.
“Kenalin aku Rara, kamu juga harus berkenalan denganku, kan?” Rara memutus rasa canggung Siska pada Frans.
“Oh, iya. Pastinya dong.” Frans tersenyum dan beralih menatap Rara.
“Ini kenalin juga sahabat terbaikku, Gumalang.” Frans menarik Gumalang yang berdiri di belakangnya.
“Gumalang. Wah.. nama yang bagus.” Rara berakata dengan wajah sumringah.
Lalu Rara dan Gumalang berjabat tangan untuk berkenalan.
“Hei, Siska. Kamu tak mau berkenalan dengan sahabatku?” Frans membuyarkan lamunan Siska.
Siska kembali terkejut mendengar Frans berbicara dengannya. “Saya Siska.”
Gumalang dan Siska berjabat tangan, namun seperti ada aliran listrik saat mereka saling bersentuhan. Gumalang dan Siska dengan cepat melepas tangan masing-masing. Frans dan Rara terkejut dengan ekspresi mereka berdua.
“Kalian kenapa?” Frans bertanya.
Mereka berdua hanya menjawab dengan menggelengkan kepala.
“Sepertinya aku pernah melihatmu.” Siska berbicara lebih dulu.
“Aku?” Gumalang menunjuk dirinya sendiri.
Hemm.. “Acch.. iya. Di depan papan informasi kemarin. Kamu tak ingat?” Ucap Sarah.
“Oh, iya. Maaf aku lupa kejadian kemarin.” Gumalang menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Lang, bagaimana kamu bisa melupakan wanita secantik ini? Otakmu sudah tak beres, Lang. Kamu seharusnya sesekali berkencan dengan wanita, jangan hanya berkencan dengan buku tebal-tebal saja.” Goda Frans.
Gumalang merasa malu dengan ucapan Frans yang selalu blak-blakan. “Maaf.” Sekali lagi dia meminta maaf.
“Kamu sudah empat kali meminta maaf padaku, Gumalang.” Ucap Siska dengan bibir tersenyum.
Hah.. Gumalang terkejut dan dia menatap Siska saat ini.
“Hei, jangan kelamaan menatap dia. Nanti kamu bisa suka sama dia.” Frans menyenggol tangan Gumalang.
Setelah percakapan cukup panjang, mereka lalu berjalan bersama masuk ke kelas masing-masing. Siska kebetulan juga mengambil jurusan manajemen bisnis. Dia ingin belajar bisnis, tujuannya setelah selesai kuliah dia bisa membuka bisnis sendiri untuk membahagiakan orang tuanya.
__ADS_1
“Kamu juga mengambil jurusan manajemen, Sis?” Tanya Gumalang.
“Iya. Aku kira ini jurusan yang lumayan menjanjikan setelah lulus kuliah nanti.” Siska mengangguk dan tersenyum.
“Iya, benar. Aku juga berpikiran seperti itu.” Gumalang tersenyum.
Kelas di mulai. Selama dua jam ke depan mereka mendengarkan dosen menjelaskan tentang apa itu manajemen bisnis.
Singkatnya, mereka jadi saling menyukai satu sama lain, karena setiap hari bertemu. Selama tiga tahun mereka menjalin hubungan. Karena Gumalang sudah berhasil membuka bisnisnya sendiri, akhirnya dia melamar Siska untuk menjadi istrinya. Dan Siska pun sudah berhasil membuka bisnisnya sendiri yaitu toko roti. Karena dia sangat hobi memasak, jadi dia menyalurkan hobinya dengan membuka bisnis itu.
Gumalang dan Siska berasal dari keluarga yang berbeda. Sebelum mereka menikah, keluarga dari pihak Gumalang tidak menyetujui rencana mereka berdua. Karena Siska berasal dari keluarga yang kurang mampu. Namun, dengan sikap keras kepalanya Gumalang akhirnya mereka menikah juga, walaupun tanpa persetujuan dari keluarga pihak pria.
“Sayang, Ayah dan Ibumu tak menyetujui pernikahan kita. Apa kamu yakin akan melanjutkan pernikahan ini?” Siska bertanya setelah mereka resmi menikah di sebuah gedung pernikahan.
“Aku sangat yakin, sayang. Kamu jangan khawatir, walaupun mereka tak menyetujui kita sampai mereka mati, itu tak akan menghalangiku untuk melanjutkan pernikahan kita sampai kita sama-sama tua nanti.” Gumalang tersenyum pada Siska.
Siska menatap ke arah tamu yang berlalu-lalang di hadapan mereka. Di sana ada Frans dan Rara yang sedang menatap kedua pengantin yang sedang berbahagia hari ini. Siska tersenyum pada kedua sahabatnya itu. Kalau bukan karena bantuan mereka, pernikahan ini tak akan berjalan lancar.
“Kira-kira orang tuamu akan datang atau tidak, Lang?” Siska menoleh, menatap Gumalang yang sedang melamun.
Gumalang hanya tersenyum menatap kekasihnya yang sekarang sudah menjadi istrinya. Dia tak mengatakan apapun.
“Siska, ada wanita yang mencari suamimu di depan sana.” Rara berbisik di telinga Siska.
“Aku juga bingung, Sis. Dia memaksa ingin masuk ke dalam, tapi Security masih menahannya.” Rara mengangkat bahunya.
“Aku akan keluar sekarang.” Siska beranjak dari kursi pelaminannya dan bergegas berlari keluar.
Gumalang yang tak sempat menahan Siska, dia hanya terdiam menatap istrinya berlari meninggalkannya.
Frans melangkah mendekati Gumalang. “Lang, ada masalah besar di luar sana.” Frans berbisik dengan wajah panik.
Gumalang menatap tajam pada Frans. “Apa maksudmu masalah besar?”
“Ada wanita yang mengaku, kalau dia sudah hamil anak darimu.” Jawab Frans.
“Apa!!” Seru Gumalang.
Frans hanya mengangguk dan menunjuk ke arah luar gedung. Lalu, Gumalang bergegas menyusul istrinya di susul Frans di belakangnya.
“Gumalang, kamu mau kemana?” Tanya Bu Joy. Wanita tua itu adalah ibu mertuanya.
“Saya mau menyusul Siska dulu, Bu. Ibu tunggu kita di sini saja dengan Ayah.” Gumalang tersenyum pada ibu mertuanya.
__ADS_1
“Memangnya ada masalah apa?” Bu Joy bertanya kembali. Namun, Bu Joy belum mendapat jawaban, karena Gumalang sudah berlari meninggalkannya. Bu Joy hanya menatap punggung menantunya itu semakin menjauh.
“Ada apa, Bu.” Sisi mendekati ibunya dan bertanya. Sisi adalah adik dari Siska.
“Ibu juga tak tahu, Sis. Mereka seperti sedang panik, sepertinya ada masalah besar di luar sana.” Jawab ibunya, sembari berbalik badan menghampiri sang ayah.
“Yah, sepertinya mereka sedang ada masalah. Apa perlu kita membantu mereka?” Bu Joy melapor pada suaminya.
“Biarkan saja, Bu. Mereka sudah dewasa, dan sekarang sudah menikah. Masalah yang mereka hadapi akan mereka selesaikan sendiri. Kecuali, kalau mereka butuh bantuan kita.” Jawab sang ayah dengan santai.
Tapi, bu Joy sangat khawatir dengan rumah tangga anaknya. Jangan sampai terjadi hal yang buruk setelah pernikahan mereka. Keluarga Siska sudah mengetahui kalau mereka tak direstui, namun keluarga bu Joy tak bisa menghalangi langkah anaknya yang ingin menikah dengan pria pilihannya.
Di luar gedung.
“Siapa kamu.” Tanya Siska pada wanita itu.
“Kamu tanya aku siapa? Justru, aku yang harus bertanya, siapa kamu? Kenapa kamu memakai gaun pernikahan?” Wanita itu menunjuk wajah Siska dengan telunjuknya.
Keadaan wanita itu sedang hamil, dan kehamilannya juga terlihat lumayan besar. Bisa diperkiran kehamilannya sudah memasuki dua puluh empat minggu.
“Aku istri Gumalang. Dan hari ini adalah pernikahan kami.” Jawab Siska dengan nada lebih tenang.
“Apa!! kamu menikah dengan suamiku? Kamu sudah gila, ya!” Pekik wanita itu.
Siska sangat terkejut, dia seperti di sambar petir di siang bolong. Mulutnya menganga dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Tangannya menepuk-nepuk dadanya karena dadanya terasa nyeri.
Dari dalam gedung, Gumalang dan Frans berlarian.
“Ada apa ini?” Gumalang bertanya dengan nafas sedikit tersengal.
Siska dan Rara menoleh bersamaan menatap Gumalang yang sudah berkeringat karena berlarian tadi.
“Dia siapa, Lang.” Siska berbalik bertanya padanya.
“Kamu sedang apa di sini?” Gumalang melangkah maju mendekati wanita hamil itu. Dia tak menghiraukan pertanyaan dari istrinya.
Siska tersentak melihat Gumalang mengenal wanita itu. “Kamu mengenalnya?”
“Iya, aku mengenalnya.” Gumalang menoleh pada Siska. Dan menjawab tanpa ragu.
Kepala Siska seketika terasa berat, tak lama kemudian dia ambruk dan pingsan di depan semua orang. Batinnya sudah tak bisa lagi menahan rasa sakit yang datang secara tiba-tiba.
“Siska, Sis. Bangun, kamu harus kuat, Sis.” Seru Rara sambil berusaha membangunkan Siska dari pingsannya.
__ADS_1
Sayup-sayup Siska mendengar panggilan Rara , matanya sudah tak berdaya untuk terbuka. Dan badannya juga semakin melemas tak bertenaga. Setelah itu dia tak bisa mendengar apa-apa lagi.