Tergoda Tuan Muda Tampan

Tergoda Tuan Muda Tampan
Bab. 42 Villa Gavin


__ADS_3

“Aku hanya ingin meminta maaf pada anda, Tuan Muda.” Ari menunduk di depan Gavin.


Cihh.. Gavin membuang muka, “Kau kesini pasti karena Papi menyuruhmu untuk mengikutiku, kan?”


Ari mendongak menatap Gavin. “Benar sekali, Tuan. Namun, saya tidak akan melapor jika anda dan Sarah akan tinggal di villa ini. Lagi pula, Tuan Gumalang tak tahu jika anda mempunyai villa di sini.” Ucap Ari dengan melemparkan senyumannya.


“Kau jangan seolah-olah tak punya salah denganku, Ri. Aku sudah tak bisa percaya lagi denganmu.” Gavin menatap Ari dengan tatapan seorang musuh.


“Untuk kesalahan saya kemarin, saya benar-benar minta maaf, Tuan. Saya tak bisa menolak permintaan Tuan Gumalang, karena beliau sudah membantu saya membayar biaya rumah sakit istri saya. Itulah alasan saya mengkhianati anda, Tuan Muda.” Ari menjelaskan.


“Lalu dengan kau menjelaskan semua ini, keadaan akan kembali seperti semula? Tak mungkin, Ri. Kau sudah membuat kesalahan besar. Lebih baik kau pulang dan bilang Papi untuk tak perlu mengkhawatirkanku. Aku akan pulang setelah urusanku selesai, dan aku akan menepati janjiku padanya. Jangan ganggu aku lagi.” Gavin berbalik meninggalkan Ari yang masih berdiri di belakangnya.


Ari tak bisa mengelak lagi, dia sudah tak bisa di terima oleh Gavin. Ari langsung berbalik badan dan masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan villa Gavin.


Gavin dan Sarah bergandengan tangan memasuki villa. Di depan pintu masuk mereka disambut tiga pekerja yang ada di villa.


“Selamat siang, Tuan Muda.” Mereka bertiga membungkuk memberi salam.


“Selamat siang.” Gavin membalas salam mereka.


“Ini Sarah, calon istri saya. Saya akan tempatkan dia di villa ini. Tolong kalian jaga dia sebaik mungkin.” Ucap Gavin.


Sarah sedikit terkejut dengan ucapan Gavin, yang menyebut dirinya adalah calon istri Gavin.


“Selamat datang Nyonya Sarah. Kami akan melayani anda sebaik mungkin. Kamar anda sudah siap Nyonya, anda bisa segera istirahat.” Ucap para pekerja dengan melemparkan senyuman.


Sarah membalas senyuman mereka dengan menganggukkan kepalanya. Lalu mereka memasuki ruang tamu, menaiki tangga dan sampailah mereka di depan kamar. Di villa ini ada enam kamar, termasuk kamar para pekerja.


“Sarah, kamar kamu ada di sini. Dan kamar para pembantu ada di bawah. Kalau ada apa-apa tinggal minta saja sama mereka.” Gavin berkata sambil mengusap lengan Sarah.


“Apa setelah ini kamu akan langsung kembali ke rumah, Vin?” Sarah bertanya dengan tatapan sendu.


“Aku akan tinggal di sini untuk beberapa hari, setelah itu aku akan kembali ke rumah.” Gavin memeluk Sarah, supaya lebih bisa bersabar menghadapi keadaan ini.


Sarah membenamkan wajahnya di dada Gavin, sambil menangis. Hatinya terasa sakit, saat mengingat bahwa Gavin akan segera bertunangan dengan wanita lain.


Apa Sarah nanti akan jadi wanita perebut lelaki orang, setelah mereka resmi bertunangan? Atau, Sarah yang menjadi korban, karena lelakinya sudah direbut wanita lain. Entahlah, semua itu urusan nanti. Yang terpenting sekarang Gavin tak akan berpaling darinya, walaupun ke depannya nanti akan lebih sulit lagi untuk mereka saling bertemu.


Sarah melepaskan pelukan Gavin dan mulai membuka kamarnya. Dia melihat sekeliling kamar yang di tata rapi, sangat bersih. Di kamar ini terdapat kaca besar yang bisa melihat pemandangan di luar sana. Sarah lalu berjalan ke arah kaca besar itu, menatap pepohonan, dan terlihat juga rumah-rumah warga yang saling berdempetan, juga jalanan yang sangat sibuk setiap harinya.


“Vin.” Seru Sarah dengan mata masih terfokus menatap pemandangan di luar kaca.

__ADS_1


Hemm.. Gavin mendekat, dia memeluk tubuh Sarah dari belakang.


“Bagus ya, pemandangannya. Di sana terlihat sangat ramai dan di sini sangat sunyi, tenang.” Ucap Gavin.


“Itulah aku sekarang, Vin.” Sarah berkata.


“Apa maksudnya, Sarah?” Gavin membalikkan badan Sarah, dan sekarang mereka saling bertatapan.


“Apa kamu tak mengerti ucapanku? Atau kamu pura-pura tak paham.”


“Aku benar-benar tak paham dengan ucapanmu Sarah.” Gavin menggeleng.


Sarah menunduk, dia tak menjawab pertanyaan Gavin. Lagi-lagi air matanya kembali keluar, mungkin hanya ini yang bisa membuatnya tenang dan kuat sampai sekarang.


 


“Halo, Tuan Gumalang. Saya kehilangan jejak Tuan Muda. Tadi saya mengikutinya sampai di rumah rahasia, setelah itu saya kehilangan jejaknya, karena bensin mobil saya habis, Tuan.” Ari berbicara di telepon.


“Tak berguna sekali dirimu, Ri. Sudah, kamu kembali saja. Buang-buang waktu saja.” Tuan Gumalang terdengar marah-marah di seberang telepon.


“Maaf, Tuan.”


“Tapi, apa kau melihat Gavin keluar dengan wanita sialan itu?” Tuan Gumalang bertanya.


“Bodoh. Kemana dua penjaga yang aku tugaskan menjaga wanita itu.” Tuan Gumalang semakin murka.


“Saya tidak melihat mereka berdua, Tuan.” Jawab Ari


Setelah mendapat jawaban dari Ari, sambungan telepon di putus Tuan Gumalang.


Ari tak mungkin membocorkan lokasi Gavin saat ini. Dia sudah cukup bersalah atas pengkhianatan yang di lakukannya pada Gavin. Dia juga ingin Gavin dan Sarah menikmati waktu berdua saja.


Sepanjang perjalanan, Ari merasakan apa yang di rasakan Sarah saat ini.


“Kasihan Sarah. Hidupnya jadi terancam seperti ini. Pasti sangat sulit untuk bisa melanjutkan hubungan tanpa restu orang tua.” Gumam Ari.


 


Zein dan Jack baru terbangun dari tidur lelapnya. Mereka belum sadar jika Sarah sudah pergi meninggalkan rumah itu. Mereka masih bersantai di sofa sambil memainkan handphone.


“Jack, apa Sarah sudah bangun?” Tanya Zein, dia baru teringat setelah tak mendengar suara apa-apa dari dalam kamar Sarah.

__ADS_1


“Entah, aku kan juga baru bangun. Mana tahu Sarah sudah bangun atau belum.” Dengan santai Jack menjawab.


Karena penasaran, Zein berjalan ke kamar Sarah. Pintu kamarnya di ketuk beberapa kali, namun tak ada jawaban dari dalam. Zein semakin khawatir, takut terjadi apa-apa dengan Sarah. Saat dia membuka pintu kamar, betapa terkejutnya dia.


“Jack, Jack.” Teriak Zein.


Jack bergegas menghampiri Zein setelah mendengar Zein berteriak.


“Ada apa, Zein.” Jack sudah sampai di belakang Zein.


“Sarah tak ada di kamarnya, Jack!” Ucap Zein dengan suara panik.


“Apa!! yang benar saja kamu, Zein.” Badan Jack seperti di sambar petir ketika mendengar Sarah tak ada di kamarnya.


“Coba kamu cek kamar mandi dan aku akan mengecek taman depan rumah.” Zein berlari keluar, dan Jack berlari ke kamar mandi.


Mereka berdua saling mengecek tempat yang ada di rumah ini. Namun, hasilnya nihil. Mereka tak mendapati Sarah.


“Jack, Sarah benar-benar sudah pergi dari rumah ini.” Zein bersender di dinding tembok, badannya lemas tak bertenaga.


“Zein, setahuku pintu rumah ini sudah aku kunci. Dan kuncinya aku pegang, kenapa Sarah bisa keluar dengan mudah dari sini?” Ucap Jack sambil memijit kepalanya.


Zein sedikit tersentak, dia baru ingat. Kalau tadi pagi dia-lah yang membuka pintu dan lupa untuk menutupnya kembali.


“Jack, sepertinya aku sudah lalai.” Zein menunduk.


“Apa maksudmu, Zein.” Jack menatap temannya itu.


“Aku tadi pagi keluar rumah, dan aku lupa menutup pintunya lagi.” Zein mendongak menatap Jack.


“Bodoh sekali kau, Zein!” Jack geram pada Zein, dia lalu memukul kepala Zein dengan tangannya.


“Aduh.. Kenapa kau memukulku.” Zein tak terima.


“Kau pantas di pukul Zein, pukulan itu tak seberapa. Gara-gara kau nyawa kita jadi terancam!” Jack melotot, wajahnya memerah karena sangat marah.


“Lalu, bagaimana ini Jack. Apa yang harus kita lakukan?”


“Tak tahu. Tuan Gumalang pasti akan marah pada kita, jika mendengar kabar ini.” Jack masih kesal dengan Zein.


“Jack, di sini ada CCTV. Kita bisa mengeceknya.” Zein bergegas masuk ke dalam rumah dan menyalakan televisi yang terhubung dengan CCTV.

__ADS_1


Jack mengikutinya dari belakang. Mereka berdua duduk di depan layar televisi. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka melihat Sarah berjalan berdua dengan seorang pria.


“Tuan Muda?” Mereka berteriak bersamaan dan saling bertatapan.


__ADS_2