
bab. 46
“Aku sengaja tak mau bertemu dengannya, Frans. Aku masih mengingat kejadian setahun lalu, saat dia pergi begitu saja tanpa ada kabar, dan sekarang dia kembali begitu saja seperti tak mempunyai rasa bersalah sama sekali. Itu membuatku semakin sakit hati.” Siska menjelaskan. Untung saja toko roti siang hari sepi, jadi mereka bisa mengobrol banyak siang ini.
“Keadaan Gumalang setahun lalu sangat buruk, Sis. Dia memang benar-benar tak bisa bertemu denganmu, karena dia di kurung dalam ruangan tertutup. Dia selama setahun terpenjara di dalam ruangan itu.” Frans tertunduk sedih.
“Omong kosong apa ini, Frans. Bukannya Gumalang sudah menikah lagi dengan wanita yang mengaku hamil dengannya?” Sarah masih tak percaya ucapan Frans.
Frans hanya menggeleng. “Kamu dapat omongan seperti itu darimana, Sis. Gumalang tak semudah itu menikah dengan wanita lain. Dia tak segampang itu melupakan cinta pertamanya. Buktinya, sampai sekarang dia masih berusaha membuatmu untuk memaafkannya. Dia masih ingin memperbaiki hubungan denganmu, dia ingin memulai kembali hubungan baru denganmu, Sis.”
Siska menundukkan pandangannya. “Lalu, di mana dia sekarang. Dia hari ini tak ada di depan tokoku seperti biasanya.”
“Gumalang sakit hari ini, Sis. Dia ada di rumahku sekarang. Kamu bisa menjenguknya setelah kamu menutup toko. Itupun kalau kamu bersedia menemuinya, kalau kamu tak bersedia tak apa. mungkin Gumalang akan kembali ke rumahnya besok.”
Siska mendongak menatap Frans. “Aku akan segera menutup toko. Tunggu aku di mobil saja, aku akan membereskan peralatan sebentar.”
“Baiklah, aku akan menunggumu di mobil. Kebetulan aku juga membawa Rara dan juga si bocil Cia.” Frans tersenyum lebar melihat Siska sudah bisa dibujuk. Lalu dia berbalik keluar dari toko roti.
Siska hanya tersenyum dan mulai merapikan alat-alat yang dipakainya tadi untuk membuat roti, dia juga merapikan meja kasir dan membawa sedikit roti untuk Gumalang.
“Hai, bestie.” Teriak Rara dari dalam mobil.
Siska yang sedang fokus mengunci pintu toko langsung menoleh ke Rara, lalu dia melambaikan sebelah tangannya.
“Bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tak saling memberi kabar.” Ucap Siska saat dia memasuki mobil Frans.
“Aku baik-baik saja. Aku saat ini sibuk mengurus Cia, dan Frans juga sibuk bekerja.” Mereka berdua saling berpelukan.
“Hai, Cia. Kamu cantik sekali, mirip sama Mami.” Siska mencubit pelan pipi Cia.
“Makasih pujiannya Aunty cantik.” Rara mewakilkan Cia yang belum bisa berbicara.
Setelah perjalanan cukup jauh, mereka sampai di rumah Frans. Mobil terparkir di teras depan rumah.
“Ayo masuk, Sis. Suamimu menunggumu di dalam.” Goda Rara sambil menggendong Cia.
Siska sedikit canggung dan jantungnya berdetak cepat. Dia berjalan di belakang Frans dan Rara.
“Lang, apa kamu sudah lebih baik?” Tanya Frans saat dia memasuki rumah dan melihat Gumalang sedang di dapur mengambil air minum.
Gumalang mengangguk. “Lumayan, Frans. Terimakasih atas kebaikanmu, aku akan membalasnya di lain waktu.”
__ADS_1
“Tak perlu sungkan seperti itu, Lang. Kita kan sahabat dari dulu, jadi wajar saja aku menolongmu.” Frans menghampiri Gumalang yang masih berdiri di dapur.
“Aku punya kejutan untukmu, Lang.” Bisik Frans di telinga Gumalang.
Gumalang dengan cepat menoleh dan menatap sahabatnya.
“Itu kejutannya.” Frans menunjuk wanita yang ada di belakang istrinya.
Gumalang mengikuti arah petunjuk dari Frans, dia terkejut dan langsung tersenyum sumringah saat melihat Siska ada di sana. “Itu kejutan untukku?” Gumalang berjalan cepat mendekati Siska.
“Akhirnya kamu datang menemuiku.” Gumalang langsung memeluk Siska dengan erat. Dia tak mau melepaskan lagi wanita yang sangat di cintainya itu.
“Aku dan Cia ke atas dulu, ya. Kalian nikmati saja waktu berdua, anggap saja rumah ini seperti rumah kalian sendiri.” Rara berpamitan dan melangkah menuju tangga.
“Terimakasih, Ra.” Siska menjawab. Rara hanya tersenyum menatap dua sahabatnya sudah saling bertemu kembali, setelah sekian lama mereka terpisah.
Siska mendorong sedikit badan Gumalang dan meletakkan punggung tangannya di keningnya. “Badan kamu masih panas, Lang. Apa kamu sudah meminum obat?”
“Kamu-lah obat yang aku butuhkan, Sis. Terimakasih sudah mau bertemu dengaku lagi.” Gumalang mencium kening Siska.
Siska sedikit tersipu mendengar ucapan Gumalang. “Sama-sama, Lang. Ini ada sedikit roti untukmu. Makan-lah dulu, nanti kita obrolin lagi masalah kita.” Siska memberikan kantong plastik pada Gumalang dan mengajaknya untuk duduk di sofa.
“Baiklah, tapi kamu harus menyuapiku. Aku sangat rindu dengan semua yang pernah kamu lakukan untukku.” Gumalang membuka bungkus roti dan menyerahkannya pada Siska.
“Roti buatanmu paling enak.” Gumalang mengangguk dan tersenyum.
“Apa kamu sudah mendengar cerita dari Frans?” Ucap Gumalang dengan mulut masih sibuk mengunyah roti.
Hemm.. Siska mengangguk.
“Lalu, apa kamu masih berfikir buruk tentangku?” Gumalang menatap lekat pada wanita yang ada di hadapannya.
Siska meletakkan sisa roti di atas meja. “Aku tadi masih berfikiran buruk tentangmu. Tapi, saat aku melihat keadaanmu yang sekarang, fikiran buruk itu seketika menghilang dari otakku.” Siska tersenyum.
“Benarkah? Terimakasih sudah bisa percaya kembali denganku.” Gumalang memeluk Siska, dan Siska pun membalas pelukannya.
Setelah Siska memaafkan Gumalang, mereka tinggal bersama di rumah Siska yang saat ini dia tempati.
Setahun kemudian, mereka di karuniai seorang anak laki-laki yang sangat tampan, mirip dengan Gumalang. Anak itu diberi nama Gavin Gumalang.
Setelah Siska melahirkan seorang anak laki-laki, kehidupan mereka mulai bahagia. Semua keinginan mereka terpenuhi satu persatu.
__ADS_1
Namun, entah kenapa akhir-akhir ini Gumalang sering sekali keluar dari rumah pagi-pagi sekali dan baru kembali pada malam hari.
Dan kebahagiaan yang mereka punya sebelumnya jadi sirna, sekarang terasa hampa. Sudah tak ada senyuman pagi yang membuat semangat untuk tetap bertahan.
Kebahagiaan itu tak bisa bertahan lama. Saat Gavin beranjak umur lima tahun, Gumalang mulai memutuskan untuk sekolah kembali di luar negeri dan meninggalkan keluarga kecilnya. Dia rela pergi demi mencapai cita-citanya untuk bisa membuka perusahaannya sendiri yang bergerak di bidang ekspor impor barang.
Ternyata, selama ini Gumalang belajar di luar rumah, karena dia ingin menambah ilmu. Dia tak bisa belajar di rumah, sering sekali Gavin menangis dan membuat konsentrasinya buyar.
“Apa kamu sekarang akan pergi meninggalkan kita, Lang? Gavin masih sangat membutuhkan sosok ayah untuk jadi panutannya saat dia dewasa nanti.” Siska memohon pada Gumalang untuk tidak pergi meninggalkan keluarganya.
“Aku tetap harus pergi, Sis. Ini juga demi masa depan keluarga kita. Aku tak bisa seperti ini, hanya mengandalkan toko rotimu.” Jawab Gumalang dengan penuh percaya diri meninggalkan keluarganya.
“Aku yakin kamu pasti bisa mengasuh anak kita sendirian.” Gumalang menggenggam tangan Siska mencium keningnya. Lalu dia mengambil koper dan beranjak pergi meninggalkan Siska dan Gavin di rumah.
"Tapi, aku tak bisa hidup tanpamu, Lang. Apa kamu tak bisa melanjutkan sekolahmu di sini? Di negara kita juga banyak universitas yang bagus. Kenapa harus sekolah di luar negeri? Kamu ingin meninggalkan keluarga kita untuk yang kedua kalinya, Lang? Sebenarnya, seberapa pentingnya aku bagimu." Siska menarik tangan Gumalang.
"Aku tak bisa sekolah di sini, Sis. Tolong mengertilah aku, aku tak akan mengkhianatimu. Aku akan kembali dengan kesuksesan." Gumalang menepis tangan Siska dan menarik kopernya keluar rumah.
Siska terduduk lemas di atas kasur, dia tak bisa lagi mencegah kepergian suaminya. Siska hanya bisa menatap punggung suaminya yang semakin jauh dari pandangannya. Air matanya tumpah membasahi pipinya. Sekali lagi Gumalang meninggalkannya dan juga anaknya.
Lima belas tahun telah berlalu. Gavin sekarang sudah beranjak menjadi pria dewasa. Dan selama itu juga papinya tak kunjung pulang untuk menemuinya dan maminya.
Saat Gavin tengah sibuk bekerja, dia mendapat telepon bahwa maminya dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba tak sadarkan diri. Dan di saat itulah dia mengetahui bahwa maminya mengidap kanker otak yang sudah stadium akhir. Itu karena efek dia sering kelelahan mencari nafkah untuk Gavin.
Gumalang mendengar kabar bahwa istrinya sakit parah, dia langsung bergegas terbang ke tanah air.
Sesampainya dia di rumah sakit, Siska sudah meninggal. Dia tak bisa menepati janjinya untuk menemui istrinya. Rasa penyesalan mulai merasuki jiwanya.
"Maafkan aku, Siska. Aku tak bisa menepati janjiku kepadamu. Aku terlambat datang menemuimu." Gumalang menangis sampai terisak-isak karena sangat menyesali perbuatannya.
Siska sudah tenang di alam sana, dan tak perlu bersusah payah lagi mengurus semuanya sendiri.
Flashback off
Gumalang sangat menyesal atas perbuatannya yang dulu. Kesalahannya di masa lalu masih sangat menyiksa batinnya. Dia tak ingin salah lagi dengan keputusan yang diambil sekarang.
Setelah tiga hari Gavin pergi, akhirnya dia kembali ke rumah Gumalang.
“Bagus, kalau kamu bisa menepati janjimu, Vin.” Seru Papinya dari tangga.
“Aku tak mau seperti Papi, yang selalu ingkar janji.” Jawabnya sambil berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Setelah itu mereka tak pernah tegur sapa lagi, sampai pada saat hari pertunangan Gavin dan wanita yang dijodohkan dengannya.