Tergoda Tuan Muda Tampan

Tergoda Tuan Muda Tampan
Bab 22. Keajaiban mulai datang


__ADS_3

Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan. Namun, Sarah belum juga membuka matanya. Meskipun Sarah masih belum ada perkembangan, tetap saja Gavin selalu setia menemaninya di rumah sakit.


Sudah 2 bulan ini Gavin bolak balik, kantor-rumah sakit. Dia tak bisa pulang ke rumah sebelum Sarah membuka matanya. Walaupun, dia sekarang semakin sibuk di kantor, tetap saja Sarah yang paling utama dalam hidupnya.


Gavin dan Bi Mira bergantian untuk menjaga Sarah di rumah sakit. Dia tak bisa lagi mempercayakan orang lain untuk menjaga Sarah. Setelah kejadian mengerikan 2 bulan yang lalu, sekarang Gavin tak mau kecolongan lagi.


Saat malam tiba, Gavin pulang ke rumah sakit seperti biasa. Dia dengan segudang kesibukannya masih sempat untuk merawat Sarah yang masih terbaring di atas kasur rumah sakit.


“Sarah, cepatlah buka matamu. Lihatlah aku di sini yang selalu menantimu. Aku rindu senyumanmu, Sarah.” Gavin duduk di samping ranjang Sarah dan menggenggam tangan Sarah. Dia juga mencium punggung tangan Sarah dengan lembut. Mata Gavin mulai merembes keluar air. Dia tak kuasa untuk membendung kesedihannya itu. Dadanya terasa sangat sesak saat ini. Dia menghabiskan waktu beberapa menit untuk mengajak Sarah berbicara, lalu Gavin pindah duduk di sofa dan mulai membuka laptopnya untuk bekerja kembali.


Serrtt...


Pintu kamar dibuka. Gavin yang masih sibuk dengan laptopnya, hanya melihat dengan sudut matanya, siapa yang masuk ke kamar Sarah. Ternyata, itu Dokter Tio dan Suster Miya.


“Permisi, Tuan. Selamat malam, saya akan memeriksa keadaan Nyonya Sarah.” Dokter Tio memberi salam pada Gavin.


“Heemmm.” Jawab Gavin singkat dengan tangan yang masih sibuk memencet tombol hitam yang ada di laptop.


Tak lama setelah Dokter Tio memeriksa keadaan Sarah. Dia melangkah menghampiri Gavin dan berdiri di depannya.

__ADS_1


“Maaf, Tuan Gavin. Saya harus menyampaikan ini pada anda. Sepertinya, Nyonya Sarah tak ada harapan lagi untuk sadar dari komanya. Karena, sudah 2 bulan ini Nyonya Sarah tak ada tanda tanda untuk bangun.” Kepala Dokter Tio terus menunduk ketika berbicara dan seluruh badannya terasa gemetar, karena harus menghadapi Gavin, pria dingin tanpa ekspresi itu.


Setelah mendengar ucapan Dokter Tio, Gavin terkejut lalu berdiri dan melangkah maju ke arahnya. Gavin menatap Dokter Tio dari ujung rambut sampai kaki.


Dia merinding karena harus ditatap sepeti itu oleh Gavin.


“Hah...” Kata pertama yang diucapkan Gavin dengan sudut bibir yang terangkat sedikit. “Aku membayar rumah sakit ini untuk merawat wanitaku dengan baik, bukan untuk berkata yang tak seharusnya Dokter katakan.” Suara dingin Gavin terasa menyebar ke setiap sudut ruangan itu  .


Dokter Tio yang mendengarnya, tak berani menjawab ucapan Gavin.


“Apa kau masih ingat dengan ucapanmu 2 bulan lalu, saat Sarah hampir saja mati. Kau mengatakan, jika Sarah adalah wanita yang sangat kuat. Dia akan bisa melalui masa masa kritisnya. Tetapi, sekarang kau berkata sebaliknya? Aku tak mengerti jalan pikiran kau , Dokter Tio.” Gavin berbicara sembari mengelilingi Dokter Tio yang sedang berdiri di depannya.


Suster Miya yang juga berada di kamar, hanya bisa menyaksikan percakapan antara Dokter Tio dan Gavin. Mata Gavin terlihat sangat tajam ketika berbicara dengan Dokter Tio. Terlihat sekali amarah Gavin tak bisa disembunyikan.


“Kau, juga bukan Tuhan, Dok. Hanya Tuhan yang tahu kapan kita akan mati.” Sekali lagi Gavin menatap Dokter Tio dengan tatapan tajam.


Gavin menghela nafas panjang. “Hah, sudahlah. Dokter keluar saja, sebelum aku berubah menjadi lebih menyeramkan.” Gavin melambaikan tangan, mengisyaratkan dokter Tio dan suster Miya untuk keluar dari kamar Sarah. Dia semakin pusing setelah mendengar ucapan Dokter Tio.


Tanpa berkata lagi, Dokter Tio dan Suster Miya menganggukkan kepala dan berjalan keluar dari kamar. Gavin menghempaskan badannya di sofa, dia saat ini sangatlah marah, namun dia tak bisa berbuat apa apa. Dia memejamkan matanya dan memijit pelipisnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Di luar kamar.


“Huhh.. Untung saja cuma diomelin, coba kalau sampai dipenggal nih kepala, tamatlah riwayatku. Aku kan belum kawin.” Kata Dokter Tio sambil mengelus leher dan kepalanya. Bulu kuduknya masih merinding saat mengingat situasi tadi.


“Iya, Dok. Iihh.. Tadi tuh serem banget. Rasanya aku gak pengen masuk ke ruangan itu lagi.” Timpal Suster Miya.


“Aku juga Sus, kalau bisa milih, aku lebih baik memilih pasien dengan keluarga yang miskin saja, daripada harus bekerja dengan mereka. Rasanya itu seperti sedang mengantarkan nyawa kita sendiri.” Jawab Dokter Tio sembari melangkahkan kaki ke ruangan Dokter.


“Tapi, Dok. Bagaimana keadaan Suster Nia sekarang ya? Apakah dia baik baik saja? Sudah lama dia tak berkabar denganku. Apakah benar dia yang sudah mencelakai Nyonya Sarah?” Suster Miya jadi teringat kejadian 2 bulan lalu.


“Entahlah, Sus. Aku tak ingin tahu keadaannya sekarang. Dan aku juga tak tahu kejadian yang sebenarnya seperti apa. Tapi yang jelas, Suster Nia sudah sangat berani, dia tak tahu siapa yang dihadapinya.” Perbincangan mereka semakin keluar jalur.


Di dalam kamar.


Gavin kembali duduk di sebelah Sarah, setelah merasakan kepalanya yang pusing saat mendengar ucapan Dokter Tio tadi.


“Sarah, bangunlah. Kamu sudah terlalu lama tidur. Apa kamu sudah tak ingin melihatku kembali?” Gavin mencium kening Sarah dan dia menatap lekat lekat wajah cantik wanita kesayangannya itu. Tak lama kemudian, dia pun tertidur di sebelah Sarah.


Dan malam itu, datanglah sebuah keajaiban. Sarah yang sudah lama tertidur, akhirnya dia menggerakkan jemari lentiknya. Satu jemari, dua jemari, dan sampai 10 jemari dia gerakkan. Gavin yang masih tertidur lelap di sebelahnya tak sadar, jika Sarah sudah mulai menggerakkan jemarinya. Sarah juga mulai membuka matanya, dia mengerjap ngerjapkan matanya, untuk bisa melihat dengan jelas sekeliling ruangan kamarnya. Setelah sadar dari komanya, dia mulai mengingat apa yang sudah terjadi padanya, dan di mana dia sekarang.

__ADS_1


Sarah menoleh ke samping, melihat kenapa ada banyak sekali selang yang menempel di badannya. Dan, kenapa bisa ada Gavin di sebelahnya sekarang. Setelah dia ingat kejadian terakhir kali sebelum dia di bawa ke rumah sakit, kepalanya tiba tiba pusing dan jantungnya tiba tiba berdetak dengan sangat cepat. Alat pendeteksi jantung juga ikut berbunyi dengan cepat, sehingga menimbulkan bunyi yang sangat berisik.


Gavin yang mendengar suara berisik itu, seketika itu dia bangun dari tidurnya. Dia melihat Sarah memegang kepalanya dengan menangis karena kesakitan. Mata Gavin melebar dan mulutnya terbuka karena terkejut. Dia lalu bergegas menekan tombol darurat. Dokter dan Suster mulai berdatangan masuk ke kamar Sarah.


__ADS_2