
Tanpa basa basi lagi, Gavin dengan cepat mengangkat tubuh Sarah. Dan mereka yang berdebat tadi, hanya termangu melihat Gavin dengan gerakan yang gesit menolong Sarah tanpa berkata apapun. Tak seperti mereka yang hanya mementingkan diri sendiri.
Seorang pria paruh baya yang melihat Gavin kerepotan sendiri mengangkat tubuh Sarah, dengan cepat pria itu membantu membukakan pintu mobil dan Gavin memasukkan tubuh Sarah ke dalam mobil, dengan perlahan dia membaringkan Sarah di jok belakang. Memastikan tubuh Sarah sudah berada di tempat yang nyaman, barulah dia mulai menyetir mobilnya menuju rumah sakit. Perjalanan menuju rumah sakit tak butuh waktu lama. Setibanya Gavin di rumah sakit dia memarkirkan mobilnya di depan pintu IGD. “Suster, tolong ada pasien gawat darurat, dia butuh pertolongan segera.” Teriak Gavin di depan pintu IGD. Suster yang sedang berjaga segera berlari keluar menolong Gavin. Mereka bergegas mendorong ranjang pasien untuk membawa Sarah masuk ke dalam IGD.
“Sarah, kamu harus kuat. Aku disini ada untukmu.” Gavin menggenggam tangan Sarah seraya berlari kecil masuk ke dalam ruang IGD.
“Maaf, Tuan. Tolong anda urus terlebih dahulu pendaftaran pasien. Setelah pendaftaran selesai, nanti kita akan segera tangani pasien lebih lanjut lagi.” Ucap salah satu Suster yang ada di ruang IGD.
“Baiklah.” Dengan langkah cepat Gavin menuju kebagian pendaftaran pasien. Setelah melakukan pendaftaran pasien, Gavin berlari kembali ke ruang IGD. Dia harus segera mengkonfirmasikan, jika Sarah sudah terdaftar, dan bisa segera ditangani lebih lanjut.
Tak butuh waktu lama, Dokter yang berajaga di IGD bergegas memeriksa keadaan Sarah. Gavin diminta untuk menunggu di depan ruangan.
Dia berjalan mondar mandir, cemas memikirkan keadaan Sarah. "Semoga Sarah segera sadar ya, Tuhan. Jangan sampai, dia koma lagi seperti 2 bulan yang lalu." Gavin selalu berdoa untuk Sarah.
Dari kejauhan Dokter Tio melihat Gavin di depan IGD, dia sejenak menyapa Gavin. “Tuan Gavin, apa yang anda lakukan di ruangan ini? Apakah terjadi sesuatu pada Nyonya Sarah?” Dokter Tio bertanya.
Gavin pun menoleh kesumber suara. “Dokter Tio. Iya, Sarah tadi jatuh pingsan di pinggir jalan." Jawab Gavin. Gavin berjalan menghampiri Dokter Tio yang tak jauh darinya. "Oh, ya, Dok. Saya mau bertanya, siapa yang sudah mengizinkan Sarah meninggalkan rumah sakit ini?” Gavin menatap tajam pada Dokter Tio.
“Eemmm..Itu permintaan Tuan Gumalang yang memaksa saya memberi izin pada Nyonya Sarah. Supaya dia bisa segera pergi dan meninggalkan rumah sakit ini, Tuan.” Saat ini, Dokter Tio tak takut pada Gavin, karena memang bukan kesalahannya, melainkan kesalahan dari keluarganya sendiri.
Emm..Gavin mengangguk tipis. “Lagi-lagi Papi dalang dibalik semua ini. Baiklah, Dokter Tio, terimakasih atas informasi yang penting ini.” Gavin tersenyum tipis pada Dokter Tio.
__ADS_1
Dokter Tio juga ikut tersenyum, lalu dia berpamitan dan pergi meninggalkan Gavin yang masih berada di ruang IGD. "Saya duluan ya, Tuan Gavin."
Gavin hanya mengangguk pada Dokter Tio.
Dokter Tio masih punya segudang pertanyaan di kepalanya, kenapa pasiennya bisa ada di IGD hanya karena, pingsan? Pasti ada hal buruk yang terjadi pada Sarah. Namun, dia tak berani bertanya dan tak mau ikut campur urusan orang lain.
“Permisi, apakah anda keluarga dari pasien atas nama, Sarah?” Suster IGD menghampiri Gavin dan bertanya.
Gavin menoleh ke belakang, melihat siapa yang sedang bertanya padanya. “Iya benar, Sus. Apakah Sarah baik-baik saja?”
“Nanti Dokter yang akan menjelaskan keadaan pasien, Tuan. Saat ini, Dokter ingin bertemu dengan anda.” Jawab Suster itu.
“Baiklah.” Ucap Gavin. Lalu, dia pergi menghampiri Dokter yang masih bersama Sarah saat ini.
“Mari ikut ke meja saya dulu, Tuan." Mereka berjalan bersamaan menuju meja Dokter.
"Silahkan duduk terlebih dahulu. Saya akan menjelaskan keseluruhan keadaan pasien." Dokter meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Saya mulai dari yang pertama, luka pasien, belum sepenuhnya sembuh. Kenapa, pasien dibiarkan beraktifitas sampai dia kelelahan, padahal kan seharusnya dia lebih banyak istirahat, sampai lukanya benar-benar sembuh." Ucap Dokter.
Mata Gavin melebar karena terkejut. “Apakah lukanya terbuka kembali? Saya tak tahu, jika Sarah sudah keluar dari rumah sakit hari ini. Setahu saya, dia masih harus istirahat, Dok."
"Anda harus lebih hati-hati menjaga pasien, dan melarangnya untuk melakukan hal yang membuatnya kelelahan lagi."
__ADS_1
Gavin hanya mengangguk mendengar perintah dari Dokter.
"Dan yang kedua, apakah pasien mempunyai trauma?” Tanya Dokter itu sembari memberi catatan pemeriksaan Sarah.
Mata Gavin kembali melebar. Kali ini dia lebih terkejut. "Iya benar, Sarah memang mempunyai trauma, Dok. Apa yang sebenarnya terjadi pada Sarah? Kenapa, Dokter menayakan soal ini?" Gavin penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada wanitanya.
"Trauma apa yang sampai membuatnya seperti ini?" Tanya Dokter.
Gavin mulai menceritakan keadaan Sarah. "2 bulan yang lalu, ada seseorang yang menusuknya. Namun, dia tak sampai meninggal, karena warga segera membawanya ke rumah sakit ini. Setelah 2 bulan koma, akhirnya dia bisa sadar kembali. Itu kejadian yang pertama. Kejadian yang kedua, ada seorang Suster yang sangat berani menyuntikkan cairan di kantong infusnya. Padahal, Suster itu yang bertugas menjaga Sarah, tapi dengan berani dia melukai pasiennya sendiri.” Setelah bercerita, Gavin menghebuskan nafas. Dia sangat kecewa dengan dirinya sendiri, yang belum mampu menjaga Sarah sepenuhnya.
Emm..Dokter mengangguk tipis, mendengar cerita dari Gavin. "Tolong dijaga baik-baik wanita anda, Tuan. Jaga dia sampai bisa benar-benar sembuh dari traumanya. Kalau perlu, ajak dia pergi berlibur dahulu. Baru, setelah itu ke psikiater untuk mengobati trauma yang dialaminya. Untuk lukanya tidak terbuka kembali, namun terasanya nyeri karena seharusnya dia belum diperbolehkan beraktifitas seperti biasanya. Pasien sudah boleh pulang setelah dia sadar. Namun, dengan satu syarat, dia tidak boleh beraktifitas yang berat terlebih dahulu. Butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka yang dalam seperti itu.”
“Baik, Dok. Terimakasih sudah membantu menangani Sarah. Saya akan membawanya berlibur ke tempat yang tenang dan bagus. Supaya bisa sedikit hilang traumanya." Gavin tersenyum, lalu dia beranjak berdiri dan berbalik menuju tempat Sarah di rawat.
Gavin melihat Sarah sudah membuka matanya. Dia tersenyum tipis melihat wanitanya baik-baik saja. Gavin mengusap rambut Sarah. “Sarah, apakah masih terasa pusing? Atau, badan kamu masih ada yang sakit?” Tatapan kasih sayang terpancang di mata Gavin.
“Aku sudah tak apa, Vin. Tapi, kenapa kamu bisa ada disini? Bukankah kamu saat ini seharusnya masih di kantor?”
“Aku bergegas ke rumah sakit, setelah tahu Papi sudah mengusirmu dan memecatmu Sarah. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu.” Gavin tertunduk lesu.
“Tapi kamu tepat waktu, Vin. Saat aku membutuhkan bantuanmu, kamu langsung bisa menemukanku. Terimakasih selalu ada untukku.” Sarah tersenyum lebar pada Gavin.
__ADS_1
Gavin mendongak dan menatap Sarah yang tersenyum padanya. Perasaan bahagia menyelimuti hatinya. Gavin pun ikut tersenyum. Kesedihan di hatinya langsung sirna ketika melihat Sarah tersenyum.