
Papi Gumalang mengetuk pintu kamar Gavin. “Kamu harus segera bersiap, Vin. Kita akan pergi ke hotel Mentari malam ini untuk melangsungkan pertunanganmu. Segera bersiap, Papi akan menunggumu di bawah.” ucap papi Gumalang.
“Iya, tunggu sepuluh menit lagi aku akan segera turun.” Jawab Gavin singkat, lalu dia menutup kembali pintu kamarnya.
Sepuluh menit berlalu Gavin menuruni tangga menghampiri papinya yang sedang duduk santai di ruang tamu. “Ayo, kita pergi.” Gavin keluar lebih dulu dan papinya menyusul di belakangnya.
“Aku mau membawa mobil sendiri. Papi dengan Ari saja.” Ucap Gavin. Tanpa basa-basi lagi, Gavin langsung tancap gas menuju hotel Mentari.
Papinya hanya mengangguk samar setelah mendengar ucapan anaknya itu. "Dasar anak muda zaman sekarang, tak ada sopan santunnya." Gumam papinya sqmbil memasuki mobil.
Sesampainya di sana, Gavin menunggu papinya di depan pintu masuk hotel.
“Masuk, Vin.” Papinya hanya menoleh pada Gavin dan berjalan masuk terlebih dulu ke dalam hotel.
Gavin menghela nafas panjang, lalu mempersiapkan diri dan hatinya dulu sebelum memasuki hotel.
“Gumalang.” Seru Frans sahabatnya dari kejauhan. Frans melambaikan sebelah tangannya, lalu dia berjalan mendekati sahabatnya.
“Hai.” Gumalang melambaikan tangannya.
“Kau tampak lebih tampan dari biasanya, Lang.” Frans menjabat tangan Gumalang.
Gumalang terkekeh. “Aku memang selalu tampan, Frans. Kamu aja yang baru mengakuinya.”
Frans juga ikut terkekeh. “Kamu bisa aja, Lang. Di mana Gavin? Kenapa dia tak bersamamu.” Frans menoleh ke sana kemari mencari Gavin.
“Sebentar lagi juga dia akan segera masuk ke ruangan ini. Kamu tenang saja, anakku gak bakalan mengingkari janjinya.” Gumalang mengajak Frans berjalan mendekati meja yang sudah tersedia minuman dan makanan.
“Tapi, Lang. Apa ini yang terbaik buat anak kita? Aku sungguh khawatir dengan Gavin. Nasibnya seperti Papinya dulu, yang bertemu dengan wanita miskin dan dijodohkan dengan wanita kaya.” Frans terkekeh kembali sedikit mengejek sahabatnya itu.
Gumalang hanya diam tak menjawab, dia mengambil minuman dan menenggaknya sampai habis.
“Hai, Gavin.” Cia menyapa Gavin yang baru memasuki ruangan.
Gumalang dan Frans bersamaan menoleh pada Gavin. “Apa aku bilang, dia tak mungkin mengingkari janji.” Ucap Gumalang dengan bangga.
“Mirip dirimu, Lang. Kamu bisa menepati janji, walaupun kamu ingin sekali berlari menjauh.” Frans membalas.
Lagi-lagi Gumalang tak menjawab menimpali perkataan Frans.
__ADS_1
“Hai, kamu buat apa ikut ke acara ini? Bukannya, kamu tak pernah suka tempat ramai seperti ini?” Cia menyenggol lengan Gavin.
“Aku hanya menuruti apa kata papi saja.” Balas Gavin dengan wajah datar.
“Kelihatannya kamu sedang tak senang hari ini.” Cia menatap wajah tampan pria yang sudah dia anggap sebagai adiknya itu.
“Entahlah. Tapi kelihatannya kamu berbeda denganku. Kamu terlihat sangat bahagia hari ini.” Ucap Gavin sambil sedikit melontarkan senyuman.
“Pastinya, karena hari ini adalah hari pertunangan adikku dengan seorang pria pilihan papi kita.” Jawab Cia dengan santai.
Gavin menautkan alisnya lalu menatap lekat Cia. “Apa kamu bilang? Ini hari pertunangan adikmu?”
Heemm.. Cia mengangguk. “Ada apa? Kamu cemburu karena tak bisa mendapatkannya?” Cia terkekeh.
“Tujuanku kemari, karena aku juga akan bertunangan dengan wanita pilihan papiku.” Ucap Gavin.
Cia tersentak, dia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. “Apa, jangan-jangan pria yang dijodohkan dengannya adalah dirimu?” Cia melotot tak percaya.
“Bisa jadi. Kamu jangan pura-pura keget seperti itu, Cia. Pasti kamu sudah tahu kan semua ini?” Gavin bertanya. Wajahnya sekarang menjadi serius.
“Enak saja, kau. Aku saja baru tahu kemarin malam. Dan itupun dadakan ngasih tahunya. Jadi aku langsung pulang ke rumah. Lagian, adikku sudah punya kekasih. Kenapa dia mau ikut pertunangan ini.” Mulut Cia cemberut protes.
“Apa, kamu masih tak percaya padaku?” Cia melotot.
“Kaka.” Seru Tania dari kejahuan. Dia melihat kakanya sedang mengobrol dengan Gavin.
“Hai, Tan.” Cia menyambut adiknya yang ikut bergabung dengan mereka.
“Hai, Vin. Bagaimana kabarmu?” Sapa Tania dengan menjabat tangan Gavin.
"Hai." Gavin membalas jabatan tangan Tania.
“Tan, bagaimana kalau tunanganmu adalah orang yang ada di depanmu sekarang? Apa kamu akan menolaknya atau tetap melanjutkan pertunangan ini?” Cia mulai bertanya tanpa basa basi lagi.
“Maksud kaka apa? Mau siapapun orangnya, aku akan tetap menolak pertungan ini. Kekasihku sudah menungguku di luar hotel.” Jawab Tania dengan meletakkan kedua tangannya di depan dada.
“Maksudku, calon tunanganmu adalah si Gavin. Anak yang tak pernah punya perasaan dengan wanita.” Jawab Cia mencemooh.
Ha.. Tania sangat terkejut, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matannya melotot menatap dua orang yang sekarang ada di depannya. “Yang benar bicaranya, ka. Gavin kan tak pernah suka dengan wanita. Dia kan sukanya dengan sesama pria.” Tania tertawa lebar.
__ADS_1
“Sialan. Aku juga sudah punya kekasih. Dia lebih cantik dari kalian, dan dia juga sangat baik dan sabar menghadapiku.” Gavin membela dirinya sendiri.
“Ohh... Jadi, sekarang anak cowok yang dulunya sangat benci cewek, sekarang sudah punya gandengan?” Cia terkekeh menatap wajah Gavin yang sedikit memerah karena malu.
“Tapi, apa benar kamu yang akan bertunangan denganku? Aku tak bisa melanjutkan pertunangan ini, Vin.” Tania menggelengkan kepalanya.
“Iya. Aku juga sebenarnya tak tahu jika kamu wanita pilihan papiku. Cia yang memberitahuku tadi. Lantas, buat apa kamu datang ke acara ini, kalau kamu saja gak mau bertunangan?” Gavin menatap lekat wanita berbadan kecil di depannya itu.
“Aku hanya tak mau mengecewakan papi. Tapi, saat aku menyetujui pertunangan ini, ada rasa bersalah pada kekasihku. Kita sudah berjanji akan hidup bersama selamanya. Tapi, aku malah akan mengkhianatinya.” Tania tampak sedih sekarang.
“Posisi kita sama, Tan. Ada wanita yang sudah menunggu kedatanganku. Aku juga tak mungkin mengkhianatinya. Apa kita sama-sama kabur saja dan tak perlu melanjutkan semua ini?” Gavin berbisik untuk membuat kesepakatan pada Tania.
Tania dengan cepat mengangguk setuju, begitupun kakanya Cia. “Apa ini tak masalah, Vin?” Tanya Cia.
“Kalau kita sama-sama kompak membatalkan pertunangan ini, tak akan ada masalah besar.” Ucap Gavin semangat.
“Aku sedikit takut. Bagaimana kalau papi kita marah, Kak?” Tania bertanya.
“Kita harus bisa mengambil resiko, Tan. Kalau kita tak membatalkan semua ini, nanti akan lebih rumit ke depannya.” Cia memegang tangan adiknya untuk saling menguatkan.
Tania mengangguk setuju. “Baiklah. Aku ikut kalian, aku percaya sama Kaka dan Gavin.”
“Oke, semua sudah sepakat. Kita harus atur strategi sebelum acara dimulai.” Tania menatap adik dan teman masa kecilnya itu.
Mereka berdua lalu mengangguk bersamaan. Rencana segera di buat untuk menggagalkan pertunangan ini. Setelah menyusun strategi, mereka pergi ke tempat orang tua mereka berdiri.
“Apa, kamu sudah mengetahui akan bertunangan dengan siapa, Vin?” Papinya bertanya sambil menyesap minuman yang ada di tangannya.
Hemm.. Gavin mengangguk, lalu mengambil minuman yang ada di meja dan meminumnya.
“Bagus, kalau kamu sudah mengetahuinya. Jadi, kamu tak perlu perkenalan lagi.” Papinya tersenyum.
Acara segera di mulai. Pembawa acara sudah bersiap di atas panggung dengan membawa selembar kertas susunan acara yang sudah di buatnya.
Ehem.. Tes Tes Tes..
“Selamat malam para hadirin. Perkenalkan saya Mike, yang akan memandu acara pertunangan ini sampai selesai.” Mike menundukkan kepala memberi salam pada para tamu undangan.
Setelah basa-basi yang cukup lama, akhirnya sampai di waktu Gavin dan Tania bertukar cincin. Mereka berdua menaiki panggung dan saling membawa cincin, untuk disematkan di jari mereka berdua.
__ADS_1