Tergoda Tuan Muda Tampan

Tergoda Tuan Muda Tampan
Bab. 24. Kesedihan


__ADS_3

Sakit hati? Itu sudah pasti sangatlah sakit, karena dia harus berpisah dengan orang yang sudah membuatnya merasakan jatuh cinta lagi.


“Setelah Gavin berangkat bekerja, kamu harus segera merapikan baju dan pergi selama lamanya dari kehidupan Gavin. Jangan pernah menampakkan wajahmu dihadapannya lagi.” Tuan Gumalang melemparkan selembar cek pada Sarah.


“Tak perlu, Tuan. Saya tidak membutuhkan ini.” Sarah menolak cek dari Tuan Gumalang. Tanpa melihat berapa jumlah nominal yang diberikan pada Tuan Gumalang.


“Munafik sekali kamu, Sarah. Tapi, baguslah kalau kamu tak membutuhkan ini. Silahkan pergi dan tak perlu meninggalkan jejak untuk Gavin mencarimu.” Tuan Gumalang memasukkan kembali ceknya itu ke dalam saku kemejanya, dan melangkah pergi untuk segera berangkat ke kantor.


Sebelum membuka pintu kamar, Tuan Gumalang berhenti dan berbalik badan. Dia kembali menatap tajam ke arah Sarah. “ Oohh, ya. Biaya rumah sakit ini sudah lunas. Jadi, kamu hanya perlu pergi sejauh mungkin. Kamu seharusnya bisa tahu caranya untuk membalas budi kebaikan orang lain padamu.” Tak disangka ucapan Tuan Gumalang sungguh menyakitkan, seperti duri yang menusuk badan tanpa ampun. Setelah mengatakan itu, Tuan Gumalang melangkah pergi keluar.


Gavin masih tertidur pulas di atas sofa, dia tak mendengar apa yang Papinya katakan pada wanita yang dicintainya itu.


Bi Mira prihatin melihat keadaan Sarah sekarang,


“Sarah, apa yang sudah kamu lakukan dengan Tuan Gavin di luar kota? Sampai Tuan Gumalang marah seperti ini padamu? Tuan Gumalang tak mungkin semarah ini kalau tak ada sebabnya.” Terdengar gemetar suara Bi Mira, ketika dia berbicara.


Sarah hanya menangis dan tak menjawab pertanyaan Bi Mira. Terlalu malu untuk diceritakan, apa yang sudah mereka lakukan saat di luar kota kemarin. Dia mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit kamar yang hanya berwarna putih. Sesekali dia memejamkan mata, menahan perih di hatinya.


Beginikah rasanya diusir paksa dari kehidupan orang yang kita cintai? Lebih baik mati saja, dari pada harus merasakan sakit yang tak akan bisa hilang begitu saja.


“Eeemmm.." Gavin sudah bangun dari tidurnya dan dia merenggangkan badannya. Dia membuka mata dan menoleh ke arah Bi Mira yang sedang duduk di sebelah ranjang Sarah.


Melihat Gavin sudah bangun, Sarah dan Bi Mira segera menghapus airmata. Dan mereka berperilaku seperti biasa di depan Gavin.


“Bibi, kapan sampai sini? Kenapa, aku tak mendengar Bibi masuk ke kamar ini?” Gavin masih duduk di sofa dan masih merasakan lemas disekujur badannya.


“Sudah daritadi pagi, Tuan Muda. Jangankan orang membuka pintu, ada gempa saja, Tuan Muda mungkin tak akan bangun, karena terlalu pulas tidurnya.” Senyum lebar menghiasi wajah Bi Mira sampai menampakkan deretan gigi putihnya. Wajahnya memang sudah keriput, tetapi dia masih sangat semangat bekerja untuk melayani Tuan Mudanya.


Gavin juga ikut tersenyum karena mendapat ejekan dari Bi Mira, lalu dia beranjak berdiri dari sofa. Dia berjalan menghampiri Sarah. "Apa kamu sudah lebih baik hari ini?" Gavin mengusap rambut Sarah dengan penuh kasih sayang. Tak lupa dia mencium kening Sarah.


Sarah tersenyum padanya. "Aku sudah lebih baik sekarang, kamu tak perlu terlalu khawatir lagi padaku, Vin."


"Ok, baiklah." Setelah mendengar jawaban dari Sarah, Gavin berjalan masuk ke toilet untuk mandi dan bersiap pergi ke kantor.


Setelah Gavin sudah masuk ke kamar mandi Bi Mira kembali menatap Sarah dan bertanya. “Sarah, jika sampai Tuan Muda tahu soal pembicaraan tadi, pasti akan ada perang besar di keluarga Gumalang.” Bi Mira berbisik pada Sarah, supaya tak terdengar oleh Gavin.

__ADS_1


Sarah hanya menganggukkan kepalanya. Seolah-olah dia sudah tahu semua yang akan terjadi nanti.


Setelah beberapa saat bersiap,


Gavin sudah rapi dengan kemaja putih yang dipadukan dengan jas abu-abu dan celana warna hitam, tak lupa dasi yang senada dengan pakaiannya. Dia terlihat sangat gagah dan tampan.


Sarah memalingkan wajah, dia tak berani menatap Gavin. Dia takut akan lebih terpesona dengan wajah tampan Gavin.


“Sarah, Aku akan pergi bekerja sebentar. Lalu, aku akan kembali lagi kesini untuk membawamu pulang ke rumah.” Gavin meraih tangan Sarah dan menciumnya.


Sarah yang sudah berusaha sekuat tenaga untuk tak melihat Gavin, akhirnya usahanya itu gagal. Hatinya sakit, ketika dia mengingat ini adalah moment terakhir kalinya, dia bisa melihat wajah lelaki yang sangat dia cintai. Kenapa, harus seperti ini jalan cerita cintanya. Dia hanya ingin mendapatkan laki-laki yang benar tulus mencintainya, apakah itu salah? Kenapa, Tuhan juga tak adil dengan kehidupannya.


Sarah mendongak ke atas untuk menahan airmata yang hampir mengalir keluar dari sudut matanya.


“Sarah, aku sangat mencintaimu. Aku tak akan meninggalkanmu , aku akan terus menjagamu. Kamu adalah nyawaku, jika kamu mati aku pun juga ikut mati. Tetaplah di sisiku Sarah.” Gavin membingkai wajah Sarah dengan kedua telapak tangannya, lalu dia mencium kening Sarah.


Sarah sudah tak bisa lagi menahan airmatanya, antara sedih dan bahagia, ketika mendengar perkataan Gavin. Namun, dia tak mengatakan apapun pada Gavin. Dia hanya tersenyum, melihat Gavin yang sangat tulus mencintainya.


Gavin mengusap airmata Sarah. "Jangan menangis, Sarah. Kamu harus selalu tersenyum. Aku akan membuatmu selalu bahagia berada di sisiku." Gavin tersenyum tipis pada Sarah.


Bi Mira yang melihat pemandangan mesra di depan matanya, jadi merasa tak tega, jika meraka harus berpisah. Tanpa sadar airmatanya mengalir keluar, saat teringat perkataan dari Tuan Gumalang tadi.


“Tuan, anda harus sarapan dahulu sebelum berangkat bekerja.” Suara Bi Mira memecah suasana sedih di kamar itu. Dia lalu menyiapkan sarapan untuk Gavin.


“Iya, Bi.” Gavin sekali lagi mencium kening Sarah, lalu berjalan ke meja yang sudah tersedia makanan di atasnya.


“Sarah, sudah sarapan atau belum, Bi?” Tanyanya sebelum dia mengambil makanan.


“Sarah sudah sarapan, Tuan.” Jawab Bi Mira.


Setelah Gavin selesai sarapan, dia langsung beranjak pergi, untuk berangkat ke kantor.


“Sarah, tunggu aku ya. Aku sangat mencintaimu.” Gavin berpamitan dan mencium keningnya.


Sarah mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Gavin sudah tak terlihat lagi. Dan Sarah mulai bangun dan duduk di ranjang.


“Bi Mira, pulang saja. Saya bisa sendiri, Bi.” Sarah melepas infusan yang ada di tangan kirinya.


Dia mulai turun dari ranjangnya. “Aacchh..” Sarah mengerang, karena terjatuh dari ranjang. Terlalu lama dia tertidur, sampai kakinya terasa lemas tak bertenaga.


Bi Mira berlari menolongnya. “Sarah, kamu tak apa? Bagaimana kamu bisa sendiri, kalau berdiri saja kamu masih lemas begini?” Bi Mira membantu Sarah berdiri dan meletakkan badannya di atas ranjang kembali.


“Saya bisa, Bi. Tak apa, Bi Mira pulang saja. Ini baru permulaan, Bi. Setelah ini saya akan bisa berlari kencang kembali.” Sarah tersenyum sembari memijit lututnya karena masih terasa nyeri.


“Bibi sedih melihat kamu seperti ini, Sarah.” Airmata Bi Mira kembali mengalir keluar.


“Tak apa, Bi. Saya kuat menjalani semua ini. Memang ini sudah konsekuensi yang harus saya terima.” Bibir Sarah tersenyum, tapi tidak dengan hatinya yang menangis meronta.


Mereka berpelukan dan akhirnya menangis bersama. Mereka juga saling menguatkan, saling menghibur satu sama lain.


“Pasti akan ada pelangi setelah hujan, Bi.” Sarah masih meyakinkan Bi Mira, supaya tak terlalu khawatir padanya.


“Kamu akan tinggal di mana, Sarah?” Bi Mira mengusap airmatanya.


“Saya belum tahu, Bi. Bibi jangan pernah mengatakan semua ini pada Tuan Muda, ya. Saya tak ingin dia tahu, bahwa kita harus berpisah seperti ini. Dia juga tak perlu tahu, jika hubungan ini tak direstui Tuan Gumalang.” Sarah menunduk ketika mengatakan itu.


“Lalu, kamu akan pergi sekarang? Atau menunggu Tuan Muda datang menemuimu terlebih dahulu?” Tanya Bi Mira.


“Lebih baik saya pergi tanpa dia tahu, Bi. Kalau kita bertemu terlebih dahulu akan lebih sulit untuk berpisah.” Sarah kembali menurunkan kakinya dari ranjang dan mencoba berdiri. Sambil berpegangan, dia berlatih selangkah demi selangkah.


Memang hasil tak pernah mengkhianati usaha. Akhirnya, dengan sekuat tenaga dia berhasil berjalan beberapa langkah, walaupun masih sedikit nyeri di bagian lututnya. Usahanya tak sia-sia.


“Wah..Kamu memang wanita kuat, Sarah.” Ucap Bi Mira sambil mengacungkan kedua jempolnya ke Sarah.


Sarah tersenyum, mendengar pujian dari Bi Mira.


“Bi, tolong bantuin saya untuk merapikan baju, ya. Saya mau mandi sebentar. Setelah itu, Bibi bisa pulang tanpa harus menunggu saya.” Ucap Sarah sembari berjalan pelan ke arah kamar mandi.


“Mandilah, saya akan membantumu merapikan semuanya.” Bi Mira mulai merapikan baju Sarah dan memasukkannya ke dalam tas.

__ADS_1


__ADS_2