
"Anda siapa?"
"Bolehkah saya bertemu dengan Ibu Diandra? Tadi saya melihat Ibu Diandra masuk ke apartemen ini."
"Maaf, anda pasti salah lihat. Saya sama sekali tidak mengenal Ibu Diandra."
"Ibu Diandra seorang artis terkenal, jadi anda juga tidak mengenal artis terkenal seperti Ibu Diandra?"
"Tidak, saya tidak pernah menonton televisi. Jadi, saya tidak mengenal artis yang sedang naik daun."
"Oh, anda kuper sekali. Baiklah kalau begitu, mungkin saya salah orang."
"Ya, mungkin anda salah orang," jawab Alex.
"Kalau begitu saya pergi dulu, terima kasih."
"Terima kasih kembali.'"
Wanita itu kemudian pergi meninggalkan apartemen Alex, setelah Alex menutup pintu dia kemudian menghampiri Diandra yang saat itu sedang bersembunyi di dalam apartemen.
"Diandra apa kau dengar tadi tamu yang datang?"
"Ya Alex, dia mencariku."
"Iya dia mencarimu, kemungkinan dia melihatmu saat masuk ke apartemen ini. Apa kau tahu dia siapa Diandra?"
"Entahlah aku tidak begitu jelas melihat wajahnya, kau tahu kan sejak tadi aku bersembunyi."
Alex kemudian mengganggukan kepalanya. "Bagaimana ini Alex? Sepertinya ada yang tahu saat aku datang ke sini, aku sebenarnya sudah memiliki firasat buruk seperti ini. Tapi sayangnya kau memaksaku, dan semua gara-gara kau Alex! Kau yang membuat semuanya jadi semakin rumit."
__ADS_1
"Diandra, kenapa kau berkata seperti itu? Tenang saja, mungkin tadi cuma salah satu fansmu."
"Fans katamu? Enak sekali kau berkata seperti itu, Alex. Apa kau tahu bagaimana sulitnya posisiku saat ini!"
"Sulit? Apanya yang sulit Diandra? Kau tidak pernah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada hidupmu! Kau bahkan sekarang sangat tertutup padaku."
"Alex sebenarnya saat ini pernikahanku diambang kehancuran, dan semua ini gara-gara Cheryl! Cheryl telah merebut Mas Gavin."
"Apa maksudmu Diandra? Cheryl merebut Gavin?"
"Ya, saat ini Cheryl berpacaran dengan suamiku. Bahkan Mas Gavin juga berniat untuk menceraikanku. Untung saja saat ini aku hamil, jadi dia mengurungkan niatnya itu."
"Ini benar-benar gawat Diandra."
"Ya karena itulah aku terkesan menutup diri darimu, aku hanya tidak ingin ada yang curiga, Alex. Tapi kau malah memaksaku agar tetap menemuimu! Dan kau lihat sendiri kan apa yang terjadi? Ada orang yang memergoki ku di sini. Lalu apa kau bisa bertanggung jawab kalau sesuatu terjadi pada hubungan kita?"
"Tenangkan dirimu Diandra, mungkin saja itu hanya salah seorang fansmu."
"Diandra tenangkan dulu dirimu, kita pasti bisa memecahkan masalah ini. Tenangkan dirimu dan kita pikirkan kembali ini dengan kepala dingin."
"Apa kau bilang? Kepala dingin? Daripada aku memikirkan hal ini dengan kepala dingin di sini, lebih baik aku pergi, sebelum orang yang kemungkinan suruhan Mas Gavin itu memergokiku di sini! Aku pergi sekarang Alex, dan tolong jangan hubungi aku dulu sampai keadaannya sedikit lebih tenang! Apa kau mengerti?" bentak Diandra. Dia kemudian mengenakan masker, syal, dan kacamatanya lagi lalu keluar dari apartemen Alex. Saat Diandra berjalan di basement parkir mobil, tiba-tiba terdengar suara yang memanggilnya.
"Selamat siang Ibu Diandra?" sapa sebuah suara. Diandra begitu panik, dia kemudian membalikkan tubuhnya dan di saat itu juga dia melihat seorang wanita yang kini berdiri di hadapannya sambil tersenyum menyeringai.
"Amara! Apa yang kau lakukan di sini?"
"Apa yang aku lakukan? Tentu saja menunggumu Ibu Diandra!"
"Menungguku? Untuk apa kau menungguku? Kita tidak punya urusan lagi Amara."
__ADS_1
"Cih! Apa kau bilang? Kau tidak punya urusan denganku? Jangan bermimpi Ibu Diandra! Kau bahkan punya masalah yang begitu besar padaku, dan urusan kita masih belum berakhir sebelum kau membayar hutangmu padaku!"
"Hutang? Apa maksudmu?"
"Oh jadi kau belum sadar kalau kau berhutang begitu banyak padaku? Apa kau belum menyadari kesalahanmu yang telah memberikan cek kosong padaku? Kau mau mempermainkan aku Ibu Diandra? Mulai saat ini berfikirlah kalau kau main-main denganku karena aku sekarang punya kartu matimu!"
"Kartu mati apa? Aku tidak mengerti maksudmu, Amara!"
"Hahahaha! Tidak usah sok suci Ibu Diandra, karena aku punya kartu matimu berupa bukti-bukti perselingkuhanmu dengan laki-laki pemilik apartemen itu! Apa kau tahu? Aku bahkan punya rekaman saat kalian bermesraan lewat door eye yang ada di pintu apartemen itu! Hahahaha'"
"Sial! Dasar iblis kau Amara!"
"Jangan berteriak dan bayar semua dulu hutangmu sebelum skandalmu kusebar sekarang juga! Hahahaha... "
"Bedebah kau, Amara!"
"Asal kau tahu juga, tadi pagi aku memang berniat ke rumah anda untuk mengantar berkas pada Pak Gavin, dan saya melihat anda keluar rumah dengan begitu tergesa-gesa, lalu akhirnya saya tertarik mengikuti anda. Dan wow, ternyata keisengan saya mengikuti anda sangat menguntungkan bagi saya. Sekarang cepat bayar hutang anda sebelum foto-foto ini saya sebar! Hahahaha..."
Tanpa mereka tahu, tampak sepasang mata sedang mengawasi mereka. Dia kemudian mengambil ponselnya saat mendengar suara ponsel itu berbunyi.
[Halo Dion, apa kau masih ada di apartemen suamiku?]
[Iya Nyonya Bianca, ada apa?]
[Tolong kau selidiki dua wanita itu, yang datang ke apartemen suamiku. Aku harus tahu identitas dua orang wanita itu.]
[Iya Nyonya, saat ini saya juga sedang mengawasi mereka. Dan saat ini mereka sedang terlibat pertengkaran.]
[Apa? Bertengkar?]
__ADS_1
[Iya Nyonya.]
Bianca kemudian menutup panggilan teleponnya. "Siapa sebenarnya dua orang wanita itu? Apakah ini artinya suamiku punya dua orang simpanan?"