
"Selamat pagi, Diandra?"
"Siapa yang mengijinkanmu masuk ke rumah ini, Alex?"
"Memangnya ada larangan untuk menemui anak kandungku sendiri? Yang benar saja, Diandra."
"Jangan bicara seperti itu di depan Frizz!"
"Memangnya kenapa? Bukankah benar aku ayah kandungnya?"
"Jangan bicara sembarangan, Alex!" Diandra lalu membalikkan tubuhnya dan menatap Frizz. "Frizz, masuk ke kamar sekarang! Mama mau ngomong sama om ini dulu!"
"Iya ma," jawab Frizz.
Dia kemudian beranjak dari meja makan, lalu berjalan ke arah kamarnya, dengan sedikit perasaan kesal karena yang datang bukanlah Gavin seperti yang diinginkan olehnya, tapi Alex. Karena rasa kecewa itulah, saat dia sedang berjalan menuju ke kamarnya, entah mengapa tiba-tiba dia ingin bermain di halaman rumah, berharap jika Gavin akan benar-benar datang dan menunggu kedatangannya di depan rumahnya itu.
"Bukankah tadi mama bilang papa mau dateng? Kalau gitu Frizz tunggu Papa di depan aja deh!" gumam Frizz. Dia kemudian melangkahkan kakinya menuju ke halaman rumah, tanpa diketahui Diandra dan Alex yang saat ini sedang bertengkar.
Tak berapa lama, saat Frizz sedang bermain di halaman, sebuah mobil pun masuk ke halaman rumah itu. "Papa!" teriak Frizz saat melihat Gavin turun dari mobil miliknya. Gavin lalu menggendong Frizz dan mencium tubuhnya.
"Kamu kenapa pergi dari apartemen Papa, Sayang?"
"Tadi malem mama jemput Frizz, suruh Frizz pulang ke rumah, katanya Papa sama Kak Cheryl juga mau pulang jadi Frizz ikut aja sama mama! Bener kan sekarang papa udah pulang!"
Gavin pun tersenyum. "Terus sekarang mama mana?"
"Lagi sama Om di dalem."
"Om? Om siapa?"
"Om yang ada di ponselnya Frizz."
"Alex?" gumam Gavin. Dia kemudian beralih menatap Frizz. "Frizz sayang, tolong kamu masuk ke mobil papa ya, jangan pernah keluar dari mobil sampe papa masuk ke dalam mobil, kamu boleh nonton film di mobil papa."
"Iya Pa."
__ADS_1
Gavin kemudian menurunkan tubuh Frizz, dan membuka pintu mobilnya. Setelah Frizz masuk ke dalam mobil, Gavin kemudian masuk ke dalam rumah dan melihat Diandra dan Alex yang sedang berbicara dengan nada tinggi. Melihat keduanya, Gavin pun tersenyum, lalu bertepuk tangan.
Prok prok prok!
Mendengar sebuah suara dari arah pintu, spontan Diandra dan Alex pun menghentikan percakapan mereka.
"Bagus sekali, akhirnya aku bisa bertemu sepasang manusia munafik seperti kalian! Kalian memang sangat cocok! Pasangan iblis jantan dan betina!"
"Mas...."
"Jaga bicaramu, Gavin!"
"Kenapa? Apa ada yang salah dari kata-kataku? Kalian memang layak disebut seperti itu! Karena kalian tidak pantas disebut sebagai manusia! Tingkah kalian bahkan begitu menjijikan! Kalian sudah begitu tega menipu orang-orang terdekat kalian hanya untuk kepentingan diri kalian sendiri kan? Dasar bajingann!"
"Dan kau salah satu manusia yang berhasil kita tipu selama bertahun-tahun! Hahhahahhaha....." sahut Alex.
BUGHHHHH
Saat sedang menertawakan Gavin, tiba-tiba sebuah bogem mentah sudah mendarat di wajah Alex. Alex yang mendapat serangan mendadak pun seketika menatap tajam ke arah Gavin.
"Tentu saja, bahkan seharusnya sudah kulakukan semua ini sejak tujuh tahun yang lalu! Kalian pikir aku tidak tahu kehadiranku selama ini hanya untuk menutupi perselingkuhan kalian? Sebenarnya sejak aku berpacaran dengan Diandra, akulah yang menjadi orang ketiga diantara kalian untuk menutupi hubungan gelap kalian sampai kami menikah kan? Kalian benar-benar menjijikan dan tidak layak disebut sebagai manusia!"
BUGH BUGH BUGH
Gavin pun berulang kali melayangkan pukulan pada Alex, memang Alex beberapa kali melawan. Tapi, perlawanan itu mudah ditangkis oleh Gavin karena kondisi tubuh Alex yang sudah lemas karena sejak diusir oleh Bianca, dia sama sekali belum mengisi perutnya, sehingga perlawanan tanpa tenaga dari Alex mudah ditangkis oleh Gavin. Bahkan tubuh Alex sekarang terlihat babak belur dan tersungkur di atas lantai.
"Cuihhhhhh! Bangun kau pengecut!"
"Mas...."
"Diam kau, Diandra!"
BUGH BUGH BUGH
Gavin kemudian menendang tubuh Alex di atas lantai. Setelah puas memukul Alex hingga tubuhnya terlihat sangat tidak berdaya, tiba-tiba ponsel Gavin berbunyi. Gavin lalu mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan melihat nama Cheryl di layar ponsel itu.
__ADS_1
[Halo sayang.] Mendengar Gavin memanggil Cheryl dengan sebutan sayang di depan matanya, dada Diandra pun terasa begitu panas hingga membuat tubuhnya bergetar.
[Mas, tolong aku...]
[Kamu kenapa, Sayang?]
[Mas, perutku sakit banget. Terus ada darah keluar, Mas...] Belum selesai Cheryl berbicara, Gavin yang mulai panik lalu memotong perkataannya.
[Aku pulang sekarang, Sayang. Kamu tunggu aku!]
Setelah menutup teleponnya, Gavin kemudian menatap Diandra dan Alex secara bergantian. "Dulu selama bertahun-tahun, aku memang terlihat bodoh di hadapan kalian! Dulu mungkin kalian berdua selalu menertawakan kebodohanku di belakangku! Mungkin, tidak hanya aku tapi seluruh dunia kalian tertawakan karena bisa ditipu oleh kalian! Tapi kalian harus ingat, baik buruknya sikap kita di dunia pasti semua ada balasannya! Kalian dulu selalu menertawakanku dan orang-orang yang sudah kalian bohongi kan? Ingat suatu saat nanti, kalian lah yang akan ditertawakan oleh seisi dunia bagaikan seorang pecundang!" bentak Gavin sambil menatap tajam pada Diandra dan Alex, lalu keluar dari rumah itu.
Gavin keluar dari rumahnya dengan perasaan yang begitu bergemuruh, disertai perasaan cemas karena takut sesuatu terjadi pada diri Cheryl. Setelah Gavin pergi, Diandra kemudian menatap Alex yang masih terkapar di atas lantai.
"PUAS KAMU ALEX? PUAS KAMU UDAH BIKIN RENCANAKU ANCUR? HARUSNYA PAGI INI AKU UDAH BISA HIDUP BAHAGIA LAGI SAMA ANAK DAN SUAMIKU! INI SEMUA GARA-GARA KAMU, ALEX!"
Setelah itu, Diandra pun berjalan ke arah kamar Frizz. "Setidaknya, aku masih punya Frizz untuk membuat Mas Gavin kembali padaku," gumam Diandra saat berjalan ke arah kamar putranya. Namun, saat Diandra membuka pintu kamar Frizz, kamar itu terlihat kosong. Bahkan setelah Diandra mencarinya di kamar mandi, Frizz juga tidak ada di dalamnya.
"Astaga, Frizz kemana?" gerutu Diandra. Di saat sedang panik, bel rumah itu pun berbunyi.
TETTTT TETTTT
"Mungkin itu Frizz? Mungkin tadi Mas Gavin membawa Frizz diam-diam dan Frizz minta kembali lagi padaku, ya mungkin seperti itu. Mas Gavin, akhirnya kau kembali," celoteh Diandra sambil berjalan ke arah pintu rumahnya. Sedangkan Alex yang sudah bangkit dari atas lantai, kini berjalan mengikuti langkah Diandra membuka pintu rumah itu.
Namun, betapa terkejutnya Alex dan Diandra saat pintu rumah itu terbuka, tampak seorang wanita berdiri di ambang pintu sambil tersenyum menyeringai, dan dibelakang wanita itu tampak belasan orang berdiri membawa mic dan kamera, yang sudah siap mengambil gambar mereka.
Jepret jepret jepret....
"Kejutan....."
Bersambung....
NOTE: Mampir juga ya ke novelnya Kak Santi Suki dijamin ceritanya keren abis dan bikin baper deh 😍🤗😘
__ADS_1