Terjerat Pesona Suami Tanteku

Terjerat Pesona Suami Tanteku
Cinta Terlarang Yang Tidak Direstui


__ADS_3

Gavin keluar dari ruangan dokter sambil tertunduk disertai tatapan mata kosong serta langkah yang begitu lemah. Rasanya dia merasa begitu hancur, tidak hanya hatinya tapi juga raganya, tubuhnya melemas dan tulangnya seakan rontok. Dia kemudian menatap kembali kertas yang ada di tangan kanannya, membacanya lagi satu per satu kata yang ada di kertas itu, lalu bibirnya terhenti pada kata "TIDAK COCOK" yang tercetak besar di bagian bawah kertas itu.


Membaca itu kembali, rasanya begitu sakit. Dia kemudian berlari menyusuri koridor rumah sakit, hingga melihat sebuah anak tangga lalu menaiki anak tangga itu hingga anak tangga itu habis. Dan, saat ini Gavin sudah berdiri di atas roof top rumah sakit tersebut. Dia kemudian berjalan ke arah sisi roof top lalu berteriak sekencang-kencangnya.


"AAAAAAAAAAAAAAAAAAA...."


"AAAAAAAAAAAAAAAAAAA...."


"AAAAAAAAAAAAAAAAAAA...."


"AAAAAAAAAAAAAAAAAAA...."


Setelah puas berteriak, Gavin kemudian menjatuhkan tubuhnya diiringi air mata yang membasahi wajahnya. Dia pun menangis tergugu disertai rancauan dan umpatan lirih yang keluar dari bibirnya.


"Brengsekkk kau, Diandra."


"KAU BENAR-BENAR BAJINGANNN!"


Rasanya begitu sakit, sangat sakit saat mengetahui anak yang sangat dia sayangi sejak ada di dalam kandungan Diandra ternyata bukanlah darah dagingnya. Rasanya sangat sakit saat menyadari selama ini dia hanya hidup bagaikan pecundang yang menjadi tameng untuk menutupi perselingkuhan dan kebusukannya Diandra.


Gavin masih mengingat jelas, bagaimana rasa bahagianya dia dulu saat Diandra mengatakan kalau dirinya sedang hamil. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana teriakan bahagianya, bagaimana untaian rasa syukur yang tak henti terucap dari bibirnya, dan saat yang paling membahagiakan saat melihat Frizz lahir ke dunia.


Mendengar tangis Frizz saat pertama kali lahir di dunia, adalah hal terindah bagi Gavin, mendengar sebuah bibir mungil yang mulai memanggilnya dengan sebutan "Papa" merupakan kata paling merdu yang pernah dia dengar. Tapi sayangnya semua itu hanyalah sebuah kebohongan yang diciptakan oleh manusia munafik, dan dia hanyalah manusia bodoh yang menjadi pemeran utama dalam sebuah sandiwara yang berjudul kepalsuan.

__ADS_1


Menyadari kenyataan yang dihadapi saat ini, rasa marah dan emosi mulai kembali menyulut dirinya. Saat ini rasanya dia benar-benar ingin menghabisi Diandra dan Alex. Gavin pun mulai melangkahkan kakinya berjalan turun dari roof top, yang ada di dalam benaknya saat ini adalah bertemu dengan Diandra dan Alex. Namun, saat dia sedang berjalan melewati kamar perawatan Cheryl, sejenak langkahnya terhenti. Lalu terdengar sayup-sayup suara Cheryl yang sedang bersenandung lirih.


Hati Gavin pun tergerak, perlahan dia sedikit membuka pintu kamar perawatan itu. Dan dari celah pintu yang terbuka, tampak Cheryl sedang menidurkan Frizz yang saat ini ikut naik ke atas brankarnya, sambil bersenandung.


Melihat pemandangan yang dia lihat di kamar itu, hati Gavin pun merasa begitu sakit. Dia kembali meneteskan air matanya, lalu perlahan masuk ke dalam kamar itu.


"Mas..." panggil Cheryl. Namun, Gavin tidak menyahut panggilan darinya, dan tetap berjalan mendekat pada mereka, tatapan mata Gavin hanya menatap Frizz yang saat ini sedang tidur dalam dekapan Cheryl.


"Mas, kamu kenapa? Kamu sebenarnya habis darimana, Mas?" tanya Cheryl sambil mengerutkan keningnya. Tetapi, Gavin hanya menatap Frizz lalu menangis sambil menatap wajah anak laki-laki berusia lima tahun itu.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Cheryl kembali, namun Gavin tidak menjawab, dan hanya menangis sambil memeluk dan menciumi kepala Frizz.


Cheryl yang penasaran, lalu mengambil kertas yang dibawa oleh Gavin, dan dia letakkan begitu saja di dekat Frizz. Dia lalu membaca kertas itu, dan betapa terkejutnya Cheryl saat membaca kertas itu.


'Aku benar-benar tidak menyangka jika Tante Diandra ternyata begitu jahat padamu, Mas. Begitu banyak kebohongan yang Tante Diandra lakukan hanya untuk menutupi kebusukan dan demi mencapai kepentingan pribadinya. Dia bahkan rela mengorbankan orang yang menyayanginya dan menjadikan orang itu tameng demi egonya semata. Kupikir mencintai suami dari tanteku sendiri adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kupikir rasa cinta ini hanyalah cinta terlarang yang tidak direstui oleh dunia, tapi ternyata cinta terlarang inilah yang menyelamatkan orang yang kucintai dari naifnya cinta yang dia jalani,' batin Cheryl.


Cheryl menatap wajah Gavin. "Mas?" panggil Cheryl. Gavin kemudian mengangkat wajahnya, menatap Cheryl lalu menganggukkan kepalanya sambil menangis. Cheryl pun memeluk tubuh suaminya. "Aku tahu Mas, aku tahu ini pasti berat banget buat kamu. Tapi, Frizz juga nggak tahu apa-apa, Mas. Kalian berdua cuma korban dari keserakahan Tante Diandra."


"Iya, aku tahu Cheryl. Dan, rasa sayangku buat Frizz itu tetap sama, nggak akan pernah berubah. Rasanya memang sangat sakit Cheryl, dan inilah kesalahan terbesar yang Diandra lakukan. Aku bisa memaafkan perselingkuhan dia dengan Alex, dan semua kebohongan yang dia lakukan. Tapi tidak untuk kebohongan yang satu ini. Dia tidak hanya menyakitiku, tapi juga menyakiti jiwa tidak berdosa seperti Frizz. Dia telah menghancurkan hati seorang ayah dan mematahkan hati seorang anak dalam sebuah kepalsuan. Dan ini sangatlah sakit," ucap Gavin sambil terisak.


"Iya aku ngerti Mas."


"Cheryl, siapapun Frizz. Kamu tetep mau anggap Frizz anak kita kan? Kamu tetep sayang dia kan? Karena aku nggak mau dia hidup dengan wanita munafik seperti Diandra."

__ADS_1


"Kenapa mas ngomong gitu? Aku tetep sayang Frizz, dia harus tetep sama kita."


"Terima kasih, Sayang."


Gavin kemudian menatap Frizz kembali, lalu membelai wajahnya. "Cheryl, apapun yang terjadi, siapapun dia sebenarnya, dia tetap putraku. Frizz adalah putraku, hubungan darah memang kental. Tapi untuk menjadi putraku, aku tidak memerlukan hubungan darah itu, karena sejak Frizz ada di dunia ini, akulah orang pertama yang sangat menyayanginya," ucap Gavin sambil terisak.


"Iya Mas, aku tahu," balas Cheryl sambil kian erat memeluk Gavin, berharap jika pelukan itu sedikit mengurangi beban suaminya, meskipun menghilangkan rasa sakit itu begitu saja memang sulit.


****


Diandra hanya bisa menangis, sambil bersimpuh di halaman rumahnya saat melihat orang-orang suruhan Bianca yang mulai pergi meninggalkan rumahnya seraya membawa barang-barang sitaannya. Alex kemudian mendekat ke arahnya, lalu memeluk tubuh Diandra.


"Diandra, mungkin saat ini kita harus belajar mengikhlaskan."


"APA KAU BILANG, ALEX?"


Bersambung....


NOTE:


gaes, jangan lupa mampir ke karya Kak SyaSyi ya, dijamin keren banget ceritanya.


__ADS_1


__ADS_2